
"Mana pesananku?" tanya Mona menodong Kenzo.
"Di rumah aja lah, dek."
"Nanti mama lihat pasti di marahin."
Kenzo mencubit pipi Mona. "Nanti sembunyi-sembunyi saja."
Mona cemberut, ia bersedekap dada. Dirinya sangat kesal dengan kakak tertuanya. Sedangkan Arsel hanya fokus menyetir sembari telinganya mendengar perdebatan kecil kakak beradik itu.
"Aku melihat dramanya Kak Kenzo bagus banget, Kak Ken bener-bener ciuman ya waktu itu?" tanya Mona.
"Apa sih, dek? Masih kecil bertanya seperti itu. Lagi pula akting kakak masih kaku banget."
Kenzo si pria tampan yang dulunya hanya sebagai mahasiswa di Korea mendapat tawaran audisi akting saat dirinya sedang berada di sebuah mall. Kenzo yang kala itu ingin mencari uang tambahan menerima tawaran itu. Dua hari sebelum audisi, ia sempat belajar akting melalui internet. Dirinya yang belajar secara otodidak membuatnya cukup kesulitan namun pada akhirnya ia lolos sebagai pemeran figuran sebuah drama yang kini cukup hits di kalangan anak muda.
"Kakak datang kok gak bawa manajer sih?" tanya Mona.
"Ini waktu bebas kakak. Kakak ingin menikmati waktu bersama keluarga. Lihatlah penampilan kakak! Kakak bahkan sampai menyamar seperti ini," ucap Kenzo.
Mona tertawa kecil, sekali lagi ia memeluk sang kakak. Dia sangat ingin Kenzo bahagia dengan caranya sendiri dan inilah hasil kerja keras Kenzo.
Setelah sampai rumah, Dewa dan Nona belum pulang juga. Kenzo masuk ke kamar untuk sekedar istirahat. Sedangkan Arsel masih menunggu kedatangan Nona dan Dewa.
"Uncle, kenapa masih disini?" tanya Mona pada Arsel.
Arsel si pria matang itu menenggak kopi buatan Mona. Mona memandangnya dengan jengah pria yang dianggapnya sok muda itu. Bagaimana tidak? Penampilan Arsel memang seperti anak muda, memakai minyak rambut, memakai kemeja dengan lengan baju yang terlihat serta sepatu putih milik merek ternama.
"Orang tua mu menyuruh Uncle untuk menunggu kepulangan mereka karena ada urusan penting yang harus kami bicarakan," jelas Arsel sembari tangannya meletakan gelas kopi pada meja kaca di depannya.
"Oh yaudah jika begitu, aku mau masuk ke kamar Kak Kenzo dulu," jawab Mona.
Ketika Mona akan membalikan badan, Arsel mengatakan sesuatu yang membuat Mona terhenti dari langkahnya.
"Mona, usiamu akan menginjak 16 tahun dan Kenzo juga termasuk pria dewasa. Alangkah baiknya kalian jaga jarak! Tidak baik anak gadis terlalu menempel pada kakak laki-lakinya apalagi kalian memang tak sedarah," ucap Arsel.
Mona berdecih, ia memandang lekat Arsel. "Apa sih? Uncle terlalu negatif, Kak Kenzo itu sama seperti ketiga kakak kembarku namun kakak kembarku tak seperhatian Kak Kenzo. Sekali lagi uncle jangan macam-macam dengan kami!" ucap Mona.
__ADS_1
Mona langsung meninggalkan Arsel lalu masuk ke kamar Kenzo. Kenzo disana sedang menata barang-barangnya lalu tersenyum menatap Mona yang datang.
"Kunci pintunya!" ucap Kenzo.
Mona langsung mengunci pintu dan seketika Kenzo mendorong Mona ke tembok. Dia menatap mata indah Mona lalu membelai rambutnya.
"Sudah lama tidak berjumpa kau semakin cantik saja," ucap Kenzo.
Mona tersipu malu, ia menunduk namun Kenzo langsung mengangkat wajah Mona supaya juga menatapnya. Kenzo mencoba untuk mencium Mona, gadis yang baru melakukan ciuman pertama itu hanya menikmati permainan Kenzo. Mereka berciuman panas dan bahkan Kenzo mulai mendorong Mona ke ranjang. Gadis yang masih polos itu tak tahu apa-apa apalagi saat Kenzo mulai memplorotkan celananya, namun ...
BRAAAAAAK ...
Pintu terdobrak, Dewa sangat terkejut saat kedua anaknya akan melakukan hal yang tak senonoh. Sebagai seorang ayah yang tidak terima anak gadisnya diperlakukan seperti itu dengan refleks memukul Kenzo.
DUAAAK ...
"Sialan! Apa yang kau lakukan pada putriku?" ucap Dewa.
Nona langsung mengambil selimut lalu menyelimuti kaki putrinya yang sudah tidak memakai celana. Mona menatap tajam Arsel, ini pasti ulahnya.
"Kenapa sifat bajingan papamu malah menurun pada mu? Kau harusnya tak mencontoh orang tuamu," ucap Nona membuat Kenzo sangat kesal.
"Jangan membawa masalah kedua orang tuaku!" teriak Kenzo.
Dewa yang tidak terima istrinya dibentak refleks memukul Kenzo sekali lagi. Kenzi yang baru saja datang terkejut, ia segera menolong sang kakak. Mona malah menangis, ia memohon sang papa untuk meredam emosinya.
"Papa, ini salah paham. Jangan pukul Kak Kenzo lagi! Ini salahku," ucap Mona.
Nona menarik putrinya dan menyuruhnya untuk duduk saja. Nona kini menatap tajam pada duo Ken yang masih terduduk di lantai.
"Mama tak habis pikir dengan kalian, ada saja masalah yang kalian buat. Kau juga sama saja Kenzi, mama mencarikan pekerjaan dengan susah malah kau berani mencuri, kau membuat mama dan papa sangat malu," ucap Nona.
Kenzo mengepalkan tangannya, ia berdiri dan menatap balik mama angkatnya. "Oke, kami akan pergi supaya tidak memberatkan hidup kalian lagi. Aku pikir kalian sangat ikhlas mengadopsi kami namun buktinya kalian masih mengharapkan timbal balik yang baik bagi kalian sendiri sampai tidak memikirkan perasaan kami," ucap Kenzo.
Kenzi terkejut, ia menarik tangan Kenzo untuk bersimpuh. "Kak, apa yang kau katakan? Segera minta maaf dengan papa dan mama!" ucap Kenzi.
Kenzo menepis tangan Kenzi, ia sudah sangat kesal dengan ucapan sang mama yang membuatnya selalu sakit hati.
__ADS_1
"Kak, minta maaflah! Kita yang salah, jangan membuat hidup kita semakin berat jika kita harus keluar dari sini," ucap Kenzi.
Kenzo berdecih. "Kita tidak akan mati jika keluar dari sini. Kita harus sadar jika kita ini hanya anak pungut dari saudara mereka."
Kenzo mulai membawa kopernya. Mona semakin histeris, ia tidak ingin Kenzo masuk dalam masalah yang begitu berat. "Ini semua salah papa dan mama, jika saja Papa dan mama tidak menjodohkanku dengan Uncle Arsel yang tua itu pasti aku tidak akan menggoda Kak Kenzo. Aku juga salah, aku yang selama ini menggoda Kak Kenzo," ucap Mona sambil terisak.
"Siapa yang akan menjodohkanmu dengan Uncle Arsel?" tanya sang mama.
"Aku dengar dari papa."
Nona menatap tajam Dewa. Dewa teringat jika ia pernah bercanda dengan Arsel untuk menjodohkan putrinya dengan pria matang itu dan tidak sengaja terdengar oleh Mona.
"Eh ... waktu itu papa hanya bercanda," ucap Dewa.
"Kau juga sama saja, Mas. Kenapa mengatakan hal yang tidak-tidak?" ucap Nona sangat marah.
Mona beranjak lalu bersujud pada Papa dan mamanya. Dia meminta maaf karena sudah membuat kekacauan. Dia menekankan sekali lagi jika ini kesalahannya yang menggoda Kenzo. Kenzo yang sudah membawa koper terdiam, ia memang menyadari jika awal mulanya Mona yang sedari dulu menggodanya. Kenzo tak ingin Mona menanggung kesalahan ini sendirian lalu ikut bersujud di samping Mona.
"Maafkan aku! Pah, Mah, aku bersalah. Aku tidak akan mengulangi itu lagi. Tolong jangan memarahi Monalisa!" ucap Kenzo.
"Iya, pah, mah. Kami khilaf, kami tidak akan melakukan hal itu lagi. Kami janji," ucap Mona.
Dewa mengusap wajahnya kasar, ini adalah keputusan sulit apalagi mereka adalah anak-anaknya. Sebagai orang tua yang bijak, ia memilih untuk memaafkan mereka dan mereka berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.
**
Beberapa hari kemudian.
POV MONALISA.
Setelah kejadian itu, Kak Kenzo benar-benar menjauhi dan menjaga jarak denganku. Aku semakin sedih padahal aku sangat menyukainya. Ini semua gara-gara perjaka tua itu pasti melaporkan pada mama dan papa. Sialan! Pantas saja gak laku, dia saja menyebalkan.
"Kau mengumpatiku dalam hati?" tanya perjaka tua itu.
Aku terkejut, aku menyibakkan rambutku sambil menatapnya jengah. "Uncle fokus menyetir saja! Nanti aku terlambat ujian nasional."
Cih ... awas saja! Aku akan membuat perhitungan denganmu. Batinku.
__ADS_1