Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 95 : Keponakan


__ADS_3

"Hemm... Om... Ada hal mencurigakan lagi dengan Kak Bara di ponselnya?" tanya Dewa.


Zian hanya diam memandang dingin dengan Dewa. Dewa mengernyitkan dahi tatkala asistennya hanya diam. Ia melirik Zian yang memasang wajah tidak enak.


"Eh... Maksudku Zian, bukan Om," ucap Dewa hanya nyengir kuda.


Dia kan memang om-om, kenapa tidak mau dipanggil om? Lucu sekali asisten kakek satu ini. Batin Dewa.


"Hemm.. Ada satu gambar lagi yang menjadi misteri. Gambar tulisan tangan dalam bentuk morse. Saya akan mencoba menjabarkannya," ucap Zian.


"Ya kali dikira pramuka ada sandi morse juga. Kak Bara memang aneh," gumam Dewa.


Zian menutup laptopnya, ia mengantar Dewa untuk kembali ke rumah sakit. Dewa masih termenung memikirkan keberadaan Alisa. Dia sangat bodoh kenapa tidak menyimpan nomor Alisa?


"Zi, kenapa tadi tidak menyimpan nomor Alisa?" tanya Dewa melepas kacamata hitamnya.


"Sudah saya simpan, nanti saya akan kirim ke nomor anda."


Dewa tersenyum, ia menepuk bahu pria itu. Zian tersenyum kecil. Sang tuan sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri dan bahkan Dewa seumuran dengan putranya.



Setelah itu, Zian mengantar sang tuan untuk kembali ke rumah sakit. Nona sudah menunggunya. Dalam perjalanan, mereka hanya saling diam tidak mengobrol. Dewa lebih memilih untuk beristirahat sejenak karena nanti pun ia harus membungkus baju orderannya untuk segera dikirim ke pembeli.


"Tuan Naga?"


"Sudah kubilang jangan panggil aku tuan!"


"Hem.. Nagara, anda jangan khawatir! Saya akan membantu anda sebisa saya."


Dewa hanya mengangguk lemas, ia sudah tidak memiliki tenaga untuk mengobrol. Zian membiarkannya untuk terlelap sembari menuju perjalanan menuju rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit.


Dewa masuk ke ruangan VIP yang dipakai Nona. Tentu saja VIP, Nona mana mau satu ruangan dengan pasien lain.


Saat masuk, Nona sedang berbaring. Dewa mengulurkan tangan untuk dicium oleh Nona tetapi Nona hanya diam bingung.


"Hadeeeh... Jika suaminya datang dan pergi harus cium tangan. Itu menandakan istri yang baik."


Dewa meraih tangan Nona, berjabat tangan lalu menempelkan pada bibir Nona. Nona hanya cemberut tidak jelas. Setelah itu Dewa melirik barang jualannya sudah tergeletak diatas sofa.


"Yaudah, mas mau bungkus itu dulu. Nanti malam mau dikirim," ucap Dewa.


Dewa membungkus kaos lusinan yang ia akan kirim kepada pembeli. Ini pertama kalinya ia berjualan online, ia juga masih banyak belajar. Nona memperhatikan wajah Dewa yang sedikit pucat. Akhir-akhir ini sang suami bekerja keras.


"Mas sudah makan?" tanya Nona.


"Nanti setelah ini mas makan."


"Tadi ke rumah Kak Bara ngapain?"

__ADS_1


Dewa tersenyum. "Hanya main saja kok, apartemen Baru milik Kak Bara sangat bagus."


Nona tahu jika sang suami berbohong. Raut wajah Dewa sangat jelas jika sedang kelelahan. Semua ini ia lakukan untuk keluarga kecilnya dan tentu saja untuk Dewa yang sudah berada di surga.


Tangan Dewa membungkus dengan cekatan, sebelumnya ia menyuruh Arsel untuk membeli plastik dan keperluan membungkus lainnya. Setelah Arsel tahu jika Dewa ternyata orang kaya, ia sangat patuh kepada bocah itu.


"Nuna?" ucap Dewa sembari membungkus.


"Iya, mas?"


"Si kembar sedang apa? Rewel gak saat aku tinggal tadi? Atau yang rewel mamanya?" goda Dewa supaya tidak jenuh.


"Hahaha... mas jadi ingin cepat ketemu si trio kembar."


Nona mencoba beranjak dari tempat tidur. Diraihnya botol cairan infus lalu duduk disofa melihat sang suami tengah serius membungkus. Perut Nona terlihat besar tetapi ketika duduk.


Dewa mengelusnya, ia terjongkok didepan Nona. Mencoba mengobrol dengan kedua buah hatinya.


"Trio kembar, papa ingin bertemu."


Air mata Dewa mengalir seketika, ia sangat terharu karena sebentar lagi menjadi seorang ayah untuk ketiga anak sekaligus. Nona tertawa geli melihat suami bocahnya yang sangat cengeng akhir-akhir ini.


"Mas kok jadi cengeng sih? Sudah besar mau jadi ayah kok masih menangis? Mana ingusnya keluar, hahaha," ejek Nona.


"Gak tau nih, semenjak sayang hamil, mas malah gampang sedih. Efek dari bayinya mungkin, kata dokter sih gitu. Suami walau tidak hamil bisa merasakan perasaan nano-nano efek dari jabang bayi dan suami juga bisa mengidam. Aduh... Mas malah ingin makan gado-gado super pedas," ucap Dewa sambil mengelap air liurnya yang menetes.


Nona mencubit hidung Dewa, suami bocahnya membuat terkekeuh geli. Padahal Nona belum mengidam makanan selama hamil, justru sang suami yang selalu mengidam aneh-aneh.


***


Bagas sedang berada dibandara untuk pulang ke kotanya. Dia sendirian, sang istri tidak memperdulikannya yang sedang sakit bahkan malah menggugat cerai.


Sita juga tidak memperbolehkan Bagas bertemu putranya. Dia tidak mau jika putranya mengetahui penyakit yang diderita ayahnya sungguh memalukan.


Bagas


Kak Bara, bisa jemput aku di bandara?


Bara


Sudah pulang? Suruh Bayu untuk menjemputmu!


Bagas


Jika tidak mau juga tidak apa.


Bara


Tunggu! Setengah jam lagi kakak sampai disana.


Bagas menunggu sang kakak sambil melamun. Lalu lalang orang dimalam ini membuatnya tidak bisa menghilangkan kesunyian ini. Bagas sudah kehilangan semuanya anak-anaknya dan ia merasa sangat terpukul.

__ADS_1


Setengah jam kemudian.


Bara datang menjemput Bagas, mereka langsung masuk ke mobil. Bara memang sangat membenci Bagas tetapi mau bagaimana lagi? Adik tetaplah adik, tidak ada yang namanya mantan adik.


Bagas terlihat sangat lesu bahkan ia tidak sanggup untuk membuka mulut.


"Ini mau kemana?" tanya Bara sambil menyetir mobil.


"Malam ini aku menumpang di rumah kakak dulu. Besok aku mau pulang ke rumah ibu," jawab Bagas lemas.


Bara sebenarnya sangat malas tetapi melihat sang adik begitu menyedihkan membuatnya tidak tega. Deru mobil menemani kesunyian malam ini menambah suasana menjadi canggung. Bara mempercepat laju mobilnya untuk segera sampai di apartemennnya.


Sesampainya di apartemen.


Bagas langsung menarik selimut dan mencoba memilih untuk tidur di kamar Bara. Bara mengambil bantal dari kamar, ia memilih tidur di ruang tamu.


"Kakak masih membenciku?" tanya Bagas membuat langkah Bara terhenti.


"Tidak dapat dipungkiri lagi jika kakak begitu membencimu."


"Maafkan aku! Aku salah."


Bara tersenyum tipis. "Ya, baru kali ini aku mendengar ucapan maafmu. Dimana kesombonganmu yang dulu?"


Bagas mencoba untuk duduk lalu memandangi kakaknya. Bara menjadi tidak tega saat melihat wajah Bagas yang pucat. "Sudahlah sana tidur! Kakak juga lelah."


Bara melangkah menuju pintu tetapi ucapan Bagas membuatnya terhenti.


"Elara itu putri kandungku bukan putri Kak Teo."


Bara sangat terkejut, ia membalikkan badan menatap Bagas.


"Aku sangat berdosa dengan Kak Bara, mungkin ini hukum karmaku," ucap Bagas menunduk malu.


Bara yang tidak bisa mengontrol emosinya langsung naik keatas tubuh Bagas dan memukulinya. Bara sangat geram dengan tingkah laku adiknya satu ini. Bagas hanya bisa pasrah dipukuli sang kakak.


"Kakak salah apa denganmu sampai tega melakukan ini dengan kakak? Kenapa kau dan Zalina selalu membuat luka di hati kakak?" ucap Bara berapi-api.


Bara menyeret Bagas untuk menuju ke balkon apartemen. Bara yang tidak bisa mengendalikan emosinya mencoba mendorong Bagas dari balkon setinggi 50 meter itu.


"Maafkan aku, kak!"


"Maaf katamu? Dasar bedebah! Kau tidak tahu sakitnya hati kakak? Kau hanya bisa memberi luka saja," teriak Bara.


Saat berusaha mendorong Bagas, Bara malah teringat Elara. Gadis yang sudah ia rawat dari bayi seperti putrinya sendiri.


Papa, bagaimana wajah papa kandungku? Apa dia tampan? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin bercerita jika aku baik-baik saja dan sangat bahagia memiliki papa tiri seperti Papa Bara.


Tapi sekarang aku sedih karena kini aku anak yatim piatu, aku berharap jika papa kandungku masih hidup. Aku ingin memeluknya walau hanya sekali.


Bara teringat dengan ucapan Elara saat terakhir bertemu dengan Bara. Seketika itu, Bara menarik Bagas untuk menjauhi dinding pagar balkon. Bara memeluk Bagas dengan erat sambil menangis. Kini ia malah senang jika ayah kandung Elara masih hidup. Gadis malang itu bisa bertemu dengan papa kandungnya.

__ADS_1


"Aku memang belum percaya jika belum diadakan tes DNA tapi aku senang jika putriku masih memiliki ayah kandung. Aku hanya ingin Elara bahagia. Ternyata putriku adalah keponakanku sendiri," ucap Bara.


__ADS_2