
Deru mobil terdengar sejak Nona pergi meninggalkan rumah sakit untuk mengurus apa yang dia harus lakukan. Manik biru Nona menjelajahi setiap jalanan yang dia lewati. Polusi pagi ini menjadi makanan Nona sehari-hari untuk melakukan aktivitas yang melelahkan. Helaan nafas terus terdengar dari Nona, Arsel sedikit melirik dari atas spion.
"Arsel, aku kalah." Nona memainkan jemari tangannya. Arsel menggelengkan kepala. "Anda belum kalah, Nona."
Mata Nona mengerjap, pikirannya begitu kacau. Banyak sekali musuh yang ingin menjatuhkannya. "Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Aku seorang Alona. Mommy mengajarkan supaya menjadi orang yang kuat." Air mata Nona mengalir, jemarinya langsung menyeka.
"Aku selalu berada di pihakmu, Nona," ucap Arsel.
Walau hati ini tidak rela jika kau sudah menikah dengan anak kecil itu.
Nona tersenyum, sedikit kalimat dari Arsel yang membuat Nona senang. Begitu juga dengan Arsel, walau tidak bisa memiliki Nona tetapi setidaknya dia bisa melindungi Nona.
Setelah sampai rumah besarnya. Arsel membuka pintu mobil, para pelayannya menyambutnya.
Pintu besar terbuka dan Nona melangkah masuk dengan anggunnya.
Nona menyapu pandangan dengan manik birunya, memandang seluruh ruangan yang sudah ia tinggali beberapa tahun ini. Rumah dengan nuansa eropa melekat pada rumah ini, bahkan di desain sendiri oleh ibu Nona yang keturunan Indo-Belanda.
Kenangan demi kenangan menelisik di pikiran Nona. Bibir indahnya tersenyum tipis dan saatnya melepas rumah ini. Nona tidak menyangka jika ayahnya akan pergi secepat ini sebelum ayahnya memberikan hitam diatas putih berbentuk sertifikat rumah untuk dirinya. Keteledoran Nona membuatnya harus menyerahkan rumah ini kepada ahli waris yang akan ditentukan oleh pengadilan.
Nona hanyalah anak dari istri kedua mendiang sang ayah. Dirinya seolah aib bagi keluarganya terutama keluarga ibu tirinya.
Nona mengumpulkan semua pelayan rumahnya di ruang tamu. Nona mengeluarkan beberapa amplop dari tasnya yang berjumlah pas untuk semua pelayan yang telah berjasa kepadanya.
Semua pelayan menampilkan raut wajah sedih seolah ini adalah perpisahan dengan Nona. Pasalnya, Nona adalah majikan yang baik dan adil bagi para pelayannya selama ini.
Mereka berharap Nona akan mendapat keadilan yang seadil-adilnya.
"Terima kasih untuk kalian yang sudah mengabdi untuk saya selama ini. Maaf jika saya pernah berbuat salah kepada kalian. Ini adalah gaji dan pesangon kalian dari saya. Mungkin kedepannya majikan kalian sudah bukan saya lagi. Tenang saja! Siapapun majikan kalian saya akan mengusahakan jika kalian tetap bekerja di rumah ini," ucap Nona dengan elegan.
Para pelayan, supir beserta tukang kebun merasa sangat sedih. Nona adalah majikan terbaik baginya.
"Sekali lagi saya berterima kasih kepada kalian yang telah bekerja untuk saya siang dan malam dan ini permintaan terakhir saya untuk membereskan semua barang-barang saya," ucap Nona sopan.
__ADS_1
Semua pelayan menganggukkan kepada. Nona mengibaskan tangannya untuk menyuruh mereka melakukan apa yang ia suruh. Para pelayan mulai memberesi perkakas yang di miliki Nona dan memasukkannya ke truk. Tak sedikit juga pelayan yang nyinyir dengan Nona.
"Kenapa Nona menyerah dan tidak mempertahankan harta?" ucap pelayan sambil memasukkan pecah belah ke kardus.
"Nona hanya anak dari istri sirih, mana bisa dapat warisan."
Mas Supri yang merasa terkejut dengan kepindahan Nona menelpon Bara. Seketika Mas Supri memberitahu Bara jika Nona akan segera keluar dari rumah itu.
"Apa kau bilang? Nona sudah mulai berkemas? Kenapa?" tanya Bara melalui panggilan telepon.
"Anda tidak tahu, tuan? Jika ibu dan adik-adik anda menggugat harta ayah anda yang dimiliki Nona ke pengadilan?"
"Aku tidak tahu apa-apa. Terima kasih infonya."
Bara menutup telpon, dia mengambil tas kerjanya dan meninggalkan kantor. Kenapa sebagai kakak tertua tidak diberitahu tentang hal ini. Bahkan Nona juga tidak bilang apa-apa kepada Bara.
Katanya kau menganggapku kakakmu, Nona. Tapi kenapa masalahmu kau tanggung sendiri?
Bara menuju mobil, melajukan mobil ke rumah ibunya. Perlakuan ibu kepada Nona memang sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Nona tetaplah adiknya karena mereka terlahir dari satu ayah yang sama.
Altaf, Bayu dan Bagas mengunjungi tanah yang akan mereka bangun sebuah perumahan elit. Altaf yang di payungi oleh asistennya begitu tersenyum licik. Terik matahari tidak membuat redup semangat ketiga pria jahanam itu. Hanya harta yang mereka gali dan gali.
"Aku sudah menghubungi kontraktor. Pembangunan akan di lakukan bulan ini. Kami akan mengeluarkan harta yang kami punya untuk pembangunan perumahan elit ini," ucap Bagas.
"Bagus, aku tidak sabar untuk melakukan kerja sama ini," jawab Altaf.
Altaf membuka kacamata. Dia menyipitkan mata melihat dari jauh ada sebuah taman beserta alat bermain untuk anak-anak. Tangan Altaf menunjuk lalu kedua kakak beradik itu melihat apa yang di tunjuk Altaf.
"Oh... Itu hanyalah taman kecil milik Nona. Setiap sore anak-anak kecil yatim piatu bermain disana," ucap Bayu.
"Bongkar semua itu! Aku tidak ingin perumahan mewah kita menjadi kumpulan anak-anak miskin," pinta Altaf.
Bayu dan Bagas menganggukkan kepala. Mereka melanjutkan keliling tanah yang begitu luas itu. Sampai ponsel milik Bagasi berbunyi, dia meminta izin mengangkat dan menjauh dari mereka berdua.
__ADS_1
"Hallo?" tanya Bagas.
"Mas, hari ini juga aku tunggu di tempat biasa."
"Aku sibuk. Akhir pekan saja!" ucap Bagas pelan.
"Bagaimanapun ini anakmu, Mas. Jika tidak mau akan ku bongkar hubungan kita ke semua orang."
Bagas berdecih. Dia menutup telpon dan mendesis pelan. Berurusan dengan perempuan itu sungguh menyiksa dirinya. Dia ingin mengakhiri hubungan tetapi hubungan mereka sudah terlanjur jauh.
...----------------...
Dewa hanya membuka dan menutup matanya. Rasa bosan berada di rumah sakit membuatnya jenuh. Ibunya mengupas buah lalu menyuapkannya kepada Dewa. Putra tunggalnya begitu dia sayangi sepenuh hati.
"Huh... Padahal aku akan melamar pekerjaan, bu. Kenapa malah apes begini?" tanya Dewa menggerutu.
"Uang bisa dicari nanti, Dewa. Yang terpenting kesembuhanmu dulu."
Sambil mengunyah, ia memperhatikan ponsel yang nampak sepi. Nona belum mengajarinya semenjak pagi. Bahkan teman-teman Dewa belum menjenguk kecuali Jojo.
"Bu, bilang pada dokter jika aku ingin pulang," ucap Dewa.
"Belum boleh, kondisimu masih naik turun. Bersabarlah!"
Dewa mendengus, ia memperhatikan pintu yang akan terbuka. Sosok mantan datang dengan membawa buah dan makanan. Siapa lagi yang bukan Sarah?
Sarah mencium tangan ibu Dewa. Ibu tersenyum melihat Sarah yang semakin hari semakin cantik.
"Dewa, ibu keluar ya. Mau cari minuman di kantin."
Dewa menganggukkan kepala. Sarah duduk disamping Dewa. Dia berusaha meminta maaf kepada Dewa karena selama ini sudah banyak menyakitinya.
Dewa tersenyum, dia juga meminta maaf kepada Sarah.
__ADS_1
"Sarah, aku ingin bilang sesuatu kepadamu jika aku sudah menikah sebulan yang lalu," ucap Dewa.
"Kau bercanda?" tanya Sarah.