
Dewa semakin mendekati Nona, Nona berdegup dengan kencang. Matanya sudah tertutup dan menunggu sebuah kecupan dari Dewa tetapi ia membuka mata lagi saat Dewa belum juga menciumnya. “Cilup baaaa...,” ucap Dewa.
Mulut Nona monyong lagi, dia merasa kesal dikerjai oleh Dewa. Dewa mencubit hidung Nona yang mancung sampai benar-benar merah. Setelah itu Dewa berjalan menuju tempat tidur tetapi tangan Nona menahannya. “Cium!” ucap Nona dengan malu-malu.
“Cium mana?” tanya Dewa.
Nona menepuk bibir dengan jemarinya mengisyaratkan jika dia ingin dicium bibirnya. Dewa mengelus kepala Nona, dia menggelengkan kepala. “Disini rumah sakit, sayang.”
“Sekilas saja.”
Dewa semakin hari semakin heran dengan Nona, Nona jika berada didekatnya meminta selalu dimanja.
“Sebentar saja, ya?” Dewa mendekati Nona lalu menempelkan bibirnya dengan sekilas ke bibir Nona.
“Sudah ‘kan? Jangan meminta lebih! Ini rumah sakit sayang,” ucap Dewa.
Nona lalu memeluk Dewa. “Bocah kecilku yang imut,” gumamnya.
**
Hari ini, keluarga besar sedang bermusyawarah di rumah ibu. Bara, Bayu, Bagas datang bersama para istrinya. Mereka membicarakan harta yang ditinggalkan oleh ayah mereka. Bara awalnya tidak setuju atas pembagian ini karena sang ibu masih hidup dan sehat tetapi ibu tidak masalah karena dia juga tidak pandai mengelola
apa yang ditinggalkan suaminya.
Ruang keluarga yang besar menjadi tempat musyawarah mereka. Minuman dan beberapa
camilan tersuguh. Mereka membicarakan dengan kepala dingin dan tentunya Nona tidak datang ke musyawarah itu. Zalina duduk disebelah Bara, dia hanya sebagai pendengar karena hanya sebagai menantu. Diseberangnya terdapat Bagas dan juga istrinya.
Zalina berdiri, ia berpamitan ke semua orang untuk mengambil kue lain di dapur. Bara menahannya. “Dek, tidak usah. Biar bibi saja yang bawakan,” ucap Bara.
“Tidak papa, mas. Sekalian ke kamar mandi kok,” ucap Zalina berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Tiba-tiba Zalina merasa sakit perut, ia segera ke kamar mandi. Perutnya begitu melilit sampai ia mengeluarkan air mata. Kanker serviks yang di deritanya kian parah namun tak ada satu pun orang yang tahu.
“Dek, masih lamakah? Aku mau pergi bersama Dani sebentar.”
Bara mengetuk pintu setelah tidak ada jawaban dari Zalina. “Dek, kau tidak apa-apa ‘kan?” tanya Bara.
“Mas, perut aku masih sakit. Jika Mas terburu-buru bisa pergi duluan nanti aku bisa ikut pulang bersama Bayu atau Bagas,” teriak Zalina dari dalam kamar mandi.
“Dek, beneran gakpapa? Apa aku panggilkan dokter saja?”
“Tidak usah, mas. Ini hanya sakit menstruasi kok.”
“Yasudah, nanti ikut pulang bareng Bayu atau Bagas saja. Mas pergi dulu, ya.”
Setelah tidak ada jawaban, Bara memutuskan untuk pergi bersama Dani ke suatu tempat.
Di Hotel Granduke.
Ceklek....
“Akhirnya kau datang juga.” Sarah berdiri ia membalikkan badan lalu melihat sang papa memdekatinya lalu menjewer telinganya.
“Anak nakal. Bisa-bisanya main ke hotel dan mengajak cowok untuk menemuimu,” ucap Dani.
“Ah.. Aw... Lepaskan, pah!” ronta Sarah.
Sarah memeberontak lalu mendorong papanya. Dia mendengus dan mengelus kupingnya yang
memerah.
Si Arsel tengik itu bisa-bisanya mengadu ke papaku. Awas kau, Arsel!
__ADS_1
“Kau mau kuseret atau berjalan sendiri?” tanya Dani.
“Aku bisa jalan sendiri,” ucap Sarah sambil berjalan melewati Dani.
Bara yang berada dipintu hanya tersenyum kecil, Sarah meliriknya dengan sinis. Dani semakin pusing dengan sifat Sarah. Sarah sudah tidak bisa dinasehati dengan omongan lagi. Mereka berjalan mengikuti Sarah, Dani memandang tubuh Sarah yang memakai celana kurang bahan hanya mengelus dada.
“Punya anak perempuan satu susah diatur. Apakah Elara juga seperti ini?” tanya Dani.
“Elara jarang keluar rumah. Dia lebih suka dirumah tetapi dia sama bandelnya dengan putrimu,” jawab Bara.
“Tapi mereka bakal bertengkar atau tidak jika Sarah harus menginap dirumahmu? Anak kita seperti mempunyai dendam kesumat satu sama lain.”
Bara tersenyum kecil. “ Tenang saja! Ada aku dan Zalina, kami akan memperhatikan mereka. Oh ya, kau pergi ke Surabaya untuk menemui pacarmu ‘kan?” tanya Bara.
“Sssst... Jangan keras-keras! Aku bilang kepada Sarah jika ada urusan pekerjaan. Kau tahu sendiri ‘kan jika Sarah tidak suka aku menikah lagi?”
Bara tersenyum, mereka lalu menaiki lift dan menuju ke mobil. Dani menyuruh putrinya naik ke mobil Bara dan mobil Sarah akan diambil orang suruhan Dani. Sarah malas sekali memandang wajah sang papa yang harus sering keluar kota tanpa mengajaknya.
“Sarah, jangan nakal! Jangan bertengkar dengan Elara!” ucap Dani sambil mengacak rambut putrinya.
Setelah itu Dani masuk ke mobilnya sendiri meninggalkan Sarah yang masih memandang
kepergian papanya. Bara mengajak masuk ke mobilnya dan pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan, Sarah masih sangat kesal dengan kejadian tadi. Bisa-bisanya Arsel mengadukan ke papanya.
Suara deru mobil menemani perjalanan mereka. Paha putih mulus Sarah membuat Bara menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Bara melepas jaket yang dia bawa lalu menyelimuti paha Sarah. Sarah membuangnya, ia melirik sinis kepada Bara.
“Apaan sih, om?”
“Sarah, sebaiknya mulai besok kau memakai celana panjang saja. Kasihan papamu yang menanggung dosa putrinya saat putrinya mengumbar aurat diluar rumah,” ucap Bara.
“Apa? Om juga suka ‘kan? Nah, ini pandang! Pandang yang puas!” ucap Sarah yang menyodorkan pahanya ke Bara. “Aaaarrrghhh.... Tau gak sih, om? Aku lagi kesal sama Arsel si balok es itu. Kenapa coba dia mengadu papaku? Awas saja jika bertemu pasti dia akan ku remas-remas,” ucap Sarah seperti orang gila.
__ADS_1
Bara hanya menggelengkan kepalanya. Dia melanjutkan perjalanannya. Mereka lalu terdiam tidak mengobrol selama perjalanan, Sarah memilih memandangi foto kenangan dengan Dewa. Andai saja waktu itu Sarah tidak memutuskan Dewa pasti Dewa tidak akan menikahi wanita lain.