Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 105 : Menantu tak dianggap


__ADS_3

Dewa sama seperti biasa jika malam hari selalu terbangun untuk memijat sang istri yang mengeluh sakit punggung. Dia memijat sambil menguap menahan kantuknya tetapi ia tetap tidak tega membiarkan Nona begadang sendirian.


Tangannya yang sudah lelah bekerja dan kuliah hari ini nampak bergetar, entah mengapa tangannya mudah kebas.


"Mas, kapan Mas Dewa mau nunjukin jatidiri kepada keluargaku dan juga orang tua mas?" tanya Nona.


"Hem... Aku sudah nyaman menjadi Dewa."


"Tapi tidak boleh begitu."


Dewa diam, bahkan dirinya tidak sanggup mengatakan kepada mereka. Terlebih lagi kepada kedua orang tuanya. Mereka pasti akan sedih karena mengetahui jika Dewa yang asli sudah tiada.


"Jika semuanya terbongkar, apakah mereka mau memaafkanku?"


"Tentu saja, Mas Naga sangat baik bahkan sangat hebat karena bisa menjadi Dewa yang sederhana selama 4 tahun."


Tiba-tiba Nona merasakan nyeri pada perutnya akibat tendangan dari si jabang bayi. Dia bersandar pada Dewa lalu Dewa mengelus perut sang istri.


"Dedek tidak bobok? Sudah malam, kasian mama. Mama juga harus istirahat," ucap Dewa.


Nona meringis kesakitan, bahkan nafasnya terasa sesak akibat perutnya yang begitu besar. Dewa semakin memberi sugesti untuk Nona supaya bisa jauh lebih kuat.


"Nuna tidak kuat..."


"Ssssst... Nuna sayang harus kuat! Tidurlah seperti ini! Biar mas yang mengelus perut Nuna supaya ketiga jagoan bisa tenang dan Nuna bisa bobok."


Dalam sandaran Dewa, mata Nona mulai terpejam. Elusan dari tangan sang suami bisa membuatnya lebih tenang. Ketika beberapa menit terlelap seketika tarikan nafas menjadi teratur. Dewa tersenyum saat sang istri sudah bisa tidur di jam 2 dinihari ini.


Keesokan paginya.


Dewa menguap sambil mengucek matanya. Punggungnya terasa sangat pegal karena harus tidur dengan posisi duduk. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi dan ia hanya tidur beberapa jam saja. Tangannya meraih ponsel untuk memesan sarapan untuk mereka berdua.


"Salad sayur, buah-buahan dan jangan lupa daging!"


"Baik, pak."


Setelah itu, Dewa menuju ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan tidak lupa menggosok gigi. Wajahnya menjadi lebih terawat karena sudah tidak bekerja terlalu berat lagi. Nona juga menyuruhnya untuk konsultasi ke dokter kulit supaya kulit mulusnya bisa terawat.


Setelah selesai di kamar mandi. Dia kembali ke tempat tidur untuk mengecek orderan yang mungkin di lakukan pembeli saat malam hari. Dia bersyukur karena toko semakin ramai dan ini bisa dibilang rezeki si kembar. Jemari tangannya dengan lincah mengonfirmasi semua pesanan lalu ia mengirimkan kepada Arsel.


Dewa


Sel, hari ini toko ku serahkan padamu. Hari ini aku mau menemani Nona untuk senam hamil.


Arsel


Baik, Nagara


"Mas, aku lupa jika ibu mengajak makan siang bersama kakak-kakak," ucap Nona tiba-tiba terbangun.

__ADS_1


"Eh... Jam berapa? Nanti kamu ada jadwal senam."


"Sehabis senam kita langsung kesana."


Dewa mengangguk tak lupa ia menyapa ketiga jagoannya yang masih tenang didalam perut. Ia tidak bisa membayangkan menjadi seorang ayah bagi ketiga putranya diusia 20 tahun.


Disisi lain.


Sarah, si gadis pemalas baru bangun lalu langsung menuju ke ruang makan. Disana sudah ada sang papa dan ibu tirinya. Sarah sangat kesal sekali harus tinggal bersama mereka.


"Sarah, mommy buatkan sup jagung kesukaanmu," ucap Alisa.


Sarah memutar bola mata jengah. "Tante tidak usah mencuri hatiku, aku tetap pada pendirianku."


"Apa yang kau katakan? Cepat makan dan duduk!" ucap Dani.


Alisa tersenyum kecil. Sarah hanya manyun dan menarik kursi untuk ia duduki.


"Sarah, kau tahu jika mommy sedang mengandung adikmu. Kau akan menjadi seorang kakak," ucap Alisa.


Sarah tidak merespon. Dia mengambil makanan di atas meja lalu melahapnya. Saat ini, ia tidak mau memperdulikan apa yang sedang terjadi di keluarganya. Dani menggenggam tangan Alisa, ia menggelengkan kepala supaya tidak mengajak mengobrol dengan Sarah.


Sarah tidak nafsu makan, ia memilih meninggalkan meja makan setelah menyuapkan dua sendok pada mulutnya.


"Biarkan saja, sayang. Sarah mungkin masih kesal karena kita menyuruhnya pulang ke rumah."


"Aku tetap cemas. Dia terlihat menyimpan rahasia."


Hueeeek... hueeeek...


Sarah memuntahkan makanan yang sempat ia telan. Semua isi perutnya keluar. Dia mengusap air matanya penuh kesedihan. Setelah itu ia berkumur dan memuntahkannya lagi kedalam kloset.


Mata Sarah berkaca-kaca, ia mengusap mulutnya yang penuh dengan sisa air.


Sarah bergegas menuju kantor Bara. Setelah sampai, ia melihat Bara sedang meeting bersama beberapa karyawan pentingnya.


Braaaaak...


"Bara Abraham..." teriak Sarah.


Semua orang diruangan itu memperhatikan Sarah. Sarah mengambil langkah panjang dan langsung mencekik Bara, semua karyawan terkejut.


"Sarah, apa yang kau lakukan?"


Bara mencoba menenangkan Sarah tetapi Sarah semakin mencekiknya kuat. Semua orang membantu menarik Sarah untuk menyelamatkan bosnya.


"Bara Abraham Wiratmaja... Kau harus tanggung jawab!" teriak Sarah.


"Tanggung jawab apa, Sarah?"

__ADS_1


"Aku muntah-muntah..."


Semua karyawan saling berbisik. Bara masih terlihat bingung.


"Wah... Pak Bara menghamili sugar babynya? Berita besar."


"Pak Bara ternyata begitu.."


Bara menarik Sarah untuk menuju ke ruangannya. Sarah masih terlihat menarik-narik kerah Bara.


"Kau muntah?" tanya Bara.


"Iyalah brengsek."


Sarah mengacak-acak rambutnya, ia begitu frustasi. Bara memperhatikannya dengan heran.


"Jika Om Bara tidak belah duren kemarin pasti aku tidak akan muntah. Aduh... Perutku terasa mual," ucap Sarah.


Bara menghela nafas panjang melihat pacar bocahnya yang begitu alay. "Muntah karena makan durian kemarin? Huh... ku pikir apa."


"Yah... Ini semua salah Om Bara. Makan ku jadi tidak nikmat karena masih terngiang-ngiang aroma durian."


Bara mencubit bibir Sarah yang manyun. Dia mengangkat Sarah dan mendudukkan pada pangkuannya.


"Isssh... Bara aneh," gumam Sarah.


"Huh... ku cium bibirmu jika masih memanggil namaku seperti itu."


"Bara... Bara... Bara..."


Bara mendekatkan bibirnya, Sarah langsung menutup matanya tetepi Bara tak kunjung menciumnya.


"Kenapa menutup mata?"


Sarah membuka matanya dan tambah manyun membuat Bara gemas.


"Sarah, Om ingin sekali menikahimu tahun ini tapi mengingat Elara, om jadi sedih. Om bisa bahagia diatas kesedihan putriku sendiri."


Sarah mengecup pipi Bara, ia tahu kesedihan pacarnya itu. Seorang papa yang kehilangan putrinya walau tidak benar-benar pergi untuk selamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ibu menangis tersedu-sedu. Bayu dan Nona menenangkannya. Dia begitu sedih karena terkena penipuan penanaman saham. Padahal ia menanamkan sertifikat dua rumah dan perhiasannya.


"Ibu bandel, aku 'kan sudah bilang jangan tergiur investasi. Kena tipu 'kan?" ucap Bayu.


Dewa hanya bisa melihat ibu mertuanya menangis. Dia juga membantu menenangkan sang ibu mertua.


"Bu, kita laporkan pada polisi saja! Biar Dewa bantu melaporkan," ucap Dewa.

__ADS_1


"Kau tidak usah ikut campur! Menantu miskin sepertimu diam saja! Kau tidak di butuhkan disini," ucap Ibu murka. "Kenapa kau bawa dia kesini, Nona? Ibu menyuruhmu datang sendirian tidak perlu membawa bocah ini," sambung ibu.


__ADS_2