
Beberapa hari kemudian.
POV NONA
Hari-hari terlewati tanpa masalah. Kami melakukan aktivitas seperti biasanya. Walau aku masih berada di rumah Kak Bara tetapi mereka belum tahu tentang kehamilanku. Aku tidak enak memberitahu kabar gembira ini karena masih dalam keadaan berduka.
Setiap perempuan pasti mengalami mual yang berlebih saat hamil tetapi aku tidak demikian. Aku biasa saja dan nafsu makanku tetap terkontrol. Suamiku, Mas Dewa masih bekerja seperti biasanya. Setiap sepulang kerja dia datang kemari dan pulang ke rumah saat sudah selesai acara pengajian untuk almarhumah Kak Zalina.
Aku ingin sekali menyuruh Mas Dewa untuk menginap disini tetapi aku tidak mau suamiku diganggu dua bocah cabe itu. Siapa lagi jika bukan Sarah dan Elara?
Sarah, mantan Mas Dewa yang masih suka caper dengan Mas Dewa.
Elara, gadis aneh itu selalu menempel pada Mas Dewa bahkan jika ada aku sekalipun dirinya tetap menempel tanpa takut.
Kak Bayu, datang setiap malam bersama kedua istri dan anak-anaknya. Mereka tidak ikut mengaji tapi ikut makan. Alasan mereka saat diajak untuk sembahyang atau berdoa bersama pasti beralasan sedang menstruasi tapi jika makanan sudah datang. Mulut mereka yang mengunyah paling pertama.
Nyai Ronggeng alias ibu tiriku, semenjak ayah meninggal dia jadi lebih banyak diam tetapi jika sekali berbicara seperti bom atom yang meledakkan perasaan. Apalagi jika berbicara dengan Mas Dewa, ia sering berbicara menyakitkan hati. Ingin sekali kusumpal mulutnya tetapi aku sadar beliau juga sempat merawatku saat mommy ku telah meninggal.
Kak Bara, semenjak dirinya menduda. Entah kenapa aura nya menjadi bersinar. Wajahnya berseri-seri seperti tidak merasa kehilangan Kak Zalina atau jangan-jangan Kak Bara memang selama ini tak mencintai Kak Zalina? Tapi tidak mungkin. Kak Bara tidak seperti itu. Dia sangat menyayangi Kak Zalina.
Keluarga tiriku memang banyak kekurangan, mereka memiliki kekurangan masing-masing. Aku benci mereka? Tentu saja, aku tahu pembunuh mommy ku adalah salah satu dari mereka. Mommy ku meninggal karena dibunuh bukan karena kecelakaan.
POV AUTHOR
"Nona, kakak mau keluar dulu, ya? Tolong jaga Elara sebentar!" ucap Bara.
Nona yang sedang membaca majalah hanya mengangguk. Dia melirik jam yang masih menunjukkan pukul 10 pagi. Saat Bara sudah sampai didepan pintu tiba-tiba Nona memanggilnya.
"Kak Bara, nanti pulang tolong belikan bakso, ya?" teriak Nona.
Bara terhenti dari langkahnya. "Tumben?"
__ADS_1
"Lagi ingin makan itu saja," ucap Nona.
Bara tersenyum, ia melanjutkan melangkah keluar dari rumah meninggalkan Nona bersama dua cabe, Sarah dan Elara.
Nona merasa bosan, ia rasanya hanya ingin tidur dan tidur tetapi nyatanya dirinya tidak bisa tidur.
"Papa?" teriak Elara dari arah tangga. "Papaaaaa..."
"Papamu barusan keluar," jawab Nona dengan rasa malas.
Elara mendengus. Dia kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan kencang sampai menimbulkan suara yang cukup keras.
Bocah itu... Batin Nona.
Berselang menit kemudian, Sarah turun dari kamarnya. Dia sudah berpakaian rapi seperti biasanya. Bau parfumnya yang menyengat membuat Nona menutup hidungnya.
"Tante, jika Om Bara mencariku bilang saja aku ke mall bersama teman-temanku," ucap Sarah.
"Baiklah, jangan cepat pulang!" jawab Nona.
"Tante...." teriak Elara.
Nona melihat keponakannya yang memanggil dari lantai 2. Elara menyuruh Nona untuk naik ke kamarnya tetapi Nona tidak mau.
"Ayo tante temani aku tidur!"
Nona dengan malas naik menuju kamar Elara. Dia menemani keponakannya untuk tidur. Wajah Elara begitu ketakutan bahkan menggenggam tangan Nona dengan erat.
Telapak tangan Elara sangat dingin, ia terus saja bergumam tidak jelas.
"Ela, ada apa?" tanya Nona menjadi panik.
__ADS_1
"Mama datang terus, aku takut," jawab Elara.
Nona memegang dahi Elara yang biasa saja dan tidak panas tetapi Elara begitu sangat ketakutan.
"Ela, ikhlaskan mamamu! Dia sudah tenang di alam lain."
"TIDAK! Mama menyuruhku untuk ikut dengannya. Wajah mama menyeramkan aku takut, aku gak mau mati," teriak Elara histeris.
Elara memeluk Nona dengan erat, nafasnya mulai tidak beraturan. Matanya terus melihat keatas dengan bola mata yang melotot. "Lihat! Mama ada diatas, aku takut! JANGAN BAWA AKU! PERGI! PERGI!" teriak Elara.
Nona terus berusaha menenangkan Elara. Dirinya yang ikut panik juga merasakan merinding padahal ini masih pagi. Nona mencoba memanggil pembantu dan menyuruh untuk menelpon Bara untuk segera pulang. Pada akhirnya Elara pingsan dan sedikit membuat Nona menjadi lega.
"Ela, kau menakuti tante saja tetapi kasian juga, pasti Elara sangat trauma," gumam Nona.
Nona mengelap keringat Elara menggunakan tisu, ia juga menyelimuti Elara membiarkannya terlelap tidur. Nona menghela nafas panjang sambil memperhatikan kamar Elara yang suram dan menyeramkan. Banyak lukisan terpajang di dinding bahkan banyak yang tergeletak dilantai. Mata Nona tertuju pada sebuah lukisan yang sangat familiar. Lukisan itu bergambar wajah Dewa. Tangan Nona meraihnya, sampai segitunya Elara menyukai Dewa?
Bara datang dengan panik, ia langsung menghampiri putrinya yang sudah terlelap diambang mimpi. Nona bisa bernafas lega karena Bara cepat datang.
"Elara mengigau lagi?" tanya Bara.
Nona mengangguk pelan.
Bara mendekati Elara, mengusap keningnya secara perlahan. Bara sangat sedih melihat putrinya menderita seperti ini.
"Elara harus segara diobati. Dia masih terlalu muda untuk menderita seperti ini," ucap Nona.
"Dia sudah ada psikiater, tiap minggu selalu mengontrol Elara," jawab Bara.
"Elara sudah cukup parah, Kak Bara tidak lihat gambar apa saja yang Elara lukis? Semua menyeramkan, mawar hitam berduri, burung gagak yang memakan bangkai, langit hitam mencekam. Apa itu bisa dikatakan normal? Bahkan orang normal saja takut melihat semua lukisan ini," ucap Nona.
Bara hanya diam, memang ini kesalahannya membiarkan Elara seperti ini. Bara bukan seorang papa yang pandai dalam mendidik putrinya.
__ADS_1
"Kak Bara mulai sekarang harus mengubah kebiasaan Elara sebelum terlambat. Suruh Elara menggambar gambar yang normal dan ceria, jangan yang suram seperti ini. Buang saja semua lukisan ini!" sambung Nona.
*****