
"Sarah, aku ingin bilang sesuatu kepadamu jika aku sudah menikah sebulan yang lalu," ucap Dewa.
"Kau bercanda?" tanya Sarah.
Dewa menggelengkan kepala, ia menjelaskan jika dirinya sudah menikahi Nona sebulan yang lalu setelah dirinya selesai ujian. Mata Sarah membelalak, tangannya ingin memukul Dewa. Guratan emosi keluar dan ingin ia luapkan tetapi Sarah malah meluapkannya dengan tangisan.
Tangisan sesegukan membuat Dewa merasa bersalah, tangannya mencoba menggenggam tangan Sarah tetapi Sarah menepisnya. Bulir-bulir air mata keluar tanpa ampun mengalir deras hingga membasahi seluruh wajah Sarah.
"Sar, kau itu cantik, baik, masih banyak yang mau denganmu. Jangan menangis! Kita memang tidak berjodoh."
"Aku benci denganmu. Aku sangat benci denganmu, Dewa!" teriak Sarah yang suaranya menggelegar di ruangan itu.
Sarah beranjak keluar lalu tidak sengaja bertemu ibu Dewa, ia langsung pergi tanpa memandang ibu Dewa. Rasa sesak di dada membuatnya begitu kalut. Baginya hanya Dewa yang tersisa untuk menemaninya setelah perceraian kedua orang tuanya yang menyiksa batin tetapi kenangan sudah menjadi kenangan. Sarah masuk ke mobil, meninggalkan rumah sakit dengan perasaan kecewa. Sarah melajukan mobilnya begitu kencang sampai tidak memperdulikan pengguna jalan yang lain.
Pada akhirnya Sarah melampiaskan pada sang papa yaitu Dani. Dia mengadu pada Dani jika Dewa sudah menikah. Dani hanya bisa tersenyum kecil sembari mengelus rambut panjang Sarah.
__ADS_1
"Sudahlah, yang sudah menikah jangan di ganggu lagi! Dewa sudah menemukan jodohnya. Kau cantik pasti akan ada pria yang mau menjadi pacarmu," ucap Dani.
Sarah menggeleng, ia mengusap air matanya lalu memandang wajah sang papa yang menyebalkan. Sarah memukuli dada sang papa namun Dani justru tertawa.
"Hahaha..."
"Kenapa papa tertawa?" tanya Sarah.
"Sebaiknya cepat lupakan Dewa! Hem ... putriku jika menangis lucu juga. Menangisi mantan. Haha ...," ucap Dani.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ibu menggugat Nona ke pengadilan? Kenapa kalian tidak memberi tahuku?" tanya Bara.
Ibu masih santai sama seperti biasanya. Dia menyeruput teh tubruk favoritnya. Bara tidak habis pikir dengan keluarganya yang begitu semena-mena dengan Dewa.
__ADS_1
"Kau masih membela wanita itu? Kau tidak ingat jika ibunya hampir merusak kebahagiaan kita tetapi karma sudah menghampirinya. Wanita jalang itu meninggal sebelum merasakan harta ayahmu," ucap Ibu.
"Walaupun begitu ini bukan salah Nona. Nona tidak tahu apa-apa."
Ibu tersenyum tipis. "Kenapa kau begitu membelanya? Dia bukan adik kandungmu."
Bara merasa geram. Nona tetaplah adiknya walau berbeda Ibu mereka dari satu ayah. Bara berdiri, ia menatap ibunya dengan penuh amarah.
"Kau anak ibu yang selalu mengekang. Kau tidak pernah patuh kepada ibu. Bahkan jika dulu kau tidak menikahi Zalina pasti sudah memiliki anak sendiri. Wanita itu mandul karena kesalahannya. Apalagi anaknya yang sangat aneh itu membuatku merinding dan ngeri," ucap ibu.
"Jangan mencela Zalina dan Elara! Mereka tidak seperti itu. Jaga ucapan ibu! Aku tahu jika ibu tidak suka dengan mereka tetapi jangan pernah menghina mereka dengan mulut jahat ibu!" ucap Bara nampak kesal.
Ibu mendekati Bara, entah apa yang di pikirkan Bara sehingga sangat melindungi istri beserta anaknya yang aneh itu.
***
__ADS_1