
Dewa melajukan mobilnya sampai di depan perusahaan Arsel, setelah itu ia menuju ke
ruangan Arsel yang ada di lantai 3. Dewa masih saja tampan dan tentunya sikap nyelenehnya masih melekat pada dirinya. Saat memasuki lift, ia melihat Arsel
yang melewati lorong, Dewa langsung keluar dan mengejar Arsel.
“Sel, Arsel ...”
Arsel mendengar suara yang tak asing, ia menoleh dan mendapati Dewa yang mendekatinya.
“Dewa? Ada apa?’ tanya Arsel.
“Masalah Mona.”
Arsel tersenyum, ternyata Mona akan membicarakan secepat ini dengan sang papa. Arsel
mengajak Dewa ke ruangannya dan menyuruhnya duduk di sofa. Terlihat Dewa mulai
menunjukan wajah tidak senang. Arsel membuatkan kopi terlebih dahulu supaya obrolan mereka nanti jauh lebih santai.
“Minum dulu!” Arsel menyerahkan segelas kopi moca untuk Dewa.
Dewa meletakkannya ke meja dan menatap Arsel yang sangat berwajah santai.
“Apa tidak ada wanita lain? Kenapa harus Mona? Pedofil kau!” ucap Dewa tanpa basa-basi
lagi.
Arsel menyesap kopi itu perlahan, ia tersenyum tipis lalu meletakkan gelasnya di atas
meja. Dia memandang Dewa, Dewa tak habis pikir ada orang seperti Arsel.
“Cinta tak memandang umur, bukan?” tanya Arsel.
“Apa maksudmu? Kau menyindirku?”
Arsel tersenyum kecil, ia memandang Dewa yang sama sekali tidak berubah. “Aku sangat serius dengan Mona.”
Dewa semakin emosi, ia akan memukul Arsel namun Mona tiba-tiba datang. Dia langsung mencegah sebelum terjadi pertengkaran. Mona menenangkan sang papa, Dewa sangat kecewa dengan mereka.
“Jika mommy mu tahu pasti dia akan sangat marah,” ucap Dewa.
Mona mulai menangis, ia meminta maaf jika sudah menimbulkan masalah. Dewa mencoba mengontrol emosinya dan mengusap air mata Mona. Dewa tahu rasanya mencintai
seseorang apalagi orang itu adalah orang yang ada di sekitar kita, pasti sangat sakit rasanya jika tak terbelaskan.
“Huh ... Mona, kau sangat mencintai Arsel?” tanya Dewa.
Mona mengangguk sambil mengusap air matanya. Dewa lalu memandang Arsel yang melihat wanita yang di sukainya menangis sedih.
“Umur Arsel sangat jauh darimu,” sambung Dewa.
“Apa menyukai orang ada syarat umurnya? Tidak ‘kan? Ku mohon restui kami,” jawab
__ADS_1
Mona.
Dewa mencoba mengontrol emosinya, ini menyangkut putri kesayangannya. Cukup berat untuk berkata tidak dan cukup susah untuk berkata iya. Arsel adalah pria yang pernah
menyukai Ibu Mona dan kini malah turun ke putrinya. Terkesan agak aneh namun
mungkin saja Mona adalah jodoh Arsel yang tertunda.
“Baiklah, papa merestui kalian,” ucap Dewa.
“Benarkah?”
Dewa mengangguk, Mona menangis terharu. Dia memeluk Dewa dengan erat, Arsel juga
sangat berterima kasih pada Dewa yang mengerti keadaannya. Setelah itu Dewa
mengancam Arsel akan memberi pelajaran jika tidak membahagiakan Mona.
“Aku akan membahagiakan putrimu,” ucap Arsel.
“Aku akan memegang omonganmu,” jawab Dewa.
Setelah itu Mona dan Dewa pulang, Mona berbalas pesan sambil senyum-senyum sendiri. Dewa yang ada di sampingnya hanya meliriknya tanpa ikut campur.
“Mommy mu harus segera tahu.”
Mona mengangguk tanpa melihat sang papa. Dewa
tahu jika putrinya sedang berbalas pesan dengan Arsel. Ya, jatuh cinta membuat orang menjadi gila dan buta. Tiba-tiba ponsel Dewa berbunyi ternyata dari Kenzi, keponakannya itu menelpon dari Korea.
“Aku dan Kak Kenzo akan pulang.”
Dewa terkejut namun hatinya sangat senang. “Kapan?”
“Lusa, jemput kami di bandara, ya?”
“Papa akan menjemput kalian,” jawab Dewa dengan sumringah.
Mona menoleh sang papa. “Kak Kenzo pulang?” tanya Mona.
Dewa memgangguk, Mona terdiam sejenak. Semenjak kejadian itu ia sekarang menjadi
canggung dengan Kenzo pasalnya mereka sempat ketahuan berbuat mesum beberapa tahun yang lalu. Kenangan itu sangat buruk bagi Mona karena hal yang sangat
memalukan.
**
Di kamar Mona.
Gadis bule itu mendapat telpon dari Kenzo, dengan perasaan yang gundah gulana pada
akhirnya ia mengangkatnya. Suara sang kakak memang ia sangat rindukan namun
__ADS_1
mengingat insiden itu enggan untuk mengakuinya.
“Mona, kakak akan pulang.”
“Iya, aku tahu.”
“Mau oleh-oleh apa?”
Mona menggeleng seperti orang bodoh karena tentu saja dari telpon Kenzo tidak dapat
melihatnya.
“Mona, kenapa diam saja?” tanya Kenzo
“Aku tidak ingin apa-apa.”
Setelah itu Mona menutup telponnya, ia menghela nafas, Cukup susah mengobrol dengan santai setelah insiden memalukan itu.
Mona beranjak dari tempat tidurnya dan melihat sang mama sedang memasak. Dia
berinisiatif untuk membantunya.
“Mom, aku bantu, ya?” tanya Mona.
“Tumben?”
“Ya, ingin belajar masak, siapa tahu jika aku menikah jadi pandai masak juga.”
Dahi Nona berkerut. Dia menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan putrinya yang terkadang ngelantur. Mona membantu memotong sayuran, sesekali ia melihat sang mama yang sibuk membuat kaldu ayam.
“Mom, Uncle Arsel bagaimana?”
Nona melirik Mona yang tersenyum maut padanya. “Maksudmu?”
Mona menghela nafas. “Uncle Arsel baik, ya?”
Nona mengangguk namun belum paham arah pembicaraan putrinya. Nona sendiri tahu jika
Mona dan Arsel dekat sebagai paman dan keponakan, tidak lebih.
“Mommy...”
“Mona, bilang saja jika ada sesuatu, jangan ganggu Mommy yang sedang masak!” ucap Nona.
Mona semakin kelu, ia tahu jika sang mama akan marah besar jika tahu ia berhubungan dengan
Arsel dan memutuskan akan menikah.
“Aku akan menikah, Mom.”
“Apa?” Nona
sangat terkejut.
__ADS_1
*****
Maaf bonus chapternya lama, hehehe, udah bosan nunggu ya?