Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 84 : Kaya tapi bodoh


__ADS_3

"Ada apa ini?" tanya Kakek Adhiatma mendekati kegaduhan mereka.


Dewa melirik kakeknya dan menghela nafas panjang. Dewa menceritakan jika dirinya menantang mereka bermain billiard dan menaruhkan emas sebagai taruhan. Kakek tersenyum tipis.


"Zian, bawakan koper di mobil!" pinta kakek.


"Baik, tuan."


Sambari menunggu, beliau memilih duduk di kursi sambil menghirup rokok tembakau favoritnya. Sepertinya malam ini akan menjadi tontonan menarik.


Setelah 5 menit menungu, Zian datang membawa koper hitam. Dia meletakkan di meja billiard lalu membukanya, satu koper uang dollaran berada di koper itu. Semua orang ternganga melihat uang tersebut.


"Ini adalah hadiah jika salah satu kalian menjadi pemenangnya," ucap kakek.


Bayu dan Bagas terperanjat, dengan hadiah dari Dewa mereka tidak tertarik padahal emas asli tetapi dengan hadiah dari kakek mereka sangat tertarik. Dewa memang sangat diremehkan, koper miliknya yang berada di atas meja langsung dilempar oleh Bagas ke lantai.


"Simpan itu, nak! Berikan pada anakmu untuk main pasar-pasaran," ejek Bagas.


Dewa mengepalkan tangannya, dia mengambil koper miliknya dan menutup rapat-rapat.


Orang kaya bodoh yang tidak tahu mana emas asli atau palsu. Itu pun mereka masih menghina orang. Batin Dewa.


Altaf yang baru datang membawa minuman coklat muda dalam gelas kecil tersenyum. Dia merangkul Dewa tetapi langsung ditepisnya. "Anak kecil minggirlah! Biar kakak yang bermain, lebih baik kau bermain kelereng saja," ucapnya dengan sombong.


"Altaf, suruh adikmu pulang! Ada dia mengundang lalat saja," celetuk Bayu.


Semua orang tertawa mendengarnya, kakek begitu geram melihatnya. Dia berdiri sambil berdehem. "Semua orang boleh ikut dalam permainan ini. Termasuk adik ini, sepertinya dia pandai dalam bermain billiard."


Dewa tersenyum tipis, ia maju dan mengambil koper yang berisikan uang dollaran itu. "Aku yang akan memenangkannya."


Ketiga trio laknat itu tertawa terbahak-bahak, menurut mereka yakin sekali Dewa si bocah ingusan bisa menang. Altaf, Bayu dan Bagas sangat jago bermain billiard, mereka yakin salah satu dari mereka yang akan memenangkan hadiah itu.


Permainan itu di bagi menjadi 2 tim, Tim Bara-Dewa dan Tim Altaf-Bagas. Semua orang mulai memperhatikan permainan yang akan menjadi tontonan menarik. Mereka memilih bermain 8 ball.


Masing-masing pemain sudah memegang tongkat billiard mereka.


Altaf yang memulai permainan, sebelumnya kelima belas bola sudah dibentuk menggunakan segitiga dan kini Altaf mulai menyodok bola dengan tongkatnya. Semua bola berpindah posisi secara tidak beraturan dan salah satu bola masuk.


Bara mengambil posisi, ia harus membantu Dewa untuk memenangkan ini supaya trio laknat tidak meremehkan adik iparnya lagi.


Duaaaak...


Bola nampak kocar kacir, 2 buah bola masuk sesuai prediksi Bara.


Bagas berdecih, ia mengambil posisinya. Dengan sombong dia menyodok bola yang sudah di incarnya tetapi malah tidak masuk ke lubang.


Kini giliran Dewa, ia mengambil posisi duduk dipinggir meja billiard. Matanya sangat awas untuk melihat bola yang akan dia sodok. Permainan ini cukup mudah baginya, pasalnya bola sodok adalah permainannya saat membolos ketika SMP bersama teman-teman nakalnya. Mereka membolos hanya karena ingin bertaruhan seperti berjudi.

__ADS_1


Setengah jam kemudian.


Wajah Altaf dan Bagas sangat kesal karena mereka di kalahkan oleh tim Bara dan Dewa. Kakek tersenyum dan menyerahkan uang itu langsung kepada mereka berdua.


Semua orang bertepuk tangan tetapi tidak dengan trio laknat, mereka langsung memilih pergi dari tempat itu.


"Kak Bara kita menang, asyikkkk...."


Bara tersenyum sambil menepuk bahu Dewa. "Bawa pulang dan berikan pada Nona!"


"Kita bagi dua dulu, ya?"


Bara menaikan alisnya. "Kau dan Nona jauh lebih membutuhkan. Oh ya kakak kembali ke kamar dulu. Sarah sudah menunggu."


Bara berpamitan keluar dari ruangan itu meninggalkan sorakan untuk kemenangan mereka. Bara sudah banyak uang dan dia juga tidak menginginkan uang itu. Tetapi saat baru keluar, Dewa memanggilnya.


"Kak, uang ini harus di bagi 2. Kita 'kan bermain bersama-sama."


"Berikan pada Nona! Itu hadiah untukmu," jawab Bara.


"Tapi kak..."


"Kalian lebih butuh uangnya. Yasudah, kakak terburu-buru. Nanti pacar kakak mengoceh."


Dewa memandang punggung Bara yang berjalan meninggalkannya. Bara selama ini sangat baik kepada Dewa bahkan sebelum menikahi Nona yang malang.


Ketika Dewa akan membalikkan badan, ia terkejut melihat Zian di belakangnya. Dewa refleks memukul bahu Zian karena saking terkejutnya.


"Bikin kaget saja. Sudahlah, dua koper ini bawa pulang lagi. Aku tidak butuh," ucap Dewa menyerahkan koper berisi uang dan emas.


"Tapi kakek anda sudah memberikan kepada anda."


"Tidak perlu! Aku punya uang dari hasil bekerjaku sendiri," jawab Dewa sambil mengupil tidak jelas. "Sudah sana nanti ada orang yang melihat kita."


Dewa berjalan meninggalkan Zian yang menunduk hormat kepadanya. Dia tidak membutuhkan uang dari kakeknya karena ia bisa mencari uang sendiri sampai sukses. Dia terpaksa sombong di depan kakak iparnya karena cukup kesal selalu mengalah.


Hahahaha... Hari ini aku sudah membuat mereka ternganga walau tidak percaya. Jepit 50 juta, emas batangan di kiranya barang palsu. Dasar orang kaya bodoh! Mulutnya saja yang sombong tapi pemikirannya masih miskin. Batin Dewa merasa puas.


Tetapi saat sudah naik ke lift, Altaf dan Bagas ikut naik. Mereka seolah ingin membuat perhitungan dengan Dewa karena sudah membuat mereka malu karena kalah dari bocah.


"Suka sekali kalian mengganggu anak kecil?" tanya Dewa.


BUAAAAAK...


Perut Dewa di pukul oleh Bagas sedangkan Altaf memegangi badan Dewa supaya tidak memberontak.


BUAAAAK...

__ADS_1


BUAAAAAK...


Pukulan bertubi-tubi dari Bagas, Dewa sangat kesakitan. Setelah puas memukuli Dewa, Altaf melepasnya dan Dewa seketika tersungkur dilantai. Bagas menjambak rambut Dewa lalu membisikkan sesuatu padanya. "Awas jika kau sombong lagi didepan semua orang seperti tadi. Semua orang tidak akan mempercayaimu karena orang miskin sepertimu akan melakukan hal tak masuk akal untuk terlihat menjadi kaya," ucap Bagas.


"Nona pasti malu melihatmu seperti tadi. Suami bocahnya sok kaya," sambung Altaf.


"Hahahaha... Kita lihat siapa yang akan kalah. Kalian pasti akan menyesali ucapan kalian sendiri," ejek Dewa.


BUAAAK


Altaf menendang Dewa. Dia sangat kesal dengan bocah songong itu. Bagas langsung menarik Altaf untuk keluar sebelum ada orang yang melihat mereka.


Aku hanya menunggu waktu yang pas untuk membuat mereka bersujud di kaki ku. Meminta maaf kepadaku dan Nona. Lihat saja! Aku tidak akan mengalah seperti ini saja. Batin Dewa sambil bangkit.


Perutnya terasa nyeri saat mendapat pukulan dari mereka. Dia menekan tombol lift lalu menunggu sampai di lantai yang terdapat kamar sewaan mereka.


Setelah sampai di kamar hotel, Dewa membuka pintu dan melihat Nona yang terbangun membuat Dewa berakting seolah baik-baik saja padahal perutnya sangat sakit.


"Mas dari mana?" tanya Nona sambil mengemil makanan.


"Mas tadi kumpul sama kakak-kakak ipar."


"Tumben?" tanya Nona heran. "Eh... Mas Dewa kok seperti kesakitan?" sambung Nona.


"Mas Dewa lapar banget sayang," jawab Dewa sambil mengusap perutnya seolah memang benar lapar.


Nona tersenyum lalu menelpon pelayan untuk membawakan mereka makanan ke kamarnya.


Disisi lain, di kamar yang di sewa Sarah.


"Aduh om... pelan dong! Sakit... Aaaww... sakitlah om! Pelan dong om!"


Bara hanya menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya mempunyai pacar bocah alay seperti Sarah.


"Aaaaah... Duh.... sakiiiit..... Cepat! Sakit sekali!"


"Sarah ini sudah pelan," ucap Bara.


"Aku laporkan pada papaku," ancam Sarah.


"Eh... Jangan dong! Dia 'kan tidak tahu jika kita pacaran. Kalau dia tahu kau menyewa kamar dan aku berada didalam bersamamu bisa-bisa om di gantung oleh Dani."


"Aaaaah... sakit... sungguh menyakitkan. Om Bara main kasar... Aduh...."


Plaaaak...


Bara yang kesal memukul kaki Sarah yang terkilir. Bara berusaha memijatnya tetapi bocah itu tidak bisa diam.

__ADS_1


"Aaaaah... Om... sakit dong om! Gak niat Om Bara memijatnya," rengek Sarah semakin menjadi-jadi.


__ADS_2