Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 94 : Detektif Nagara


__ADS_3

Apartemen Bara.


Ceklek...


Bara membuka pintu mempersilahkan Dewa masuk. Dewa melihat apartemen Bara yang tidak terlalu besar, hanya ada satu kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi.


Bara mempersilahkan Dewa untuk membersihkan apartemennya selagi Bara mandi. Dewa bergegas mengambil sapu dan pel. Setelah memastikan Bara masuk ke kamar mandi yang berada di luar kamar. Dia masuk menyelinap ke kamar Bara.


Dewa mencari sesuatu yang bisa menjadi sebuah informasinya. Ponsel, benar. Ia mencari ponsel milik Bara. Matanya menyapu seluruh penjuru kamar dan melihat ponsel berada di atas meja.


Tangannya meraih ponsel itu tetapi saat ia akan membukanya terdapat kata sandi.


Dewa memasang alat penyadap pada ponsel Bara yang terhubung pada komputer milik Zian.


Dewa menekan telinganya yang terdapat alat kecil untuk komunikasi dengan Zian.


"Zi, cepat sadap!"


"Sebentar, membutuhkan waktu satu menit."


Sembari menunggu, Dewa mencari sesuatu di laci-laci. Tidak ada hal mencurigakan sampai ia menemukan foto di laci ketiga yaitu foto seseorang yang familiar.


Apa ini Nona? Tapi tunggu dulu! Manik mata Nona berwarna biru tetapi ini berwarna coklat.


Dewa membalik foto itu yang terdapat tulisan Alisa. Dewa segera mengantonginya sebelum Bara datang. Setelah satu menit ponsel Bara disadap, Dewa langsung menaruh ke tempat semula.


Kak Bara, maaf mengganggu privasimu tetapi ini juga untuk istriku.


Dewa menyapu kamar Bara hingga bersih, kamar Bara tidak terlalu kotor sehingga sangat mudah membersihkannya. Saat sedang menyapu, ponsel Bara berbunyi. Dewa yang kepo meliriknya. Matanya terbelalak saat sang penelpon yaitu Alisa.


Dewa melihat kearah pintu, Bara mungkin saja masih lama di kamar mandi dan tidak mungkin masuk ke kamar secepat itu. Dewa mengambil ponsel Bara dan mengangkat telpon dari Alisa.


"Kak Bara, lama sekali kakak mentransfer uang? Aku butuh untuk pergi ke salon, shopping, beli ini, beli itu."


Dewa mendengar suara itu. Suara Alisa yang tak jauh beda dari suara Nona. Ia hanya terdiam, ternyata selama ini Bara menyembunyikan Alisa.


"Hallo? Kak Bara?"

__ADS_1


Dewa yang tersadar langsung menutup telponnya. Dia tersenyum kecut, selama ini yang patut dicurigai memang Bara. Pasti juga Bara membantu menutupi kasus pembunuhan ibu kandung Nona atau jangan-jangan Bara juga yang membunuh istrinya sendiri yaitu Zalina. Pikiran negatif dari Dewa berkecamuk. Dia menggeleng-gelengkan kepala, tidak mungkin Bara melakukan itu semua.


"Dewa? Kenapa diam disitu?" tanya Bara membuat Dewa terkejut.


Bara masuk hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuhnya. Dewa menunduk meminta maaf, ia akan segera membersihkan kamar Bara secepatnya.


"Pakai penyedot debu saja, jangan pakai sapu! Penyedot debu ada di dapur, biar cepat," pinta Bara.


Dewa mengiyakan, ia menuju ke dapur untuk mengambil penyedot debu. Membersihkan seluruh ruangan sampai bersih. Dewa hanya membutuhkan waktu satu jam dan selama itu Bara tidak keluar dari kamarnya, mungkin juga beristirahat karena aktivitas Bara yang banyak.


Setelah membersihkan dan mengepel seluruh lantai, Dewa bernafas lega karena pekerjaannya sudah cepat selesai. Saat bersamaan, pintu apartemen terbuka. Sarah masuk dan terkejut melihat Dewa.


"Kenapa kau disini?" tanya Sarah.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu," jawab Dewa.


Sarah menggaruk tengkuk lehernya, ia menjawab dengan cengengesan. "Oh... Hehehe... apartemenku ada disebelah."


Dewa menaikkan alisnya.


"Kenapa? Kau kaget? Aku memang menyuruh Om Bara membeli apartemen bersebelahan dengan apartemenku," jawab Sarah sambil duduk di sofa sambil membaca majalah.


Sarah melotot, ia melempar majalah yang dipegangnya kearah wajah Dewa tetapi Dewa langsung menghindar.


"Ishhh... Aku tidak semurah itu pada Om Bara," ucap Sarah kesal. "Kau jual baju ternyata? Aku mau beli dong, mau couple sama Om Bara," sambung Sarah seolah mengalihkan pembicaraan.


"Boleh, aku kirimkan gambarnya ke nomormu," jawab Dewa sambil duduk disebelah Sarah.


Mereka duduk bersebelahan, saling melihat baju-baju yang menurut Sarah bagus. Terlihat begitu akrab sampai mereka tak menyadari jika Bara memperhatikan mereka dari belakang.


Mereka saling tersenyum membuat Bara merasa cemburu. Bara tidak ingin mengganggu mereka pada akhirnya memilih masuk ke kamar lagi. Dia melihat kamarnya yang sangat bersih dan terdapat bunga-bunga bertaburan diatasnya. Bara memang menyiapkan semua ini sedari tadi untuk Sarah.


Disisi lain,


Dewa memperhatikan wajah Sarah yang merona seperti sedang bahagia. Dia memperhatikan wajah mantan pacarnya dengan seksama.


"Sar, aku hanya ingin bilang jika Om Bara itu pria dewasa. Kau harus hati-hati! Saat kita pacaran dulu aku sangat menjagamu bahkan tidak berani menyentuhmu. Jangan biarkan usahaku sia-sia menjaga kehormatanmu supaya suamimu bisa menerima haknya dengan suci tanpa tersentuh oleh pria yang bukan suamimu! Jangan biarkan orang yang kau anggap pacar mengambil barang berhargamu! Ya jika dia jodohmu? Kalau tidak? Itu saja hal yang aku ingin sampaikan karena kau adalah teman baikku," ucap Dewa sambil berdiri memandang Sarah yang terdiam.

__ADS_1


Dewa berpamitan untuk pulang, ia melihat kamar Bara sepertinya Bara terlelap sampai satu jam lebih tidak keluar dari kamar.


"Aku pulang dulu. Bilang pada Kak Bara jika aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Bye Sarah, ingatlah ucapanku tadi!"


Setelah Dewa keluar. Sarah meremas jemarinya. Sarah yang memang ingin melepas barang berharganya untuk Bara hari ini. Dia melakukannya supaya jika terjadi perpisahan yang tidak diinginkan ia bisa meminta pertanggung jawaban pada Bara supaya Bara tidak meninggalkanya sama seperti Dewa.


Kaki Sarah beranjak ke kamar Bara dengan pelan, ia membuka pintu kamar melihat Bara berdiri merenung membelakanginya. Sarah melihat kamar Bara penuh bunga seperti kamar pengantin dan bahkan terdapat baju lingeri seksi diatas tempat tidur.


Bara menengok kebelakang melihat Sarah yang berdiri diam. Bara tersenyum, ia mengulurkan tangan pada Sarah. Sarah hanya memperhatikan tanpa meraih tangan Bara.


Bara menurunkan tangannya lalu berjalan melewati Sarah untuk melihat keberadaan Dewa.


"Dewa sudah pulang? Kenapa dia tidak bilang? Om belum memberinya uang."


"Om Bara..."


Bara mengerutkan kening saat Sarah memanggil namanya.


"Om Bara, aku takut. Aku tidak bisa melakukan semua ini. Maafkan aku, om!" ucap Sarah sambil menundukkan kepala.


Bara hanya tersenyum tipis. "Ya sudah tidak apa-apa. Kita lakukan setelah menikah. Huh... Bantu bereskan bunga-bunga ini! Om Bara sedang banyak pikiran jadinya seperti ini, maafkan om! Haduh... Dasar otak om!" ucap Bara sambil memukul-mukul kepalanya.


Bara lalu membereskan semua perlengkapan itu. Sarah melihat Bara yang nampak kecewa. Memang ini semua keinginan Sarah tetapi entah mengapa tembok kokoh Bara akhirnya luluh juga.


Sarah membantu Bara untuk membereskan semuanya sambil menangis. Bara melihatnya dengan heran.


"Ada apa? Tadi saat bersama Dewa bisa ketawa-tawa, sekarang bersama om kenapa menjadi menangis?" tanya Bara.


Disisi lain,


Dewa keluar dari gedung apartemen dan memperhatikan kanan kiri. Setelah itu ia masuk ke mobil hitam miliknya. Disana terdapat Zian.


"Sudah terbaca ponsel Kak Bara?" tanya Dewa sambil masuk ke mobil menggunakan kacamata hitam.


Zian memperlihatkan laptopnya pada Dewa. Dewa melihat hasil sadapan ponsel milik Bara. Semua isinya tentang pekerjaan Bara dan galerinya hanya ada foto Elara dan beberapa foto Sarah.


"Tapi ada foto yang disimpan di folder lain seperti dirahasiakan. Lihatlah ini, tuan! Bukannya ini Alisa?" ucap Zian.

__ADS_1


Dewa memperhatikan foto itu bahkan tanggal pengambilan foto itu tepat seminggu yang lalu. Jadi selama ini Bara dan Alisa saling bertemu tanpa sepengetahuan Nona dan anggota keluarga yang lain.


Kak Bara? Apa yang kau pikirkan? Kenapa diam-diam menghanyutkan?


__ADS_2