
Nona memilih pakaian yang menurutnya bagus. Dia melirik Dewa alias Naga yang sedang bercengkrama dengan Zian. Nona meremas jemarinya, ia sangat sedih saat mengetahui jika ia bukan menikahi Dewa yang asli. Nona sudah kenal dengan Dewa sejak Dewa masih duduk di bangku SMP walau tidak begitu kenal secara langsung tetapi Nona sudah melihat kegigihan Dewa karena orang tua Dewa sedari dulu sudah bekerja untuk keluarga Wiratmaja.
Mereka memang sangat mirip tetapi tentunya pasti terdapat perbedaan. Dewa yang asli lebih pendiam dan pemalu khususnya untuk orang pertama kali dia kenal.
Setelah mengambil satu baju, Nona menuju ruang ganti. Dia melihat kaca, nampak matanya menggambarkan kesedihan. Air mata keluar.
Walau aku belum begitu mengenal Dewa yang asli tetapi kenapa perasaanku sangat sedih? Kenapa aku merasa kehilangan seseorang?
Kepala Nona seketika menjadi pusing. Dia tergeletak pingsan, penjaga toko yang mendengar seperti ada orang jatuh memastikannya sendiri masuk ke ruang ganti. Alangkah terkejutnya ia melihat wanita berparas bule itu pingsan. Temannya mencoba memanggil Dewa, Dewa berlari menghampiri Nona.
"Sayang, bangun sayang!" ucap Dewa.
Dewa membopong Nona membawanya ke mobil untuk segera ke rumah sakit. Dewa sangat khawatir karena Nona sering pingsan. Ia tidak ingin Nona terjadi apa-apa.
Sesampainya di rumah sakit.
Infus terpasang lagi ditangan Nona. Nona belum juga siuman. Dokter mengatakan jika Nona terlalu kelelahan dan banyak pikiran yang membuatnya setres sendiri, apalagi dengan hamil kembar 3 membuat imunnya menjadi menurun.
Dewa menjaga sang istri dengan baik, dibalik pemecatannya ternyata ada hikmahnya juga. Dia bisa menjaga Nona setiap waktu mengingat Nona mudah pingsan.
Setelah beberapa saat, Nona sadar. Dia memandang suaminya yang tengah melamun. Nona mencubit pipi Dewa. Dewa kaget lalu membalas cubitan Nona.
"Hahaha... Sekarang aku panggil Mas Naga ya?" tanya Nona.
"Jangan, sayang! Panggil aku, Dewa! Oh ya mas sudah memesan apartemen yang kau mau. Dekat dengan apartemen Navier Alister, direktur perusahaan Young Group. Kita bisa pindah kesana setelah si kembar lahir," ucap Dewa.
Nona hanya mengangguk seolah tidak minat. Dia memilih memejamkan mata supaya bisa terlelap lagi berharap jika ia hanya bermimpi. Menikah dengan pria yang bukan keinginannya sangat membuatnya terpukul. Dia ingin menikah dengan Dewa Arga bukannya Nagara yang menyamar menjadi Dewa.
"Sayang kenapa lagi? Mas akan belikan apa yang kau mau."
"Aku hanya ingin Dewa yang asli," jawab Nona sedih.
"Kenapa bahas itu lagi? Mas 'kan bilang jika mas yang Nuna kenal adalah aku. Walau mas menyamar menjadi Dewa tetapi saat Nuna kenal pertama kali itu adalah mas sendiri," jelas Dewa.
Nona menangis lagi membuat Dewa bingung. Perasaan ibu hamil memang tidak menentu. Terkadang senang, sedih, baper dan lain-lain membuat orang disekitarnya bingung.
__ADS_1
"Dewa Arga sudah meninggal. Kapan-kapan kita ke makamnya ya?"
Nona hanya mengangguk. Dewa mengecup keningnya. Ia juga mengelus perut Nona, terdapat 3 buah hatinya yang bersemayam di rahim sang istri tercinta.
"Mas, Nuna takut melahirkan."
"Kenapa takut? Mas nanti bakal nemenin Nuna lahiran," jawab Dewa.
"Jika Nuna mati..."
Dewa menutup mulut Nona lalu menggelengkan kepalanya. "Jangan berpikiran yang aneh-aneh!"
"Tapi Nuna takut..." Nona menangis lagi membuat Dewa bingung. Pasalnya kenapa Nona jadi cengeng seperti ini setelah hamil? Biasanya dia adalah wanita yang anggun, cuek, dingin dan kini berubah menjadi wanita yang mudah bersedih.
"Sayang, jangan menangis! Nanti bayinya ikut sedih. Mas 'kan selalu di samping Nuna, jangan takut!"
***
Bara menjemput Sarah di kampus. Sembari menunggu. Dia melamun tidak jelas, ia sangat merindukan Elara. Elara yang malang sedang menjalani tahap rehabiltasi.
Sarah menghampiri mobil Bara lalu masuk kedalam mobil. Bara memperhatikannya dengan seksama.
"Siapa tadi?" tanya Bara.
"Oh... itu teman."
"Teman mana yang akrab begitu?"
Sarah menaikkan alisnya, ia tertawa kecil melihat pacarnya yang terlalu posesif. Bara masih memandangnya penuh selidik, ia malah terlihat seperti ABG yang posesif dengan pacarnya.
"Om Bara jangan terlalu mengekang begitu? Aku gak suka, dia hanya teman di kampus," ucap Sarah sambil mengikat rambutnya yang panjang nan hitam. "Oh ya, katanya adik Om Bara di rumah sakit? Aku juga terkejut saat tahu Tante Nuna hamil anak kembar. Hebat sekali si Dewa," sambung Sarah.
Mendengar kata hebat, Bara meremas jemarinya. Bahkan Bara sampai detik ini belum dikaruniai anak juga. Justru dia takut jika menikah nanti tidak bisa memberi anak kepada Sarah.
"Om kok melamun?"
__ADS_1
"Hem.. tidak apa-apa."
Sarah hanya memutar bola matanya jengah. Dia mengeluarkan wadah make upnya dan sedikit memoles wajahnya yang berminyak akibat aktivitas di kampus.
"Om Bara, lusa pernikahan papaku. Bahkan sampai sekarang aku belum dikenalkan calonnya. Jahat banget papaku."
"Mungkin papamu ada alasan lain mengapa dia begitu?"
Sarah mendengus. Harusnya Dani mengenalkan calon istrinya kepada Sarah tetapi dia malah diam saja.
"Om Bara, aku belum mens."
Bara menaikkan alis mendengar ucapan Sarah. "Maksudnya? Kau melakukan itu dengan siapa?" tanya Bara.
"Apa sih kok posesif begitu? Aku hanya bilang jika aku belum mens. Biasanya papaku akan membelikan jamu. Om Bara aneh banget deh. Apa Elara tidak pernah melapor kepada Om Bara jika telat datang bulan? Jika aku pasti melapor pada papaku. Papaku yang menyuruh, dia sangat peduli untuk masalah itu," jelas Sarah.
Bara menggelengkan kepala, ia memang tidak mengurusi masalah itu pada putrinya karena sudah menyangkup privasi sang anak.
"Aku sudah 2 hari telat. Aku mau laporan papaku dulu," ucap Sarah mencoba menelpon Dani.
Bara tak tak tinggal diam, dia merebut ponsel Sarah. Sarah merasa heran dengan sikap Bara yang justru makin hari semakin kekanakan.
"Jangan telpon papamu! Pasti dia akan menuduh om macam-macam. Kita cari jamu saja, biasanya beli dimana?"
Sarah terkekeh geli melihat pacar tuanya bersikap seperti ini. Padahal saat ia berpacaran dengan Dewa, justru Dewa bisa bersikap dewasa. Bara hanya heran saat ditertawakan oleh Sarah.
"Om nih ya lucu sekali. Om Bara pacaran apa baru pertama kali? Tidak 'kan? Hahaha... lucu sekali tingkah Om Bara."
"Iya ini adalah pertama kali om pacaran merasa sangat bahagia seperti ini. Saat om dulu berpacaran dengan ibu Elara, ia selalu membuat kecewa om."
Sarah menarik satu tangan Bara yang memegang kemudi mobil. Sarah menggenggamnya dengan erat. "Aku tidak akan mengecewakan Om Bara. Aku sangat mencintai om Bara."
Sarah melepas sabuk pengamannya dan langsung mengecup pipi Bara. Bara tersipu malu, ia sampai mengalah meminggirkan mobil supaya tidak menabrak akibat perasaannya yang menggebu-gebu.
"Aku juga mencintaimu, Sarah."
__ADS_1
****