
Ucapan Nona terus saja terbayang-bayang di pikiran Dewa. Entah mengapa walau Nona tidak berbicara dengannya langsung tetapi bisa menusuk sampai ulu hati.
Nona memperhatikan wajah Dewa yang lesu serta hanya memakan nasi saja membuatnya khawatir. Di meja makan mereka makan dengan diam, apalagi Dewa tidak sedikitpun melihat wajah Nona.
"Sayang, kenapa hanya makan nasi? Walaupun kau sakit harus tetap makan yang lengkap," ucap Nona sambil mengambilkan ayam lalu akan meletakkanya ke piring Dewa tetapi Dewa langsung menarik piringnya.
"Aku makan nasi saja sudah kenyang kok."
Nona mengetahui perubahan nada bicara Dewa langsung sadar jika Dewa sedang marah tapi Nona belum menyadari jika itu adalah karena dirinya.
Dewa melanjutkan makannya, suapan demi suapan sampai habis tidak tersisa. Tangannya meraih air putih lalu ditenggaknya sampai habis. Nona masih memperhatikannya dengan heran.
"Susah selesai, aku mau istirahat," ucap Dewa berdiri sambil menatap Nona.
"Dewa, kenapa hanya makan nasi putih saja? Lauknya masih banyak, sayang."
"Lain kali suruh pembantu memasak untuk porsimu saja, sayang," jawab Dewa.
Dewa tersenyum, dia mengelus kepala Nona lalu pergi ke kamar. Nona masih heran kenapa Dewa bertingkah aneh. Nona menyelesaikan makannya lalu menyuruh pembantu menyimpan makanan ke kulkas dan bisa dimakan besok pagi.
Nona melangkah ke kamar, ia melongakkan kepalanya di pintu untuk melihat Dewa. Dewa sedang menyiapkan berkas untuk melamar pekerjaan. 5 amplop coklat besar ia isi dengan persyaratan untuk melamar pekerjaan. Dirinya yang hanya lulusan SMA tidak meminta pekerjaan yang aneh-aneh, yang terpenting bisa menghasilkan uang yang halal.
Nona menghampiri, dia duduk dihadapan Dewa. Dewa masih diam dan sibuk merapikan berkasnya.
"Dewa, sepertinya kau marah denganku?" tanya Nona.
"Biasa aja, tuh."
"Tidak! Kita sudah sebulan bersama dan aku sudah tahu sifatmu. Apakah aku membuatmu marah?" tanya Nona.
Dewa menggelengkan kepala, dia beranjak lalu mengambil foto yang sudah dia siapkan untuk melengkapi berkas lamaran pekerjaannya.
"Iya aku marah denganmu, ucapanmu membuatku terluka."
Nona menggenggam tangan Dewa, ia menatap Dewa untuk meminta maaf jika ucapan Nona ada yang salah. Dewa tersenyum kecil, ia menganggukkan kepala.
"Tapi ucapanku yang mana yang membuatmu sakit hati?"
"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya. Terima kasih sudah mau meminta maaf."
Nona menggelengkan kepala. Sorot matanya menunjukkan bahwa dirinya bersalah. Ia juga tidak tahu ucapan mana yang membuat Dewa sakit hati.
__ADS_1
Tangan Dewa mengelus kepala Nona, dia tidak ingin membahasnya.
"Sayang, tidurlah! Pasti kau sangat lelah. Aku juga setelah ini akan tidur. Good night," ucap Dewa sambil mengecup kening Nona.
Nona menganggukkan kepala walau sempat kecewa dengan dirinya sendiri. Dewa sampai sakit hati dengan ucapannya bahkan Nona sampai susah tidur karena terus mengingat setiap ucapan yang terlontar kepada Dewa.
"Dewa?" ucap Nona yang sudah berbaring di ranjang sambil menatap Dewa yang sedang menulis sesuatu.
"Hem..."
"Maaf, jika aku menyakitimu."
"Hem..."
"Bisakah jangan hanya bilang hem saja? Itu semakin membuatku merasa bersalah."
"Iya sayang, sudah sana bobo! Aku sedang menulis surat lamaran. Kepalaku sampai pusing karena sedari tadi salah terus," jawab Dewa.
Nona melihat Dewa, ia bangun lalu mendekatinya. Nona membaca surat lamaran yang Dewa tulis sendiri. Dia tersenyum kecil. Tulisan Dewa begitu rapi walaupun dia seorang pria.
Nona membaca setiap kalimat yang Dewa tulis.
"Jadi ini salah?" tanya Dewa.
Nona menggelengkan kepala. "No, ini sudah benar tinggal di tambah saja apa yang sudah aku ajari tadi."
Nona memberikan kertas portofolio itu lalu Dewa menulis sesuai ucapan Nona. Nona tersenyum melihat suami bocahnya yang menulis surat lamaran pekerjaan. Tiba-tiba Nona mencubit pipi Dewa, Dewa mengernyitkan dahi.
"Gumuuush," ucap Nona dengan imut.
"Apa sih, sayang? Bilang saja jika ingin meminta jatah?" goda Dewa.
"Dasar mesum! Tapi benar juga ya? Sudah beberapa hari kita tidak eheeeeeeem...."
Dewa tertawa. Wanita berambut pirang di depannya memang membuatnya langsung luluh. Dewa menarik tangan Nona untuk naik ke ranjang dan melakukan pergumulan panas di malam ini.
Setengah jam kemudian.
Setelah melakukan adegan panas, mereka nampak kelelahan. Dewa mengecup pipi Nona yang sudah memejamkan mata. "Mau seberapa marahnya aku kepadamu maka itu tidak akan bertahan lama. Kau membuatku selalu gemas. Aku janji akan membahagiakanmu dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Aku mencintaimu, Nunaku," ucap Dewa.
...----------------...
__ADS_1
Bara, mencari keberadaan Zalina yang sudah tidak ada di tempat tidur. Dia melirik jam yang menunjukkan waktu 1 pagi. Dalam keadaan masih mengantuk, Bara beranjak dari tempat tidur. Kamar mandi dia buka dan tidak ada istrinya disana.
"Dek?" panggil Bara.
Bara memutuskan untuk keluar mencari keberadaan istrinya. Lampu-lampu yang mati dia nyalakan tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Zalina. Sampai ekor matanya tertuju pada seorang wanita yang duduk sendirian di ruang tamu. Dia memejamkan mata.
"Sarah? Kenapa kau disini?" tanya Bara.
Sarah terkejut, ia menatap Bara. Bara melihat pintu luar yang tidak terkunci. Dia melangkah untuk mengeceknya tetapi Sarah menarik tangannya.
"Tidak ada apa-apa diluar. Om masuk ke kamar saja!" ucap Sarah.
"Kenapa Sarah? Ada apa di luar?" tanya Bara.
Bara menepis tangan Sarah, ia membuka pintu dan melihat Elara sedang berdiri diam di depan gerbang. Dalam kegelapan, Elara seolah menunggu seseorang.
"Ela, kenapa tengah malam begini berada disini?" tanya Bara.
"Papa? Papa masuk saja!" dorong Elara.
Bara heran lalu melihat diluar jika tidak ada apa-apa. Sarah membantu Elara untuk masuk ke rumah. Bara hanya bingung dengan kedua gadis itu.
"Kenapa kalian begitu aneh? Dimana mamamu, Ela?" tanya Bara.
"Papa kami lapar, aku mau di masakin nasi goreng," ucap Elara mengalihkan pembicaraan.
Elara menarik tangan Bara menuju ke dapur. Bara tidak ada pilihan lain untuk menuruti putri semata wayangnya itu.
Setengah jam yang lalu.
Sarah terbangun karena merasa sangat haus, ia menuju ke dapur tetapi ia tidak sengaja melihat Zalina keluar dengan dandanan yang cantik. Sarah mengikutinya, ia melihat Zalina menemui pria di luar pagar rumahnya. Ketika Sarah akan mendekat, Elara menarik dan menutup mulut Sarah. Elara membawa Sarah untuk masuk ke rumah.
"Uhhh.. Lepaskan!"
Elara melepaskan Sarah. "Jangan mencampuri urusan keluargaku!"
"Kau gila? Mamamu sedang berselingkuh tetapi kau membantu menutupinya?"
"Sudah ku bilang jangan ikut campur! Mamaku tidak selingkuh, mamaku sedang sakit kanker. Papa ku tidak tahu akan hal itu. Mama meminta untuk merahasiakannya," ucap Elara sambil menangis terisak.
***
__ADS_1