Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 69 : Dewa terjebak


__ADS_3

“Hoi, Om! Om ini setres ya bisa senyum- senyum sendiri. Memikirkan apa sih?” tanya Sarah melihat Bara tersenyum sendiri saat berada di lampu merah.


Tin... tin... tin...


Mobil dibelakang mereka mengklaskson bersahut-sahutan, Bara yang sadar dari lamunanya langsung melajukan mobilnya. Sarah sedari tadi mendengus melihat Bara yang aneh. Baginya wajar saja jika Bara begitu karena baru saja ditinggalkan sang istri.


Kau memikirkan apa sih Bara?


Bisa-bisanya memikirkan hal aneh, Ingat! Zalina baru saja meninggal walau kau sebenarnya tak mencintainya namun harus menghormatinya.


Dering ponsel Sarah berbunyi, ia dengan malas mengangkatnya. Suara sang papa membuatnya semakin kesal karena saat dibutuhkan tidak ada dan kini tiba-tiba menelpon menanyakan keadaan.


“Aku sudah dengan Om Bara, Papa urusi saja cewek baru papa,” ucap Sarah.


“Kenapa berkata seperti itu? Nanti papa jemput untuk ke butik, papa ingin saat pernikahan papa nanti kau terlihat cantik.”


Sang papa menutup telpon, wajah Sarah menjadi kesal. Beberapa hari lagi adalah pernikahan papanya, ia semakin tidak ingin datang ke pesta pernikahan sang papa.


“Om pasti mau menikah lagi jika sudah melupakan Tante Zalina?” tanya Sarah sambil


memasukkan ponsel ke tasnya.


Bara tersenyum kecil. “Om belum memikirkan itu, tapi emangnya kau mau jadi pengantin om?”


“Iyuuuuuh....”


Bara tertawa kecil, ia mengusap kepala Sarah, Sarah menepisnya. Bara menjelaskan jika dirinya hanya bercanda supaya perjalanan mereka tidak membosankan. Sarah hanya mengiyakan saja karena ia tahu hati Bara masih hancur sejak kematian Zalina apalagi Elara semakin hari semakin aneh membuat Bara bertambah beban hidupnya.


**


Sore menjelang malam, Dewa sedang menunggu Arsel untuk menjemputnya tetapi tidak kunjung datang. Dia berusaha menelpon Arsel tetapi nomor pria itu tidak aktif. Motornya sedang diperbaiki ke bengkel karena kejadian kemarin. Rasa bersalah selalu membayang dipikirannya karena membuat motor baru dari Nona ia rusakkan.


Dewa berjalan untuk mencari angkot, memang angkot menuju rumah Bara jam segini sudah jarang lewat didepan pabrik. Dewa harus mengalah berjalan ke jalan raya utama untuk mencari angkot jurusan lain. Sampai sebuah mobil mewah mengklakson dirinya.


Tin... tin... tin...


Dewa menengok ke belakang. Kaca mobil tersebut terbuka, pria berjas hitam dan menggunakan kaca mata hitam tersenyum kearahnya,


“Butuh tumpangan?” tanya Altaf.


Dewa menggelengkan kepala, ia berjalan lagi meninggalkan mobil itu. Mobil mewah itu terus mengikuti Dewa.

__ADS_1


“Aku baik denganmu, nak. Kenapa kau ketus sekali?” ucap Altaf.


Dewa terhenti dari langkahnya, ia melirik kearah Altaf.


“Ayo masuklah! Aku akan mengantarmu pulang.”


Dewa berpikir sejenak, ia menganggukkan kepala lalu masuk di mobil Altaf. Setelah Dewa masuk, sang sopir segera melajukan mobil ditengah keramaian kota ini. Dewa merasa canggung dengan pria yang  pernah akan


menikah dengan Nona.


“Dewa, kau pernah ke tempat hiburan malam? Mau mampir kesana?” tanya Altaf.


Dewa langsung menggelengkan kepala. Altaf merangkul pundaknya. “Sebentar saja, temani aku minum!”


Dewa merasa tidak nyaman lalu menepis tangan Altaf. Altaf melihat kaca spion atas menatap sang sopir yang menganggukkan kepala kepadanya.  Altaf menyeringai.


Dewa merasa aneh dengan rute jalan yang mereka lewati, sepertinya memang jika ini bukan arah ke rumah Bara. Dewa meminta turun tetapi Altaf tidak mau mendengar ucapannya. Ketika Dewa akan membuka pintu tiba-tiba Altaf merangkulnya.


“Ada apa dik? Aku tidak akan melakukan hal aneh padamu. Aku masih normal,” ucap Altaf.


“Aku hanya ingin pulang.”


“Tapi istriku menungguku.”


Altaf tetap tidak memperdulikan ucapan  Dewa. Mereka melaju kesebuah diskotik terkenal dikota itu.  Dewa membodohkan dirinya karena mau saja ikut bersama Altaf. Setelah sampai di diskotik, Altaf merangkulnya dan mengajak untuk masuk. Dewa memberontak tetapi Altaf meyakinkan hanya sebentar saja.


Aroma menyengat dari alkohol membuat Dewa mual, semua orang menari-nari mengikuti alunan musik khas DJ terkenal. Banyak wanita berpakaian seksi ikut menghiasi diskotik ini. Altaf meminta Dewa untuk duduk didepan bar, kepada bartender ia memesan minuman sejenis cocktail yang memiliki kadar alkohol yang cukup tinggi.  Dewa menolak dengan sopan tetapi Altaf tetap saja menyuruhnya minum walau sedikit.


“Ini hanya minuman biasa, tidak memabukkan,” ucap Altaf.


Altaf memaksa Dewa untuk minum pada akhirnya Dewa tetap meminumnya, minuman itu sangat aneh sampai membuat Dewa menutup hidungnya.


“Ini jus apa? Rasanya tidak enak,” ucap Dewa.


Altaf tersenyum. “Habiskan! Itu jus mahal.”


“Rasanya seperti air kencing kuda,” ucap Dewa.


Altaf lalu berpamitan untuk ke kamar mandi, ia berkaca sambil tersenyum menyeringai.


Sebentar lagi habislah riwayat Dewa karena Altaf sudah menyampur minuman itu

__ADS_1


dengan obat perangsang dan dia sudah memesan dua wanita untuk Dewa.


“Setelah ini pasti Nona akan menceraikanmu,” gumam Altaf sambil menaikkan alis.


Setelah lebih dari 5 menit di kamar mandi, Altaf keluar dan melihat Dewa sudah tidak berada ditempat duduknya. Dia berpikir jika Dewa sudah diajak oleh wanita pesanan Altaf. Dia tertawa senang dan tinggal menunggu video atau foto dari permainan mereka.


Disisi lain. Arsel memapah Dewa yang sudah terlihat mabuk. Kepala Dewa sangat pusing disertai


badan yang mendadak menjadi panas.  Arsel membawanya ke mobil tetapi dalam perjalanan menuju ke mobil tiba-tiba Dewa muntah. Arsel berdecih tetapi dia membantu Dewa mengusap tengkuk leher bocah itu.


“Bodoh sekali,” ucap Arsel merasa kesal,


Setelah selesai muntah, Arsel membawanya ke mobil. Memakaikan sabuk pengaman supaya Dewa tidak oleng. Badan Dewa merasa tidak enak, gejolak birahi seakan naik sampai ke ubun-ubun. Dirinya begitu ingin segera melakukan hal yang menyenangkan.


“Arsel, panas sekali tubuhku dan rasanya gatal.”


Arsel langsung membawa pulang ke rumah Bara. Dewa terus saja menggaruk tubuhnya yang sudah sangat ingin melakukan. Arsel yang kesal menyiram tubuh Dewa menggunakan air putih yang selalu dia bawa saat bepergian.  Dewa semakin meraung tidak jelas bahkan mulai menarik kerah Arsel.


“Hei lepaskan! Kita bisa kecelakaan,” ucap Arsel.


Arsel mendorong Dewa sampai terbentur. Dewa semakin tak karuan lalu melepas pakaian kerjanya. Dia sangat kegerahan bahkan  AC dimobil tidak bisa menyejukkan badannya.


Sesampainya dirumah Bara sudah hampir gelap, untung saja dirumah Bara masih sepi. Bapak


Dewa yang sedang membawa selang terkejut melihat putranya bertelanjang dada dan tidak seperti biasanya. Nona yang dari dalam mendengar suara mobil langsung keluar, betapa terkejutnya dia melihat Dewa yang terus menggaruk tubuhnya didalam mobil.


“Ada apa, Arsel?” tanya Nona.


“Dewa tidak sengaja meminum alkohol yang bercampur obat perangsang. Altaf adalah pelakunya.”


Nona begitu terkejut, ia melihat Dewa keluar dari mobil lalu memeluknya. Nafas Dewa terengah-engah, gejolak tubuhnya kian membara ketika melihat sang istri tercinta.


“Dewa bisa menyalurkan gejolaknya kepada anda, mari biar Dewa saya antar ke kamar!” ucap Arsel membantu memapah Dewa.


Dewa begitu sangat berbeda bahkan dia semakin terlihat tampan ketika bertelanjang dada. Sarah dan Elara yang melihatnya hanya ternganga, tubuh Dewa sangat atletis. Setelah sampai dikamar, Arsel meninggalkan mereka berdua. Dewa tersenyum menyeringai lalu menyerang sang istri dengan penuh gairah.


Setengah jam kemudian,


Dewa terkulai lemas, Nona menyelimutinya dan mencium pucuk keningnya membiarkan sang suami tertidur setelah peperangan hebat selesai.  Nona memakai baju kimononya, ia melangkah menuju ruang tamu untuk bertemu dengan Arsel.


“Buat janji dengan Altaf! Beraninya dia bisa melakukan itu kepada suamiku,” ucap Nona.

__ADS_1


__ADS_2