
Setelah sampai di rumah Bara, mereka turun dari mobil. Ekor mata Sarah melihat Arsel sedang mengobrol serius bersama Elara. Sarah membanting pintu mobil lalu menghampiri pria sok keren itu. Sekali tendangan,
Arsel lalu tersungkur, ia melirik Sarah yang sudah bersedekap di belakangnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Arsel marah.
“Cih... Cowok emberan,” jawab Sarah.
Bara yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sikap Sarah sama persis dengan Dani yang bar-bar.
Arsel berdiri sambil mengelap celananya yang kotor, dia memandang tajam Sarah yang
sudah mengkasarinya. Arsel si pria angkuh menunjuk kening Sarah dan sedikit mendorong kening Sarah
menggunakan telunjuknya. Elara tersenyum sinis melihat pertengkaran kecil mereka.
“Cewek nakal mainnya ke diskotik dan hotel,” ejek Arsel.
“So what?! Suka-suka dong. Sekalinya main ke diskotik pasti kau ketagihan,” jawab Sarah.
“Hoaaaam, aku mau masuk dulu. Lanjutkan perkelahian kalian! Jika kalian butuh pisau ada didapur,” ucap Elara sambil berjalan meninggalkan mereka.
Bara memanggil Sarah dan Arsel untuk ikut masuk, Arsel langsung berpamitan untuk pulang setelah selesai berbicara dengan Elara. Sarah terus menatapnya sinis lalu ikut masuk bersama Bara. Sarah duduk disofa, ia sangat malas harus menginap disini, ditempat musuhnya.
Zalina datang, ia menghampiri Sarah. Setelah sempat terpegok oleh bocah itu ia masih menunjukkan sikap biasa saja. Secangkir teh dan semangkuk biskuit dia hidangkan. Sarah dengan malas menatapnya.
Bisa-bisanya Zalina yang dikenal baik dan lembut memiliki sifat jalang sama seperti ibu Sarah.
“Aku tidak ingin berbasa-basi, aku akan menginap dihotel untuk beberapa hari ini. Bilang kepada papaku jika aku menginap disini,” ucap Sarah dengan nada angkuh.
Sarah berdiri, kakinya melangkah menuju pintu. Tangannya menarik handle pintu lalu dibukanya pintu itu secara perlahan.
“Tunggu, Sarah! Kau harus menginap disini. Papamu sudah menitipkanmu kepada kami,” ucap Bara yang datang dari arah kamarnya.
Sarah terhenti. “Gak mau!”
“Aku akan lapor kepada papamu jika begitu.”
Sarah mendengus kesal, dia berjalan kearah mereka. “Tunjukkan kamarku!” ucap Sarah kesal.
Bara menyuruh sang istri untuk menunjukkan kamar Sarah untuk beberapa hari ini.
__ADS_1
Sarah mengikuti Zalina, kamar yang dipakai Sarah bersebelahan dengan kamar Elara. Kamar ini cukup besar dengan desain dinding berwarna pink cerah.
“Ini kamarmu, jika butuh apa-apa bilang pada tante!” ucap Zalina lalu menutup pintu membiarkan Sarah beristirahat.
Sarah duduk disudut ranjang, ia melamun tidak jelas. Dia tahu jika papanya pergi bukan karena bisnis tapi karena wanita idamannya. Air mata Sarah menetes tanpa permisi tetapi dia langsung menghapuskan.
Aku sudah kehilangan ibuku, aku sudah kehilangan Dewa, sebentar lagi aku juga akan kehilangan papa. Kenapa aku selalu ditinggalkan?
Pintu kamar terbuka, Bara masuk untuk mengajak Sarah untuk makan malam bersama. Sarah berdiri, dia pikir Zalina yang masuk ke kamarnya.
“Sarah, ayo makan malam!” ajak Bara.
“Enggak mau. Aku sedang tidak bernafsu untuk makan.”
“Kau habis menangis?”
Sarah menggelengkan kepalanya. “Besok aku akan menginap di hotel. Aku tidak mau disini.”
“Sarah, papamu menitipkanmu kepada kami hanya 3 hari saja. Bertahanlah disini selama 3 hari setelah itu kau boleh melakukan apa yang kau mau,” jawab Bara.
Sarah memandang wajah Bara lalu tersenyum kecil.
Sarah juga mengibaskan tangannya menyuruh Bara keluar. “Keluarlah, Om! Aku sedang diet jadi tidak makan malam.”
**
Keesokan harinya.
Dewa sudah boleh diizinkan pulang oleh dokter. Hari ini mereka langsung ke rumah baru yang sudah dibeli oleh Nona. Walau belum tertata dengan rapi tapi mereka sudah tidak ada pilihan lain untuk tinggal disana.
Rumah itu jauh lebih kecil dari ukuran rumah yang dulu Nona tempati tetapi bagi Dewa tetap saja terlihat besar. Nona menunjukkan kamar mereka, masih terlihat besar dan luas bagi Dewa. Ranjang mereka juga nampak baru, Dewa heran kenapa disituasi ini Nona malah membuang uang.
“Sayang, suka dengan kamar ini? Jika tidak suka maka aku bisa merubahnya,” ucap Nona.
“Ya terserah, sayang. Tapi alangkah lebih baiknya memiliki rumah yang sederhana saja mengingat aku belum mempunyai pekerjaan,” ucap Dewa.
“Kita harus mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Sudahlah, Dewa. Nikmati hidup ini selagi kita masih mempunyai segalanya!”
Dewa hanya diam, dia bisa apa karena tidak ikut membeli rumah ini sepeserpun dengan uangnya. Dewa sebagai suami sangat malu melihat istrinya membeli semua kebutuhan rumah tangganya. Nona membuka lemari, melihat semua isinya, dia tersenyum didalam lemari masih berisi lengkap. Manik biru Nona melihat sebuah
amplop coklat, ia membukanya. Sebuah surat kontrak pernikahan ada didalam amplop itu.
__ADS_1
“Dewa, lihat sayang!” pinta Nona kepada Dewa, Nona merobek surat kontrak itu lalu
membuangnya ke tempat sampah. “ Tidak ada nikah kontrak lagi. Aku milikmu selamanya,” sambung Nona.
Dewa tersenyum kecil, “Kau yakin jika tidak akan meninggalkanku yang tidak punya apa-apa ini?” tanya Dewa.
“Jika aku tidak yakin maka aku sudah membuangmu dari dulu.”
Dewa berdiri lalu memeluk Nona, ia berjanji akan membayar hutang orang tuanya kepada Nona lalu akan kerja keras untuk Nona. Dewa juga berjanji akan menjadi orang sukses supaya Nona tidak selalu dihina mempunyai suami miskin.
“Aku percaya padamu, sayang. Usiamu masih muda, jalanmu masih panjang dan tentunya kau akan
mempunyai kesempatan untuk menjadi orang sukses.”
Nona membantu Dewa untuk berbaring, setelah ini Nona akan menghadiri sidang tentang pembagian harta gono-gini. Arsel sudah menyiapkan pengacara untuk Nona. Nona juga sudah tidak memperdulikan tentang harta itu. Nona berpamitan dengan Dewa, ia akan segera pulang jika sudah menyelesaikan persidangan itu.
“Doaku menyertaimu, sayang,” ucap Dewa memberi semangat.
“Terima kasih, sayang.”
Langkah anggun Nona menghampiri pintu, ia membuka handle pintu dan sudah ada Arsel
didepan pintu. Arsel mengantar Nona ke pengadilan. Wajah Nona nampak tenang dan
tidak takut sama sekali. Arsel membuka pintu mobil, Nona masuk dengan tersenyum simpul.
Ambillah semua benda yang ayah punya.
Aku tidak akan mati jika kehilangan semua yang diberikan ayah kepadaku. Aku
akan membalas dendam kepada kalian, terutama pelaku yang membunuh ibuku.
Arsel mulai menyetir mobilnya. Dia melihat Nona dengan khawatir tetapi Nona malah biasa saja. Arsel mencoba mencairkan suasana.
“Nona, aku akan membantu sebisaku. Aku berada dipihakmu.”
“Terima kasih, Arsel. Tapi setelah ini kau akan berkerja dimana karena aku sudah tidak
membutuhkanmu. Perusahaan Alona akan diambil alih oleh mereka dan tentunya
hanya satu toko yang akan diserahkan kepadaku. Mereka memang licik,” ucap Nona.
__ADS_1
“Tapi Tuan Bara masih berada dipihakmu, Nona.”
“Entah Bayu, Bagas maupun Bara, aku tidak peduli. Aku tahu Kak Bara baik denganku karena ada alasan lain. Aku sudah mengenal sifat mereka dengan baik terutama Kak Bara yang berusaha sok dekat denganku,” jawab Nona.