Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 59 : Pingsan


__ADS_3

Dewa siap untuk ke pabrik, Nona membawakannya bekal buah-buahan yang dia masukkan dengan kotak makan. Tak lupa Nona memberikan yogurt serta keju untuk menikmati buah potong itu. Dewa masih menggunakan seragam hitam putih karena dia masih menjadi training.


"Sayang, ayo cepat kemari! Ada hal yang ingin ku tunjukkan kepadamu." Nona menarik Dewa untuk melihat ke halaman rumah.


Dewa mengikuti istrinya, pelayan membuka pintu utama dan Dewa bisa melihat sebuah sepeda motor yang belum ada plat nomor berada di halaman rumah.


"Taraaaa... Surprise... Ini sepeda motor untukmu untuk berangkat bekerja jadi jika mau kemanapun tidak usah naik angkot. Sayang belum bisa menyetir mobil jadi sementara aku belikan motor dulu," ucap Nona sambil tersenyum.


Dewa hanya diam memandang Nona. Entah harus senang atau apa yang jelas Dewa masih mengingat perkataan Nona yang menyakiti hatinya. Nona menaikkan alis melihat ekspresi wajah Dewa seakan tidak senang.


"Sayang tidak suka motornya? Mau ganti yang lain?" tanya Nona.


Dewa menggelengkan kepala. Ingin rasanya menolak tetapi tidak enak dengan kebaikan Nona. Dewa mendekati motor itu, ia melihat motor matic yang sangat bagus dan baru. Sudah lama Dewa tidak menggunakan motor untuk bepergian.


"Sekarang motor ini menjadi milikmu, sesekali boncengkan aku juga. Aku terkadang iri dengan pasangan lain yang berboncengan naik motor dan si wanita memeluk prianya dari belakang. Sepertinya asyik," ucap Nona.


Dewa mencubit hidung Nona, permintaan Nona yang imut membuatnya sangat gemas. Dewa mencoba motor itu sambil membonceng Nona, ia membawa Nona keliling kompleks untuk mencoba motor barunya. Sang istri nampak antusias dan mempraktekkan memeluk Dewa dari belakang. Semua warga yang melihat mereka hanya memperhatikan sambil lalu. Nona memeluk erat Dewa dengan mesra, tidak peduli semua orang melihatnya seolah merasa dunia hanya milik berdua.


Setelah asyik berputar, Dewa memutuskan pulang ke rumah. Nona nampak gembira dan ingin mencoba sekali lagi tetapi Dewa harus segera berangkat bekerja. Dewa berjanji jika hari libur akan mengajak Nona naik motor ke tempat wisata dingin didaerahnya.


Setelah itu, Dewa meminta sang istri mengambilkan tas dan sepatu kerjanya. Nona segera mengambilkannya.


"Ini sayang, jangan ngebut ya!" ucap Nona.

__ADS_1


Dewa memakai sepatunya, setelah itu berpamitan berangkat bekerja. Nona mencium tangan Dewa lalu Dewa berangkat kerja. Nona kembali masuk kedalam rumah, ia juga harus bekerja mengecek dua toko yang dia miliki. Sebelumnya, Bara ingin berjumpa dengannya tetapi Nona tidak bisa karena ada urusan penting yang dia ingin selesaikan hari ini juga.


Nona masuk ke kamar mandi dan seperti biasanya, para pelayan memandikannya. Kebiasaan Nona memang tidak bisa dihilangkan sebab itulah dia sangat takut jatuh miskin. Kulit Nona yang teramat putih harus dirawat dengan baik, jika tidak maka kulitnya akan memerah dan melepuh. Kulit Nona memang sensitif maka dari itu dia sangat takut sekali dengan terik matahari yang berlebih.


Nona meraih ponsel, menelpon Arsel. Seharusnya dia sudah tidak membutuhkan Arsel tetapi ia masih memperkerjakan Arsel untuk mengantarnya kesana kemari.


"Arsel, setengah jam lagi harus sudah datang kesini. Siapkan mobil juga!"


"Baik, Nona."


Setelah selesai mandi, Nona dipakaikan baju yang telah disiapkan pelayannya. Tak lupa menyisir rambut pirang Nona serta memberi riasan tipis pada wajah Nona. Setelah semua siap, Nona keluar dari kamar. Arsel sudah menunggunya dibawah.


"Nona, kita mau kemana?" tanya Arsel.


"Baik, Nona."


***


Di kantor Bara.


Bara sedang melamun namun tiba-tiba Nona menelponnya.


"Bagaimana, Nona?"

__ADS_1


"Kak Bara, aku merasa sangat kasian dengan Kak Bara dan Kak Zalina. Mungkin aku bisa bantu kalian sebisaku," ucap Nona.


"Nona, tidak usah memikirkan masalah kakak. Kau nikmati waktumu dengan Dewa, ku dengar kalian akan berbulan madu dalam waktu dekat ini?" tanya Bara.


"Bagaimana kami mau berbulan madu jika kalian masih punya masalah seperti ini? Semoga saja Kak Zalina cepat sembuh dari penyakitnya."


***


Elara mencari keberadaan mamanya yang yang tadi pagi sudah tidak ada di rumah.


Elara sangat lapar dan ingin makan. Di kulkas hanya ada buah dan sosis mentah. Karena Elara malas menggoreng, ia memakan sosis mentah itu.


Elara mengingat hal kemarin yang membuat dirinya harus berpura-pura aneh didepan orang tuanya. Dia hanya ingin mereka tetap bersama walau masalah sedang menghadang mereka. Setelah perut terasa terganjal, Elara ingin ke kamar mandi untuk sekedar buang air kecil. Ketika tangannya membuka pintu, ia terkejut melihat sang mama sudah tergeletak tak sadarkan diri.


Elara menjerit kuat lalu pingsan ditempat. Pembantu yang melintas di depan kamar mereka penasaran, tidak ada yang menyahut saat dia mencoba mengetuk pintu. Dia dengan yakin membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Saat dia melihat kamar mandi terdapat kaki yang nampak di pandangannya. Pembantu itu dengan langkah perlahan menghampiri ke kamar mandi. Matanya terbelalak saat melihat majikannya sudah tak sadarkan diri bersama putrinya.


Pembantu itu segera menelpon Bara yang sedang berada di kantor.


Betapa kagetnya Bara mendengar hal tersebut lalu ia segera pulang menuju rumahnya.


***


Jangan lupa Like, vote, beri hadiah, rate5, Komen!

__ADS_1


__ADS_2