
Nona membawakan minuman sirup dingin beserta camilan sebelum makanan utama datang.
Dia masih penasaran kenapa bocah-bocah itu seperti kelelahan. Nona juga melihat Arsel yang sudah nampak kelihatan dari menghilangnya selama beberapa hari ini.
Satu teko es sirup merah kini sangat menggoda, mereka berebut gelas seperti
anak kecil. Apalagi Dewa juga ikut
berebut seperti anak kecil dan tak sadar diri jika kini sudah memiliki bocil-bocil.
“Habis dari mana sih? Dan kenapa jam segini sudah pada pulang?” tanya Nona sangat penasaran.
Mereka belum menjawab dan sedang menikmati sirup masing-masing. Nona melihatnya hanya menggeleng heran. Dewa menenggak satu gelas sirup sampai habis, ia menjelaskan jika baru saja kejar-kejaran dengan orang suruhan Altaf yang menjaga Arsel. Nona sangat kepo lalu ikut duduk di bawah lantai di depan sang suami.
“Ada apa dengan, Arsel?” tanya Nona sambil bergantian menatap Dewa dan Arsel.
“Arsel akan dijodohkan dengan wanita pilihan Altaf.”
Nona sontak terkejut, ia memandangi Arsel yang sangat sedih. Dia menepuk bahu mantan asistennya itu. Nona sudah lama mengenal Arsel dan tentu saja membuat Nona sangat khawatir dengan keadaannya. Dewa beranjak untuk ke kamar mandi, ia juga ingin melihat anak-anaknya yang tidak berjumpa seharian ini. Setelah beberapa menit di kamar mandi, kehadiran Nona membuatnya sangat terkejut. Dewa langsung mencubit gemas sang istri bulenya itu.
“Ada apa, sayang?” tanya Nona.
“Kenzi, mas. Dia memukuli temannya dan kini temannya dirawat di rumah sakit.”
Dewa terkejut, Kenzi memukul temannya? Ada apa? Kenzi adalah tipe bocah baik dan pendiam. Tidak mungkin melakukan itu. Nona mempunyai
ide untuk memanggil pskiater untuk mendampingi kembang tumbuh duo Ken. Itu adalah ide yang bagus namun Dewa harus mengocek kantong lagi untuk mengeluarkan biaya. Tak apalah, rezeki tak akan kemana. Yang terpenting duo Ken tidak terbebani masalah orang tuanya. Dewa mengecup kening Nona, ia sangat berterima kasih karena sang istri memperhatikannya dengan baik. Setelah itu Dewa kembali pada teman-temannya lagi, mereka mengobrol kesana kemari seperti emak-emak rempong. Nona yang ada di dapur hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat bocah-bocah itu apalagi Arsel yang sudah berumur kepala 3 dengan asyik membaur
dengan mereka.
__ADS_1
“Eh ... tau gak kalian dengan Luluk dulu anak kelas 12C? Ku dengar dia hamil duluan,” ucap Jojo sangat rempong.
Dewa menyahut. “Kau mungkin yang menghamilinya?”
Jojo berdecih, melihat wajah Luluk saja dia sudah minder.
“Sekarang mah kayak gitu bukan hal tabu lagi, makanya jika kita punya anak perempuan nantinya harus diawasi dengan benar,” sahut Nico sambil mengunyah pisang goreng buatan istri Dewa.
“Bukan cuman anak perempuan saja yang dijaga. Noh, burung kalian kendalikan juga! Lihat cewek cantik saja sudah tegang,” ejek Dewa.
“Termasuk kau lah, njir...” ejek Jojo sambil meraba burung Dewa.
Dewa langsung mundur, ia memperhatikan Nona yang tadi lewat saat Jojo yang mengatakan seperti
itu. Dia menelan ludah, apalagi saat Nona lewat kembali membawa gunting dan
melihat Dewa dengan tajam.
Semua teman-temannya menertawai Dewa, bocah itu sangat takut pada sang istri. Apalagi jika sudah mengenai wanita lain, Dewa melirik sedikit saja pasti itu burung tidak selamat. Hahaha cukup meenggelikan. Setelah puas makan dan mengobrol bersama, mereka pulang ke rumah masing-masing dan tentu saja Arsel sementara menginap di rumah Dewa. Namun, sore ini Arsel ingin bertemu dengan pacarnya yaitu Cantika yang seorang pramugari cantik. Mereka bertemu saat berada di pesawat beberapa kali dan saat Arsel terakhir kali naik pesawat akhirnya ia memberanikan diri untuk meminta nomor walau sempat di tolak.
Sore ini masih terlihat sangat terik, Arsel meminjam mobil Dewa untuk menemui Cantika. Arsel sangat merindukan pacarnya dan berselang menit kemudian Cantika datang. Arsel
tersenyum kecil lalu menghampirinya untuk memberikan sebuah pelukan namun Cantika menolak membuat Arsel heran.
“Cantika, kau kelihatan nampak lebih kurus?” tanya Arsel.
“Iya aku diet.”
Arsel menangkup pipi wanita cantik itu namun Cantika melakukan penolakan membuat Arsel semakin heran. Arsel mengeluarkan mawar putih favoritnya lalu memberikan pada Cantika tapi Cantika menolak dengan wajah tidak enak.
__ADS_1
“Maaf, kita tidak bisa melanjutkan hubungan lagi, Arsel.”
Arsel mengernyitkan dahi, kenapa? Ada apa sebenarnya?
“Aku akan menikah dengan orang lain. Maafkan aku! Saat kau mengajakku berpacaran aku sudah mempunyai pacar dan waktu itu aku bertengkar dengan pacarku. Maafkan aku yang membuatmu hanya sebagai pelampiasan saja,” jelas Cantika.
Lagi, hati Arsel terlukai lagi ketiga kalinya dengan alasan pujaan hatinya menikah dengan orang lain. Arsel tersenyum getir, ia mencoba seolah baik-baik saja walau
sebenarnya ia sangat terluka. Dia mengajak bersalaman Cantika, wanita itu
heran.
“Selamat, ya? Aku tunggu undangannya datang ke rumahku!” ucap Arsel.
Cantika meneteskan air mata, ia memeluk Arsel untuk meminta maaf. Arsel tidak keberatan dengan keputusan Cantika karena disini ternyata dia
adalah seorang orang ketiga. Setelah urusan mereka selesai, Arsel kembali ke
apartemen Dewa. Dia harus berakting seolah baik-baik saja.
“Kok cepat sekali?” tanya Dewa sambil bermain dengan Monalisa.
“Iya, aku ingin istirahat,” jawab Arsel sambil mendekati mereka.
Dewa memperhatikan wajah Arsel yang nampak kusut, ia seperti bisa membaca kesedihan Arsel.
“Ada apa?” tanya Dewa.
Arsel menghela nafas dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dewa sangat terkejut, ia bisa melihat kesedihan Arsel. Betapa malang nasibnya harus
__ADS_1
ditinggal menikah oleh wanita yang di sukainya.
"Aku bertekad untuk tidak dekat dengan wanita manapun lagi dan aku tidak ingin menikah jika pada akhirnya aku terluka untuk ke sekian kalinya," ucap Arsel.