Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 100 : Satu ronde saja


__ADS_3

Sarah menepis tangan Alisa, Alisa tersenyum kecil melihat anak tirinya yang begitu menggemaskan. Tatapan Sarah tertuju pada Dani, ia sangat membenci papanya.


"Cintaku direbut oleh dua Nona-Nona, Nona pertama merebut Dewa ku dan Nona kedua merebut papaku," ucap Sarah sambil berderai air mata.


Sarah mundur perlahan, ia menangis sesegukkan. Para tamu memandangnya, Sarah berlari seketika. Bara meremas tangannya tatkala melihat wanita yang dicintainya menangis. Dia mengejar Sarah.


"Sarah...." teriak Bara.


Sarah terus berlari memasuki mobilnya. Dia menangis tersedu-sedu bahkan ingusnya keluar seperti anak kecil. Bara masuk ke mobil Sarah, ia memandang Sarah yang menangis.


"Sarah, papamu juga butuh kebahagiaan. Dia sudah belasan tahun menduda dan baru kali ini dia memberanikan diri untuk menikah," ucap Bara.


"Om Bara tahu jika wanita yang dinikahi Papa mirip tante Nuna?"


"Maafkan om yang tidak bilang padamu. Ini semua permintaan dari papamu. Papamu dulu berusaha mendekati Nona tetapi Nona tidak mau sampai papamu tahu jika Nona memiliki saudara kembar dan papamu berusaha mendekatinya."


Sarah semakin sesegukkan mendengarnya. Air mata mengalir tanpa ampun. Bara menarik Sarah pada pelukannya, mengelus kepala gadis yang dicintainya. Sarah mendongakkan kepala, ia melihat wajah Bara yang begitu tampan.


"Om Bara, aku ingin balas dendam pada Papa. Ayo kita melakukan itu! Aku ingin Papa menyesal karena sudah meninggallkanku. Buat aku hamil di luar menikah, aku ingin melihat papa hancur dan terluka."


"Cita-cita macam apa itu? Tidak baik berpikiran seperti itu," jawab Bara.


Sarah melanjutkan tangisannya membuat Bara sangat gemas. Dia langsung mencium bibir Sarah, Sarah membelalakan mata tetapi mengikuti permainan tersebut. Lidah mereka beradu dalam kenikmatan, sambil menyesap tangan Sarah bergelayut pada leher Bara.


Dari kejauhan, Zian menatap mereka dengan dingin. Dia berdecih melihat Bara melakukan itu pada teman putrinya sendiri. Tak hanya itu, ia melihat Bara mulai menggigiti kecil leher Sarah.


Keluarga Wiratmaja tidak ada yang benar. Semuanya psiko.


Disisi lain, pesta tetap dilanjutkan. Dani memutuskan untuk memesan makanan lagi dan memperbaiki dekorasi yang dihancurkan oleh putrinya. Walau begitu, Dani tetap tidak memperdulikan Sarah yang ditamparnya dua kali. Justru ia berharap Sarah bisa membecinya.


Alisa pergi ke kamar mandi untuk mengelap sedikit keringatnya. Sambil memandangi wajah cantiknya ia tersenyum kecil.


Huh... Akhirnya menikah juga. Kak Dani juga kaya tak masalah jika menikahinya.


"Alisa..."


Dari pantulan kaca, Alisa melihat kembarannya menghampiri dirinya. Nona masih tidak menyangka jika Alisa masih hidup.


"Hai Alona, apa kabar? Ku dengar kau hamil kembar. Wah menakjubkan."


Nona memeluk Alisa, ia menangis pada akhirnya ia dipertemukan pada saudari kembarnya yang disangka sudah meninggal.


"Kenapa baru muncul sekarang? Aku ingin berjumpa denganmu."

__ADS_1


Alisa melepas pelukan Nona. Dia mengelap air mata Nona menggunakan tangannya. "Maafkan aku! Ku dengar keluarga Wiratmaja memperlakukanmu tidak baik? Mari kita membalas dendam!" ucap Alisa.


Nona menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak ingin membalas perbuatan keluarga itu karena yang salah adalah mommy dan ayahnya.


"Mari kita hidup damai tanpa dendam! Kita juga salah satu dari keluarga Wiratmaja," ucap Nona.


Alisa tersenyum kecut, ia berjalan melewati Nona dan menabrak bahu Nona. "Aku yang akan membalas perbuatan mereka pada mommy dan padamu. Aku lupa jika kau sedang hamil, fokuslah pada bayi-bayimu! Biar aku yang melakukan sendiri."


Nona menarik tangan kakaknya, ia menggelengkan kepala. "Alisa, jangan melakukan hal aneh-aneh!"


Alisa menepis tangan Nona. "Urus urusanmu sendiri!" ucap Alisa sambil menepis tangan Nona.


Dia keluar dari kamar mandi meninggalkan Nona. Nona menyandarkan punggungnya pada tembok lalu memijat kepalanya yang pusing.


Alisa, apa yang akan kau lakukan?


Disisi lain, Dewa merasa tidak nyaman berada di pesta itu. Semua orang seolah membicarakannya karena menikahi Nona. Dewa berjalan keluar untuk mencari udara segar karena didalam sangat pengap.


Dari kejauhan, Dewa melihat pada mobil Sarah yang memperlihatkan mantan pacarnya berciuman dengan kakak iparnya. Entah mengapa dirinya sangat kesal melihat pemandangan itu sampai ia melihat Zian menghampiri mereka lalu mengetuk kaca mobil Sarah.


Bara yang sadar langsung melepaskan ciumannya dan memandang Zian.


"Bisakah kalian jangan melakukan itu disini? Kalian merusak mataku," ucap Zian.


"Jika tak suka jangan dilihat," jawab Bara ketus.


Bara keluar dari mobil, entah mengapa kali ini ia merasa kesal dengan Zian. Dia menatap Zian dengan pandangan tajam, sama halnya juga dengan Zian. Sarah langsung keluar dari mobil untuk melerai mereka.


"Sesama om-om jangan bertengkar dong!" ucap Sarah.


Zian menatap Sarah dingin seolah tidak suka. "Kau perempuan harusnya menjaga tubuhmu dengan baik."


"Itu bukan urusanmu. Aku akan segera menikahinya," jawab Bara tidak terima.


Zian tersenyum kecut, ia memilih pergi dari mereka. Bara merasa sangat geram tetapi ia tidak mau memperpanjang masalah ini.


Sarah memandang Bara lalu mencubitnya.


"Aduh..."


"Om pakai pelet apa sih? Kita 'kan sudah putus," ucap Sarah.


"Aku tidak mau putus. Aku mencintaimu."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dewa menggenggam erat Nona, ia ditemukan pingsan di kamar mandi. Sepertinya memang kesehatan Nona tidak baik setelah hamil. Nona mendapat infus lagi kesekian kalinya.


"Mas, kita dimana?" tanya Nona melihat disekelilingnya yang sangat asing.


"Kita di apartemen."


"Oh... apartemennya sudah siap di tinggali?"


"Mau bagaimana lagi? Ibu tirimu sudah mengambil alih rumah. Bahkan beberapa barang sudah dikeluarkan dari dalam rumah."


Nona berusaha duduk, Dewa membantunya.


"Mau minum?" tanya Dewa.


Nona menggeleng. Dia merasakan perutnya begitu mual dan ingin muntah. Dewa refleks menadahkan tangan depan wajah Nona.


"Apa sih, mas?" tanya Nona heran.


"Kalau ingin muntah keluarkan saja! Jangan di tangan!"


Nona malah mengecup pipi Dewa, Dewa menaikkan alisnya.


"Mas, Nuna pengen... lama tidak begituan," ucap Nona malu-malu.


Dewa berpikir sejenak. Dia mengingat ucapan dokter yang menyarankan untuk tidak berbaur terlebih dahulu karena sang istri tengah hamil muda.


"Tahan dulu ya! Dokter bilang..."


Nona dengan cepat mencium bibir Dewa, menggigitnya pelan tapi membuat terbang melayang.


Dewa mencoba melepaskannya dan langsung berlari menjauhi Nona.


"Sayang, jangan menggoda imanku! Kita tidak boleh melakukan itu sekarang. Kasian si kembar," ucap Dewa.


Nona berjalan mendekati Dewa dan tidak menghiraukan infus yang masih terpasang di tangannya tetapi tiba-tiba ia berjongkok merasakan kesakitan. Dewa yang panik mendekatinya.


"Sayang kenapa?" tanya Dewa sambil terjongkok didepan Nona.


Nona menyeringai lalu mendorong Dewa dan menindih tubuhnya. Dewa menelan ludah takut tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya.


"Sayang mau memperkosaku?"

__ADS_1


Nona melepas bajunya, mata Dewa semakin terbelalak melihat pemandangan indah.


"Satu ronde saja, plis!" pinta Nona sambil mengedipkan satu mata.


__ADS_2