
Setelah menyelesaikan mencuci mobil milik Bara. Dewa terduduk sejenak di pinggir tangga. Setelah ini dia harus berangkat bekerja.
Pintu utama rumah terbuka, nampak Bara sudah memakai kemeja rapi dan bersiap untuk berangkat bekerja. Bara memandang Dewa yang melamun, ia menepuk bahu Dewa.
"Melamun saja?" ucap Bara.
"Eh... Kak Bara."
"Sudah selesai? Nah, ini bayaranmu," ucap Bara sambil memberikan uang sebesar seratus ribu rupiah.
Dewa hanya memandangnya. Bara langsung meletakkan di saku bahu Dewa. "Buat jajan," ucap Bara.
"Terima kasih, kak."
Bara tersenyum, ia berjalan ke mobilnya. Mobilnya sudah bersih tidak kalah dengan langganan Bara yang sudah profesional. Dewa memandang sambil tersenyum, ia ingin sekali sukses seperti Bara. Apalagi Bara sangat baik kepada semua orang.
"Dewa? Melamun lagi?" tanya Bara yang akan membuka pintu mobil.
"Eh... tidak, kak. Aku... hanya kagum saja dengan Kak Bara. Kak Bara sukses, tampan dan sangat baik dan juga di hormati banyak orang," ucap Dewa.
Bara mendekati Dewa. "Suatu saat kau pasti bisa sukses. Kakak mendoakanmu," ucap Bara sambil menepuk bahu Dewa.
Dewa menganggukkan kepala. Bara adalah motivasinya untuk menjadi pria baik dan tentunya sukses, ia sudah banyak belajar dari Bara yang selalu baik dengannya. Kepergian mobil Bara membuat Dewa tersadar, ia kini harus segera berangkat ke pabrik.
Bapak datang sambil membawa sekantong plastik lalu menyerahkannya kepada Dewa.
"Sedikit makanan untukmu, makan di perjalanan ke pabrik."
"Makasih, pak."
Disisi lain,
Nona bangun, matanya mengerjap dan ia kucek untuk mencari keberadaan Dewa. Pikirannya menyadari jika kemarin malam dia menyuruh Dewa untuk pergi tidur di luar. Nona beranjak dari tempat tidur, kakinya melangkah cepat mencari Dewa tetapi ia sudah tidak melihat keberadaannya.
"Suamiku dimana?" tanya Nona kepada salah satu pembantu yang sedang membersihkan ruang tamu.
"Tuan Dewa sudah berangkat bekerja pagi -pagi tadi."
Nona mengusap wajahnya kasar. Dia nampak begitu bodoh karena telah bertindak gegabah kepada Dewa. Dirinya mencoba menelepon Dewa, ia bernafas lega karena ponsel suaminya masih aktif.
__ADS_1
"Sayang, kamu dimana?" tanya Nona melalui panggilan telepon.
"Sudah bangun? Aku lagi menuju ke pabrik, sayang."
"Masalah kemarin..."
Dewa memotong pembicaraan Nona. "Dibahas nanti saja. Aku bekerja dulu ya, sayang. Sampai ketemu nanti malam."
"Kok malam?"
Tut... tut... tut...
Nona menghela nafas, dirinya sadar jika dia sudah bertindak keterlaluan. Nona menangis, dia sangat bersalah atas ucapannya. Semua pembantu baru yang melihat Nona menangis di lantai merasa bingung harus melakukan apa.
Arsel yang baru datang, ia terkejut melihat Nona menangis.
"Nona, kenapa menangis?" tanya Arsel mencoba membangunkan Nona dari lantai.
"Aku berdosa pada suamiku, mulutku tidak bisa di rem. Aku mengatakan hal yang menyakitkan padanya. Aku sangat jahat."
Arsel menenangkan Nona, ia sedikit senang jika mereka bertengkar. Ada celah untuk mendapatkan Nona, hanya sedikit mengompori mereka pasti hubungan mereka semakin renggang.
"Nona, heeem... saya sebenarnya tidak mau mengatakan hal ini tapi mengingat ini menyangkut hubungan anda saya menjadi kasihan dengan anda," ucap Arsel.
"Ini pagi tadi, ada seseorang yang mengirimi saya gambar ini. Nona, bocah itu hanya mempermainkan anda. Dia tidak tulus dengan anda."
Nona berdiri, ia menggeleng-gelengkan kepala. "Aku akan bertanya kepada Dewa sendiri nanti malam. Kau segera menyiapkan berkas untuk menemui keluarga tiriku itu."
Nona meninggalkan Arsel, Arsel tersenyum tipis dan memandangi punggung Nona. Harapan untuk bersama wanita yang dicintainya terbuka. Apalagi ia tahu jika Nona terlalu posesif dengan Dewa. Sedikit saja membuat Nona cemburu maka Nona akan terprovokasi.
Pagi ini, Nona sedang dimandikan oleh para pelayannya. Para pelayan baru itu menggosok tubuh Nona dengan pelan. Pijatan demi pijatan membuat Nona rileks. Pikirannya sedikit teralihkan. Nona memandangi jam dinding, pagi ini dia harus bertemu dengan keluarganya. Ada banyak yang ingin mereka bahas.
Setelah mandi, pelayan menyiapkan bajunya dan tentu saja memberikan maka up tipis pada Nona. Nona juga memakai parfum yang wangi membuatnya merasa nyaman. Proses mandinya sudah selesai, ia berjalan keluar dari kamar dan Arsel menyambutnya. Arsel tersenyum manis, ia mempersilakan Nona untuk masuk ke mobil.
"Nona, anda yakin untuk datang ke pertemuan kali ini?" tanya Arsel.
"Kak Bara yang mengundangku. Mau tidak mau aku harus datang."
"Ada Tuan Altaf juga."
__ADS_1
Nona terhenti dari langkahnya. "Untuk apa Altaf datang?"
Arsel menjelaskan jika Altaf ikut andil dalam proses pembangunan perumahan elit yang sempat tanahnya Nona kelola sendiri. Nona merasa tidak heran jika keluarga tirinya begitu cepat membangun proyek bedar itu yang ternyata dibelakang mereka terdapat Altaf yang mendukung.
"Bedebah itu selalu ikut andil jika terjadi seperti ini," gumam Nona.
...****************...
Dewa bekerja untuk training yang kedua. Dia lebih bersemangat ketika istrinya menelponnya tadi. Dewa merasa lebih baik dan tidak ingin memikirkan kejadian kemarin. Baginya pertengkaran dalam rumah tangga adalah bumbu khusus dalam kelanggengan hubungannya dengan Nona.
"Dewa, datanglah ke ruang satpam! Ada yang ingin menemuimu, katanya mendesak," ucap Pak Amri yang mendapat telpon dari ruangannya.
"Siapa pak?"
"Temui dulu! Bapak juga tidak tahu."
Dewa dengan panik langsung ke tempat satpam yang ada di pintu gerbang. Dia harus berjalan 300 meter dari gedung dia bekerja. Langkah kakinya yang panjang menandakan jika dirinya sangat khawatir.
Setelah sampai di ruang satpam, dia melihat Nona sudah duduk tersenyum sembari melihat kedatangannya.
"Sayang?"
Nona berdiri. "Ini makan siang untukmu. Ini permohonan maafku untuk yang kemarin."
"Sayang, aku sudah dapat jatah makan siang sendiri dari sini."
Nona nampak sedih, Dewa tersenyum lalu mengusap wajahnya. "Oke, aku akan makan siang dengan makanan yang kamu bawa."
"Kamu?" tanya Nona mendengar kata 'kamu' dari Dewa.
"Iya kamu sayangku. Gih, sana pulang! Mas mau kerja," ucap Dewa.
"Hahaha, mas... Mas Dewa."
Nona langsung berpamitan setelah memberikan makan siang untuk Dewa. Saat berjalan ke mobil, Nona terkekeh geli saat mengingat dirinya harus memanggil 'Mas' kepada suami bocahnya itu. Arsel cukup kesal mengetahui perubahan wajah Nona yang nampak gembira.
Cepat sekali mereka berbaikan?
Di kantor Bara.
__ADS_1
Bara termenung mengingat pesan dari dokter pribadi Zalina. Di pesan itu membahas penyakit kanker serviks semakin hari semakin parah.
Kenapa kau menyembunyikan diriku? Kenapa kau memendam kesakitan ini sendirian? Sejak kapan kau menderita penyakit mematikan itu? Aku sebagai suami seperti tidak ada gunanya.