
Dewa dan sahabatnya yaitu Navier menuju ke ruang karouke keluarga di didalam gedung apartemen itu. Mereka membeli 10 botol cola untuk menemani berpesta kali ini.
Navier menyalakan musik, semua ruangan menggema dan tak lupa lampu disko menyala.
"Wa, microphone ini tidak bisa bernyanyi sendiri jika kita tidak bernyanyi untuknya jadi buang semua pikiran burukmu dan mulailah bernyanyi denganku!" ucap Navier.
Dewa merasa tertantang, ia mengambil microphone miliknya. Sebuah lagu di putar menjadi lagu andalannya.
"Langit sebagai atap rumahku... dan bumi sebagai lantainya..." Dewa
"Asyeeeek..." Navier
"Kehidupanku menyusuri jalan...." Dewa
"Asolole... Tarik seees..." Navier
"Sisa orang yang aku makan..." Dewa
"Menangis meratapi buruk nasibku. Nasib buruk seorang tunawisma." Navier
Setelah menyelesaikan satu lagu, Navier membuka satu cola lalu menenggaknya. Begitupun dengan Dewa. Mereka seperti pria yang menyedihkan padahal mereka sangat kaya raya.
"Kak Navi, kau tidak bekerja?" tanya Dewa.
"Kerja teroooooos kapan happy nya? Setress di kantor mikirin klien yang membatalkan kontrak seenak jidat," jawab Navier.
"Aku juga kesel hari ini kena tipu, rugi lagi tokoku," ucap Dewa sambil menenggak cola.
"Maka dari itu goyang sampai pagi," teriak Navier.
Dewa pun menikmati karouke kali ini sambil menenggak cola yang tidak akan membuat mereka mabuk.
Lagu demi lagu mereka nyanyikan selama dua jam lebih. Cola demi cola mereka tenggak dan sebagian mereka kocok dan disemburkan pada satu sama lain. Nikmatnya memiliki sahabat sesama koplak sampai lupa pada pekerjaan masing-masing.
Srooooooot
Srooooooot
Bunyi cola yang tersembur begitu syahdu, mereka menyemburkan satu sama lain.
"Sial! Masuk ke lubang hidungku," ucap Navier.
"Mana, kak? Biar aku tiup."
Dewa mencoba meniup hidung Navier lalu setelah itu mereka tertawa bersama-sama. "Hahahahaha... goblok..."
Braaaaak...
Pintu terbuka, mata mereka secara bersamaan menatap kearah pintu. Mereka berpegangan tangan seolah akan ada badai yang menerpa.
"Wa, bapakku datang membawa rotan."
"Gimana ini, kak? Ini 'kan salah Kak Navi yang mengajakku kemari," jawab Dewa.
Papa Navier yang terkenal sangat galak membawa sebilah rotan. Navier cengengesan dan Dewa mulai mundur perlahan cari aman.
__ADS_1
"Dasar anak nakal! Jam kerja bisa-bisanya karouke sambil main cola. Urus dulu kantor baru main! Punya anak sudah besar tingkahnya seperti bocah."
Sang papa memukulkan rotan pada pantat Navier, Navier mendengus kesal dan malu.
"Ya ... ya, Navi balik kantor. Huh... Dewa kita lanjut nanti malam, aku sekalian ajak Ali. Siapkan puyeng bintang 7 eh maksudku beer bintang 7. Kita goyang sampai pagi."
Plaaaaak...
"Anak setan kau! Malam ini ketemu Dokter Logan, jangan membolos! Makin hari makin parah saja," ucap sang papa. "Dan kau, Dewa. Pulang sana! Istrimu sedang hamil tua malah kau asyik bergoyang disini," sambung papa.
"Yang hamil 'kan istrinya bukan si Dewa," celetuk Navier.
"Menjawab lagi kau? Tidak punya sopan santun dengan orang tua. Inilah jika mamamu mengidam daging buaya tidak keturutan."
Dewa tersenyum kecil melihat bapak dan anak sama-sama konyolnya. Dia menjadi rindu dengan papa kandungnya yang sudah tiada. Dewa lalu memutuskan kembali ke apartemen.
5 menit kemudian.
"Hueeeeeek... hueeeeeek...hueeeeeek..."
Dewa muntah-muntah sesampainya di apartemen. Nona menepuk punggungnya dengan sabar.
"Mas... mas... Habis berapa cola? Mas Dewa hanya cari mati saja."
"Hueeeeek... mas.... hueeeek... habis 2 botol," jawab Dewa.
Nona mengambil minyak kayu putih lalu mengusapkan pada hidung Dewa. Dewa mengambil nafas dalam-dalam supaya ia berhenti muntah tetapi angin belakang malah yang keluar.
Duuuuuuuut...
Dewa hanya cengengesan tetapi bom angin itu keluar lagi.
Duuuuut...Preeeet... Preeet...
"Ampun mas Dewa."
"Sayang keluar dulu deh! Mas mau setor," pinta Dewa.
Nona menghela nafas. "Aku akan buatkan jahe hangat. Nanti diminum."
Nona menuju ke dapur untuk membuatkan minuman jahe saset siap saji. Perutnya yang besar membuatnya tidak bisa berlama-lama untuk berdiri.
Ting.. tong...
Bel rumah berbunyi, Nona segera membuka pintu rupanya Alisa yang datang melihat saudari kembarnya.
Alisa menyodorkan sebuah benda yang membuat mata Nona terbelalak.
"Lisa, kau hamil?"
Alisa menganggukkan kepala. Nona langsung memeluknya. "Apakah hamil kembar?"
"Tidak, hanya ada satu baby di rahimku."
Nona merangkul Alisa lalu mengajaknya masuk ke dalam. Dia bercerita jika ibu hari ini datang kesini tetapi Alisa seolah tak acuh karena masih membenci ibu tirinya.
__ADS_1
"Dia bukan ibuku dan tidak akan pernah menjadi ibuku. Jika kau menceritakan tentang mak lampir itu maka aku akan pulang saja," ucap Alisa.
Nona bersedih. Dia tahu perasaan Alisa saat ini, bahkan ibu seolah cuek dengannya walau sudah tahu keberadaan Alisa.
"Kak Bara mau melamar Sarah tapi gak jadi-jadi," ucap Alisa.
Nona terkekeuh geli. Segitunya Bara cinta dengan gadis bocah seperti Sarah yang labil. Bahkan Bara mau melakukan apapun untuk Sarah.
"Lalu Kak Dani bagaimana?" tanya Nona.
"Suamiku hanya bisa melihat dari jauh hubungan mereka."
Duuuuuut... duuuuuut... prreeeet... preeeet...
Ketika asyik mengobrol mereka di kejutkan bunyi meriam. Nona menelan ludah dan Alisa hanya diam mendengarkan dengan seksama.
"Suara apa itu?" tanya Alisa.
"Eh... itu..."
"Nuna sayang.... Ambilkan kolor mas dong! Basah ini nyemplung WC," teriak Dewa dari dalam kamar mandi.
Alisa terbahak-bahak mendengarnya. Nona menahan malu didepan saudari kembarnya.
"Sana ambilkan dulu! Suamimu sungguh lucu apalagi saat main tik tok dengan teman-temannya."
"Main tik tok?" tanya Nona heran.
Alisa memperlihatkan video tik tok yang diunggah di akun milik Dewa. Disana terlihat Dewa sedang bermain ayunan di pohon dekat gudang tokonya. Semakin lama ayunan itu semakin bergerak kencang sampai Dewa terlempar jauh dari ayunan dan kepalanya membentur tanah.
Nona menghela nafas panjang lalu menghampiri Dewa di kamar mandi.
"Ini kolornya," ucap Nona sambil memperhatikan jidat Dewa yang merah. "Kenapa kening mas Dewa?" tanya Nona.
"Oh... Kejedot pintu."
Nona mencubit pipi suami bocahnya. "Bohong... Mas main ayunan lalu jatuh 'kan?"
Dewa hanya nyengir, ia cepat menggunakan kolor andalannya saat berada di rumah.
"Gak sakit kok, jangan khawatir! Oh ya... diluar siapa? Seperti suara Alisa."
Dewa berjalan keluar meninggalkan Nona yang masih di dalam kamar mandi. Nona mengambil ponselnya untuk menghubungi Arsel.
Nona
Arsel, cepat lepaskan ayunan di depan gudang! Jangan biarkan suamiku terluka gara-gara bermain ayunan!
Disisi lain.
Jojo menarik tali ayunan begitu jauh lalu melepaskannya. Diatas ayunan itu terduduk pria dewasa mendadak menjadi bocah. Tentu saja Arsel, dialah yang paling tua di gudang milik Dewa tetapi setelah berbulan-bulan bekerja ikut mereka kini menjadi ikut aneh.
"Jo... Kau kurang kencang menariknya. Biarkan si Davin yang menarik ayunan ini," ucap Arsel.
"Siap laksanakan, bang!"
__ADS_1
Asyik juga main ayunan. Batin Arsel.