
Setelah mengajak anak-anaknya untuk keluar, Dewa membawa anak-anaknya untuk pulang. Mereka membawa es krim dan beberapa makanan ringan. Putra-putranya sangat menyukai es krim namun Nona sering melarangnya untuk makan.
Mereka makan tanpa sepengetahuan Nona karena sang mama tertidur pulas bersama Monalisa. Dewa menyuapi es krim ketiga balitanya menggunakan sendok kecil. Mereka makan sangat lahap. Kenzi yang duduk di bangku kelas 2 SD ingin disuapi juga oleh papanya.
"Pa, Kenzi minta suap," pinta Kenzi.
Kenzo menggeleng, menyuruh adiknya supaya tidak bersikap manja. Dia tahu jika Dewa sudah sangat kerepotan mengurus ketika balitanya yang sangat bandel.
Kenzi menunduk, ia kecewa. Dia sadar jika dirinya hanya anak angkat dan tidak boleh meminta berlebihan.
"Sini jika Kenzi mau disuapin papa," ucap Dewa sambil menyuapkan sesendok es krim pada Kenzi.
Kenzi langsung senang, ia menerima suapan dari Dewa. Dia juga menyuapkan es krim itu pada Kenzo sehingga adil. Dewa tidak mau pilih kasih, ia memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya sama rata.
"Terima kasih papa," ucap Kenzo.
Dewa tersenyum sambil mengusap kepala Kenzo penuh kasih sayang. Mereka kini menghabiskan es krim masing-masing sebelum sang mama bangun.
Setelah selesai makan es krim, Dewa mengelap mulut ketiga balita kembarnya.
"Papa, kami masuk ke kamar ya," ucap Kenzo.
"Iya, nanti jika lapar bilang ya. Biar papa pesan makanan."
"Baik, pa."
Kini Dewa hanya berempat dengan ketiga putranya. Seperti biasa, Dewa menemani mereka bermain. Sudah menjadi tugas sang ayah untuk menjaga anak-anaknya. Dia sebisa mungkin menjadi ayah yang baik. Sambil menjaga mereka, ia memilih menghidupkan TV. Sudah dua hari ini ia dirumah dan tidak bekerja karena pengasuk anak-anaknya sedang cuti.
Ingin main futsal lagi, apalah daya si bocil-bocil ini bagaimana? Huh...
Dewa meraih ponselnya lalu bermain game untuk menghilangkan bosan namun saat akan bermain tiba-tiba si Dev menangis.
Dewa sangat terkejut tatkala ketiga bocahnya berebut mobil-mobilan.
"Ssssstt... Jangan berebut! Ini 'kan banyak mainan."
Mereka tidak menghiraukan ucapan sang papa dan tetap saja berebut mainan. Dewa yang kesal menjambaki rambutnya sendiri lalu menawarkan kepada mereka untuk bermain kuda-kuda.
"Papa jadi kuda, siapa yang ingin naik kuda?" tanya Dewa sambil berposisi merangkak.
Dav, Dev, Ven langsung naik ke punggung papanya. Dewa sangat berhati-hati karena ketika bocah itu berebut tempat. "Satu-satu naiknya sayang!" ucap Dewa.
__ADS_1
GLUDUUUK...
Ven terjatuh dan kepalanya terbentur lantai. Dewa dengan sigap menolongnya dan mengelus kepalanya yang memerah. Dewa melihat Nona yang masih tidur, ia takut jika sang istri bangun lalu memarahinya karena menjatuhkan putranya.
"Huh... apa ya yang bisa membuat kalian diam dan tenang? Papa capek."
Dewa memangku ketiga putranya, mengelus kepala masing-masing dan tak lupa memberikan kecupan kasih sayang. Ingin sekali ia istirahat tapi apalah daya, ia tak mungkin meninggalkan ketiga putranya untuk tidur.
"Bobok yuk!" ucap Dewa.
Ketiga putranya malah asyik memainkan mobil masing-masing. Dewa terus saja menguap sampai matanya tidak kuat lagi untuk terbuka. Pada akhirnya Dewa tertidur dengan meninggalkan ketiga putranya yang masih terbangun.
Dav, Dev, Ven asyik bermain sendiri. Dia memainkan semua mainan yang ada. Tanpa pengawasan membuat mereka leluasa bermain.
Ketiga bocah kembar itu yang sudah bisa berjalan menyusuri setiap ruangan yang ada di rumahnya. Mereka sangat ingin tahu bahkan berani membuka pintu yang tidak terkunci mencoba untuk keluar. Ketiga bocah kembar itu keluar dari apartemen sendirian.
Mereka menuju ke lift, namun sebelum itu mereka memainkan pot bunga yang berada pada samping pintu apartemen orang tuanya.
Tiba-tiba lift terbuka, seorang pria dewasa sangat terkejut saat melihat ketiga bocah itu sendirian diluar.
"Lah, dimana bapakmu?" tanya Navier.
Navier menggandeng ketiga bocah itu lalu mengetuk pintu apartemen Dewa.
Tak puas, ia menekan bel pintu dan beberapa detik kemudian terbuka.
"Eh Navi, ada apa?" tanya Nona sambil menguap.
"Ada apa? Anak-anak kalian bisa-bisanya diluar sendirian tanpa orang dewasa."
Nona yang baru tidur langsung sadar, ia melihat ketiga putranya berada disamping Navier. Nona memeluk mereka dan sangat geram pada Dewa.
"Terima kasih, Navi. Kau mau masuk?"
"Hem, niatku memang untuk datang kesini," jawab Navier.
Nona mengajak Navier masuk, ia terkejut saat melihat Dewa tidur dilantai membiarkan pintu rumah tidak terkunci. Nona melempar bantal sofa ke wajah Dewa. Dewa yang terkejut langsung bangun.
"Mas bagaimana, sih? Jaga anak-anaknya saja tidak pecus. Anak kembarmu keluar dari apartemen sendirian," ucap Nona.
Dewa yang sadar terkejut, ia terjongkok depan putra-putranya untuk memperhatikan apakah mereka baik-baik saja atau tidak.
__ADS_1
"Untung saja ada Navi, jika tidak bagaimana?" ucap Nona mengomeli suami bocahnya.
Dewa meminta maaf, Nona memutar bola matanya jengah. Dia membawa putra-putranya untuk ke kamar. Dewa menghela nafas sedangkan Navier menepuk bahunya.
"Ucapan istri jangan diambil hati!" ucap Navier.
Dewa tersenyum kecil, sudah biasa ia di omeli sang istri. Hormon istrinya memang sedang naik turun membuat Nona mudah marah tetapi Dewa sangat maklum.
Navier mengeluarkan ponselnya dan mengajak Dewa untuk bermain game.
"Kok sudah pulang?" tanya Dewa.
"Sudahlah, bosan di kantor."
Mereka bermain game sejenak untuk menghilangkan penat. Navier tahu jika temannya sangat setres mengurus anak-anaknya. Hanya bermain game bisa membuat rasa penat hilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bara menggendong putranya, Ini adalah putra pertamanya selama menjalani pernikahan. Dia tidak bekerja dan memilih membantu Sarah mengurus putranya.
Sarah yang sehabis mandi berdandan sangat cantik walau tidak kemana-mana.
"Mau kemana sih sayang?" tanya Bara.
"Gak kemana-mana kok, ingin tampil cantik saja di depanmu."
Bara menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejak sang istri melahirkan jadi sering berdandan walau tidak pergi kemanapun. Sarah takut ketika dirinya jelek maka Bara akan meninggalkannya.
Bara mendekat lalu mengecup pipi sang istri, Sarah mendengus namun ia tersenyum kecil karena malu.
"Jalan-jalan sore yuk!" ajak Bara.
Sarah mengangguk, setelah berdandan ia menggendong putranya. Bara bersiap-siap, tak lupa memakai parfum yang begitu wangi. Tangannya juga meraih kunci mobil yang tergeletak di meja.
"Sayang, ayo berangkat!" ucap Bara.
Bara merangkul Sarah untuk masuk ke mobil namun tiba-tiba mobil Elara datang masuk ke halaman gedung apartemen. Bara terhenti dari langkahnya lalu menatap Elara yang keluar dari mobil.
"Papa ku telpon tidak diangkat?" tanya Elara.
"Benarkah? Papa baru saja bermain dengan adikmu."
__ADS_1
Elara menatap Sarah dengan jengah, Sarah tidak memperdulikannya.
"Kalian mau kemana? Aku mau ikut," ucap Elara.