
Arsel hanya bisa pasrah saat dirinya dikurung di kamar. Setelah kabur bertahun-tahun dari rumah, ia kini harus dipenjara oleh keluarganya. Dirinya tidak boleh keluar dari rumah dan akan melakukan perjodohan dengan wanita yang dia tidak cintai.
Arsel sangat frustasi sebab ia harus meninggalkan kekasih rahasianya hanya memenuhi kepuasan keluarganya. Dia menggenggam sebuah foto berdua dengan sang kekasih yang dia ambil saat menikmati sore hari disebuah kolam renang terletak di atas gedung.
Cantika, sangat sulit untuk keluar dari sini tapi aku akan berusaha untuk menemui mu dan mengajakmu menikah.
Arsel beranjak dari tempat tidur, ia melihat kearah jendela. Dia ingin sekali kabur dari rumah yang seperti penjara ini. Ingin sekali meminta bantuan tapi dengan siapa mengingat dirinya tidak ada ponsel.
Tok... tok.. tok...
Pintu terbuka, Altaf masuk ke ruangan adiknya. Dia tertawa kecil melihat wajah Arsel yang masam. Sambil melempar sebuah foto pada Arsel, ia duduk di ranjang sang adik.
Arsel melihat foto tersebut, seorang model seksi sangat begitu cantik. Dialah orang yang akan di jodohkan dengan Arsel.
"Cantik?" tanya Altaf.
"Untukmu saja!" jawab Arsel sambil melempar foto itu kearah Altaf.
Altaf masih tertawa kecil melihat sang adik yang keras kepala. Adik beda ibu tersebut sangatlah persis dengan sang ayah yang keras kepala. Namun, ia tetap menyayangi Arsel walaupun Arsel tidak sudi disayang oleh kakaknya sendiri.
"Apa yang kau inginkan Arsel? Kebebasan? Kau sudah bebas bertahun-tahun," ucap Altaf.
"Bukan urusanmu, aku tidak sudi mengikuti perintahmu."
Altaf berdecih, ia keluar dari kamar Arsel lalu menguncinya dari luar. Dia sangat ingin menyuruh adiknya menikah dengan wanita pilihannya sendiri.
Disisi lain,
Dewa harus berangkat bekerja, ia harus bekerja keras untuk keluarga kecilnya. Apalagi gudang tidak ada Arsel yang mengurus sementara.
Nona membuatkan sarapan untuknya, Dewa menatap makanan itu dengan kesal. Dia bosan sarapan dengan roti dengan olesan selai. Namun ia harus tetap memakannya, jika tidak Nona akan sangat marah besar.
"Jangan lupa minum obat!" ucap Nona.
"Iya sayang."
Dewa memakan roti yang sudah dibakar oleh sang istri dan diolesi selai kacang. Dia juga memakan buah pisang favoritnya supaya bisa lebih kenyang. Mereka makan dengan nikmat, terlihat anak-anak mereka sangat menikmati sarapan kali ini.
"Papa, mama, besok aku ada renang bersama," ucap Kenzo.
"Apakah wajib?" tanya Nona sangat khawatir.
"Iya mama, itu ujian kok."
Dewa mengusap kepala Kenzo. "Semoga sukses!" ucapnya memberikan semangat.
Nona terkejut ketika sang suami tidak melarang justru mendukungnya. Dia tidak mengizinkan Kenzo untuk mengikuti mata pelajaran renang karena Kenzo sendiripun tidak bisa berenang.
"Mama, tapi itu ujian. Nanti nilai Ken akan kosong jika tidak ikut."
"Mama akan bilang pada gurumu supaya dia bisa memberikan ujian materi saja padamu," ucap Nona.
__ADS_1
"Tapi ma..."
"Tidak ada tapi-tapian! Cepat makan!"
Kenzo memandang papanya, ia berharap jika Dewa bisa membantunya dalam masalah ini. Ini adalah ujian praktek renang pertamanya, ia tidak mungkin membolos begitu saja. Apalagi pasti teman-temannya akan iri.
Pintu bel berbunyi, mereka pasti adalah para pengasuh anak-anaknya. Nona mempersilakan masuk dan menawari untuk makan sarapan terlebih dahulu. Ya, Nona adalah majikan yang sangat baik membuat para pengasuh anak-anaknya menyukainya.
"Mbak, hari ini aku ada meeting penting. Kemungkinan akan pulang agak siang. Aku tinggal tidak apa-apa, 'kan?" tanya Nona.
"Baik, bu. Si kembar, dan Mona serahkan pada kami."
Nona mengangguk, ia mencium kening anak-anaknya untuk berpamitan kerja. Setelah Mona bisa ditinggal bekerja, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengelola toko furniturenya. Dia tak lupa mengecup pipi Dewa untuk berpamitan dengannya.
"Mas perlu antar?" tanya Dewa.
"Gak perlu, mas. Aku bisa menyetir sendiri. Oh ya, Kenzo kamu antar 'kan?"
Dewa mengangguk, Nona menciumnya sekali lagi membuat Dewa membalas dengan mencium kening istrinya. "Sampai bertemu nanti sore," ucapnya.
Setelah Nona pergi, kini Dewa yang segera harus berangkat bekerja. Dia menciumi putra putrinya. Rasanya sangat berat saat meninggalkan mereka untuk bekerja. Namun, bagaimana untuk membeli popok mereka jika malas-malasan bekerja?
"Kenzo, Kenzi, ayo berangkat sekolah!" ajak Dewa.
Mereka mengangguk lalu menggandeng papanya untuk berjalan ke luar apartemen.
"Mbak, titip bocil-bocil, ya?" ucap Dewa.
Setelah berpamitan. Dewa dan kedua putra tertuanya keluar untuk turun dari apartemen. Sedari tadi Kenzo memperhatikan papanya dan berharap Dewa bisa membantunya mendapatkan izin untuk berenang.
Setelah masuk mobil, Kenzo memberanikan diri untuk membicarakan hal tersebut untuk membantunya meminta izin mengikuti ujian berenang.
"Papa, aku ingin ikut ujian berenang tapi mama melarangku," ucap Kenzo.
"Memangnya kau bisa berenang?"
Kenzo menggeleng tapi ia memang harus hadir sekedar untuk absen. Dia juga ingin berkumpul dengan teman-temannya diluar sekolah.
"Oke, papa akan ijinkan. Namun Papa harus ikut melihatmu berenang. Boleh?" tanya Dewa sambil fokus menyetir.
"Boleh, pah. Besok sore jam 3 harus berkumpul di kolam renang harapan. Besok papa pulang kerja langsung antar aku ya?"
"Iya, sayang. Papa akan mengantarmu kesana," jawab Dewa.
Kenzo sangat senang, orang tua angkatnya memang berbeda sifat. Nona cenderung melarang dan Dewa malah mendukung sang anak selama itu dalam hal baik. Itulah sebabnya duo Ken lebih suka dengan Dewa daripada Nona yang galak.
Setelah sampai di sekolah Kenzi, Dewa turun dari mobil dan mengantar masuk sampai pintu gerbang. Bocah yang duduk di bangku SD itu mencium tangan papanya.
Setelah itu, Dewa masuk mobil dan mengantar Kenzo yang baru duduk di bangku SMP.
***
__ADS_1
Di gudang.
Pekerjaan hari ini sangat banyak, banyak orderan yang tertinggal sebab Dewa dan Arsel tidak ada. Dewa membereskan semuanya hari ini dan harus sudah selesai sore nanti.
" Wa, boleh kas bon gak?" ucap dalah satu pegawainya, siapa lagi jika bukan Jojo?
"Hem? Butuh banget?"
"Iya lah, bro."
Dewa mengambil uang di dompetnya. "Butuh berapa?" tanya Dewa.
"500 kalo ada."
Dewa mengangguk lalu memberikan uang tunai 500 ribu untuk Jojo dan tentu saja akan dipotong gaji. Jojo lalu menarik kursi dan ingin bergosip dengan Dewa mengenai saudara kembarnya. Dewa mendengarkan sambil mengecek orderan di ponselnya.
"Kemarin aku lihat saudara kembarmu, ku pikir dia sangat baik sepertimu namun sebaliknya. Aku menyapanya tapi dia memalingkan wajah. Sombong sekali mentang-mentang mempunyai gedung apartemen mewah," ucap Jojo.
"Hahaha, kau 'kan tidak kenal dengannya," jawab Dewa membela saudara kembarnya.
"Walau gak kenal namun pernah bertemu beberapa kali. Sumpah, saat dia memalingkan wajah ingin rasanya aku tampar. Sombong sekali jadi orang," jawab Jojo sambil mengepalkan tangan.
Dewa tersenyum kecil, akhir-akhir ini memang ia sudah tidak berkomunikasi dengan Nagara alias Dewa yang menyamar menjadi dirinya. Dia bahkan tidak tahu jika Nagara sudah pulang dari Amerika. Kakek bilang jika Nagara menghancurkan bisnis kakeknya di Amerika dan kini sedang membuka bisnis baru yaitu apartemen mewah yang akan ia perjual belikan pada orang-orang kaya.
Saat bersamaan, ada seseorang yang berteriak dari luar menyebut namanya. Suara itu tidak asing. Dewa dan Jojo langsung keluar.
"Hai Dewa, lama tidak berjumpa," ucap Nagara yang sombong.
Nagara melihat-lihat gudang milik Dewa yang masih berantakan karena barang-barang online baru ditemukan dari sebuah truk.
Nagara menjentikan jarinya lalu menyuruh sang sekertaris membersihkan kursi yang akan dia duduki.
"Wa, sombong sekali saudaramu itu," bisik Jojo.
Nagara duduk sambil mengangkat satu kakinya diatas meja plastik. Dia memandang Dewa sedangkan Dewa memandangnya dengan biasa saja.
"Bisnis online, berapa keuntungannya? Apakah dalam satu bulan bisa menghasilkan milyaran? Naga... Naga.. eh maksudku Dewa, kau sangat bodoh atau bagaimana?" ucap Nagara.
"Kita sudah memilih jalan hidup masing-masing dan kau tidak boleh mencampuri kehidupanku! Ini pilihanku," jawab Dewa.
Nagara tersenyum tipis, ia berdiri mendekati Dewa lalu merapikan baju Dewa yang terlihat berkeringat karena udara di gudang ini cukup pengap.
"Saudaraku yang malang, jika nanti kesusahan maka kau boleh menelponku. Sekarang aku menjadi direktur sebuah real estate terkemuka di kota ini. Aku membangun 100 lantai apartemen. Jika kau mau aku bisa memberikanmu diskon 50 persen jika kau membeli satu apartemen untuk keluargamu," ucap Nagara.
"Maaf tidak perlu. Simpan saja diskonmu itu untuk orang lain," jawab Dewa.
Nagara berdecih, baru kali ini ia ditolak. Dia tersenyum lalu berbisik pada Dewa. "Telpon aku jika kau kesusahan," ucap Nagara.
*****
INI ADALAH KISAH CINTA DAN KEHIDUPAN NAGARA (alias Dewa yang asli akan berjodoh dengan putri Zian yang hilang sejak kecil)
__ADS_1