
Elara dan Sarah masih menunggu didalam mobil didepan rumah baru Nona. Setelah menunggu hampir setengah jam, mobil Nona datang dan Nona menyuruh mereka langsung masuk.
Nona tercengang melihat dandanan mereka, apakah generasi muda saat ini begini semua? Nona hanya tersenyum kecut. Setelah mempersilahkan masuk, Sarah dan Elara duduk di sofa.
"Mau minum apa?" tanya Nona.
"Tidak perlu, tan. Oh ya, Arsel tidak ikut masuk?" tanya Elara.
"Tante menyuruhnya untuk mengurusi hal lain, kalian datang kesini untuk apa? Mencari Dewa? Maaf, suamiku yang tampan tidak ada dirumah."
__ADS_1
Elara berdecih, ia bersedekap dada memandangi tantenya dengan penuh kesal. Sedangkan Nona memandang Sarah, bocah itu yang membuatnya bertengkar dengan Dewa.
"Kecil-kecil sudah jadi perusak hubungan orang," sindir Nona menatap Sarah.
Sarah memandangnya dengan heran, ucapan Nona membuatnya kesal. "Apa maksud tante?"
Nona hanya tersenyum kecil. "Gara-gara kau menelpon Dewa kemarin membuat aku salah paham dan marah dengan Dewa."
Nona merasa geram dengan keponakannya itu, bisa-bisanya dia melakukan itu. Sarah menjitak kepala Elara. "Gila, ya! Jangan pakai namaku untuk mengerjai rumah tangga orang dong!"
__ADS_1
Elara masih tertawa terbahak-bahak. Nona yang mulai kesal berdiri untuk meninggalkan mereka tetapi matanya melihat pintu utama terbuka dan ada pihak kepolisian datang. Polisi dengan sigap memborgol Sarah, Sarah hanya meronta.
"Ada apa ini, pak?" tanya Nona.
"Saudari Sarah adalah terduga kasus teror pelemparan batu di rumah Bagas Wiratmaja. Kami harus membawanya ke kantor untuk proses pemeriksaan."
"Lepaskan! Bukan aku pelakunya!" ronta Sarah.
Sarah dibawa pergi oleh polisi. Elara dan Nona hanya terdiam memandangi kepergian mereka. Elara malah tersenyum senang melihat Sarah di tangkap polisi. Sedangkan Nona menelpon Dani untuk memberitahu jika putrinya ditangkap pihak kepolisian.
__ADS_1
(Maaf, sedang proses revisi. Jadi bab ini terpotong dan akan segera di perbaiki)