Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 92 : Toko online


__ADS_3

"Tuan Naga, ini bukti rekaman pengakuan Reni. Dia sudah mengaku jika mereka menjebak anda," ucap Zian di depan rumah sakit.


Dewa mendengarkan rekaman itu dengan seksama, ia tersenyum tipis. Si manajer itu rupanya sungguh takut jika Dewa melakukan tindakan tak senonohnya pada pihak perusahaan.


"Oh iya tuan, anda menggunakan kartu emas itu? Tumben sekali?" tanya Zian.


"Itu semua demi istriku bahkan aku tidak memakainya sepeserpun untuk diriku sendiri. Semua demi Nuna yang sedang mengidam aneh-aneh."


Zian terkekeuh geli. Baru kali ini melihat sang tuan muda kelimpungan menghadapi sang istri yang tengah hamil muda.


"Terima kasih buktinya, kau boleh pulang," ucap Dewa.


Zian menunduk hormat, ia bergegas untuk pergi tapi tak jauh di depan mereka ada Bara dan Sarah yang baru keluar dari mobil memperhatikan Dewa dengan aneh. Dewa sangat terkejut dengan kedatangan mereka. Apakah mereka akan curiga kepadanya?


"Siapa itu?" tanya Sarah menghampiri Dewa.


"Oh... mas-mas nawarin panci," jawab Dewa ngasal.


"Memangnya ada ya penjual panci nawarin dagangan di rumah sakit?" tanya Sarah.


"Lah itu barusan ada."


Sarah saling berpandangan dengan Bara. Dewa lalu mengajak mereka untuk masuk ke ruangan yang merawat Nona. Bara menengok belakang memperhatikan pria tadi masuk ke mobil sangat mewah. Ini sudah kesekian kalinya Bara curiga dengan Dewa.


"Om Bara ngapain melamun disitu? Ayo masuk!" ucap Sarah sambil menggandeng Bara.


Mereka masuk ke ruangan Nona. Nona terlihat melamun menatap langit-langit, saat pintu terbuka senyumannya mengemban melihat kakak kesayangannya datang.


"Nona, kau tidak apa-apa? Sering sekali pingsan," ucap Bara.


"Iya kak, hanya pusing saja kok. Terima kasih untuk kedatangan kalian setelah orang tua Dewa. Ibu dan kedua anaknya yang tampan belum datang kesini," ucap Nona.


Bara mengelus kepala Nona. "Mereka mungkin sibuk dan kau belum mendengar jika Bagas sedang sakit? Dia pagi tadi ke luar negeri sendirian untuk berobat."


Mereka terkejut dengan ucapan Bara. Nona menjadi serius, sakit apa rupanya si Bagas sampai berobat ke luar negeri? Bara menjelaskan yang sebenarnya membuat mereka begitu tidak menyangka.


"Kak Bagas itu memang kelainan. Dia memang pantas mendapatkannya," ucap Nona merasa senang.


"Sipilis itu apa sih? Temannya sipilus?" tanya Sarah tidak paham.


"Kau tingkahnya seperti orang dewasa tetapi tidak tahu sipilis," sindir Nona.

__ADS_1


"Hei tante, memang aku tidak tahu."


"Siapa yang kau sebut tante?" jawab Nona marah.


Bara dan Dewa melerai mereka sebelum terjadi perang dunia ketiga. Apalagi Nona yang sedang hamil tidak mau kalah berdebat. Sarah mendengus, ia memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Nona meliriknya dengan kesal.


"Itu calon istri Kak Bara? Lihat sifatnya sangat labil!" ucap Nona.


"Iya, dia calon kakak iparmu jadi kedepannya harus bersabar sedikit."


Sarah dan Nona kini saling berpandangan tetapi masing-masing memalingkan wajah. Dewa dan Bara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


"Dewa, kakak ingin berbicara denganmu sebentar diluar. Bisa?" ajak Bara.


"Tapi meninggalkan mereka berdua apa tidak berbahaya?"


"Sebentar saja."


Dewa setuju, mereka keluar dari ruangan meninggalkan Sarah dan Nona. Bara mengajak menuju ke kantin untuk mengobrol sambil minum. Setelah sampai dan memesan mereka bercengkrama.


"Hem.. kakak mau tanya, kau kenal Kakek Adhiatma?" tanya Bara.


Dewa tersedak saat hendak minum. Dia menatap Bara yang memperhatikannya dengan heran.


"Tapi dengan asisten kakek Adhiatma kau kenal? Sepertinya kalian begitu dekat," tanya Bara.


"Ohh.. tadi ya? Dia hanya menawari pekerjaan. Kakak tahu sendiri 'kan jika aku baru saja di pecat?"


Bara terkejut memandang Dewa. Dia belum tahu jika adik iparnya sudah dipecat tetapi Dewa enggan untuk bercerita.


"Kenapa tidak membantu di toko milik Nona?"


"Besok sudah mulai membantu, kak. Sambil belajar mengelola juga. Mungkin aku juga akan mencari sampingan pekerjaan yang bisa sambil menjaga Nona," ucap Dewa.


Bara menepuk bahu Dewa, pria seperti Dewa patut di contoh karena memiliki semangat kuat dalam bekerja. Bara lalu menawari pekerjaan untuk bersih-bersih diapartemennya setiap sore karena ia belum mendapat pembantu baru untuk membersihkan apartemennya.


"Aku mau Kak Bara. Hanya menyapu sama mengepel saja 'kan? Aku bisa," ucap Dewa begitu minat.


"Jika mau besok datang, apartemen kakak kecil jadi tidak sampai dua jam bersih-bersihnya."


Dewa menganggukkan kepala. Dia memang suka sekali bekerja dengan Bara. Bara selalu baik dan tentunya bayaran dari Bara juga tidak pelit. Inilah satu-satunya cara mencari uang tambahan. Lalu Dewa akan mencari tambahan lain, ia berniat untuk berjualan online. Ibu Dewa memiliki teman yang memiliki konveksi, Dewa bisa mengambil baju-baju dari konveksi itu dengan harga miring lalu bisa dijual lagi.

__ADS_1


"Om Bara, yuk pulang! Mau cari jamu sekalian," ucap Sarah mengagetkan mereka.


"Sebentar, Om mau pamitan dengan Nona dulu."


"Tidak perlu, sudah aku pamitkan sekalian."


Sarah langsung menarik tangan Bara. Mereka pergi dari rumah sakit itu. Dewa tersenyum manis, Sarah sudah mendapat penggantinya yang lebih baik. Dia yakin jika Sarah akan bahagia bersama Bara.


Setelah itu, Dewa masuk ke ruangan Nona. Dia melihat Nona mengecek penjualannya hari ini melalui pesan dari Arsel. Makin hari makin sepi karena persaingan toko meubel yang semakin meningkat.


"Sayang, lagi apa? Jangan dibuat berpikir dulu! Nanti pingsan lagi. Toko biar aku yang urus," ucap Dewa.


"Mas, jika bangkrut bagaimana? Aku takut."


Dewa menarik ponsel milik Nona. "Mas yang akan urus. Nuna cantik jaga si kembar saja untuk mas."


Dewa mengambil ponselnya, ia melihat pemberitahuan dari akun situs belanja online miliknya. Baru tadi pagi ia mengunggah baju-baju yang dijualnya kini sudah ada beberapa orang yang memesan.


"Mas lagi apa?" tanya Nona penasaran.


"Ini mas dapat orderan. Lumayan, dia memesan 30 pasang baju untuk dijual lagi," jelas Dewa sangat senang.


"Mas Naga jualan online? Untuk apa? Kartu milik mas itu bahkan bisa membiayai hidup kita seumur hidup."


Dewa memandang Nona lalu menghela nafas. "Jika suaminya sedang berusaha harusnya di dukung! Mas 'kan berusaha juga untuk kamu."


"Mas Naga mempersulit hidup mas sendiri. Untuk apa susah-susah bekerja lagi padahal Mas Naga kaya raya."


Dewa menghela nafas panjang. Dia tidak ingin berdebat dengan sang istri yang sedang sensian. Dewa beranjak dan mulai mengorder pada supliernya. Ini adalah awal usahanya merintis dari nol tanpa bantuan kakeknya.


"Mas, maafkan jika aku salah!" ucap Nona.


"Memangnya mas terlihat marah?"


"Iya, mas langsung menghindar."


Dewa tersenyum manis, ia mendekati Nona dan mengelus kepalanya. "Mas lagi order barang. Jika tidak serius nanti salah tekan nomor. Maaf, ya!"


"Aku akan doakan mas, deh! Mana biar aku bantu iklankan di instagram milikku toko onlinenya," ucap Nona.


Dewa tersenyum senang, ia memeluk Nona. Betapa senangnya jika sang istri mendukungnya.

__ADS_1


"Oh iya sayang, baju mana saja ya yang pasti laku untuk dijual? Pilihkan dong! Ini produsennya teman ibuku sendiri.," ucap Dewa sambil menyodorkan ponselnya.


Mas Nagara, maafkan aku jika kekanakkan. Kau memang pekerja keras. Aku mencintaimu.


__ADS_2