Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Season 2 : Bab 4


__ADS_3

Karena pembaca yang menurun maka season 2 akan menjadi 30 an bab saja.


Dewa diizinkan pulang, ia harus rajin meminum vitamin sebelum dirinya bekerja kembali. Anak-anaknya sangat sedih saat melihat papanya hanya bisa terbaring di ranjang kamar. Kenzo, anak angkatnya yang tertua hanya bisa menunduk lesu. Sempat dia berpikir apakah karena dia dan adiknya sampai Dewa seperti ini karena Kenzo mendengar pertengkaran kecil mereka tentang dirinya dan sang adik.


Jika Papa dan mamaku masih ada pasti kami tidak akan merepotkan orang lain.


"Ken, kenapa melamun? Sudah mengerjakan PR?" tanya Dewa.


Kenzo menggeleng dengan bibir yang cemberut. Dewa mengelus pipinya. "Jangan berpikiran yang negatif! Papa sakit karena kecapekan."


Nona datang membawakan bubur untu Dewa. Dia menyuruh Kenzo untuk masuk ke kamar dan menemani Kenzi yang tengah asyik menggambar sendirian.


"Papamu bandel tidak mau minum obat makanya dia sampai sakit, jangan cemas, Ken! Mama akan jaga papa," ucap Nona.


Kenzo mengangguk, ia turun dari ranjang dan Nona menyuapi Dewa semangkuk bubur hangat yang di buatnya. Nona memasukkan bubur diatas sendok lalu menyuapkan pada sang suami dengan telaten. Dia sangat bangga kepada Dewa yang bisa sabar menghadapi segala masalah.


"Arsel ternyata adik Althaf. Kau tahu hal itu?" tanya Dewa.


"Iya, aku tahu."


Dewa mendudukkan dirinya, ia menatap Nona. Berarti Nona selama ini pura-pura tidak tahu. Apa yang sebenarnya terjadi kepada Arsel sehingga bisa kabur dari dan tidak menerima keluarganya? Itu yang berada di benak Dewa.


"Mas gak usah memikirkan masalah orang lain. Arsel pasti bisa menyelesaikannya."


Dewa mengangguk, ia mengambil mangkuk bubur lalu memilih makan sendiri. Dia menyuruh Nona untuk mengawasi anak-anak mereka yang bersama pengasuh. Nona mengecup pipinya dan pergi meninggalkan Dewa.


Suapan demi suapan ia habiskan sampai tak tersisa, masakan dari sang istri memang paling istimewa.


Setelah habis, ia meminum obat dan bersandar ditembok. Dia selalu berdoa agar dipermudah segala urusannya.


Aku bersyukur bisa bertukar tempat dengan Dewa. Aku bisa menjadi Dewa yang menikahi Nona, mempunyai ke enam anak yang sangat menggemaskan.


Banyak yang mengatakan hidupku sebuah drama. Ya, aku adalah pemeran utamanya. Mereka mau bilang apa terserah yang terpenting aku bisa bahagia dengan keluarga kecilku.

__ADS_1


Malam hari.


Malam hari mereka harus mengurus sendirian anak-anak mereka karena para pengasuh harus pulang. Tidak cukup merepotkan pasti mereka akan segera tidur.


Mereka berkumpul di ruang keluarga, bermain bersama-sama, bersenda gurau sambil menikmati camilan.


"Aaak... ayo dimakan! Jangan dibuang-buang!" ucap Nona memarahi ketiga kembar D.


Namun, saat mereka asyik berkumpul tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Nona beranjak dan membukakan pintu yang ternyata Bara beserta keluarga kecilnya datang. Apartemen Dewa kini bertambah ramai.


"Wah... lagi berkumpul bersama?" tanya Bara.


"Iya kak, ayo duduk dulu! Tumben malam-malam begini datang?" tanya Dewa.


Bara menghela nafas, ia merasa tidak enak jika duo Ken harus ikut Dewa dan Nona yang pasti sangat repot memiliki empat anak. Bara menjelaskan jika ia dan Sarah mau membawa duo Ken supaya bisa ikut mereka.


"Aku gak mau, aku mau ikut Papa Dewa," ucap Kenzi sambil memeluk Dewa.


"Ikut sama tante ya? Nanti bisa main sama Bastian," ucap Sarah dengan nada halus.


"Kami sudah ada pengasuh untuk mereka, kalian jangan khawatir!" ucap Nona.


Bara tetap saja tidak enak, ia menyodorkan amplop coklat yang berisi uang tunai ke arah Nona. Dia menjelaskan jika uang itu untuk membayar sewa pengasuh untuk Duo Ken.


"Jangan menolak! Jika menolak Ken akan aku bawa paksa, kakak akan memberikanmu uang tiap bulan untuk membayar uang sewa pengasuh. Uang ini juga dari Bayu, kita patungan untuk keponakan kami," jelas Bara.


Bara menarik tangan Nona untuk menerimanya. Setelah amplop coklat itu berada di tangan Nona, Nona sangat terharu dengan dua kakak laki-lakinya yang masih peduli dengan Ken yang malang.


"Man, man, man," ucap Dav memanggil Bara dengan sebutan paman.


Bara merentangkan tangan untuk menggendong keponakannya itu. Dav memang sangat dekat dengan Bara sedangkan kedua saudara kembarnya malah takut dengan Bara.


"Haduuuuh... Tambah besar ponakan, Uncle," ucap Bara tatkala merasakan bobot Dav sangat berat.

__ADS_1


Mereka kembali bercengkrama sambil meminum teh buatan Nona. Anak-anak mereka bermain bersama dan tentu saja saling berebut mainan.


"Oh ya, kabar saudara kembarmu bagaimana?" tanya Bara pada Dewa.


"Si Dewa yang asli, dia memimpin perusahaan kakekku. Biarkan dia merasakan kebahagiaan."


"Jadi kalian sudah resmi bertukar identitas?"


Dewa menyeruput teh lalu menjawab. "Dia sudah berganti nama juga sebagai Elang. Itu pilihannya sendiri."


Tiba-tiba Mona menangis, Nona segera menggendongnya dan berpamitan masuk kamar karena akan menidurkan putrinya. Bara dan Sarah pun berpamitan pulang karna waktu juga sudah malam. Setelah memastikan mereka pulang, kini gantian Dewa yang menidurkan putra-putranya.


"Ken masuk ke kamar, ya? Bobok, sudah malam. Si kembar juga mau bobok," ucap Dewa.


"Baik komandan."


Dewa menggandeng balita kembarnya untuk masuk kamar dan naik ke atas ranjang yang berukuran jumbo itu. Diatasnya sudah terbaring Nona dan Monalisa.


Bocah kembar tiga itu tidur ditengah-tengah diantara Nona, Mona dan Dewa.


Dewa dan Nona berbaring miring saling berhadapan. Kini mereka tidur berjauhan karena ditengah mereka ada empat bocil.


Dewa sudah tidak bisa memeluk Nona karena terhalang anak-anak mereka.


"Mas, kapan ya kita bisa tidur berpelukan lagi?" tanya Nona.


"Jika mereka seumuran Kenzo dan Kenzi pasti sudah bisa tidur di kamar sendiri. Bersabarlah sayang, nikmati hidup selagi anak-anak masih kecil dan menggemaskan," jawab Dewa.


Mereka saling memandang dan melempar senyum, benar apa yang dikatakan Dewa jika anak-anak seumuran mereka adalah waktu emas bagi orang tua bersama anak-anaknya. Jika sudah besar nanti pasti anak-anak yang sudah tumbuh dewasa akan mempunyai kehidupannya sendiri apalagi jika sudah berkeluarga.


"Ken sudah tidur?" tanya Nona.


"Mas sudah menyuruhnya tidur, mereka sudah besar jadi pasti bisa tidur sendiri."

__ADS_1


"Terkadang aku kasihan dengan mereka, mereka masih kecil yang masih membutuhkan banyak kasih sayang dengan orang tuanya. Namun, masa kecil mereka menjadi hancur sebab orang tua mereka melakukan kesalahan besar," ucap Nona.


Dewa menghela nafas, ia mengulurkan tangannya supaya digenggam oleh Nona. Setelah Non ikut menggenggamnya, ia mengelus punggung tangan Nona dengan lembut. "Makanya kita harus menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita dan anggap Ken seperti anak sendiri yang lahir dari rahimmu," ucap Dewa.


__ADS_2