
"Kau tidak usah ikut campur! Menantu miskin sepertimu diam saja! Kau tidak di butuhkan disini," ucap Ibu murka. "Kenapa kau bawa dia kesini, Nona? Ibu menyuruhmu datang sendirian tidak perlu membawa bocah ini," sambung ibu.
Sebuah kata-kata yang terlontar dari mulut ibu membuat Dewa terhenyak. Dinamika kehidupan ini sungguh berada di titik paling terendah ketika ia harus menanggung luka dimana selalu direndahkan. Masa lalu demi masa lalu saat menjadi dirinya sendiri seketika mendatanginya saat ini.
"Kalian para budak, bersujudlah di kakiku!" Nagara berbicara dengan angkuh kepada teman-teman masa lalunya yang menanggung luka karena ucapannya sendiri.
Nagara selalu bersikap sombong dan angkuh pada semua teman-teman yang menurutnya pantas diberlakukan seperti itu.
Plaaaaak...
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi sang kawan yang hanya bisa menunduk pasrah didepannya.
"Jika ku suruh bersujud kalian harus bersujud! Dasar tidak berguna!"
Plaaaaak...
Plaaaaak...
Nagara sangat suka sekali menindas teman-temannya. Tak heran jika banyak orang yang takut kepadanya. Bahkan saat sekolah dulu ia sering di panggil guru BP untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Jika kau masih nakal begini maka kakek akan mengirimmu ke luar negeri. Sudah berapa kali kau mengirim teman-temanmu masuk rumah sakit? Dasar tak punya hati!" bentak sang kakek. "Perbuatanmu berimbas pada saudara kembarmu. Dia masuk rumah sakit karena dibully teman-temannya tapi disini kau malah asyik membully teman-temanmu," sambung Kakek.
Nagara mencerna semua ucapan kakeknya. Bukankah dia tidak memiliki saudara? Apa-apaan ini saudara kembar? Nagara tak semudah itu mempercayainya tetapi kakek memberikan sebuah foto yang membuat dirinya terkejut.
"Dia Sadewa, saudara kembarmu yang sudah terpisah darimu sejak bayi. Hukum karma itu memang tidak langsung datang ke kita tapi bisa saja datang menghampiri orang terdekat kita. Kakek mohon, jangan membuat ulah lagi bahkan sampai menyakiti orang lain. Dampaknya malah terjadi pada saudara kembarmu. Kini dia sedang koma di rumah sakit," ucap Kakek.
Nagara begitu syok, ia tak kuasa menahan kesedihannya. Saudara kembarnya sangat mirip dengannya tetapi memiliki kulit agak gelap.
"Tapi kenapa kita bisa terpisah?" tanya Naga.
"Kau akan dapat jawabannya setelah dewasa nanti," jawab kakek.
Flashback selesai.
Praaaaang...
Dewa terkejut ketika lamunannya buyar saat mendengar suara piring pecah. Ia sadar saat bajunya sudah kotor dengan kuah rendang. Ibu mertuanya yang melempar semua itu kepadanya.
"Pergi! Dasar! Gara-gara kau, kami mengalami kesialan," teriak ibu histeris. "Semua yang terjadi pada keluarga ini karena kedatanganmu membuat sial. Sebelum kau menikahi Nona, keluarga kami baik-baik saja dan setelah kau hadir banyak masalah menghampiri keluarga kami," sambung ibu sambil menuding Dewa.
__ADS_1
Dewa hanya tersenyum kecil melihat perlakuan semua ini. Nona merasakan sakit hati ketika sang suami diperlakukan tidak adil.
Saat bersamaan, Bara bersama Sarah datang dan menyaksikan kejadian tak terduga.
"Ibu sudah bilang, cari pasangan yang sederajat seperti kita. Orang miskin itu menular dengan cepat," teriak ibu.
"Maaf bu, tidak ada orang miskin yang membuat orang lain menjadi miskin," jawab Dewa.
Tetapi Bayu langsung memukul wajah Dewa sampai tersungkur. Darah menetes di hidung Dewa tak hanya itu saja, Bayu menyiram air putih pada adik iparnya itu.
"Mas Dewa..." teriak Nona menghampiri suaminya. Perutnya yang besar sangat kesusahan untuk berjongkok. "Kita pulang saja, mas! Maafin Nuna! Maafin keluarga Nuna," ucap Nona sambil menangis terisak.
Sarah yang melihat teman dekatnya diperlakukan seperti itu tidak terima. Dia memukul Bayu sekuat tenaga sampai calon adik iparnya ikut tersungkur. Bayu yang kesal akan membalas dengan memukul juga tetapi dicegah oleh Bara.
"Begini sifat menantu Wiratmaja? Tidak ada yang benar. Entah bagaimana kalian mencari jodoh? Zalina yang tukang selingkuh, Sita yang pembunuh, Dinda dan Kanya yang hoby menjual aset, Dewa yang miskin dan sekarang gadis liar itu," ucap ibu berteriak.
"Nenek itu ngaca, ya! Nenek dan anak-anak nenek juga sama saja. Jangan salahkan orang lain!" jawab Sarah.
"Siapa yang kau panggil Nenek? Begini Bara calon istrimu? Sampai kapanpun ibu tidak akan merestui hubungan kalian."
Sarah berdecih. Dia mendekati calon ibu mertuanya. Tatapan kesal mereka lempar satu sama lain. "Aku juga tidak sudi menjadi anggota Wiratmaja. Om Bara, jika ibumu masih bersikap semena-mena begini jangan harap kita bisa menikah."
Sarah menghampiri Dewa dan Nona untuk diajaknya keluar. Sarah menenangkan ibu hamil yang sedang bersedih. Dewa diam bukan berarti biasa saja, ia sangat kesal karena mereka memperlakukan tidak baik.
"Nenek lampir itu buta atau bagaimana? Kau sudah sukses seperti ini masih diremehkan," ucap Sarah.
Dewa hanya diam fokus menenangkan Nona. Nona semakin histeris bahkan perutnya menjadi sakit. Darah mengalir keluar dari paha Nona, Dewa begitu takut.
"Nuna, kenapa sayang? Jangan dipikirkan! Aku tidak apa-apa. Nuna... Jangan buat mas takut!"
"Kenapa, Wa?" tanya Sarah.
"Sar, cepat ke rumah sakit! Nuna pendarahan," pinta Dewa dengan panik.
Sarah terkejut tentu saja ia langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Nona semakin kesakitan bahkan pingsan membuat Dewa tambah cemas.
"Nuna... bertahan sayang! Mas akan membalas apa yang dilakukan mereka jika kau terjadi apa-apa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Dewa mondar-mandir di depan ruangan yang merawat Nona. Dia sangat panik karena sudah hampir setengah jam Nona diperiksa.
Sarah menatapnya sambil duduk santai didepannya.
"Wa, kau hanya diam saja saat diperlakukan tadi?" tanya Sarah.
Dewa hanya diam, ia tidak mau membahas kejadian tadi karena sang istri masih dirawat akibat pendarahan dan ia belum bisa tenang.
"Yasudah, Wa. Aku tidak bisa menunggu disini. Om Bara mengajakku bertemu. Aku doakan istri dan bayimu baik-baik saja."
Sarah mulai melangkah tetapi saat itu juga Dewa mengucapkan banyak terima kasih kepada Sarah karena sudah membelanya.
"Itulah gunanya teman, Wa. Jika ada apa-apa panggil aku saja!" jawab Sarah.
Sarah berjalan meninggalkan Dewa, ia harus menemui Bara di tempat biasa. Saat akan keluar ia berpapasan dengan Zian. Mereka hanya saling melewati tanpa bersapa.
Zian menghampiri sang tuan yang begitu panik. Sorot mata Dewa tak seperti biasanya.
"Zi, atur pertemuan nanti malam dengan semua klien termasuk keluarga Wiratmaja! Mereka tidak tahu sosok asli Nagara sebenarnya," pinta Dewa sambil tersenyum menakutkan.
Kalian membuat istriku sampai begini. Jika terjadi apa-apa dengan istri dan ketiga bayiku maka hancurlah riwayat kalian. Batin Dewa.
Di tempat lain.
Sarah merasa sakit hati karena Bara memutuskan hubungannya. Mereka memilih mengakhiri hubungan yang beberapa bulan selalu bersama. Ini bukan pertama kalinya mereka putus tapi akan tetapi Bara sudah tidak ingin mempertahankan Sarah yang memiliki sifat kasar.
"Om Bara membela ibumu yang keterlaluan itu?" tanya Sarah.
"Sejahat-jahatnya ibuku tetaplah beliau ibuku tapi melihat sifatmu yang masih tidak bisa berubah membuat om berpikir jika tidak bisa melanjutkan hubungan ini."
Sarah tersenyum kecut. Ternyata Bara tidak seserius ini dengannya sampai memutuskan hubungan.
"Elara akan segera keluar dari rehabilitasi, dia juga pasti tidak setuju dengan hubungan kita. Lagipula ia membutuhkan seorang ibu yang bersifat dewasa. Semoga saja kau mengerti maksud om."
Bara berdiri, disaat bersamaan seorang wanita cantik menghampiri dan mencium pipinya. "Sayang, ayo kita pergi!" ucap wanita cantik itu.
Bara mengangguk, ia meninggalkan Sarah yang mulai meneteskan air mata. Dia menatap punggung pria yang begitu ia cintai pergi bersama wanita lain dalam secepat itu. Sarah menangis tersedu-sedu di cafe yang sedang memutar lagu galau membuat hatinya semakin galau.
"Terima kasih, ini bayaranmu," ucap Bara kepada wanita itu.
__ADS_1
"Baik, terima kasih Tuan Bara."
Wanita tadi meninggalkan Bara dan Bara melirik Sarah yang masih menangis didalam cafe. Ia menghela nafas, memang inilah yang terbaik untuk mereka.