
Nona sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dirinya bisa beraktivitas seperti biasanya tetapi tidak boleh terlalu berat.
Dewa pagi ini harus ke toko bersama Arsel, menjalani aktivitas yang biasanya dilakukan oleh istrinya. Dengan bantuan Arsel, ia mengelola dengan baik.
"Umurmu berapa sih, Sel?" tanya Dewa penasaran.
"Intinya jauh lebih tua darimu."
"Heeem..."
Dewa melihat pembukuan barang yang masuk sambil mengecek kelayakan barang. Sampai ia melihat sebuah lemari yang pernah diinginkan ibunya tetapi tidak bisa dibeli karena tidak memiliki uang. Dewa mengelus pintu lemari jati itu, nampak bagus dan terkesan elegan.
Ini saatnya aku membalas jasa ibu. Dia merawat Dewa dan aku dengan baik. Huh... kenapa aku malah melow begini?
"Arsel, aku mau lemari ini dikirim ke alamat orang tuaku tapi jangan ditulis jika aku adalah yang pengirim dan pembelinya," ucap Dewa.
Arsel menganggukkan kepala tanpa membantah. Dewa menyerahkan kartu emasnya yang bahkan keluarga Arsel tidak mempunyainya. Sambil menunggu Arsel, Dewa melanjutkan pekerjaannya sesekali melihat toko online pakaiannya siapa tahu ada yang membeli lagi.
Saat itu juga, ponsel milik Dewa bergetar rupanya dari Zian. Zian mengabarkan sudah mengetahui keberadaan Alisa yang bersembunyi di kota ini. Dewa tersenyum tipis, ia akan segera menemuinya dan akan menyelesaikan kematian ibu Nona yang janggal.
"Zi, nanti atur pertemuanku dengan Alisa!"
"Baik, tuan."
Setelah selesai menelpon, Dewa yang duduk di kursi kantor dikejutkan dengan kedatangan Nona. Ia terkejut melihat sang istri malah kesini. Dewa menggandeng Nona menyuruhnya untuk duduk.
"Kenapa datang kesini?" tanya Dewa.
"Aku bosan dirumah, mas."
Nona menggunakan celana jeans membuat Dewa geram. Dewa terjongkok dihadapan Nona sambil mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa pakai celana ini, sayang? Kasian si kembar pasti kesempitan."
"Ini masih muat, kok. Hemm... sayang tadi menyebut nama Alisa. Ada apa dengan Alisa? Sayang kenal saudari kembarku, dia juga sudah meninggal sama seperti kembaranmu."
Dewa menghela nafas panjang, ia menjelaskan jika Alisa masih hidup bahkan Bara mengetahuinya. Nona begitu syok, Dewa dengan cepat duduk disebelah Nona berjaga-jaga jika sang istri akan pingsan lagi.
"Tidak mungkin, Kak Bara bilang jika Alisa sudah meninggal. Kau pasti salah orang."
Dewa mengeluarkan selembar foto dari dompetnya lalu menyerahkannya pada Nona. Alisa, wanita berparas bule sangat mirip dengan Nona memiliki mata coklat membuat Nona terkejut melihat wajahnya.
"Aku terakhir melihat Alisa saat masih kecil, ini fotonya? Dimana Alisa sekarang? Aku ingin bertemu dengannya."
__ADS_1
Dewa menenangkan Nona, ia mengusap bahu sang istri. Tangisan Nona membuat Dewa seketika memeluknya. Rasa haru mewarnai hati wanita berparas bule itu. Ia ingin sekali segera bertemu dengan saudari kembarnya yang ia kira sudah meninggal.
"Tapi Kak Bara, ia tahu semua ini dan sepertinya mereka saling berkomunikasi," ucap Dewa.
"Apa? Kenapa Kak Bara begitu? Apa maksudnya menyembunyikan keberadaan Alisa dan mengatakan jika Alisa sudah meninggal?" tanya Nona bingung.
Wajah Nona sangat kesal, ia mencoba menelpon Bara tetapi dicegah oleh Dewa. Tak baik membicarakan hal penting melalui telepon. Dewa terus mencoba menenangkan Nona, memberinya pelukan hangat supaya Nona bisa lebih tenang.
Setelah itu, Arsel datang memberikan kartu emas itu pada Dewa. Nona yang melihat kartu ajaib milik Dewa mendadak berhenti dari tangisannya. Ia memandang Dewa seolah memasang wajah imutnya.
Tangan Dewa yang akan memasukkan kartu itu ke dalam dompet seketika terhenti.
"Kenapa?" tanya Dewa.
"Shopping," jawab Nona sambil tersenyum manis.
Dewa mencubit gemas istrinya, ia memberikan kartu ajaib itu. Nona menerimanya dengan sangat senang.
"Tapi mas gak bisa mengantarmu ke mall, biar diantar Arsel saja ya? Mas ada urusan."
"Baik, deh. Tidak ada Mas Naga tetapi ada ini sudah cukup kok," jawab Nona.
Matrenya keluar lagi deh. Batin Dewa.
Dewa keluar dari toko Nona, Zian sudah datang menunggunya. Ia masuk kedalam mobil mewah miliknya. Dewa melirik bangku belakang, ia melihat putra Zian yang cengengesan melihatnya.
"Maaf, tuan. Denish hanya menumpang sebentar," ucap Zian.
"Okelah, ku dengar kau akan menikah?" tanya Dewa kepada Denish.
"Pastilah, kau pun sudah menikah duluan. Aku juga tidak mau kalah."
Zian yang mendengar ocehan kedua bocah itu hanya diam dingin. Pasalnya kedua bocah somplak itu menikah muda sedangkan dia menduda untuk waktu yang lama setelah bercerai dengan istrinya.
Setelah sampai ditempat yang akan disinggahi oleh Denish, ia turun dan berterima kasih kepada Dewa karena sudah diberi tumpangan.
"Pah, sampai jumpa nanti malam."
"Hem," jawab Zian singkat.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan, Dewa sedari tadi menahan tawa sebab sang asisten sebentar lagi pasti akan mempunyai cucu diusia muda.
"Zi, bakalan jadi kakek muda nih. Hahaha..."
Zian hanya tersenyum kecil tetapi tanpa ekspresi membuat Dewa sangat gemas.
__ADS_1
"Zi, ketawa dong jangan kayak kanebo kering. Kaku banget," ucap Dewa mengejek.
Lagi-lagi ekspresi Zian sangat datar membuat Dewa malas menggoda om-om tampan itu.
****
Sebuah restoran nampak sedikit sepi. Seorang gadis bule cantik sedang menunggu kedatangan seseorang. Make upnya yang hanya natural membuat dirinya begitu cantik. Rambutnya yang diurai tergerai indah dipunggungnya.
"Alisa? Benar itu kau?" tanya Dewa menghampirinya.
"Hem... Kau Naga yang tadi pagi menelponku?"
Dewa menganggukkan kepalanya. Zian menarik kursi untuknya membuat Alisa heran. Sepertinya pria didepannya bukan orang sembarangan.
"Kau ingin menawariku masuk agensi We? Bagaimana caranya? Aku ingin sekali menjadi model terkenal tapi masih terhalang bakat," ucap Alisa.
Dewa memperhatikan gaya bahasa Alisa yang manja berbeda dari Nona yang angkuh tapi elegan. Alisa, ia lebih suka memakai baju seksi berbeda dengan Nona lebih suka gaya pakaian casual.
"Zi..." ucap Dewa sambil meminta kertas kontrak yang dibawa Zian.
Zian memberikan surat itu kepada Dewa. Sebelum menyerahkan kepada Alisa, Dewa memberi syarat jika Alisa harus menemui Nona dan memberitahu dirinya jika masih hidup lalu menceritakan apa yang terjadi di pondok kayu saat orang tua mereka bertengkar.
Alisa melotot, ia menggebrak meja lalu menuding wajah Dewa dengan jari telunjuknya. "Apa hubunganmu dengan Nuna? Dia menyuruhmu untuk melakukan ini?"
Dewa mundur bersandar pada kursinya sambil bersedekap memandang wajah kesal Alisa. Zian tidak hanya tinggal diam, ia menarik tangan Alisa supaya menjauhi wajah Dewa.
"Lepaskan tanganku!" ucap Alisa menepis tangan Zian.
"Perkenalkan, namaku Naga atau biasa dipanggil Dewa. Aku suami dari Alona, saudari kembarmu," ucap Dewa.
Alisa tersenyum kecut, ternyata pria yang ada didepannya adalah suami dari Nona. Inilah pria yang sering Bara ceritakan padanya.
Alisa, ia mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Dewa. Dewa tak hanya diam, ia mengikuti Alisa sampai tempat parkir.
"Alisa, tunggu! Kenapa kau tidak menemui Nona? Dia menganggapmu sudah meninggal padahal ia sangat ingin menemuimu."
"Itu bukan urusanmu!"
"Apa Kak Bara yang menyuruhmu begini?"
Alisa hanya tersenyum kecil. Dia masuk ke mobilnya dan meninggalkan Dewa yang masih penasaran. Dewa memutuskan untuk mengikuti kemana perginya Alisa.
Alisa menyetir dengan kencang, Zian juga tak kalah kencang tetapi wanita itu tidak menyadari jika diikuti oleh Dewa.
***
__ADS_1