
“Oh iya kak, anak Kak Dani masuk penjara,” ucap Nona.
Bara melepas pelukan Nona. “Maksudmu Sarah?” tanya Bara.
Nona menganggukkan kepala. Bara tersentak, ia berusaha menelpon Dani tetapi jawaban Dani diluar dugaannya. Dani membiarkan Sarah berada dipenjara sebagai hukumannya yang tidak menurut kepada orang itu. Bara yang merasa ini tanggung jawabnya segera ke kantor polisi.
Bara bergegas ke kantor polisi, ia begitu bersalah dengan Sarah tetapi herannya malah Dani membiarkan putrinya mendekam di sel. Saat sudah sampai di kantor polisi waktu sudah malam. Jam berkunjung juga sudah habis tetapi Bara
bersikukuh ingin membebaskan Sarah. Sarah hanya salah pergaulan dan dia juga
tidak senakal itu.
“Kami lupa menyampaikan jika Sarah yang pelaku peneroran rumah adik anda sudah dibebaskan oleh seseorang satu jam yang lalu. Kini dia sudah bebas.”
“Benarkah? Syukurlah? Yang membebaskan Sarah siapa?” tanya Bara.
“Dia mengaku sebagai ibu Sarah.”
Ibu Sarah?
Setelah itu Bara keluar dari kantor polisi. Dia mencoba menghubungi Sarah. Sarah
mengangkatnya dan kini sedang berada di hotel bersama seseorang. Bara yang takut terjadi sesuatu dengan Sarah
langsung menghampirinya.
Setelah menempuh waktu selama setengah jam, Bara sampai dihotel tempat Sarah menginap. Dia langsung segera mengetuk pintu dan Sarah membukanya. Bara diperbolehkan masuk, dari kejauhan Bara melihat perempuan berambut panjang dan sedang merokok di balkon kamar. Bara mendekatinya, seseorang yang sangat mirip dengan Sarah.
“Rena?”
Wanita itu menoleh kepada Bara, ia segera mematikan rokok yang sudah hampir habis dan memasukannya ke asbak rokok. “Lama tidak bertemu, Bara. Dimana teman bajinganmu itu? Enak-enaknya mau menikah diatas penderitaan anaknya.”
Rena mengajak Bara untuk duduk diruang tamu. Sarah membawakan mereka makanan dan minuman, ia lalu duduk disamping Bara. Rena hanya menaikkan alisnya. Sedekat itukah Bara dengan putrinya?
“Papamu sudah datang menghampirimu di kantor polisi?” tanya Bara kepada Sarah.
Sarah hanya menggelengkan kepala. “Papa membiarkanku mendekam dipenjara.”
__ADS_1
“Sudah ku duga, pria brengsek itu lama-lama mengacuhkan putriku. Dia yang meminta merawat Sarah, dia juga yang menelantarkan Sarah. Dia beralasan jika Sarah bandel seperti aku, alasan macam apa itu? Bilang saja ingin menyingkirkan Sarah setelah dia menikah,” ucap Rena geram.
Bara tersenyum kecil, Rena memang sama persis seperti Sarah dan lihat saja pakaian Rena sangat gaul seperti sosialita. Bara meminum yang disuguhkan oleh Sarah, ia melirik Sarah yang berwajah masam memandang mamanya.
“Sudahlah aku mau pamit dulu, putraku pasti mencariku,” ucap Rena sambil berdiri.
“Putramu?” tanya Bara.
“Iya, putraku dengan Marcel dia sudah besar sebentar lagi mau lulus SD. Sarah, mama pulang dulu. Bilang kepada mama jika papamu seperti itu lagi.”
Sarah hanya diam dia tidak mau menatap mamanya, Rena juga nampak melempar kartu kredit dan terjatuh tepat di paha Sarah yang sedang duduk. “Pakai itu buat membeli sesuatu, beberapa hari lagi mama akan datang lagi.”
Bara yang melihat itu hanya menghela nafas, pantas saja Sarah seolah cuek dengan kedua orang tuanya.
Bara akhirnya juga berpamitan juga untuk pulang, ia tidak enak jika harus dihotel bersama gadis yang seumuran putrinya. Sarah hanya menganggukkan kepala dan mengantar mereka sampai depan pintu. Rena dan Bara berjalan bersama-sama sampai ditempat parkiran.
“Bagaimana kabar Zalina?”
“Dia sedang sakit parah, aku akan segera membawanya ke luar negeri."
Rena tersenyum kecut, ia menepuk bahu Bara. “Yang sabar, semoga cepat mendapat pengganti. Oke, aku pergi dulu. Jika Dani mengatakan sesuatu tentangku tolong beritahu aku! Aku akan merobek mulutnya, hahaha...”
Rena masuk ke mobilnya, Bara terdiam melihat kepergian Rena. Bara teringat dengan Sarah yang kini sedang sendirian, Bara memang tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga Dani dan Rena tetapi karena dia juga punya anak yang seumuran dengan Sarah membuatnya tidak tega dengan Sarah.
Bara kembali ke hotel tempat menginap Sarah, setidaknya Bara memastikan Sarah sudah makan atau belum. Dia tidak ingin meninggalkan Sarah dengan keadaan kelaparan.
Tok... tok... tok...
“Sarah, buka pintunya!” ucap Bara sambil mengetuk pintu.
Sarah membuka pintunya, ia menaikkan alisnya melihat Bara yang datang lagi. “Ada yang ketinggalan, om?”
“Tidak Sarah, kau sudah makan? Ayo kita makan bersama!”
Sarah menggelengkan kepalanya tetapi dia memang tidak berniat untuk makan. Bara mengajak Sarah untuk ikut pulang ke rumah ketimbang Sarah disini sendirian.
“Aku tidak enak dengan Tante Zalina, dia sepertinya tidak suka denganku.”
__ADS_1
"Tante Zalina tidak seperti itu. Dia juga sayang denganmu."
Sarah berpikir sebentar tetapi tetap aneh jika dia ikut dengan Bara yang bukan
siapa-siapa. Sarah menolak untuk ikut bersama Bara. Bara tahu akan pikiran
Sarah tetapi bagi Bara, Sarah sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
“Yasudah jika tidak mau, bagaimana om belikan makanan saja? Setelah itu om akan segera pulang.”
Sarah menganggukkan kepala, Bara tersenyum sambil mengusap kepala Sarah. Perasaan aneh menyerang Bara, ia merasakan sesuatu yang aneh pada perasaannya.
“Om Bara kenapa?” tanya Sarah.
Bara tersadar dari lamunannya, ia menggelengkan kepala. Bara berpamitan kepada Sarah untuk membeli makanan. Sarah menarik tangan Bara. “Bolehkah aku ikut om membeli makanan? Aku ingin makan sate di langganan papaku.”
**
Dewa melamun memikirkan kejadian tadi. Apalagi penyakit Zalina yang sudah parah membuat Dewa merasa kasian dengan kakak iparnya itu. Dewa melirik Nona yang melakukan pembukuan, ia tersenyum kecil memandangi wajah Nona
yang sangat imut.
“Sayang, kau tidak kasihan dengan Kak Zalina?” tanya Dewa.
“Kasihan tapi mau bagaimana lagi, semoga dia cepat sembuh setelah berobat di luar negeri. Aku tidak menyangka jika Kak Zalina akan mempunyai penyakit mematikan seperti itu.”
Dewa lalu mengambil dompetnya, ia mengeluakan beberapa uang untuk Nona. Nona hanya memandangnya dalam diam. “Uang belanja untukmu, maaf tidak banyak karena aku belum gajian.”
Nona menerimanya dengan senang hati. Dia tidak ingin menolak karena itu akan membuat Dewa sangat kecewa. Seberapapun pemberian Dewa akan dia terima dengan senang hati.
“Ehmm sayang, boleh tidak aku meminta jatah?” tanya Dewa mendekati Nona.
Nona menggelengkan kepala, ia fokus mengerjakan pembukuan tokonya yang terjual hari ini. Dewa cemberut, ia memilih lari ditempat supaya nafsunya hilang. Dengan begitu dia tidak usah meminta jatah kepada Nona.
Nona memperhatikannya dengan heran, ia mendekati Dewa lalu mendekapnya dari belakang. Gejolak Dewa muncul lagi dan ingin menyerang Nona. Nona memegang dada Dewa yang berdebar begitu kencang. Dewa semakin merinding dibuatnya.
“Mau minta?” tanya Nona.
__ADS_1
Dewa menganggukkan kepala dengan semangat.
“Ayo kita lakukan!” sambung Nona yang mendorong tubuh Dewa ke ranjang.