Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 47 : Sarah


__ADS_3

Sarah keluar dari rumah Elara dengan baju yang minim dan celana hotpants. Zalina yang melihatnya sedikit risih karena dirumah ini bukan hanya wanita saja tetapi ada suaminya dan beberapa pembantu pria. Tangan Zalina yang sedang mengupas buah terhenti. Dia menghampiri Sarah yang akan keluar dari rumahya.


"Mau kemana, Sarah? Kau tidak punya pakaian yang lebih sopan lagi?"


Sarah terhenti, ia membalikkan badan. "Aku mau menginap di hotel saja. Aku tidak betah disini."


Zalina memegangi pundak Sarah, tangan Sarah menepisnya. Sarah seumuran dengan putrinya, tentunya membuat Zalina risih melihatnya menggunakan pakaian kurang bahan.


"Papamu tidak pernah menasehatimu untuk menggunakan pakaian yang lebih sopan? Ini terlalu terbuka, Sarah. Biar tante pinjami baju Elara, ya?"


"Tante khawatirkan diri tante sendiri, jangan khawatirkan orang lain!" ucap Sarah.


Dia langsung melangkah meninggalkan Zalina yang mendongkol. Zalina meremas jemari tangannya menunjukkan dia begitu geram dengan ucapan Sarah.


Saat Sarah akan membuka pintu, Bara sudah tepat di depannya. Bara yang menggunakan baju hem rapi nampak pulang dari kantornya.


"Mau kemana, Sarah?" tanya Bara.


"Maaf, om. Tapi aku gak bisa tinggal disini. Aku mau menginap di hotel saja."


Bara mencegahnya. Dia tidak memperbolehkan Sarah untuk pergi dari rumahnya sebelum sang Papa pulang dari Surabaya.


"2 hari lagi papamu akan pulang. Bersabarlah! Om dan Elara nanti sore akan ke pelabuhan. Disana ada cafe di pinggir laut dan baru di buka. Kita kesana bersama-sama, ya?" ajak Bara.


Sarah berpikir sejenak, sepertinya akan asyik. Dia suka sekali melihat laut, semoga saja ini bisa membuatnya sedikit tenang.


"Ya sudah, Om mau mandi dulu. Nanti kita berangkat jam 3 sore," ucap Bara sambil mengelus kepala Sarah.


Bara lalu berjalan melewati Sarah dan mendekati Zalina, Sarah melihat Zalina mencium tangan Bara dan mengendorkan dasi Bara.


***


Semua orang sudah masuk ke mobil kecuali Zalina yang enggan ikut dan lebih memilih berada dirumah saja. Sarah tetap tidak ingin berganti pakaian sedangkan Elara hanya menggunakan kaos dan celana pendek.

__ADS_1


Bara melajukan ke cafe pinggir laut yang berjarak 45 menit dari rumahnya. Sarah yang duduk dibelakang hanya melamun memperhatikan sibuknya lalu lintas sore ini. Sedangkan Elara asyik memandangi wajah Dewa yang tersimpan di galerinya.


"Papa, Tante Nuna kapan akan bercerai dengan Dewa? Plis, pah! Buat mereka bercerai," rengek Elara seperti anak kecil.


"Mereka tidak akan bercerai. Jangan kekanakan, Ela!"


Elara mengerucutkan bibirnya. Dia membanting ponselnya membuat Bara hanya bisa bersabar. Sarah yang mendengar rengekan Elara langsung menghidupkan musik dari ponselnya.


45 menit kemudian.


Mereka sampai di cafe tersebut, waktu sudah menunjukkan hampir jam 4 sore. Mereka langsung masuk ke cafe, pemandangan di laut itu sungguh membuat mata Sarah merasa sejuk. Sinar matahari yang mulai oranye menambah suasana hati Sarah menjadi tenang.


"Sarah mau pesan apa?" tanya Bara sambil melihat daftar menu.


"Sama dengan om saja."


Sarah mendekati mereka dan duduk di sebelah Bara. Elara yang ada seberangnya merasa kesal. "Sini kau! Kenapa duduk disitu?"


Elara menyeret Sarah. Sarah yang kesal memilih duduk di berbeda meja dengan mereka. Bara membiarkan Sarah duduk sendirian ketimbang Elara marah.


Pelayan mulai mencatat makanan pesanan mereka, sementara Sarah hanya duduk diam melamun tidak jelas.


"Sarah, beneran makanannya sama seperti milik om saja?" tanya Bara.


Sarah menganggukkan kepala. Selagi menunggu pesanan datang. Elara berbincang-bincang dengan papanya. Dia bercerita tentang kesehariannya hari ini. Bara begitu mendengarkan curahan hati putrinya. Walau Elara bukan putri kandungnya tetapi Bara begitu menyayanginya.


Sarah menyandarkan kepala pada meja, melihat kedekatan mereka menjadi cemburu. Apalagi ia kini mengetahui jika papanya akan menikah lagi. Pastinya posisi Sarah akan tergantikan di hati Dani.


Air mata Sarah berjatuhan tetapi dia segera mengusapnya. Sampai seseorang datang lalu merangkul bahunya.


"Hai cewek, kau cewek bookingan 'kan? Bisa kami pesan 3 jam untuk menemani kami?" ucap pria yang setengah tua itu.


"Apa? Minggir tanganmu! Aku tidak mau."

__ADS_1


"Jangan malu! Hanya kita saja kok."


Bara menyingkirkan tangan pria itu dari bahu Sarah. Sarah hanya terdiam memandangi mereka. Pria itu nampak adu mulut dengan Bara. Bara bersikokoh jika Sarah wanita baik-baik.


"Oh kau juga membookingnya? Cih... Munafik," ucap pria itu.


"Apa maksud kalian? Dia putri temanku, dia bukan cewek panggilan seperti yang kalian kira," jawab Bara.


"Oh manis, orang sekitarmu tidak tahu jika kau sering menjadi cewek malam yang menemani kita karaoke? Baiklah, sepertinya kau sudah insyaf," ejek pria itu lalu meninggalkan mereka.


Elara dan Bara begitu terkejut, Sarah berdiri lalu berjalan keluar cafe. Sarah melihat matahari yang sudah mulai turun menampakkan cahaya yang benar-benar oranye. Sarah hanya diam. Profesi itu pernah dilakukannya saat sebelum berpacaran dengan Dewa. Tetapi setelah dia berpacaran dengan Dewa, Dewa merubah sifat Sarah. Maka dari itu Sarah tidak bisa melupakan pria sebaik Dewa yang selalu menuntunnya ke jalan yang benar.


"Sarah, makanannya sudah datang," ucap Bara menghampirinya. "Sarah, kau menangis?" sambung Bara.


Bara langsung memeluk Sarah, Sarah begitu terkejut tetapi ia tidak menolak pelukan itu. Sarah menangis terisak dipelukan Bara.


"Papamu tahu jika kau pernah menjadi wanita panggilan?" tanya Bara.


Sarah menggelengkan kepala.


"Kenapa kau melakukan itu, Sarah?" tanya Bara.


"Papaku terkadang tidak memberiku uang. Dia begitu pelit. Hanya wanitanya saja yang dia beri uang. Aku jarang diberi uang oleh Papa. Tapi aku hanya menemani mereka karaoke saja tidak lebih, Om Bara percaya 'kan kepadaku?" jawab Sarah sambil menangis terisak.


Bara mengusap punggung Sarah, dia tahu sifat Dani jadi tidak heran lagi jika dia jarang memperhatikan Sarah. Sarah hanya kurang perhatian oleh Dani sampai Sarah berani melakukan hal negatif seperti itu.


"Jangan bilang pada papaku! Aku sudah tidak seperti itu lagi," ucap Sarah sambil melepaskan pelukannya.


Bara tersenyum lalu mengusap air mata Sarah. Dia menganggukkan kepala dan mengajak Sarah untuk makan makanan yang sudah dipesannya.


Bara menyuruh Elara untuk duduk disebelahnya dan Sarah duduk diseberangnya. Mereka memulai makan aneka makanan laut yang menggugah selera. Elara sedari tadi tersenyum menyeringai melihat Sarah.


"Bagaimana jika teman-teman tahu jika kau cewek panggilan?" ucap Elara seolah mengejek.

__ADS_1


__ADS_2