Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 45 : Nona mulai was-was


__ADS_3

"Setidaknya kasihan dengan Om Bara. Kau harus memberitahunya sendiri!" ucap Sarah.


"Aku tidak ingin Papa sedih jika mama ketahuan sedang sakit," jawab Elara sambil menunduk sedih.


Sarah bersedekap, pemikiran macam apa yang dipikirkan oleh Elara. Sarah tahu jika ini sangat berat bagi keluarga mereka.


"Ini gak benar. Kau harus memberi tahu papamu!" ucap Sarah.


"Kau tidak perlu ikut campur urusan keluargaku! Tugasmu hanya diam!" teriak Elara.


Elara menyuruh Sarah untuk duduk di ruang tamu. Jika Bara keluar maka Sarah harus mencegahnya.


****


Pagi hari, sorot mentari menyinari pagi ini. Harapan demi harapan terpancar pada manik mata Dewa. Bocah itu terpaksa harus cepat sembuh supaya mendapat pekerjaan. Dia tidak bisa hidup menumpang dengan istrinya. Baju hitam putih, serta sepatu pantofel yang dibelikan Nona begitu muat dibadannya. Nona juga tak lupa memakaikan dasi hitam pada leher Dewa.


"Ingat! jika langsung di wawancarai jangan gugup! Jawab tanpa ragu!"


Dewa menganggukkan kepala, setelah selesai dia segera menyisir rambutnya. Untungnya, bekas jahitan dikepalanya tertutup oleh rambut.


Nona tersenyum sambil menyilangkan tangan di dadanya. Dewa begitu tampan dan berwibawa, tentunya cocok menjadi seorang pemimpin.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya?" ucap Dewa sambil mengulurkan tangan.


Nona langsung mencium tangan Dewa, ia menganggukkan kepala. "Biar diantar oleh Arsel."


"Tidak usah, aku naik ojek saja."


Dewa mulai melangkah, ia terhenti sejenak. Dia tidak punya uang sama sekali, haruskah dia meminjam uang kepada Nona?


Nona yang terheran bertanya kepada Dewa. Dewa tersenyum malu.


"Sayang, bolehkah aku pinjam uang 20 ribu? Buat naik ojek pergi dan pulangnya. Aku tidak punya uang sama sekali, aku janji jika sudah mendapat pekerjaan dan punya gaji pasti aku ganti."


"Gumussh sekali. Nah, ini uang saku mu," ucap Nona sambil menyerahkan selembar uang seratus ribuan.


Dewa meminta 20 ribu saja tetapi Nona tetap menyodorkannya. "Terimalah! Tapi gantinya harus cium dulu," ucap Nona.

__ADS_1


Dewa langsung mencium pipi Nona. Nona tersipu malu, dirinya semakin candu dengan ciuman Dewa. Tangan Nona menyentuh leher Dewa, mereka bertatapan. Tinggi mereka yang hampir sama tidak mempersulit Dewa untuk menggigit bibir Nona. Nona sudah memejamkan mata tetapi Dewa menekan hidungnya.


"Mau apa hayo? Sudah ah, aku mau berangkat bekerja," ucap Dewa membuat Nona cemberut.


Saat Dewa melangkah menuju keluar rumah, Arsel sudah ada di depan pintu. Dia tidak menghiraukan Dewa begitupun sebaliknya. Dewa berjalan meninggal rumah itu dan memesan ojek online. Hari ini dia akan melamar di pabrik sepatu dan pabrik boneka. Tempat itu satu wilayah membuat Dewa tidak perlu merogoh kocek lagi untuk naik ojek karena ia bisa berjalan kaki dari pabrik sepatu ke pabrik boneka.


Setelah ojek datang, ia langsung berangkat dan tidak lupa berdoa semoga dia mendapat pekerjaan hari ini.


Disisi lain, Nona dan Arsel menuju ke kebun kopi untuk mengecek apakah berjalan semestinya atau tidak. Untuk ke kebun kopi memerlukan waktu kurang lebih satu setengah jam menggunakan mobil.


Nona sedari tadi melihat GPS untuk mengetahui posisi Dewa berada. Arsel yang mulai menyetir mobil hanya melihat keposesifan Nona.


"Tuan Altaf tidak menelpon anda?" tanya Arsel.


"No."


"Jika dia masih menganggu anda maka beritahu saya," ucap Arsel.


"Hem."


Arsel terdiam. Sepertinya Nona sudah sangat sayang dengan suaminya dan mungkin tidak ada kesempatan untuk Arsel mendekatinya.


"Arsel, tolong carikan guru menyetir untuk Dewa! Dia harus bisa menyetir."


"Baik, Nona. Atau saya saja yang mengajarinya?" tanya Arsel.


"Nanti kalian malah bertengkar."


Aku memang ingin bertengkar dan mengerjai bocah tengil itu.


"Tidak akan, Nona."


"Baiklah, akhir pekan ajari dia menyetir, aku akan menambah gajimu."


Satu setengah jam kemudian.


Mereka pada akhirnya sampai kebun kopi milik ibu Nona yang tidak terlalu luas. Disana para pekerja sedang memanen kopi yang sudah matang. Setelah memarkir mobil, mereka menghampiri para pekerja itu. Para pekerja sudah tahu siapa Nona.

__ADS_1


Satu pekerja kepercayaan Nona atau lebih di kenal Pak Sabah mengantar mereka keliling kebun kopi. Pak Sabah juga memberitahu jika tanah di samping kebun Nona akan dijual.


"Benarkah mau dijual? Dulunya lahan apa?" tanya Nona.


"Dulunya adalah kebun sayur tetapi si pemilik bangkrut dan akan dijual. Jika Nona ingin membelinya maka Nona bisa memperluas lahan kebun kopi milik Nona."


"Aku akan bicarakan dengan suamiku dulu," jawab Nona.


Mereka melanjutkan obrolan, Arsel masih setia dibelakang Nona. Rambut pirang Nona sangat kontras terkena sinar matahari.


Andai saja aku yang menikahimu. Pasti aku akan membantu sebisaku saat kau terpuruk. Sayang sekali kau malah menikah dengan bocah itu. Bocah ingusan yang tidak bisa apa-apa saat perusahaanmu sedang butuh pemimpin.


"Arsel, kau ambil gambar tanah itu! Jika Dewa setuju maka aku akan membelinya."


"Baik, Nona."


Disisi lain,


Setelah lamaran pekerjaannya di terima. Dewa diperbolehkan bekerja, dia diterima di pabrik sepatu. Nasib baiknya banyak karyawan yang di PHK dan kini mereka mencari pegawai baru. Dewa yang mempunyai nasib baik akhirnya di terima saat itu juga mengingat mereka masih butuh karyawan.


Aturan di pabrik sepatu itu ketat, ia harus mematikan ponsel saat berada di pabrik.


Sebelum bekerja di lapangan, Dewa mendapat training dari para seniornya. Dewa memperhatikan setiap arahan darinya.


"Karna kau masih baru maka kau kerja ikut aku dulu. Setelah satu bulan kau harus bisa mandiri seperti yang lainnya."


"Baik, kak," jawab Dewa.


Dewa mulai bekerja dengan giat, setiap yang dia tidak paham langsung dia tanyakan. Dewa memang supel dan mudah bergaul, bahkan dia sudah dilirik oleh pegawai wanita yang lain karena Dewa masih berondong dan tampan.


"Dik, nanti makan bareng di kantin, ya?" bisik senior wanitanya kepada Dewa.


Dewa yang merasa menjadi anak baru hanya mengiyakan ucapan senior wanitanya, ia tidak ingin di cap sombong.


Sedangkan Nona, ia merasa kesal saat ponsel Dewa mati dan otomatis GPS nya tidak aktif. Nona hanya ingin melihat keberadaan Dewa. Bahkan Dewa juga tidak mengabarinya.


Nona yang duduk di rumah Pak Sabah merasa cemas bercampur kesal. Bahkan udara dingin tidak di hiraukannya.

__ADS_1


Nona meremas secangkir teh yang disuguhkan olehnya. Dia melamun tidak karuan memikirkan Dewa.


Kenapa aku selalu cemas tentang Dewa? Aku hanya takut jika Dewa mendapat wanita baru jika dia bekerja. Jika aku tidak mengizinkan dia bekerja nanti dikira aku keterlaluan. Huh ... aku terlalu berlebihan. Batin Nona


__ADS_2