Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 60 : Meninggal


__ADS_3

2 hari kemudian.


"Mama... Mama... Jangan pergi, mama! Aku gak mau jadi anak yatim piatu," ucap Elara menangis didepan makam yang masih basah.


Bara menenangkan Elara yang tidak mau meninggalkan makam mamanya. Kematian sang mama yang mendadak membuatnya sangat sedih apalagi dia adalah orang pertama yang menemukan mayat mamanya.


Semua anggota keluarga nampak sedih, sosok Zalina selama ini sebenarnya baik dan sopan.


Setelah itu, mereka memutuskan pulang setelah pemakaman. Bara dan Nona masih membujuk Elara yang menangis di makam mamanya. Elara menangis histeris, Dewa mendekatinya. Dia memberi semangat kepada Elara dan mengajaknya pulang, hanya Dewa yang bisa membujuk Elara. Elara dengan sigap berdiri dan mengajak Dewa untuk menuju ke mobil.


Anak ini sepertinya gila. Batin Nona.


Nona membiarkan sang suami menenangkan keponakannya yang aneh. Nona memandang Bara yang masih bersedih atas kepergian sang istri.


"Kak Bara, ayo kita pulang!" ucap Nona menarik tangan Bara.


"5 menit lagi aku akan menyusul kalian. Aku ingin disini dulu."


Nona yang tahu suasana hati Bara langsung meninggalkan Bara. Bara mengusap batu nisan Zalina, ia tidak menyangka jika Zalina akan meninggal secepat ini padahal besok ia akan membawa Zalina berobat ke luar negeri.


"Maafkan mas yang selama ini tidak mengetahui penyakitmu. Semoga saja setelah ini kau dilapangkan kuburnya. Mas mencintaimu, dek."


Tak terasa air mata Bara mengalir, tak dapat dipungkiri jika ia sangat kehilangan Zalina. Bara hanya bisa berlapang dada dan kini memikirkan nasib Elara yang kehilangan mamanya.


"Aku juga berjanji akan menjaga Elara. Tenang disana, sayang!"


Bara berdiri, matanya melihat sepatu putih tepat disebelahnya. Dia melihat Sarah dan Dani sudah ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Ayo bro, pulang! Bahkan menangis pun juga butuh makan," ucap Dani sambil merangkul Bara.


Bara tersenyum kecut, ia menuju ke mobil bersama mereka. Dani adalah sosok teman terbaik disaat Bara kesusahan tapi sayangnya bukan ayah yang terbaik untuk putrinya yang kesepian. Sarah berjalan dibelakang mereka, walau kini ia sudah berbaikan dengan sang Papa tetapi mengingat papanya membiarkan dirinya mendekam dipenjara begitu menyakitkan. Bara menengok kebelakang, melihat Sarah yang sendirian lantas mengulurkan tangannya pada Sarah.


Sarah mengernyitkan dahi, Dani juga refleks menengoknya kebelakang. Dani tersenyum, ia juga mengulurkan tangan pada Sarah tetapi Sarah lebih memilih uluran tangan Bara.


"Jadi papamu sekarang, Bara?" tanya Dani.


Bara tersenyum sambil merangkul Sarah. "Kenapa? Kau tidak butuh Sarah 'kan? Biarkan putrimu ikut denganku supaya Elara tidak sendirian."


"Hahaha... makanan Sarah banyak, bro. Baru sehari tinggal pasti kau kembalikan lagi padaku," jawab Dani.


Sarah hanya tersenyum kecut dengan ucapan papanya. Dani mengelus rambut Sarah tetapi Sarah langsung menepisnya.


"Jahat sekali?" tanya Dani terkejut.


"Aku memutuskan untuk tinggal sama Om Bara dan Elara. Aku ingin menemani, Elara. Siapa tau dengan kehadiranku ia tidak merasa kesepian setelah ditinggal mamanya," jelas Sarah.


Bara tersenyum. "Benarkah kau mau? Dani, kau memperbolehkan Sarah untuk tinggal bersama kami? Mungkin tidak akan lama," tanya Bara.


Dani berpikir sejenak, ia juga akan menikah. Ini adalah kesempatan Dani untuk membuat Sarah tidak merecoki pernikahannya yang akan diadakan 2 minggu lagi.


"Okelah, tapi jika Sarah bandel suruh tidur di bak mandi saja," goda Dani.


Bara hanya tertawa kecil, Sarah mendengus kesal tetapi Dani langsung mencubit pipinya. Setidaknya dengan kehadiran Sarah bisa membuat Elara tidak kesepian.


...****************...

__ADS_1


Bagas setelah dari pemakaman langsung menuju ke kamar mandi. Alat kelaminnya begitu panas dan gatal bahkan ketika kencingpun terasa perih. Bagas melihat kelaminnya yang bengkak tetapi dia tidak langsung memeriksanya ke dokter. Setelah selesai di kamar mandi, ia melihat Sita mengemasi pakaiannya. Bagas membanting koper milik Sita.


"Mau kemana kau?" tanya Bagas.


"Perselingkuhanmu sudah terbongkar dan kau masih mengelak saja," jawab Sita.


******


Nona memilih menginap di rumah kakaknya selama 7 hari. Dia tidak bisa meninggalkan sang kakak dalam keadaan duka seperti ini. Nona memikirkan keadaan Elara tetapi ia hanya menelan ludah saat Elara sudah bisa tertawa-tawa saat mengobrol dengan Dewa. Dewa melirik Nona, ia tidak enak dalam keadaan duka begini malah membuat tertawa padahal yang dilakukan Dewa hanya mengajak mengobrol biasa dan tidak lucu.


"Lanjutkan saja! Biar Elara tenang," ucap Nona menggunakan gerakan bibir tanpa bersuara.


"Tidak enak dengan kak Bara," jawab Dewa.


Nona menggelengkan kepala, sesaat kemudian Bara datang membawa sebaki teh hangat untuk mereka. Nona melirik suaminya yang didekati Sarah dan Elara hanya bisa pasrah saja bahkan Dewa juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tante menginap disini 'kan? Asyik... Pasti Dewa juga akan menginap disini," ucap Elara.


"Dewa tante suruh pulang ke rumah, hanya tante yang menginap disini," jawab Nona sambil meminum teh buatan Bara.


"Sudah ada Sarah yang akan menemanimu, dia akan tinggal disini sementara waktu," sahut Bara.


"Apaan sih? Aku gak butuh Sarah. Suruh pulang saja! Aku hanya butuh Dewa."


Bara meminta maaf kepada Nona karena sikap Elara yang seperti itu. Nona memahaminya karena Elara memang agak kurang. Itu semua adalah efek dari obat aborsi yang sempat diminum Zalina.


****

__ADS_1


__ADS_2