
2 jam kemudian.
Dengan perasaan sedih, ia melajukan motor ke rumah ibunya. Baru mendapat pekerjaan, ia sudah dipecat karena tuduhan asusila. Dia bahkan tidak berani menuju rumah Nona, hatinya sangat hancur pasalnya tidak mudah untuk masuk ke perusahaan besar itu. Disana ia hanyalah debu yang akan mudah ditiup keluar. Sepertinya ini memang rencana si manajer bejat itu mengeluarkan Dewa sebelum Dewa membongkar kasus perselingkuhannya padahal Dewa sama sekali tidak peduli. Untungnya wanita itu tidak menuntut Dewa, ia bahkan terlihat terpaksa saat bersaksi kepada pihak HRD.
Sesampainya di tempat ibunya, ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Dewa mencari keberadaan sang ibu yang beberapa tahun ini menjadi ibunya.
"Ibu..."
Dewa memeluk ibunya dari belakang, ia melampiaskan kesedihannya. Ibunya terkejut melihat Dewa tiba-tiba datang dan bersedih.
"Kenapa, Wa?" tanya ibu heran.
"Kenapa susah sekali menjadi orang baik? Aku sudah berusaha baik tetapi ada saja orang yang menjatuhkanku."
Ibu mendengar tangisan Dewa di punggungnya. Walau Dewa menyembunyikannya tetapi sang ibu masih bisa mendengar putra satu-satunya menangis sedih.
"Semakin pohon tinggi semakin pula akan ada angin kencang yang menerpa. Jadi manusia itu harus sabar, Wa."
"Sabar sampai kapan, bu? Susah sekali ingin menjadi orang sukses. Sukses untuk ibu, bapak dan Nona. Baru saja mendapat pekerjaan tapi kini sudah di pecat karena fitnah, bagaimana cara jadi sukses jika selalu ada hal seperti ini?" ucap Dewa yang masih memeluk ibunya dari belakang.
Dewa melepas pelukannya, ibunya kini membalikan badan menatap putranya yang menunduk. Ibu malah menyesal menikahkan Dewa diumur yang masih muda padahal tanggung jawab laki-laki sangatlah besar. Ibu mengusap air mata Dewa, ia tahu perasaan Dewa saat ini.
"Duduk dulu! Ibu akan buatkan teh, ceritakan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi!"
Ibu menarik kursi didepan meja makan untuk Dewa, Dewa yang masih menunduk hanya masih bisa bersedih atas kejadian tadi. Dia tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan kakeknya tapi dia juga tidak mungkin menyerah begitu saja.
"Ini diminum dulu!" ucap Ibu menyerahkan teh hangat, Dewa langsung meminumnya.
Dewa tidak bisa menyimpan kesedihannya. Dia bingung harus melakukan apa sebab kini Nona tengah mengandung anak-anaknya. Bagaimana mau menghidupi mereka jika ia tidak memiliki pekerjaan?
"Sekarang cepat ceritakan apa masalahnya!" ucap ibu yang siap mendengar penjelasan dari Dewa.
15 menit kemudian.
Sang ibu menitikkan air mata tatkala mendengar cerita dari putranya. Orang mana yang tega menjebak Dewa? Padahal Dewa tidak pernah mengurusi orang lain.
"Kau saat itu hanya diam saja? Kenapa tidak menyangkalnya?" tanya ibu.
"Aku kalah, bu."
Ibu beranjak dari kursi, ia memeluk Dewa. Nampak Dewa semakin tidak bisa menahan air matanya. Entah sampai kapan dirinya ditindas seperti ini?
__ADS_1
"Wa, orang baik itu pasti ada kalanya akan mendapat kebaikan. Sabar, sayang! Doa ibu selalu menyertaimu. Ibu akan membantu mencarikan pekerjaan, ibu akan tanyakan pada teman ibu. Siapa tahu mereka ada pekerjaan untukmu."
Setelah itu mereka makan bersama, Dewa makan dengan lahap dan tidak ingin memikirkan kejadian tadi. Tak biasanya ia menangis didepan ibunya. Dia merasa senang bisa menjadi Dewa jika saat sedih ia bisa bercurhat dengan orang yang sudah ia anggap sebagai seorang ibu. Jika dulu saat ia menjadi dirinya sendiri yaitu Tuan muda Nagara, saat sedih pun ia pasti akan merasakannya sendiri. Kakeknya? Boro-boro kakeknya mau mendengar keluh kesahnya. Makanya dia tidak terlalu dekat dengan kakek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dewa pulang ke rumah Nona, Nona yang sedang rekap penjualan tokonya di kamar terkejut melihat Dewa sudah pulang di siang bolong.
"Mas kok sudah pulang?" tanya Nona.
Dewa menghela nafas untuk mencoba menceritakan apa yang terjadi. "Mas kena fitnah."
"Fitnah bagaimana?"
Dewa menceritakan semua yang terjadi dengan pelan. Nona meremas tangannya mendengar itu semua. Jalang mana yang memfitnah suaminya seperti itu.
"Mas kok diam saja? Mas Dewa seharusnya melakukan pembelaan."
"Mas sudah kalah duluan saat mereka memergoki mas di ruangan sekertaris."
Nona mencoba mengontrol emosinya tatkala melihat wajah Dewa yang sangat sedih.
"Loh, mas kok menangis? Sudah jangan bersedih! Mas mulai sekarang bisa bantu aku mengurus toko dan kebun kopi. Aku sedang hamil jadi susah untuk mengurusnya. Mau ya, mas? Arsel akan membantu Mas Dewa," pinta Nona sambil mengusap air mata Dewa.
Dewa malah semakin menangis di paha Nona, ia seperti bayi kecil yang tidak diberi susu. Nona mengelus kepalanya dan menenangkan Dewa.
Resiko memiliki suami bocah. Tapi lucu, dia sudah besar masih cengeng. Hahaha... Sering-seringlah menangis sayang! Imut sekali. Batin Nona.
Hahaha... Enak sekali menangis dipelukan Nona dan ibu. Rasanya seperti menjadi anak kecil lagi. Batin Dewa.
Malam hari,
Reni, sekertaris sialan itu keluar dari kamar kosnya untuk mencari makan. Dia berjalan kaki sebab hanya sebentar saja. Saat keluar dari gang yang gelap dan sepi seseorang membekapnya dan memasukkannya ke mobil hitam. Reni pingsan karena sempat di pukul pada tengkuk lehernya akibat dirinya memberontak.
Beberapa saat kemudian.
Reni terbangun di tempat asing yang remang, ia melihat orang misterius memandanginya. Tangan Reni diikat tetapi mulutnya tidak di bungkam membuat dirinya bisa berteriak tetapi sama saja, tidak ada orang lain di sekitar sana.
"Siapa kau?" tanya Reni.
Rupanya orang itu adalah Zian. Zian tidak menjawab sampai seseorang datang dari luar. Dia memakai pakaian serba hitam, masker hitam, topi hitam, kacamata hitam.
__ADS_1
Dia mendekat kearah Reni.
"Jangan sakiti aku!" ucap Reni.
"Katakan sebenarnya padaku! Kalian memang merencanakan untuk memecat Dewa dengan cara curang seperti itu?"
Reni mencerna suara dari pria itu. Suara yang tidak asing.
"Kau Dewa? Benarkan kau Dewa?" tanya Reni.
Pria itu hanya terdiam memandang dingin wajah Reni. Jika saja bukan perempuan ia pasti sudah memukuli Reni.
"Tuan Nagara, selanjutnya apa yang harus saya lakukan?" tanya Zian.
"Buat dia mengaku atas perbuatannya tapi jangan sakiti dia!"
"Baik, tuan."
**
Dewa masuk ke rumahnya melepas jaket, masker, kacamata dan topi hitamnya. Dia melihat Nona tengah sibuk melakukan pembukuan karena ini akan memasuki akhir bulan.
"Sayang, biar aku bantu," ucap Dewa.
"Mas darimana?" tanya Nona yang sedang menghitung menggunakan kalkulator.
"Bertemu teman sebentar. Oh ya tadi mas diajak karaouke tapi mas tolak karena kepikiran kamu."
"Ooooh..."
Dewa mencoba membantu sang istri. Mulai besok ia akan mengurus toko milik Nona sambil berpikir mencari pekerjaan yang lain.
Nona memandang wajah Dewa yang tampan yang tengah serius membantunya.
"Mas aku bermimpi jika Mas Dewa bukanlah Mas Dewa. Itu mimpi yang aneh," ucap Nona.
Dewa terhenti menghitung, ia memandangi wajah Nona sambil menelan ludah.
****
Sudah rajin update nih, ayo berikan vote, hadiah, like, komen, rate5!
__ADS_1