Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 73 : Menyesali


__ADS_3

Zian membawa Dewa ke suatu tempat yang bukan rumah sakit. Dewa terheran pasalnya ia harus menjenguk kakeknya yang berada di rumah sakit. Sampai ketika mobil Alphard itu terhenti disebuah restoran mewah. Dewa sudah menduga jika kakeknya tidak sakit.


"Zian, kau menipuku lagi."


"Maaf, tuan. Ini perintah kakek anda."


Zian membuka pintu mobil untuk Dewa Dewa melangkah masuk ke restoran itu dan salah satu pelayan sudah tahu akan kedatangannya lalu mengajak Dewa ke sebuah ruangan VIP yang sudah di pesan oleh sang kakek.


Pelayan membuka pintu, Dewa langsung masuk. Dia menghela nafas panjang ketika melihat kakeknya sedang minum minuman favoritnya.


"Duduklah!" ucap Kakek.


Kakek memperhatikan tubuh Dewa yang semakin hari semakin kurus, bahkan kulit Dewa menjadi sawo matang dan tidak seputih dulu. Kakek menuangkan cola untuk cucu satu-satunya. Dewa langsung menenggaknya.


"Naga, sampai kapan kau hidup seperti ini? Sudah cukup penebusan kesalahanmu. Sadewa sudah tenang dialam lain. Jangan berpura-pura menjadi dirinya lagi!" ucap Kakek.


Dewa menghela nafas kasar, ia memainkan sisa es batu yang tertinggal digelasnya. Dirinya sudah senang menjadi Dewa seutuhnya, ia justru senang menjadi Dewa karena kehidupan barunya jauh lebih menantang.


"Keluarga Wiratmaja meremehkanmu lagi? Mereka tidak tahu terima kasih dengan keluarga Mahesa."


"Kek?" ucap Dewa membuat sang kakek menaikkan alisnya. "Jangan urusi urusanku! Bagaimanapun mereka memperlakukanku, aku tidak masalah, karena ini adalah hukumanku yang dulu juga meremehkan orang lain," sambung Dewa.


Buaaaaaak....


Saat duduk dibangku kelas 1 SMP, Nagara Bimasena adalah pria berpengaruh di sekolah itu. Kakeknya adalah penyumbang terbesar dan tentunya membuat Naga menjadi sombong.


Buaaaaaaak...


"B*bi gendut, minggir kau!" ucap Nagara dengan angkuhnya.


"Naga, aku minta ampun! Jangan pukuli aku lagi!" ucap Joni teman sekelasnya yang selalu menjadi sasaran pembulian dari Nagara.

__ADS_1


Buaaaaaak...


"Siapa yang menyuruhmu merengek?" tanya Nagara.


Tangan Naga mulai mengobok-obok mie yang dibawa Joni dari rumah. Naga terkekeh geli melihat ekspresi Joni yang baginya lucu padahal sungguh miris. Tak hanya itu juga, Naga menuangkan minuman bersoda pada mie goreng tersebut.


"Sekarang habiskan! Jangan mubazir makanan!" ucap Nagara.


Joni tidak mau membantah, ia memakan mie yang sudah tidak layak makan dengan lahap. Nagara dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak.


Flashback selesai.


Dewa mendadak sedih saat mengingat kejadian itu. Kejadian yang sangat fatal bagi si korban. Apalagi kini Dewa sudah tidak tahu kabar Joni. Dia ingin sekali meminta maaf yang sebesar-besarnya.


"Naga, kakek hanya berpesan untuk menjaga diri saja karena keluarga Wiratmaja begitu licik. Kakek tetap akan mengawasimu karena kau adalah aset kakek yang sangat berharga."


Dewa tersenyum tipis. "Benarkah? Jika kakek akan mempunyai cicit apa aku masih berharga?"


Dewa mendekati kakek, ia memandang pria tua itu dengan girang. Sang kakek hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang cucu yang rupanya beringas.


"Masih bocah sudah bisa bikin bocah," celetuk kakek.


Dewa malah cengengesan. "Dewa gitu loh."


"Ga, jika bayimu kembar laki-laki akan kakek beri nama Arjuna dan Duryudhana."


Dewa menolak, pasalnya bayinya akan berwajah bule seperti ibunya. "Aku akan memberi nama Mattson dan Matthew jika laki-laki."


Kakek menjitak kepala Dewa. Dewa mendengus kesal lalu mengusap pucuk kepalanya.


"Kau tahu jika kalian yang kakek memberi nama. Sadewa Angkasa Mahesa. Nagara Bimasena Mahesa. Itu adalah nama yang indah," jelas kakek.

__ADS_1


"Kenapa Nakula malah menjadi Nagara?" tanya Dewa heran dengan pemberian nama dari kakeknya.


Kakeknya tersenyum kecil, ia menjelaskan jika nama Nagara terinspirasi dari nama tokoh kartun Jepang yang sangat terkenal. Dia adalah teman Naruto yang bernama Gaara. Gaara adalah sosok pemimpin yang keren dan sifatnya yang khas membuat sang kakek mengaguminya.


Yah... Jadi namaku dari Gaara itu? Kenapa tidak sekalian diberi nama Naruto? Aneh-aneh saja.


"Kapan-kapan ajak Nona menemui kakek. Kakek juga sangat mengaguminya karena Nona pekerja keras."


"Untuk sekarang belum bisa karena Nona belum tahu identitasku sebenarnya."


Kakek menyuapkan makanan pada mulutnya. Dia melihat cucunya yang benar-benar berubah total tidak sama seperti dulu yang angkuh dan jika berbicara selalu menyakitkan hati.


**


Dewa pulang ke rumah Nona, hari ini badannya sangat remuk. Tak lupa dia membuka dompet yang mulai menipis. Gajiannya masih sekitar 2 minggu lagi dan uangnya sudah diambang pintu. Dewa memang tidak mau menggunakan uang kakeknya, ia harus berusaha sendiri apalagi sudah menikah.


Tangannya meraih uang 20 ribu yang didapat dari Bagas, ia memasukkan pada celengan ayamnya yang bertuliskan 'Untuk lahiran Nunaku'


Sedikit demi sedikit dia harus menabung untuk biaya persalinan istrinya. Dia berharap jika Nona bisa melahirkan secara normal supaya biaya jauh lebih sedikit dibanding caesar.


Dewa membaringkan di ranjang, ia melihat ponsel yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia ingin sekali mendekap Nona malam ini tetapi tidak enak jika menginap di rumah Bara.


Nuna, doakan aku bisa membahagiakanmu! Aku berjanji akan bekerja keras demi keluarga kecil kita.


Dewa melihat foto Nona di galerinya, satu persatu dia lihat. Nona sangat cantik dengan senyuman yang manis. Sampai Dewa melihat foto tulisan bahasa Inggris milik Nona yang masih dia simpan di galerinya.


Dewa


Zi, tolong terjemahkan tulisan ini!


Zian

__ADS_1


Baik, tuan.


__ADS_2