Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 67 : Isi hati


__ADS_3

Dewa menghabiskan makan siangnya dengan melamun, istrinya hamil lantas dia tidak jadi kuliah padahal inilah harapan satu-satunya untuk menjadi sukses. Pak Amri yang melihat gelagat Dewa yang aneh hanya bisa tersenyum tipis. Bocah ABG seperti Dewa memang masih memiliki pemikiran yang berubah-ubah.


“Tidak usah dipikirkan! Jalani saja! Ikuti apa kata hatimu!” ucap Pak Amri membuat Dewa tersadar dari lamunannya.


Dewa tersenyum malu. “Andai saja saya menunda kehamilan istri saya, saya terlalu terburu-buru.”


Pak Amri menyeruput teh yang masih sisa sedikit.  “Itu rezeki, jangan disesali! Siapa tahu dengan kehadiran anak kalian bisa membuka jalan rezeki yang lebar untuk kalian.”


Dewa berdiri, ia berpamitan ke kamar mandi. Suasana makan siang ini sangat ramai bahkan membuat merasa risih ketika melewati mereka yang selalu meliriknya. Semenjak gosip akan pernikahannya tersebar membuatnya semakin tidak nyaman karena mereka berspekulasi jika Dewa menikah muda karena menghamili istrinya sebelum menikah. Dewa memang tipe orang yang cuek akan tetapi semua itu membuatnya kesal.


Setelah sampai ke kamar mandi, Dewa membuang air kotor yang tertampung selama berjam-jam. Ponselnya berbunyi yang ternyata dari Nona, ia menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.


“Mas, sudah makan?”


Suara lembut Nona menyejukkan hati Dewa, ia berbunga-bunga karena sang istri begitu perhatian dengannya.


“Sudah sayang, Sayang sudah makan juga?” tanya Dewa.


“Sudah mas, ini aku sedang menyuapi Elara makan. Dia kambuh dan mengigau tentang mamanya.”


“Semoga Elara bisa mengikhlaskan mamanya. Yasudah, mas lanjut kerja lagi ya.”


“Tunggu, mas! Mas sudah lolos seleksi kuliah. Pokoknya Mas Dewaku tersayang harus kuliah.”


Dewa terdiam, ia hanya memikirkan waktu untuk bersama Nona. Dia tidak ingin saat Nona hamil dirinya tidak bisa selalu bersama Nona.


“Mas ‘kan berjanji ingin sukses, kuliah ‘kan juga tidak setiap hari. Kita masih punya waktu banyak untuk bersama,” ucap Nona menyadarkan lamunan Dewa.


“Baiklah jika begitu. Demi kamu dan dedek bayi maka mas akan berjuang. Yasudah sayang, sampai ketemu nanti sore dirumah Kak Bara, aku cinta kamu.”


“Aku juga cinta kamu, mas.”


Dewa kembali ke ruanganya dan tidak lupa mematikan ponselnya karena dia akan kembali bekerja setelah beristirahat. Beberapa proses mesin sudah ia kuasai karena berkat Pak Amri mengajarkannya dengan sabar. Kerja di pabrik mungkin memang panas dan banyak debu tetapi solidaritas disini sangat kuat. Mereka bahu membahu untuk menyelesaikan target.


“Dewa, coba cek mesin!”


“Baik.”

__ADS_1


Dewa memutari semua mesin diruangan itu, tak lupa mencatat untuk dibuat laporan. Semua proses


pembuatan sepatu menggunakan mesin tetapi tetap ada beberapa proses yang membutuhkan tenaga manusia. Mesin pertama hingga mesin terakhir dia cek dengan teliti sampai dia melihat seseorang yang sedang melakukan hal yang tidak senonoh di ruang manajer.  Dewa melihat manajer dan sekertarisnya berciuman, mereka dengan santai melakukan hal tersebut didalam kantor berAC itu. Tiba-tiba seseorang menariknya dan menjauhi


ruangan tersebut.


“Sssst... Kenapa kau disitu?”


“Kak, tadi mereka...”


“Biarkan saja! Jika mereka melihatmu maka kau akan segera dipecat.”


Dewa mengernyitkan dahi, “Bukankah mereka yang salah melakukan hal mesum ditempat kerja, apalagi Pak manajer sudah beristri.”


“Kita cuman karyawan biasa hanya bisa apa? Kerja disini dengan tenang dan jangan mengurusi urusan orang jika ingin tetap bekerja disini.”


Senior Dewa langsung meninggalkan Dewa, dia hanya diam kebingungan pasalnya yang dia lihat


tadi adalah hal yang tidak pantas dilakukan oleh atasan apalagi ditempat kerja. Dewa tidak mau  ambil pusing langsung kembali bekerja menghampiri Pak Amri. Dia masih syok atas apa yang dia lihat tadi.


“Wa? Kenapa terbengong begitu? Seperti lihat setan saja,” ucap Pak Amri.


Pak Amri tertawa kecil, ia sudah menduga jika Dewa akan melihat hal tersebut. Sudah jadi rahasia umum tentang manajer dan sekertarisnya itu tetapi mereka tidak berani melapor karena tidak mau berurusan dengan mereka.


“Anggap saja rezeki!” ucap Pak Amri bergurau.


“Bukan rezeki, pak. Tetapi kesialan di siang bolong.”


**


Setelah menyuapi Elara, Nona membiarkan keponakannya untuk tidur siang. Elara menggunakan obat tidur supaya lebih mudah untuk tidur. Nona menjaga Elara semata-mata hanya untuk belajar merawat anak, padahal ia malas sekali bersama Elara yang aneh.


Nona merasa bosan, ia ingin sekali mengecek tokonya tetapi tidak mungkin meninggalkan Elara.


Hanya Arsel yang dia percayai untuk mengurus pekerjaannya. Sambil menikmati waktu luang, ia membaca artikel di internet mengenai seputar kehamilan. Ini adalah kehamilan pertamanya dan Nona sangat antusias. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu.


Kling...

__ADS_1


Sebuah pemberitahuan dari ponselnya berbunyi, Nona membukanya yang ternyata dari Arsel.


 Arsel


Nona, terjadi manipulasi data penjualan seminggu ini yang mengakibatkan minus besar. Saya akan segera mengatasinya.


Nona terkejut, ia segera membalas pesan dari Arsel. Hanya dua toko saja yang dia dapatkan dari pembagian warisan, harusnya dia tidak dapat sama sekali karena ia hanya anak dari pasangan pernikahan siri tetapi Bara tetap memberikan hasil jerih payah Nona bahkan Bara diam-diam tetap memberikan sedikit hasil penjualan


keseluruhan di perusahaan Alona yang sempat dikelola Nona.


Bara memanggilnya untuk makan siang bersama, ia sudah membelikan bakso pesanan Nona.


Wajah Nona yang kebingungan membuatnya heran, adik terkecilnya memang memiliki nasib buruk tetapi sebisa mungkin Bara akan menjadi kakak yang terbaik bagi Nona.


“Kak, tokoku mengalami penurunan penjualan. Apa semua ini ulah kedua adikmu itu? Aku dengar mereka bekerja sama bahkan tanah yang harusnya menjadi milikku malah akan dibangun perumahan Elit padahal seharusnya dibangun yayasan panti asuhan,” ucap Nona.


Bara mengusap puggung adik bulenya. “Sudah Nona ikhlaskan saja! Kakak akan membelikan tanah baru untukmu supaya kau bisa membangun panti asuhan.”


Nona menatap Bara, Bara selalu baik dengannya tetapi Nona selalu berpikir buruk tentang Bara. Dia tersenyum dan memeluk Bara dari samping. Hanya Bara satu-satunya keluarga yang tersisa dan masih berpihak kepadanya.


“Oh ya, Sarah dimana?” tanya Bara.


“kak Bara menyukai Sarah?”


Bakso yang akan dilahap Bara seketika menggelinding ketika mendengar pertanyaan dari Nona. Dia terheran.


“Kak Bara jujur saja! Sarah juga cantik hanya sedikit sentuhan pasti anak itu akan menjadi baik.”


“Apa yang kau katakan, Nona? Istriku baru beberapa hari yang lalu," ucap Bara.


Nona tersenyum, ia sudah paham tentang sifat Bara. Bahkan jika Bara jatuh cinta menunjukkan wajah yang berbeda apalagi cara menatap orang yang disukainya. Bara melanjutkan makannya dengan wajah yang memerah, ia menepis rasa aneh yang timbul ketika berdekatan dengan Sarah karena tidak etis dengan cepat sudah berpaling kepada yang lain padahal istrinya baru saja meninggal.


Tak berselang lama kemudian Sarah menelponnya, Nona menatap seolah mengejek. Bara berdehem lalu mengangkat telpon dari Sarah.


“Om Bara, tolongin aku! Aku ditahan sama satpam mall karena dituduh mencuri. Papaku tidak bisa ditelpon hanya om saja yang bisa menolongku,” ucap Sarah.


“Baiklah Sarah, om akan kesana.”

__ADS_1


Bara bergegas mengenakan jaketnya, Nona terus memandang mengejek membuat Bara tidak nyaman.


“Kenapa menatap kakak seperti itu?"


__ADS_2