
"Mulut abang ini lemes, ya? Mau kena lempar sepatu?" ucap Sarah yang sudah melepas sepatunya.
"Ya.. ya.. ya.. Ampun! Nah, ini testpacknya."
Sarah mendengus, ia memakai sepatunya lagi. Dewa segera membayarnya dan apoteker memberinya kembalian. Tetapi yang namanya bocah baru menikah seperti Dewa masih belum pengalaman membuat dirinya bertanya kepada sang apoteker.
"Mas ini pakainya bagaimana, ya? Dimasukkan ke alat intimnya?" tanya Dewa.
Apoteker menepuk jidat, ia menggeleng-gelengkan kepala. Pembeli yang baru datang yang mendengar ucapan Dewa langsung tertawa terbahak-bahak. Sarah juga tidak paham seolah menunggu jawaban sang apoteker.
"Haduh... makanya jangan mau bikin saja, setelah jadi repotkan? Pakai ini saja tidak bisa."
"Maka dari itu aku tanya. Bagaimana cara pakainya?" ucap Dewa.
Apoteker merebut testpack yang dibawa Dewa, ia membukanya dan menunjukkan bagaimana cara kerjanya.
"Tunggu! Tunggu! Itu yang dicepitin ke ketiak, ya?" celetuk Sarah.
"Itu termometer mbak, kalau ini testpack harus dicelupkan pada air kencing wanita baru bisa terbaca hamil atau tidak."
Dewa dan Sarah semakin tidak mengerti. Mereka hanya saling berpandangan. Sang apoteker dengan bodohnya menjelaskan secara detail. Dewa dan Sarah mendengarkan dengan seksama.
Sarah mengangkat tangan seolah ingin bertanya. "Yang jadi pertanyaan, bagaimana cara menampung air kotor itu? Jika pria mah gampang, jika perempuan?"
"Ya Tuhan, Sarah. Begini saja ditanyakan. Sudahlah, ayo balik! Nona pasti sudah menunggu," ucap Dewa menarik Sarah.
Dewa dan Sarah keluar, sang apoteker sangat lega karena bisa terbebas dari para bocah laknat itu. Sarah meminta yang mengendarai motor sedangkan Dewa hanya mengiyakan saja karena memang tubuhnya sangat lelah.
Dewa membonceng dibelakang Sarah, ia tidak memperhatikan jalan. Matanya menahan kantuk yang luar biasa.
"Wa, aku kok kesel ya. Dulu kau kuajak begituan tidak mau sekarang malah menghamili bule itu," ucap Sarah.
"Dia 'kan istriku, wajar jika aku mau melakukan itu dengannya."
Sarah yang kesal mendengar ucapan Dewa mempercepat laju motornya. Dewa yang sempat mengantar langsung segar seketika ketika Sarah melajukan motor lebih dari 60 KM/Jam.
"Sar, gila kau? Jangan mengebut seperti ini! Lagi maghrib," ucap Dewa.
"Kenapa takut mati? Inilah jika pria sepertimu main-main denganku. Bisa-bisanya menikah dengan orang lain."
Sarah melakukan sangat cepat di jalanan yang sepi. Langit mulai gelap dan lampu mulai menyala tetapi Dewa memandangi sekelilingnya saat rute arah ke rumah Bara nampak lain.
"Sar, hentikan motornya! Kita salah jalan."
Sarah tidak mendengarkan membuat Dewa sangat kesal. Dia tidak menyangka jika Sarah segila ini. Rute mereka semakin menjauhi rumah Bara dan terlihat aneh.
__ADS_1
"Sarah, aku tidak mau mati konyol. Cepat hentikan!"
"Wek! Gak dengar," ejek Sarah.
Setelah beberapa menit, Sarah tersadar jika ia memasuki jalan yang belum pernah dia lewati tetapi ia masih melajukan motornya tanpa henti.
"Sar, kenapa kita malah masuk ke kuburan?" tanya Dewa.
Sarah menghentikan motornya lalu memandangi pemandangan disekitarnya yang terdapat batu-batu nisan. Waktu yang sudah gelap membuat suasana menjadi seram apalagi ini adalah waktu pergantian sore menjelang malam.
"Dewa, aku mau tanya. Jika kita ketemu setan disini apa yang harus kita lakukan? Pertama, harus buka ponsel lalu rekam dan buat konten? Kedua, harus minta selfi? Ketiga, bikin tik tok dengan mereka? Keempat...."
"Diam kau, Sarah! Lihat ada yang gerak-gerak disana," ucap Dewa.
Mata mereka menyipit untuk melihat dalam kegelapan. Mata mereka membulat kala menemukan sosok hitam gondrong dan compang-camping. Sarah turun dari motor, ia berlari meninggalkan Dewa. Sosok itu mengejar Sarah, Sarah berlari kencang tetapi sosok itu juga semakin berlari kencang dan tertawa terbahak-bahak.
"Dewaaaaaa, tolongin aku! Huaaaaa... Papa... Anakmu dikejar setan...."
Dewa melihat Sarah yang dikejar malah merekamnya dengan santai. "Terus, Sar! Lumayan buat konten youtube."
"Waaaaaaa... Aku takut... Tolongin woy! Sialan kau malah direkam," teriak Sarah.
"Lah, katanya tadi jika ketemu ingin direkam? Lumayan bisa jadi bahan gibahan grup chat nanti malam," jawab Dewa.
"Dewaaaa sialaaaaaaan! Bantuuuuiiiiiiin," teriak Sarah yang masih berlari berputar-putar di area makam.
"Bantuin b*go! Bukannya nyemangatin," ucap Sarah sudah sangat frustasi.
Dewa melajukan motornya
dan menghampiri Sarah. Dewa mengklaksoni orang itu, sosok yang mengejar Sarah terhenti. Sarah segera naik ke motor Dewa. Dewa mengegas motor dengan cepat meninggalkan pemakaman itu.
Sarah yang sangat kesal dengan Dewa terus mengoceh tidak jelas. Dewa hanya diam tidak meladeni ocehan Sarah.
"Segitunya ya dirimu? Tega kau, Dewa! Aku dikejar setan malah kau rekam."
"Itu orang gila bukan setan," jawab Dewa.
Ocehan demi ocehan terus terucap sampai tak sengaja sebuah serangga masuk ke mulut Sarah.
"Hueeeeek... Apaan nih? Hueeek..."
"Makanya diam! Mengoceh saja," ucap Dewa.
Sarah yang kesal dengan ucapan Dewa menggigit punggung temannya itu. Dewa yang hilang kendali membuat oleng kendaraan yang dikendarainya. Saat itu juga motor mereka terjatuh ke sawah yang penuh lumpur.
__ADS_1
Braaaaak...
"Aaaaaaaaaa... Hueeeeek... Sialan! Aku makan lumpur. Huaaaaa bajuku, skinkerku.... kulitku.... semua kena lumpur.... Tanggung jawab kau, Dewa!" teriak Sarah yang sudah tak berbentuk akibat terkena lumpur disekujur tubuhnya.
Sama halnya dengan Dewa, ia juga terkena lumpur. Parahnya, motor baru pemberian Nona juga kotor terkena lumpur.
"Motorku...," teriak Dewa.
"Sialan! Malah yang dipikirkan motornya. Kau tidak lihat tubuhku kena lumpur begini?"
"Ini semua salahmu. Ah... Alamat di usir Nona lagi," ucap Dewa sambil melihat motornya.
Dewa menuntun motornya menuju ke jalan. Dia heran, sepertinya tidak ada sawah disekitar sini. Motornya penuh dengan lumpur padahal itu adalah motor baru. Sedangkan Sarah terus saja mengoceh tidak karuan.
"Eh, testpacknya mana?" tanya Dewa sambil menggaruk kepala.
Setengah jam kemudian.
Di apotek.
"Mas, mau beli alat yang tadi dong," ucap Dewa.
Apoteker itu tertawa melihat sekujur tubuh Dewa dan Sarah penuh lumpur. Sarah sangat kesal dan rasanya ingin memukuli setiap orang yang lewat didepannya.
"Habis bercocok tanam dimana?" tanya apoteker itu.
****
Nona menunggu Dewa didepan teras rumah Bara, sudah satu jam lebih ia belum kembali dari apotek padahal letak apotek itu dekat dengan rumah Bara.
"Dua bocah itu kemana tidak pulang-pulang?" tanya Dani melihat jam ditangannya.
"Kenapa Kak Dani tidak bilang jika Dewa pergi bersama Sarah?" ucap Nona kesal.
Bara menenangkan Nona, Nona tetap tidak tenang. Dia takut jika terjadi apa-apa dengan Dewa.
Tak lama berselang, datanglah Dewa dengan Sarah yang mengejutkan semua orang. Badan mereka sangat kotor.
"Kenapa dengan kalian?" tanya Dani.
"Sial! Sial! Sial! Sudah masuk ke kuburan, dikejar orang gila, eh malah nyemplung di sawah," rengek Sarah kepada Dani.
Sedangkan Dewa menunduk takut kepada Nona karena motor barunya menjadi seperti itu. Nona menangkup wajah Dewa. "Sayang, kau tidak terluka ''kan?" tanya Nona.
"Sayang, maafin mas! Mas tidak papa tapi motornya...."
__ADS_1
****
Jangan lupa like, Komen, rate5, beri hadiah dan vote!