Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 76 : Apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_3

*12 Maret 2000


...Hari dimana aku dipertemukan oleh Alona, saudari kembarku. Dia tinggal bersama mommy dan ayah. Sedangkan aku harus tinggal di Belanda karena mommy menyembunyikanku supaya aman, katanya....


...Namaku Alisa, sungguh tidak adil rasanya. Serasa dibuang, akan tetapi mommy bilang jika ini yang terbaik. Saat itu, Ayah tidak tahu jika mommy mengandung anak kembar karena mommy hanya simpanan ayah dan tinggal berbeda rumah dengan ayah....


...Aku sering mendapat foto ayah yang tampan, rupanya dia aparat negara tetapi mommy bilang jika ayah dipecat karena ketahuan mempunyai dua istri*....


...*Saat aku duduk di sekolah dasar, mommy membawaku untuk menemui ayah. Aku sangat senang sekali karena aku bisa melihat ayah secara langsung. Tetapi tidak semudah itu. Aku melihat ekspresi ayah seakan tidak suka atas kedatanganku. Dia menampar mommyku, aku hanya bisa bersembunyi dibalik punggung mommy....


...Dan pada saat itu aku bisa melihat kembaranku yang bernama Alona berada dibelakang ayah, dia sama menatapku dengan heran. Kami benar-benar mirip sekali....


...Mommy dan ayah adu mulut, tapi saat itu aku masih kecil dan tidak mengerti apa yang mereka membuat bertengkar. Pada akhirnya, ibuku mengalah dan membawaku pergi. Aku sekali lagi menatap saudari kembarku, sorot mata kami bilang jika kami harus bersama....


...Beberapa setelah pertengkaran tersebut, ayah datang ke rumah yang dekat dengan hutan dan bisa dibilang terpencil, kali ini dia membawa anak laki-lakinya yang juga sangat tampan. Aku mendengar ayah memanggilnya Bara. Apa dia kakak laki-lakiku? Aku melempar senyuman kepadanya tetapi dia hanya diam, apa kakakku itu pemalu? Hihi sangat lucu....


...Tetapi setelah aku menulis surat ini, mungkin saja aku juga akan mati. Aku ketakutan, sangat takut. Beberapa menit yang lalu aku melihat jika ada suara tembakan di dalam rumah kami. Aku yang berada di kamar karena disuruh mommy hanya bisa takut. Aku mengintip keluar dan bisa melihat darah di lantai yang terbuat dari kayu tersebut....


...Aku bergegas menulis surat ini, aku yakin jika mommy di tembak oleh ayah karena aku mendengar teriakan minta tolong oleh mommy sebelum terdengar suara tembakan....


...Alona, aku hanya bisa bergantung padamu. Kumohon, baca suratku ini. Sepertinya mommy di bunuh. Sekarang aku mendengar suara pintu kamar ini dibuka, aku takut. Aku percayakan..... (surat terputus)...


AKU AKAN MEMBUNUHMU (dengan tulisan yang berbeda seolah orang lain yang menulisnya)


««««««««»»»»»»»»»»


Dewa mengingat surat itu, surat yang masih menjadi sebuah misteri bahkan Nona belum menceritakannya sama sekali. Dewa masih menunggu Nona menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah mengobrol dengan bapaknya, Dewa masuk ke rumah Bara. Dia baru percaya dengan ucapan bapaknya setelah melihat kemesraan Bara dan Sarah yang ada didepannya. Mereka duduk bersama di sofa sambil suap-suapan makanan ringan. Bara yang menyadari kehadiran Dewa langsung berdiri sambil menggaruk kepalanya.


"Kau mengagetkanku saja, Dewa. Ku pikir Elara yang datang," ucap Bara.


Dewa hanya tersenyum, ternyata Bara memang takut dengan Elara jika dia memiliki hubungan dengan teman anaknya.

__ADS_1


"Beb, duduk! Udah, jangan urusin si Dewa! Lanjut makan!" ucap Sarah sambil menarik tangan Bara untuk kembali duduk.


Nona datang dari tangga membawa tasnya. Dia akan pulang ke rumahnya sendiri. Dewa menghampiri dan membawakan tas milik Nona.


Bara menghampiri mereka yang akan pulang dari rumahnya tentunya akan membuat sedih karena rumah ini akan sepi.


"Tidak minggu depan saja pulangnya?" tanya Bara.


"Tidak bisa, kak. Kasian Dewa. Dia di rumah sendirian."


Sarah menghampiri mereka dan menggandeng tangan Bara. Bara tersenyum manis pada pacarnya yang masih manja itu. Padahal Sarah hanya ingin memanasi Dewa.


"Yasudah, kami pulang dulu kak. Jangan lupa Sarah di pulangkan! Gak baik hanya berduaan dirumah ini," ucap Nona.


"Emang kakak terlihat akan melakukan hal tidak baik ke Sarah?" tanya Bara.


"Kakak 'kan laki-laki, siapa tahu khilaf?" goda Nona.


***


Saat sampai di rumah, akhirnya Nona bisa tidur nyenyak di rumah barunya. Para pembantu sudah menyiapkan air untuk mandi dan seperti biasa dia kembali dimandikan oleh pembantunya.


Sedangkan Dewa mandi di kamar mandi yang lain.


Besok dia libur, ia berencana ingin membawa Nona untuk ke dokter kandungan dan setelah itu ke tempat orang tuanya.


Dibawah guyuran air shower, Dewa masih memikirkan surat tersebut. Memang Nona sempat mengatakan jika mommy nya meninggal karena di bunuh bukan karena sakit. Apalagi keberadaan Bara yang ditempat itu, apakah dia saksi kematian mommy Nona? Dan satu lagi, dimana keberadaan Alisa? Apakah dia masih hidup?


Semua ini membuatnya pusing, Dewa tidak akan bertanya kepada Nona sebelum Nona bercerita sendiri tentang kejadian yang sebenarnya.


Setelah selesai mandi, Dewa masuk ke kamar dan memakai baju. Rasanya sangat segar bisa mandi dengan air dingin. Setelah itu, ia berbaring di tempat tidur. Pintu kamar mandi terbuka, ia melihat Nona sudah selesai mandi.


"Mbak, bisa keluar? Biar aku saja yang memakaikan baju untuk Nona," ucap Dewa.

__ADS_1


Para pembantu keluar setelah mendengar permintaan dari Dewa. Dewa memakaikan pakaian Nona, Nona hanya mengikuti saja dan sembari tersenyum menatap suaminya yang begitu manis dan tampan.


"Mas, aku ingin makan mie. Buatin, ya?" pinta Nona.


"Iya nanti aku buatin."


"Udah siap, Nona manis sudah mandi dan baunya wangi," ucap Dewa.


Nona bergelayut pada leher Dewa, memberikan kecupan tipis pada bibir Dewa. "Terima kasih sudah mau menjadi suamiku yang baik."


Disisi lain,


Bara dan Sarah berada di dapur membuat kue kering ala Sarah yang sederhana. Mereka membuat sedikit saja karena hari sudah menjelang malam. Bara teringat jika Elara belum pulang juga.


"Bebeb, Elara itu sudah besar. Apa sih pulang saja kok di tungguin?" ucap Sarah.


"Dia anak perempuan, seorang ayah mana yang tidak khawatir putrinya dari pulang kuliah sampai sekarang belum pulang ke rumah? Papamu pasti khawatir jika kau begitu."


"Ihhh... Mana ada? Papa malah senang jika aku pulang terlambat, dia bisa membawa ceweknya ke rumah," ucap Sarah sambil bibirnya manyun.


Bara yang gemas dengan Sarah langsung mencium pipinya. Sarah tersipu malu, ia memandang Bara dan seolah meminta lebih.


"Cium ini, beb!" ucap Sarah sambil menunjuk bibirnya.


Bara mendekati wajah Sarah dan mencium sekilas bibir Sarah. Sarah merasa geram, ia membalikkan badan membuat Bara bingung.


"Ada yang salah?"


"Nempel doang apaan tuh?"


Bara menaikkan alis, ia menarik tangan Sarah supaya menghadap dirinya. Sarah terperanjat kagum dengan pria matang itu. Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat sempurna. Bara mendekati wajah Sarah, Sarah memejamkan mata tetapi bukannya mendapat ciuman malah mendapat bisikan dari Bara.


"Om harus meminta izin dulu dari papamu sebelum melakukan hal lebih. Nanti kita bersama-sama meminta restu dari papamu," bisik Bara.

__ADS_1


__ADS_2