Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 27 : Pengambilan ijazah


__ADS_3

“Berondong?


Hahaha...” Nona tergelak mendengar ucapan Dewa. Dewa mengernyikan dahi lantas


Nona mencubit pipi Dewa.


“Aku hanya


milikmu sayang bahkan kau adalah berondong tertampan yang pernah aku lihat.


Dewa tertawa


kecil, Nona lalu mengajak Dewa untuk berangkat ke sekolahan dan sebelumnya Dewa


menelpon orang tuanya supaya tidak datang ke sekolahan. Nona berjalan menuju


halaman rumah dengan anggunnya sedangkan Dewa masih melirik penampilan Nona


yang terkesan berlebihan. Dia tidak suka jika sang istri berdandan mencolok


seperti ini.


“Sayang,


nanti sepulang dari sekolah kita ke mall ya? Ingin membelikan beberpaa potong


baju untukmu,” ucap Nona.


“Tidak


perlu, sayang. Lagipula setelah dari sekolah aku langsung ke bengkel milik papa


Jojo.”


Nona sedikit


kecewa tetapi dia tidak ingin melihat Dewa merasa tidak enak. Mereka menaiki


mobil dan yang menyetir mobil adalah Arsel. Arsel melirik Dewa dengan tidak


suka tetapi Dewa tidak mau menggubrisnya. Setelah masuk mobil. Arsel segera


melajukan mobilnya ke sekolahan Dewa.


Dalam


perjalanan, Dewa terus saja memandang kaca mobil. Pagi ini memang sedikit


mendung bahkan matahari nampak malu untuk memperlihatkan sinarnya. Dewa


teringat saat masa dirinya sebelum berangkat sekolah pasti dia menyempatkan


untuk membantu bapak di rumah Bara. Disana juga Dewa sering bertemu Elara


tetapi saat itu Elara memandangnya sebelah mata dan seolah sombong dengan Dewa.


“Cowok


miskin pekerja kebun, jika aku beritahu ke teman-teman bagaimana ya reaksinya?


Disekolahan saja menjadi primadona padahal aslinya si miskin yang menjadi


tukang kebun,” ejek Elara.


Dewa hanya


diam, dia tidak mau bertengkar dengan perempuan. Apalagi ini tempatnay sang


bapak bekerja. Dewa tahu jika mulut Elara ini adalah racun yang sering mengadu


domba dan suka mengompori tetapi saat Dewa dikabarkan berpacaran dengan Sarah


tiba-tiba Elara mendadak baik dan mengejar-ngejar Dewa. Dewa tidak


memperdulikan Elara yang sempat membuatnya sakit hati karena ucapan pedasnya.


“Sayang?”


ucap Nona membuat Dewa terkejut.


“Ya?”


“Memikirkan


apa?” tanya Nona.


Dewa


menggelengkan kepala. Nona langsung menyenderkan kepalanya dibahu Dewa. Bahu


Dewa memang bidang membuat para wanita pasti merasa nyaman jika bersandar pada


bahu Dewa.


Setengah jam


kemudian, mereka sampai disekolahan  Dewa. Terlihat sudah ramai orang tua berdatangan. Dewa semakin berdebar


mengingat sang istri akan menjadi walinya. Bagaimana jika teman-temannya


bertanya siapa gadis cantik ini?


Benar saja,


saat akan masuk ke gerbang. Teman-teman Dewa yang sekelas dan bahkan berbeda


kelas langsung  melihat Nona. Tubuh Nona


yang sangat putih begitu paling kontras. Tangan Nona menggenggam lengan Dewa,


Dewa menelan ludah dengan kasar.


“Dewa, ruang


kelasmu mana?” tanya Nona.

__ADS_1


“Diujung


sana.”


Dewa


mengantar Nona menuju ruang kelasnya, Dewa menyuruhnya masuk sendirian karena


memang hanya orang tua saja yang diperbolehkan masuk sementara Dewa menuju ke


perpustakaan untuk mengembalikan buku yang sempat dipinjam. Sedangkan Nona


masuk ke kelas dan membuat dirinya diperhatikan oleh wali murid yang lain. Nona


mencari tempat duduk dan melepas kacamata hitamnya. Setelah menunggu beberapa


menit, Bara yang menjadi wali Elara terkejut melihat sang adik mengambil rapot


milik suaminya. Bara yang baru datang langsung duduk disebelah Nona.


“Kau yang


mengambilkan rapot dan ijazah untuk Dewa?” tanya Bara.


“Iya, kak.


Kenapa?”


Bara menahan


tawa, baru kali ini seorang istri mengambilkan ijazah dan rapot untuk suaminya.


Nona yang merasa diejek mencubit paha Bara. Bara langsung mengelus pahanya.


“Kenapa


bukan orang tua Dewa yang mengambilkan?” tanya Bara.


“Ini


keinginanku sendiri. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengambil rapot


disekolahan.  Anggap saja ini latihan


supaya saat kami punya anak tidak kagok saat mengambil rapot anak-anak kami,”


jelas Nona membuat Bara semakin geli.


Nona yang


melirik sang kakak menertawainya lalu mencubit lengan Bara. Nona hanya bisa


sabar dan menahan senyum padahal dia juga sendiri merasa geli.


“Dewa Arga


Mahren Afrizal,” ucap guru memanggil wali Dewa untuk maju kedepan.


Nona yang


melihatnya, Nona dengan pede maju ke meja guru dan duduk dididepan walikelas


Dewa.


“Ini walinya


Dewa?” tanya guru itu.


“Iya, bu.


Saya walinya.”


Guru


tersebut menganggukkan kepala lalu memberikan daftar absen yang harus ditanda


tangani Nona. Sambil menunggu Nona untuk bertanda tangan,  guru itu memperlihatkan kekurangan


administrasi yang harus segera dilunasi jika ingin mengambil rapot dan ijazah.


Setelah selesain menandatangani, Nona mengeluarkan dompet dan melunasi


kekurangan Dewa.


“Hanya 700


ribu ‘kan?” tanya Nona.


“Iya dan ada


uang kenang-kenangan juga sebesar 300 ribu.”


Total yang


harus dibayar sebesar 1 juta dan untung saja uang yang ada didompet Nona lebih


dari itu. Setelah membayar, Nona langsung diberikan nota pelunasan dan tentunya


rapot dan ijazah boleh dibawa pulang.


“Oh ya mbak


ini siapanya Dewa jika saya boleh tahu?” tanya guru itu.


“Ehm... Saya


kakaknya Dewa.”


“Benarkah?


Bukannya Dewa anak tunggal?”


“Eh... Saya


hanya kakak sepupunya saja. Orang tua Dewa sedang sibuk dan saya disuruh untuk

__ADS_1


mewakilkan.”


“Oh begitu.”


Setelah itu


Nona berpamitan untuk keluar setelah menerima rapot dan ijazah milik Dewa. Bara


lalu mengkode untuk menunggunya di kantin, Nona menganggukkan kepala. Nona


keluar dari kelas dan mencari keberadaan Dewa. Dewa juga saat itu keluar dari


perpustakaan.


“Dewa, sudah


mengembalikan buku?” tanya Nona.


“Sudah


sayang.”


Nona lalu


mengajak Dewa ke kantin untuk menunggu Bara. Ternyata di kantin ada banyak


teman-teman Dewa termasuk Jojo. Dewa menggigit bibirnya dan lidahnya langsung


kelu karena pasti Jojo akan melontarkan banyak pertanyaan.


“Dewa, sini!”


Jojo menyuruh Dewa untuk bergabung untuk duduk bersamanya yang sedang


sendirian.


“Dewa, jika


kau tidak yakin aku bisa menunggu dimobil saja,” ucap Nona.


Dewa


menggelengkan kepala, dia langsung menggandeng Nona untuk menghampiri Jojo.


Jojo mengernyitkan dahi saat melihat mereka bergandengan tangan. Dewa menarik


kursi untuk Nona dan mempersilahkannya untuk duduk. Jojo memandang Nona tanpa


berkedip, Dewa langsung menepuk mata Jojo.


Plaaaak....


“Jangan


memandangi istriku dengan segitunya!” ucap Dewa sambil duduk disamping Nona.


Nona dan


Jojo terkejut mendengar pengakuan dari Dewa.


“Istri?”


tanya Jojo.


“Perkenalkan


dia Nuna atau biasa dipanggil Nona, dia istriku,” ucap Dewa.


Ku pikir Dewa akan menyembunyikan


fakta jika aku istrinya tetapi dia malah membongkarnya sendiri. Aku sangat


salut dengan Dewa yang tidak gengsi.


“Kau


menghamilinya?” tanya Jojo.


“Tidak,”


jawab Nona dan Dewa secara bersamaan.


Jojo


langsung tertawa mendengarnya.


“Intinya


kami menikah bukan karena Nona hamil. Jangan menganggap pernikahan kami seperti


itu!” ucap Dewa.


Jojo masih


tidak mempercayai ucapan Dewa. Dewa si primadona sekolah mendadak menikah


dengan wanita blasteran yang sangat cantik ini.


“Jadi ini


sebabnya kau putus dengan Sarah?”


“Bukan, aku


putus dengan Sarah sebelum kami menikah,” jawab Dewa.


Jojo


menggigit jemarinya, entah dia harus senang atau justru kecewa ini semua


membuatnya bingung karena Dewa tidak mengabari jika dirinya menikah. Dewa


meminta maaf karena ini adalah pernikahan dadakan bahkan sampai saat ini hanya


Jojo yang tau pernikahan mereka dan teman-teman lainnya belum mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2