
Saat sudah sampai di rumah orang tua Dewa. Orang tuanya hanya pasrah saat rumah mereka di segel. Ibu tiri Nona memang dalang dibalik semua itu. Emak lampir itu tidak terima jika hutang orang tua Dewa lunas begitu saja hanya dengan menikahi putri tirinya.
"Bukankah perjanjian itu mengatakan jika anak kami menikah dengan putri anda maka hutang kami akan lunas? Kenapa pihak kalian sendiri yang mengkhianati perjanjian ini. Kami menyerahkan putra semata wayang kami yang baru lulus sekolah untuk menikahi putri anda yang lebih tua dari pada anak kami," ucap ibu Dewa.
"Itu perjanjian yang disetujui suamiku, suamiku kini sudah meninggal maka perjanjian itu dibatalkan. Aku ingin menyita rumah ini dan menjadikannya indekos jika kalian tidak melunasinya akhir bulan ini," ucap ibu tiri Nona.
Ibu dan bapak Dewa hanya bingung. Jelas-jelas ini sudah melanggar kontrak. Ini juga sangat tidak adil karena jika pihak Dewa yang melanggar kontrak maka akan mendapat pinalti berupa uang denda. Tetapi pihak mereka seenak jidat melanggar kontrak yang mereka buat sendiri.
Disaat bersamaan, Dewa datang naik ojek online. Dewa menghampiri mereka dan menjelaskan mengenai kontrak yang sudah ditandatangani. Tetapi ibu tiri Nona tidak mau tahu.
"Makanya, jadi orang miskin jangan sok berhutang. Tidak bisa bayar kalian bingung. Saat meminjam saja memelas tetapi saat akan membayar seperti cacing kepanasan," ucap pedas ibu tiri Nona.
Ibu Dewa yang tidak terima dengan ucapan ibu Nona mengambil air yang berada di ember yang berisi air hujan semalam.
Byuuuur....
Ibu Dewa menyiram wajah ibu tiri Nona dengan air hujan itu. Semua orang terkejut, ajudan mak lampir itu datang dan menampar ibu Dewa.
Plaaaak....
Bapak dan Dewa sontak refleks mendorong ajudan yang memakai jas hitam rapi itu. Dewa merangkul ibunya, ia melihat pipi Ibu yang memerah.
"Awas kalian! Aku akan membuat kalian membayar semua ini!" ucap mak lampir itu sambil masuk ke mobil.
__ADS_1
Dewa langsung menarik semua tali segel yang dipasang mertuanya. Telinganya lalu mendengar suara mobil berhenti. Nona keluar dari mobil itu menghampirinya. Nona memeluk Dewa, ia tidak tahu jika ibu tirinya bertindak terlalu jauh.
"Maafkan ibuku, Sayang! Aku tidak akan membiarkan rumah ini disita oleh mak lampir itu. Dia tidak berhak ikut campur dengan urusan kita," ucap Nona.
"Kenapa kau yang meminta maaf sayang? Sudahlah, aku janji akan melunasi hutang orang tuaku."
Bapak menyuruh mereka masuk ke rumah, ibu menuju dapur untuk membuat minuman. Setelah ini ibu yakin jika para tetangga akan menggosipnya. Bahkan Dewa juga dianggap pria penebus hutang oleh mulut-mulut penggosip itu
Ruang tamu yang tidak terlalu besar, sofa yang tidak terlalu empuk adalah tempat mendiskusikan masalah hal piutang. Bara yang kini menjadi yang dituakan setelah ayahnya meninggal menengahi permasalahan itu.
"Jadi ayah saya sebelum meninggal memang sempat mengungkit hal ini. Beliau berpesan supaya hutang ini dianggap lunas dan tidak boleh siapapun menggugatnya lagi. Untuk masalah kontrak pernikahan mereka itu bergantung pada keputusan Nona dan Dewa. Tetapi Nona baru saja memutuskan untuk membatalkan kontrak karena Nona ingin melanjutkan pernikahan tanpa kontrak," jelas Dewa.
Bapak memandangi Nona, apakah yakin jika Nona menerima Dewa si bocah itu menjadi suami seumur hidupnya? Bahkan Dewa belum sukses dan masih anak kemarin sore yang gemar main layangan dan petasan jika musimnya tiba.
"Yang penting kuat sampai 3 ronde pak. Nona itu bule jadi aku harus menyeimbanginya," jawab Dewa.
Nona mengerutkan dahi saat melihat bapak dan anak saling berbisik. Bara lalu berdehem membuat Dewa dan Bapak saling mendorong.
"Ehhh... Maaf, tuan Bara. Biasa bapak dan anak sedang berdiskusi," ucap Bapak.
Ibu datang membawa sebaki minuman dan beberapa camilan. Mereka melanjutkan obrolannya sampai menemukan titik terang apalagi ibu tiri Nona pasti tidak akan tinggal diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Nona dan Dewa kembali ke rumah barunya. Mereka membersihkan diri sebelum beristirahat dari aktivitas melelahkan seharian ini.
Sore ini terlihat mendung tetapi sinar matahari masih mengintip dibalik awan. Nona memakan kimono handuk, ia menuju ke balkon dan mulai menikmati sore yang nikmat ini.
Sedangkan Dewa mulai aktif mencari lowongan pekerjaan. Tangannya menurunkan layar ponselnya. Matanya dengan awas membaca setiap lowongan pekerjaan yang berada diinternet.
Sambil menyesap teh buatan pembantu barunya. Nona memutar kepalanya mengahadap Dewa yang tengah berbaring di ranjang.
"Sayang, mumpung kau belum kerja mending kita berbulan madu saja, bagaimana?" tanya Nona.
Dewa masih menatap layar ponselnya. "Sayang, uangnya mending disimpan saja. Aku juga malu jika menghabiskan uangmu. Bahkan makanpun aku masih menumpang denganmu."
Nona tersenyum tipis. "Kita 'kan sudah satu keluarga. Uangku ya uangmu."
"Mana ada seperti itu? Aku malu dengan dompetku sendiri jika selalu kosong. Sudahlah, sayang mending pikirkan program hamil saja. Aku ingin mendengar suara tangisan bayi," ucap Dewa.
Nona berdecih, ia memalingkan wajah dan menatap pemandangan dari balkon kamarnya. "Bagaimana mau punya bayi jika makan saja masih ikut denganku?" gumam Nona tetapi terdengar oleh Dewa.
Dewa memandang Nona yang duduk membelakanginya. Hatinya terasa sakit saat mendengar sang istri berbicara seperti itu. Dewa tidak ingin marah, dia menuju ke kamar mandi untuk melepaskan gerahnya. Kaos yang dia pakai dilepasnya, ia memandangi jahitan yang berada diperutnya.
Andai saja waktu itu aku tidak sakit pasti bapak dan ibu tidak akan berhutang dengan ayah Nona. Tapi jika bapak tidak berhutang pasti aku tidak akan menikah dengan Nona.
Ada banyak hal yang ingin aku berikan kepada bapak dan ibu saat aku sukses nanti tetapi masih bisakah aku memberi mereka secara aku sudah memiliki keluarga sendiri?
__ADS_1
Kau yakin bisa, Dewa! Dirimu anak laki-laki dan masih wajib memberi rezeki kepada orang tuamu jika mampu.