Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 80 : Pingsan dua kali


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Dewa membantu Nona untuk mengatur rumah baru yang masih tertata sembarangan. Memang ini adalah rumah milik Nona dan dia sedikit tidak enak untuk tinggal dirumah sang istri. Tetapi mau bagaimana lagi? Dewa memang tidak mempunyai uang sendiri untuk membeli rumah. Mengandalkan uang kakeknya? Itu sama saja tidak ada bedanya. Dia ingin membeli rumah sendiri dengan uang hasil kerja kerasnya.


"Mas, bagaimana sofanya kita ganti?"


"Buat apa? Ini 'kan masih bagus. Lagian mas juga tidak punya uang untuk beli."


Nona hanya mengangguk, ia melihat ke arah lemari yang dia rasa sudah model kuno. "Bagaimana jika lemarinya kita ganti? Ada model baru di tokoku."


"Buat apa? Ini 'kan masih bagus. Mas tidak punya uang untuk beli."


Nona hanya mengangguk lagi, ia melihat arah lampu hias. Dia ingin mengganti lampu tersebut karena warnanya membosankan berada di ruang tamu.


"Mas, lampunya kita..."


"Sudah sayang! Simpan uangmu!"


Ucapan Dewa membuat Nona menggerutu pelan tetapi masih didengar oleh Dewa. Dewa mendorong Nona menuju ke tembok lalu mengunci dengan kedua tangannya.


"Clarissa Nuna Alona, aku dengar semua ucapanmu. Jangan pernah mengatai suamimu sendiri! Aku sadar jika tidak punya uang banyak tetapi aku juga berhak untuk melarangmu untuk membeli barang yang tidak penting," ucap Dewa.


Nona memandang wajah Dewa yang sedikit berbeda, ekspresi Dewa yang biasanya kalem kini mendadak tajam. Sorot matanya menandakan jika Dewa serius dan tidak main-main. Melihat Nona yang melamun Dewa memberikan kecupan tipis pada bibir istrinya. Nona malah manyun.


"Maaf, sayang! Mas akhir-akhir ini capek jadi gak ke kontrol emosinya," ucap Dewa.


Nona mendorong bahu Dewa, ia tidak menghiraukan ucapan sang suami. Dia kembali memandangi ruangan satu persatu. Memang rumah ini tak cukup besar dari rumah sebelumnya tetapi Nona bersyukur jika ini adalah rumah miliknya.


"Mas, lusa ulang tahun ibu. Rencananya mereka akan makan malam di ballroom hotel. Mas bisa datang 'kan?" tanya Nona.


"Eh, kok baru bilang? Mas belum beli kado."


"Tidak usah. Orang seperti itu tidak usah diberi kado," jawab Nona.


Dewa hanya tertawa kecil, segitukah Nona tidak menyukai ibu tirinya. Sepertinya Dewa harus memberi kado ibu tirinya. Dia tidak enak tidak membawa kado untuk wanita yang sebagai ibu mertuanya.


"Elara baru saja masuk ke pusat rehab tapi keluarga Wiratmaja tidak ada empati sedikitpun dan malah menggelar pesta ulang tahun yang tidak penting," ucap Nona.


"Kasian sekali, Elara. Padahal di sekolah dia anak yang pandai walau kadang tidak mau bergaul dengan teman-temannya."


"Kapan-kapan kita jenguk Elara ya, mas?"


Dewa mengangguk lalu merangkul Nona. Mereka menggesekkan hidung pertanda saling gemas. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta mereka sekalipun badai datang. Mereka akan terus kokoh dalam ikatan cinta yang mereka bangun semenjak menikah.


***


Lusa telah tiba.

__ADS_1


Dewa mengambil motornya di tempat parkir pabrik. Saat akan memakai helm, ia melirik di dasbor motornya terdapat seikat bunga dan coklat. Dewa mengambilnya, matanya melotot saat membaca sepucuk surat berada di dalam bunga.


Untuk pangeran Dewa.


"Apaan nih?" gumam Dewa.


Dewa melempar semua itu ke tempat sampah, dia tidak suka sekali diberi seperti itu apalagi dari orang yang tidak jelas. Setelah itu ia melajukan motornya untuk ke hotel tempat ibu mertuanya mengadakan makam malam.


Dalam perjalanan, ia menikmati sore ini sembari bersiul. Penatnya seketika menjadi hilang tatkala melihat pemandangan indah langit senja. Lambat laun kehidupannya menjadi nyaman seperti ini walau banyak orang yang masih menghinanya.


Saat sampai di depan hotel, dia melihat Nona yang menunggunya. Nona tersenyum tatkala melihat sang suami akhirnya datang.


"Mas Dewa mandi dulu, ya? Aku sudah membawakan kemeja dan celana panjang untuk mas."


"Baik, sayang. Tapi mandi dimana?"


Nona menggandeng Dewa lalu masuk ke dalam hotel. Mereka menuju ke lift dan naik ke lantai dimana Nona memesan satu kamar hotel.


"Kenapa sayang memesan kamar? Aku 'kan tadi bisa pulang dulu untuk mandi di rumah," ucap Dewa.


"Sekali-kali menginap di hotel, mas."


Nona membuka pintu kamar hotel, menggandeng Dewa masuk dan langsung menyuruhnya mandi. Dewa menatap Arsel yang sedari tadi menempel pada Nona. Arsel hanya diam seperti robot tanpa ekspresi.


"Ngapain disitu?" tanya Dewa.


Dewa hanya diam, ia masuk ke kamar mandi sambil menatap ejekan kepada Arsel. Dewa masuk ke kamar mandi, ia melepas semua pakaiannya, ia juga berpikiran untuk mengerjai Arsel. Dewa mematikan lampu kamar mandi dan meminta Arsel untuk masuk.


"Sel, bisa gak bantu aku?" ucap Dewa sambil menyembulkan kepala dari balik kamar mandi.


Arsel dan Nona yang duduk di lantai sedang membuka kertas kado melihat kearah Dewa.


"Ada apa, sayang?" tanya Nona.


"Aku butuh bantuan Arsel."


Arsel menaikan alisnya. "Jangan bilang kau tidak tahu bagaimana menggunakan kamar mandi hotel ini?" tanya Arsel.


Nona tersenyum kecil. "Mas Dewa, cara pakainya sama seperti dirumah."


Dewa manyun dan memohon Arsel untuk membantunya. Nona menyuruh Arsel untuk membantu suaminya, pria itu menghela nafas panjang lalu berdiri untuk membantu Dewa.


Arsel masuk ke kamar mandi, ia melihat Dewa hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya.


"Ada apa?" tanya Arsel.


"Lampunya mendadak mati."

__ADS_1


Ceteek...


Arsel menekan saklar lampu lalu menyala dengan terang. Dewa hanya cengengesan.


"Ada lagi?" tanya Arsel.


"Air di closet tidak bisa menyala."


Arsel melewati Dewa sambil menatap tajam, ia menghampiri kloset duduk dan menekan tombol air tetapi tidak menyala. Hotel mewah ini menggunakan sistem kloset otomatis yang langsung keluar air ketika ada sesuatu yang masuk kedalam kloset.


"Ini otomatis jadi tidak bisa menyala," ucap Arsel.


"Coba lagi! Tadi bisa nyala kok airnya tapi setelah aku duduki tidak bisa lagi. Apa mungkin rusak?" tanya Dewa.


Arsel mencoba melihat dengan dekat dari kloset tersebut. Wajahnya ia dekatkan pada tombol yang bertuliskan bahasa Inggris. Dewa tersenyum menyeringai, ia menekan tombol menyala di balik closet dan seketika air keluar menyembur dari lubang kecil yang menyelip di sekitar closet.


Srooooooooooot...


Wajah Arsel tersembur dari air tersebut, ia kaget dan langsung mundur. Saat akan mundur kaki Dewa tidak sengaja membuat Arsel terjatuh, Dewa dengan refleks menangkap Arsel.


Arsel menatap Dewa dan begitu juga sebaliknya. Disaat bersamaan Nona datang melihat pemandangan yang ambigu.


"Mas, sudah bisa? Biar aku panggilkan petugas hotel saja." Mata Nona melotot melihat pemandangan itu.


Bagaimana tidak? Dewa yang hanya menggunakan celana kolor dan bertelanjang dada sedang bermesra-mesraan dengan Arsel di kamar mandi. Apalagi handuk yang digunakan Dewa tergeletak di lantai. Nona langsung jatuh pingsan.


Dewa sangat terkejut, ia dengan refleks mendorong Arsel dan menghampiri istrinya yang pingsan. Dia mengangkat Nona lalu membawanya ke tempat tidur. Sedangkan Arsel mencoba mencarikan minyak kayu putih.


"Sayang, bangun sayang!" ucap Dewa sambil menepuk pipi Nona.


"Dewa, dimana tas Nona? Biasanya dia membawa minyak kayu putih di dalam tasnya," tanya Arsel.


"Itu di sofa," tunjuk Dewa.


Arsel mengambil minyak kayu putih lalu dengan terburu-buru berlari kearah Dewa, tapi na'as, dia terpeleset lalu jatuh menubruk Dewa. Mereka jatuh tepat di samping Nona dengan posisi Dewa telungkup serta Arsel diatasnya. Mata Nona terbuka, ia telah siuman.


"Mas Dewa, kepalaku pusing..." Saat akan melirik ke kanan, Nona melihat pemandangan tak terduga lagi. Pemandangan yang sangat ambigu saat posisi suaminya sedang telungkup dan Arsel berada diatasnya menindih Dewa, Saat itu juga Nona kembali pingsan lagi.


"Nona sayang?" teriak Dewa.


Arsel bangun, ia merasa jijik dengan adegan tadi. Dewa juga langsung menarik selimut ke tubuhnya.


"Dasar gay!" ucap Dewa.


"Ishhh... Mulutmu! Aku juga jijik. Lihatlah Nona sampai pingsan dua kali!" ucap Arsel.


Dewa merasa merinding.

__ADS_1


"Kenapa kau memakai selimut. Aku juga tidak doyan denganmu," ucap Arsel kesal.


__ADS_2