Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 68 : Ungkapan Bara


__ADS_3

Bara mencoba menelpon Dani tetapi nomor temannya itu tidak aktif. Sambil menyetir ia tersenyum mengingat senyuman Sarah kemarin tetapi wajah Zalina tiba-tiba terbayang.


Gila kau, Bara! Istrimu baru meninggal beberapa hari yang lalu sudah berpaling ke yang lain. Huh... Sungguh kejam. Ingat jika Sarah seumuran putrimu. Kau tidak ingat jika saat masih bayi sering kau gendong, sering kau ciumi karena gemas dan sekarang jatuh cinta kepadanya? Dasar pedofil! Bisik malaikat Bara yang baik hati.


Apa salahnya dengan mencintai Sarah? Dia juga bukan anak kecil lagi, dia cantik, seksi, menggoda, apalagi pahanya yang sering ia pamerkan pertanda jika kau boleh memilikinya. Ayo Bara! Kau sudah menduda, apalagi Zalina pernah mengkhianatimu. Dasar Bara bodoh! Pria bodoh! Bisik malaikat Bara yang jahat.


Bara menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengusir pikiran positif dan negatifnya. Tak dapat dipungkiri jika ia menyukai Sarah semenjak Sarah sering di dekatnya. Sarah yang selalu menempel kepadanya membuatnya luluh apalagi saat Sarah menangis, itulah kesempatan Bara untuk dekat dengan Sarah.


Hoi Bara, ambil kesempatan ini! Kau akan menyesal jika Sarah malah diambil orang lain. Langsung sikaaaaaaat! Bisik malaikat Bara yang jahat.


Jangan Bara! Kau tidak ingat Elara yang sedang berduka? Elara tidak akan setuju jika kau bersama Sarah, Sarah saja tidak setuju jika Dani menikah lagi apalagi Elara sangat tidak menyukai Sarah. Bisik malaikat Bara yang baik.


Kau ngademin diam saja! Sikat saja, Bar! Cantik, seksi, uhuy-uhuy siapa yang tidak mau? Mantab... Ucap Malaikat Bara yang jahat.


Hei Ngatiman, otak mesum kau! Kau yang selama ini membuat manusia berpikiran mesum. Keluar dari tubuh Bara yang baik ini.... Ucap Malaikat Bara yang baik.


Kau saja yang keluar! Sok suci. Ucap Malaikat Bara yang baik.


Bara menggeleng-gelengkan kepala untuk menyadarkan pikirannya. Dia mengusap wajah dengan kasar supaya bisa sadar akan pikiran anehnya.


Beberapa menit kemudian, Bara sampai di mall. Dia langsung menuju ruang sekuriti, ia mendapati Sarah dan teman-temannya sedang berdebat dengan petugas. Sarah melirik kedatangan Bara, ia langsung berdiri senang.


"Itu 'kan papanya Elara?" tanya teman Sarah.


"Siapa bilang jika papaku?" jawab Sarah.


Petugas itu menceritakan jika rombongan Sarah hendak akan mencuri sebuah pakaian mahal disalah satu toko. Mereka menepis ucapan petugas itu. Bara tak tinggal diam, ia meminta bukti jika mereka akan mencuri pasalnya anak-anak putrinya berasal dari keluarga orang kaya.


"Mana yang membuat anda berpikir jika mereka hendak mencuri? Ini termasuk fitnah, mereka tidak melakukan hal yang mencurigakan," ucap Bara setelah melihat rekaman CCTV.


Bara terus saja berdebat dengan petugas sekuriti itu, bukti di CCTV tidak kuat dan ini hanyalah fitnah. Bara mengancam akan melaporkan ke polisi karena ini adalah perbuatan fitnah dan hal yang tidak menyenangkan karena pihak sekuriti berasumsi sendiri.


Pada akhirnya sekuriti meminta maaf dan melepaskan anak-anak ABG itu.


Bara, Sarah dan teman-temannya sangat berterima kasih pada Bara. Mereka tidak berani menelpon orang tuanya karena pasti akan dimarahi.

__ADS_1


Ditempat parkir mall, mereka berpisah. Sarah lebih memilih pulang bersama Bara. Teman-temannya mengejek Sarah karena bisa dekat dengan Bara yang sangat tampan.


"Cieeee... Calon emaknya Ela..."


"Baik-baik sama anaknya..."


"Diam kalian!" ucap Sarah.


Sarah masuk mobil bersama Bara, harinya seakan sangat sial karena bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Bara melajukan mobilnya meninggalkan mall. Sarah melirik Bara.


"Terima kasih, om."


Bara hanya menganggukan kepala, ia hanya ingin fokus menyetir mobil.


"Dimana ya papaku? Ditelpon susah sekali mentang-mentang sudah punya wanita lain," gumam Sarah sambil melihat ponselnya. "Om, angkat aku jadi anak Om Bara dong! Biar papaku menyesal telah kehilangan putri yang cantik ini," sambung Sarah.


Bara melirik Sarah, Sarah seolah menunggu jawaban darinya. Bara tersenyum, ia tidak bisa melakukan itu karena Sarah masih memiliki kedua orang tua yang lengkap.


Gadis itu bersedekap sedih tetapi Bara langsung menghiburnya.


Sarah mendengus, ia hanya diam. Bara tersenyum kecil melihat wajah imut Sarah. Sarah memandang kaca mobil, melihat keramaian siang ini. Dia teringat saat masih kecil sering naik mobil bersama Dani dan mamanya sampai terlelap tetapi sekarang semua tinggal kenangan.


Tiba-tiba ponsel Sarah berbunyi rupanya dari Arsel. Dia mengangkatnya dan ternyata Arsel mengajaknya untuk makan siang bersama. Sarah meminta Bara untuk mengantarnya. Karena Bara juga tidak sibuk akhirnya mau mengantarkan Sarah.


"Apa hubunganmu dengan Arsel?" tanya. Bara.


"Kenapa? Kami hanya teman."


"Teman kok hanya makan berdua saja?" tanya Bara.


"Kan bertiga dengan Om Bara."


Bara terkejut lalu menatap Sarah, Sarah tersenyum manis kearah Bara seolah setuju untuk makan bertiga dengan Arsel.


Bara, kau lihat 'kan jika Arsel mendekati Sarah? Ayo pepet terus si Sarah! Ungkapkan perasaanmu sebelum terlambat. Ucap malaikat Bara yang jahat.

__ADS_1


Sadar, Bara! Dia pantasnya menjadi anakmu, lagipula Dani akan bilang apa jika putrinya didekati olehmu. Ucap malaikat Bara yang baik.


Hiraukan saja! Namanya cinta tidak memandang umur.


Jangan, Bara! Ingat Zalina! Dia belum ada seminggu yang lalu meninggal.


"DIAAAAAM...." teriak Bara membuat Sarah terkejut.


Bara menepikan mobilnya dijalan. Dia memegangi kepalanya. Akhir-akhir ini banyak bisikan yang membuatnya bingung. Sarah memandangnya dengan sinis, ia turun dari mobil karena tahu jika Bara sedang tidak enak badan.


"Sudah om, aku mau naik taksi saja. Om pulang saja, aku tahu om sedang sakit. Jangan banyak pikiran, om! Istirahat saja dirumah," ucap Sarah.


Bara keluar dari mobil, ia mengejar Sarah. Menarik tangannya supaya Sarah tidak pergi. "Ayo om antar! Maafin om yang buat kau takut!"


Sarah memandang wajah Bara yang memelas. Dia terheran. Pada akhirnya Sarah mau masuk ke mobil Bara. Gadis itu tahu jika Bara sangat mencintai istrinya sampai merasa kehilangan seperti itu.


Setelah masuk mobil, Bara kembali melajukan mobilnya menuju cafe tempat Arsel menunggu.


Dia melirik Sarah yang hanya diam memandang luar.


"Sarah, om mau bertanya sesuatu."


"Apa?"


"Tidak jadi."


Sarah menaikkan alisnya, ia kembali menatap kaca mobil tanpa menghiraukan Bara. Bara semakin gugup bahkan saat memegang setir tangannya bergetar hebat. Jiwa mudanya seakan bergejolak meledak-ledak.


"Sarah, om ingin jujur padamu."


"Apa sih, om? Gak jelas banget," jawab Sarah.


"Om suka sama kamu Sarah. Maafin om yang sudah lancang."


Sarah terdiam membisu, Bara menghentikan mobilnya lagi setelah perasaannya semakin gugup.

__ADS_1


__ADS_2