Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 53 : Kesedihan Bara


__ADS_3

"Hahaha... Adikku menggemaskan jika sedang ketakutan. Kau itu sangat cantik, kau wanita idaman kakak. Kenapa tidak dari dulu mau menjadi wanita kakak? Pasti kakak akan memperlakukanmu dengan baik dan memberi semua harta yang kau mau. Sayangnya kau malah lebih memilih Bara. Sudah diapakan apa saja tubuhmu oleh Bara?" tanya Bagas sambil mengusap bibir Nona dengan jari telunjuknya.


Nona menendang kaki Bagas. Kakak sintingnya memang sangat gila.


"Dasar predator!" ucap Nona.


Bagas merasa kesakitan, ia memegangi kakinya. Nona bersedekap menatap tajam Bagas. "Kita lihat siapa yang disini akan hancur?" tanya Nona menyeringai.


Nona berdecih lalu berjalan meninggalkan Bagas yang terduduk di lantai. Dia keluar menuju ruang makan. Nona segera menghabiskan makanannya supaya bisa cepat-cepat pulang.


**


Keesokan harinya.


Bara tidak menyerah begitu saja, dia memasang penyadap diponsel Zalina. Dengan begitu dia tahu siapa yang sering berkomunikasi dengan Zalina. Awal-awal tidak ada yang janggal sampai terdapat sebuah nomor yang mengatakan ingin menemui Zalina di rumah sakit sore nanti.


"Bara?" tanya ibu membuat lamunan Bara buyar.


"Ada apa, bu?"

__ADS_1


"Nona dan suaminya baik-baik saja?"


Bara mengunyah daging itu dengan pelan. "Mereka baik-baik saja. Ibu mencemaskan hubungan mereka?" tanya Bara.


"Mana ada begitu? Itu 'kan urusan mereka."


Zalina yang merasa perutnya tidak enak meminta izin ke kamar mandi. Bara ingin mengantarnya tetapi Zalina menolak.


Rasa sedih tergambar diwajahnya dan saat itu Nona kembali dari kamar mandi.


"Aku harus segera pulang, Elara dan Sarah menungguku dirumah," ucap Nona.


"Entahlah, yang jelas Dewa tidak ada dirumah, aku memperbolehkan anakmu main di rumahku."


Nona berpamitan pulang, ia mengambil tas dan langsung keluar dari ruangan itu. Dia menghampiri Arsel yang berada didalam mobil yang sedari tadi menunggunya.


"Sudah selesai?" tanya Arsel.


"Sudah."

__ADS_1


Mereka lalu menuju kembali ke rumah untuk menemui Elara dan Sarah si bocah ababil itu. Entah mau mereka apa yang jelas Nona harus bersiap diri menghadapi mereka yang aneh.


Berselang menit kemudian, Zalina datang setelah dari kamar mandi, ia segera bergabung dengan mereka.


"Zalina, wajahmu begitu pucat." Ibu melihat wajah menantunya itu.


Bara langsung merangkul Zalina, ia membelai wajah istrinya itu. "Zalina sepertinya tidak enak badan. Lebih baik kami pulang dulu."


Bara menatap Bagas sekilas, mereka bertatapan sebentar lalu Bara memalingkan wajah. Dia membantu istrinya berdiri lalu berpamitan pulang. Bara memapah Zalina yang begitu lemas, walau Zalina belum mengatakan dirinya sedang sakit tetapi Bara sudah sangat sedih mengingat perubahan tubuh Zalina yang sedikit berbeda.


Setelah di dalam mobil, Bara segera melajukan mobilnya. Sedari tadi Bara melirik Zalina yang melamun.


"Aku ingin bercerai. Mas, sudah tidak percaya lagi denganku," ucap Zalina.


Bara langsung terkejut, ia mengerem mobil mendadak dan untungnya di belakang tidak ada kendaraan yang lewat.


Setelah menepikan mobilnya, ia memandang Zalina dengan lekat.


"Kenapa kau malah mengucapkan perceraian? Apa kau sudah tidak menganggapku suamimu? Kau sedang sakit kenapa tidak bilang padaku?" tanya Bara.

__ADS_1


Zalina sontak sangat terkejut, dari mana Bara tahu akan penyakitnya? Siapa yang memberitahu. Bara langsung memeluknya membuat Zalina menangis kencang. Selama ini ia menahan kesakitannya sendirian dan bahkan ia juga tidak tahu jika Elara sudah tahu akan penyakitnya.


__ADS_2