Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 90 : Permintaan Nona


__ADS_3

"Ssssstttt... Mas Naga sayang, aku mau minta rumah, apartemen, berlian, cincin, jalan-jalan keliling luar negeri, shopping sepuasnya, bulan madu di kapal pesiar."


"Haaaaa?"


Dewa menelan ludah mendengar permintaan Nona. Nona memasang wajah memelas seperti kucing yang meminta makanan enak.


"Gak, mas gak bisa," ucap Dewa.


"Tapi mas..."


"Sudahlah, mas mau cari kerja dulu di internet."


Nona yang kesal tak menyerah begitu saja, dia mengikuti Dewa kemanapun sang suami beraktivitas.


Saat makan.


"Mas..." ucap Nona memelas.


"Tidak!" jawab Dewa.


Saat cuci piring.


"Mas..." ucap Nona


"Gak!" jawab Dewa.


Saat menonton TV


"Mas..." ucap Nona.


"Tidak!!!!" jawab Dewa.


Saat pipis.


Cuuuuuuuur....


"Mas...."


"Eeeeh... Ngapain lihat mas pipis?" tanya Dewa kaget.


"Mas... belikan..."


"Tidaaaak!!!!" jawab Dewa memotong ucapan Nona.


15 menit kemudian.


Dewa merasa sakit perut, dirinya melihat Nona tidak ada di kamar. Dia langsung ke kamar mandi untuk bertapa di WC.


Saat tengah mengejan tiba-tiba...

__ADS_1


"Mas?" ucap Nona.


"Wuaaaaaaaaaasu..... Astaga," teriak Dewa sambil melompat berjongkok di atas WC duduk. Dewa mengelus dadanya, jantungnya hampir copot ketika akan setor malah dibuat terkejut oleh sang istri.


"Mas belikan apartemen, rumah, mobil, emas, berlian. Aku ingin itu, gak susah 'kan?" tanya Nona dengan memelas.


Dewa ternganga, ia menghela nafas panjang. "Keluar dulu deh!" pinta Dewa menyuruh sang istri keluar dari kamar mandi.


"Oh belum keluar mas? Aku bantu mas biar cepat keluar," ucap Nona sambil memegang bahu Dewa yang masih terjongkok di atas WC duduk. "Tarik nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan sedikit demi sedikit... Jangan ragu-ragu mas! Yak, terus mas! Dikit lagi! Dikit lagi!" ucap Nona memberi aba-aba.


Dewa semakin ternganga melihat sang istri yang dulu dingin dan jual mahal mendadak sinting.


"Udah keluar, mas? Kok diam saja?" tanya Nona sambil melihat lubang WC yang masih suci.


Dewa segera memakai celananya. Bahkan ia sudah tidak lagi kebelet karena tingkah Nona yang aneh.


Dewa keluar kamar mandi, tak lupa Nona mengikutinya kemanapun ia pergi.


Dewa mondar-mandir dalam kamar, Nona mengikuti Dewa yang mondar-mandir. Dewa terjongkok sambil memegang jidat, Nona juga ikut terjongkok memandang wajah Dewa dengan tersenyum manis.


"Sayang?"


"Mas Nagara tersayang," jawab Nona sangat manis.


Dewa berdiri dan Nona juga ikut berdiri.


"Mas Naga, Nuna hanya minta itu semua apa susahnya?"


"Ya itu 'kan janji Mas Naga dengan Dewa tidak ada hubungannya denganku. Aku istri Mas Nagara Bimasena, uang mas, harta mas jadi milikku juga," jawab Nona.


Dewa mendengus kesal, jadi seperti ini sifat asli Nona? Sangat matre. Dewa terduduk di sofa sambil memegangi jidatnya yang panas akibat rengekan sang istri.


"Mas tidak ingat jika mas masih punya hutang mahar begitu banyak? Mas tidak ingat jika aku yang membayar hutang kalian saat nenek lampir itu hampir menyita rumah orang tua mas?" tanya Nona.


Dewa semakin pusing mendengar rengekan Nona. Dia harus bagaimana? Apakah usahanya untuk menutupi sia-sia?


Nona melihat Dewa yang bersikap seperti itu duduk disamping Dewa sambil menangis. Dia menangis sesegukkan sambil mengoceh.


"Percuma saja aku hamil tiga anak Mas Nagara tapi balasannya seperti ini. Aku ingin gugurkan bayi ini saja," ucap Nona.


"Eh.. sayang kok bilang gitu?"


"Mas gak sportif, aku hamil anak mas, aku mengandung anak Mas Naga tapi balasan mas apa?" ucap Nona sambil terisak.


Dewa berjongkok didepan Nona sambil menggenggam tangan Nona. Dia memohon supaya sang istri jangan berpikiran macam-macam apalagi ingin menggugurkan trio bayinya.


"Aku benci mas, huaaaaaa... Aku benci mas pelit..."


"Sayang, dengarkan mas! Jangan menangis! Mas akan mengabulkan keinginanmu. Jangan gugurkan bayi kita! Jangan begitu ya, sayang!" ucap Dewa sambil mengusap air mata Nona.

__ADS_1


Nona tersenyum menyeringai, inilah pembalasan untuk Nagara karena sudah menipunya sejak awal menikah.


Setengah jam kemudian.


Nona sudah melepas infusnya lalu mandi berganti pakaian sangat cantik untuk segera menuju tempat penjualan real estate yang sudah diincarnya sebelum menikah. Dia ingin membeli apartemen super mewah tentu saja menggunakan uang suaminya.


"Mas kok pakai pakaian biasa sih?" tanya Nona melihat Dewa hanya memakai celana jeans dan kaos warna hitam.


"Lalu bagaimana? Sudahlah, ayo pergi! Sebelum mas berubah pikiran."


Nona mengangguk. Mereka keluar dari rumah untuk menunggu Zian menjemput mereka. Setelah beberapa saat Zian datang, Nona terkejut pasalnya mobil yang dibawa Zian sangat mewah bahkan keluarga Wiratmaja tidak memilikinya.


"Itu mobil milik Mas Naga?" tanya Nona.


Dewa mengangguk, ia segera memakai kacamata hitam layaknya orang kaya sungguhan.


"Ayo masuk!" ucap Dewa menyuruh sang istri untuk masuk ke mobil.


Nona masih sangat syok, ia sangat senang sekali menikahi orang kaya itu. Dia juga bisa membalas dendam dengan keluarga Wiratmaja.


"Zian, bawa kami ke mall!" pinta Dewa.


"Baik, tuan."


"Kita 'kan mau ke kantor real estate?" tanya Nona.


Dewa menggelengkan kepalanya. Dia mengatakan ingin membelikan baju untuk Nona beserta kebutuhan yang lain. Nona begitu bersemangat, ia menciumi Dewa dengan gemas.


"Mas Naga, aku ingin bulan madu di kapal pesiar. Aku ingin beli cincin lagi, cincin yang dibelikan mas Naga saat itu ringan sekali, aku ingin beli cincin baru. Aku ingin..."


"Ya ya.. nanti mas belikan semua, tapi janji jangan bongkar siapa mas kepada semua orang terutama orang tua mas dan keluargamu. Mas masih terikat janji dengan Dewa untuk membuatnya sukses dari nol," ucap Dewa.


Nona menganggukkan kepala. Dia makin menempel dengan Dewa. Rasa bahagia tidak bisa diutarakan. Nona seperti ketiban rezeki nomplok.


****


Sesampainya di mall.


Nona dengan semangat mengajak Dewa untuk berbelanja apalagi Nona baru saja tahu jika Nagara Bimasena adalah pemilik kartu Blackgold alias kartu tanpa batasan penggunaan.


Dewa menggunakan kacamata hitam nampak terlihat begitu keren bahkan wanita-wanita melihatnya. Nona yang sadar langsung menggandeng Dewa. "Sayang, bayi kita ingin mamanya membeli baju itu," tunjuk Nona.


Semua wanita itu langsung memalingkan wajah sedangkan Nona tersenyum mengejek.


"Nuna sayang, belilah apa yang kau mau! Mas menunggu disini saja. Ini kartunya bisa pakai sepuasmu," ucap Dewa.


Nona langsung merebutnya, ia berjalan sendiri mencari barang yang ia mau.


Dewa menghela nafas panjang, Zian menertawakannya.

__ADS_1


"Pada akhirnya tembok kokoh Tuan Muda Nagara dihancurkan istrinya sendiri," ejek Zian.


"Huh... Mau bagaimana lagi? Dia sampai bertingkah konyol. Tapi yang sekarang aku pikirkan bagaimana jujur dengan orang tua asuh Dewa? Mereka pasti akan sedih jika tahu jika Dewa sudah meninggal."


__ADS_2