
Dewa terbangun dari tidur panjangnya, matanya mengerjap memandangi langit-langit rumah sakit. Dia terbangun dengan kondisi bingung, kenapa ia bisa berada disini bahkan tubuhnya sangat sakit.
"Naga, kau sudah sadar?" tanya kakek.
"Kek, istri dan anakku dimana?"
Dewa berusaha untuk bangun dari ranjang rumah sakit tetapi ia merasakan sakit kepala yang hebat. Sang kakek mencegahnya supaya tetap berbaring.
"Kek, sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Naga.
"Sudah 3 hari yang lalu. Huh... Dasar bocah nakal!
Apa semua ini hanya mimpi?
Ketika itu kakek memanggilkan dokter supaya memeriksa keadaan Dewa. Dewa masih termenung bingung, apakah selama ini dia koma dan bahkan pernikahannya hanya mimpi belaka?
Setelah diperiksa keadaannya, sang kakek menghampirinya lagi.
"Hem... Dimana Dewa? Apa kakek pakai pesugihan?"
TOOOOK....
Kakek memukul kepalanya, Dewa mendengus kesal saat cucunya mengatakan yang tidak-tidak.
"Apa yang kau katakan?" bentak kakek.
"Aku bermimpi jika Dewa masih hidup dan kakek memakai pesugihan."
Kakek mengernyitkan dahi, ia mendengus lalu menghela nafas panjang. Dewa masih bingung dengan kondisinya yang tiba-tiba sudah terbaring dirumah sakit.
"Kau mimpi apa sampai aneh begini? Dewa kan sudah meninggal."
"Jadi aku hanya mimpi?" tanya Dewa.
Kakek mengelus kepala Dewa, ia memandangi Dewa yang masih bingung tetapi membuat beliau gemas.
Tangan kakek meraih berkas-berkas penting untuk penggantian nama lalu membacanya dengan teliti sedangkan Dewa alias Nagara mencerna setiap mimpinya.
"Kek, didalam mimpiku aku sudah menikah dan istriku sedang hamil."
Kakek menatap Dewa. "Apa yang kau bicarakan? Memang benar jika sudah menikah dan istrimu hamil."
Dewa terdiam, kakek menghela nafas panjang. Dia memberikan berkas itu para Dewa, bocah itu membaca dengan seksama. Berkas pengajuan penggantian nama menjadi Nagara Dewa Bimasena untuk akta kelahiran, surat nikah dan dokumen penting lainnya.
"Jadi itu tidak mimpi? Tapi kenapa aku bisa dirumah sakit selama 3 hari bahkan tidak bangun?"
"Huh... Saat beberapa hari yang lalu kau mengendarai motor dan saat itulah kau ditabrak oleh truk sampai terpental. Untung saja lukamu tidak sampai serius," jelas kakek.
Benar saja, ia teringat jika ia sempat naik motor untuk membeli beberapa makanan untuk para karyawannya dan saat itulah dirinya tertabrak.
Dia melihat tubuhnya yang lecet-lecet bahkan kakinya diperban. Ia mendengus kenapa bisa ceroboh sekali?
"Tapi kek, aku bermimpi jika Sarah dan Om Bara sudah menikah lalu Sarah hamil. Hemm... Anak Kak Bagas juga mendapat memar di tubuhnya."
__ADS_1
"Sarah dan Bara memang sudah menikah bahkan kau ikut hadir dalam pernikahannya lalu kedua bocah kecil itu memang kau yang ingin merawatnya."
Jadi itu bukan mimpi? Kenapa aku bisa bingung? Aku tidak bisa membedakan mana mimpi atau nyata.
Kakek mengusap wajah Dewa, ia lalu menggelengkan kepala menyuruh jangan berpikiran yang macam-macam.
"Kau ingin melihat ketiga bayimu?" tanya Kakek.
Dewa mengerutkan dahi. "Nona sudah melahirkan? Kapan? Kenapa aku..."
"Makanya jika istrimu sedang hamil tua jangan pecicilan!"
Dewa berusaha untuk bangkit dan kakek membantunya mendudukan di kursi roda. Dewa begitu berdebar seolah tak percaya jika ketiga putranya sudah lahir tanpa ia temani.
Nona dirawat di rumah sakit yang sama dengan Dewa hanya berbeda gedung. Setelah sampai di ruangan Nona, mata Dewa tertuju pada bule cantik yang sedang memakan buah di ranjangnya serta disebelahnya terdapat ranjang bayi.
"Mas Dewa?" teriak Nona senang.
Dewa tersenyum bahagia ketika sang istri melahirkan dengan sehat. Kakek mendorongnya untuk mendekati Nona.
"Mas Dewa sudah sadar? Nuna takut jika Mas Dewa..."
"Stttt... Mas gakpapa kok. Maafin mas gak nemenin kamu melahirkan."
Tangis Nona pecah, ia pikir tidak akan bertemu lagi dengan sang suami yang sempat koma selama beberapa hari.
Dewa menggenggam tangan Nona, ia menenangkan sang istri yang tangisannya membangunkan salah satu bayi mereka.
"Mas Dewa harus janji jangan tinggalkan kami! Aku takut..."
"Mas janji tidak akan meninggalkan kalian."
"Jadi Mas Dewa mau memberi nama mereka siapa?" tanya Nona.
****
Dentingan jam dinding yang berdetak berirama menggema di ruangan yang merawat Dewa. Ia tersenyum kecil karena sudah bisa melihat ketiga putranya yang menggemaskan.
Pintu terbuka yang ternyata bapak dan ibu masuk ke ruangannya. Senyuman Dewa mengemban tatkala melihat mereka ikut bahagia.
"Selamat ya, Nagara. Ibu sangat bangga sekali denganmu."
Dewa terdiam saat ibunya memanggil namanya. Apakah mereka sudah tahu jika ia bukan Dewa yang diasuhnya sejak bayi.
"Bapak juga bangga kepadamu dan pastinya Dewa kami yang sudah ada ditempat lain juga ikut bangga," ucap bapak.
"Maksud kalian apa?" tanya Dewa.
"Kami sudah tahu semuanya dari Kakek Adhiatma. Cukup sedih ketika Dewa ternyata sudah meninggal dan kau yang menggantikannya supaya kami tidak bersedih."
Dewa melihat ibunya menangis. Ia menggenggam tangannya lalu meminta maaf juga karena sudah membohongi mereka.
Mereka berpelukan menumpahkan tangisan, pada akhirnya penyamaran Nagara terbongkar juga tetapi bapak dan ibu tetap menganggapnya sebagai anak.
__ADS_1
"Setelah ini jangan benci aku! Aku sangat sayang dengan bapak dan ibu. Bapak dan ibu mengajariku banyak hal sampai aku bisa seperti ini. Maafkan aku yang berpura-pura menjadi Dewa! Itu semua kulakukan hanya untuk Dewa."
"Bapak dan ibu memaafkanmu."
Kakek yang mengintip dari balik pintu terharu. Selama ini Nagara memang tidak mendapat kasih sayang dari orang tua kandungnya sebab mereka sudah meninggal karena mengalami kecelakaan pesawat.
Zian yang berada dibelakangnya juga ikut tersenyum senang. Pada akhirnya tidak ada kebohongan.
"Permisi," ucap seorang gadis berponi nan sangat cantik.
Zian membalikan badan melihat Elara yang tersenyum manis kepadanya. Elara melewatinya untuk masuk ke ruangan Dewa. Bau parfum Elara membuat Zian terpaku, ia menatap punggung Elara yang akan masuk ke ruangan Dewa.
Saat Elara akan menutup pintu, mata mereka bertemu. Elara tersenyum manis membuat Zian semakin terpaku diam. Kakek yang melihatnya langsung menepuk punggungnya.
"Sadar umur!"
Zian terkejut lalu berdehem, ia salah tingkah bahkan terlihat pipinya merah.
Elara masih menatapnya, ia semakin melebarkan senyumannya.
"Om, resletingnya terbuka," ucap Elara kepada Zian.
Elara menutup pintu lalu Zian dengan panik menaikan resletingnya sedangkan kakek menertawakannya.
Ketika sudah masuk ke ruangan Dewa. Elara mencium tangan bapak dan ibu Dewa. Dewa memperhatikan cara Elara yang sudah sangat berubah dan lebih menjadi sopan.
Satu tahun sudah ia menjalani rehabilitasi dan kini ia sudah dibebaskan.
"Kapan keluarnya, Elara?"
"Kemarin."
"Kau sudah tahu jika papamu dan Sarah."
Elara mengangguk. "Aku sudah tahu dan mereka kini bulan madu 'kan? Biarlah papaku bahagia, selama ini dia menderita."
Bahkan nada bicara Elara sudah sangat halus tidak seperti dulu yang selalu ketus dan emosian. Dewa senang jika Elara sudah sembuh dari sakitnya.
"Selamat ya, ketiga bayimu sangat tampan."
"Kau sudah melihatnya?"
"Iya, kau sangat hebat."
Disisi lain.
"Oeeeee... oeeeee... oeeeee..."
Nona tersenyum senang ketika mendengar suara tangisan bayinya. Dia sudah belajar menggendong walupun menahan sakit akibat jahitan caesar yang didapatnya.
"Davanka, Davendra, Devanka... Anak mommy yang menggemaskan. Terima kasih atas kehadiran kalian."
***
__ADS_1