
Nona dan Dewa menundukkan kepala pada Sean, ayah si Navier. Mereka meminta maaf karena sempat menggunakan helikopternya sampai terjadi insiden itu. Sean tidak masalah tetapi Navier yang bermasalah.
"Papa, bibirku terkontaminasi oleh bibir Dewa. Lihatlah bibirku! Jijik sekali," ucap Navier mengadu papanya.
Sean terkejut lalu memegang kepala Dewa lalu melihat seksama pada wajah Dewa. "Kau tidak apa-apa, Nak? Jika setelah ini mengalami mual, muntah dan pusing segera hubungi paman!" ucap Sean kepada Dewa.
"Ishhh... Parah sekali papa ini lebih membela orang lain."
Sean malah tertuju pada wajah Nona, Nona tersenyum manis dan menunduk hormat pada Arsean William. Orang terkaya nomor 1 di kotanya.
"Dia istri saya, paman," ucap Dewa.
"Wah... Kau harus contoh temanmu ini! Dia mendapat wanita cantik," jawab Sean.
"Ingat istri, pah! Nanti ditinggal mama menangis berderai air mata lalu berguling-guling dijalanan," sindir Navier.
Sean menjewer putra lemesnya itu, Navier kesakitan dan memohon ampun sedangkan Dewa dan Nona tersenyum kecil.
"Maaf, anak ini mulutnya tidak bisa di rem," ucap Sean merasa malu.
Mama Navier yaitu Mauren mengajak mereka untuk makan malam. Dewa menolak tetapi Nona langsung mau. Baru kali ini ia ke rumah mewah milik keluarga Adinata itu.
"Maaf tante, kami mau makan di rumah saja," ucap Dewa.
"Ayo tante, kami mau," ucap Nona lalu ia melirik Dewa. "Sayang, tidak baik menolak rezeki. Benar 'kan?" tanya Nona.
Mauren langsung merangkul Nona untuk diajak masuk. Dewa menggeleng-gelengkan kepala melihat sifat Nona. Nona sangat takjub saat melihat penthouse milik orang terkaya itu. Apartemen tertinggi di kotanya benar-benar mewah. Nona menjadi ingin memiliki apartemen seperti itu.
Makanan rupanya sudah siap, mereka duduk di depan meja makan. Semua anggota keluarga berkumpul termasuk cucu Sean.
"Maaf merepotkan," ucap Dewa merasa tidak enak.
"Tak masalah. Kami malah senang jika kau mau makan bersama kami," ucap Mauren ramah.
Nona makan begitu lahap, ia menikmati makanan itu. Entah mengapa Dewa sangat malu dengan tingkah Nona, sedari tadi Dewa menunduk.
"Makanannya enak sekali, tante," ucap Nona.
"Benarkah? Tante yang masak."
__ADS_1
Nona menambah lagi setelah menghabiskan satu piring, Dewa menyenggol kaki Nona tetapi dia tidak merespon.
"Nambah lagi, jangan malu-malu!" ucap Mauren.
Nona tersenyum senang, ia mengambil semua lauk yang menurutnya enak. Dewa merasa tidak enak pada keluarga itu. Menurutnya, Nona sangat tidak sopan.
Dewa berdiri, ia menarik tangan Nona untuk pulang ke apartemennya.
"Ehmm.. Maaf, kami harus pulang. Terima kasih untuk makan malamnya," ucap Dewa.
"Loh, istrinya belum selesai makan kok," ucap Mauren.
"Iya, aku belum selesai makan, mas."
Dewa menundukkan kepala lalu tetap membawa Nona keluar. Sebelumnya ia berterima kasih lagi karena sudah diajak makan malam. Dewa yang sudah terlanjur malu tidak menyadari jika ia menggenggam tangan Nona terlalu erat membuat sang istri kesakitan.
"Lepasin, mas!" ucap Nona menepis tangan Dewa setelah berada diluar.
Dewa mengusap wajahnya kasar. Dia memandang Nona cukup kesal. "Bisa tidak jangan membuat aku malu?"
Nona terkejut mendengar ucapan Dewa. Dia menampar pipi sang suami. "Apa maksudmu? Membuatmu malu?" tanya Nona.
Nona berdecih, ia memandang wajah Dewa dengan tajam. "Kau tidak ingat saat awal pernikahan kita, kau membuatku malu setengah mati tetapi aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Kenapa kau seperti ini Dewa, oh bukan, tapi Tuan Nagara?"
Nona berjalan tanpa menunggu jawaban dari Dewa. Sepertinya ucapan Dewa membuatnya kecewa. Dewa yang sadar langsung meminta maaf tetapi Nona tidak memperdulikannya.
"Nuna, aku hanya tidak enak dengan temanku. Maafkan, aku!" teriak Dewa.
Nona terhenti dari langkahnya. Dewa langsung memeluknya dari belakang. "Maafkan, mas! Mas yang salah."
Nona membalikkan badan, ia memandangi wajah Dewa yang sangat sedih. "Maafin Nuna juga, Nuna tidak sadar melakukan itu."
Mereka berpelukan saling mengakui kesalahannya. Dewa tidak ingin berlama-lama marah pada Nona dan begitu pula sebaliknya. Saat bersamaan, Bara menelpon Nona untuk meminta bertemu. Bara mengajak di cafe biasanya mereka berjumpa. Dewa tidak membiarkan Nona menemui Bara sendirian.
...****************...
Suasana cafe nampak ramai, suara musik mengalun indah. Lampu kerlap-kerlip menemani malam ini. Seorang duda tampan tengah duduk sendirian sambil menikmati minuman yang sudah ia pesan.
"Kak Bara, sudah lama menunggu?" tanya Nona datang bersama Dewa.
__ADS_1
"Baru 10 menit yang lalu," jawab Bara, ia memberikan sertifikat tanah dan rumah milik Nona.
Nona memandangi wajah Bara yang nampak begitu serius. Bara menghela nafas panjang melihat adik tirinya yang sangat penurut.
"Untuk apa memberikan semua ini untuk ibu? Itu sudah jatahmu. Itu milikmu," ucap Bara.
Nona mendorong surat itu tepat pada depan Bara. "Untuk apa aku mempunyai semua ini jika kalian membenciku?"
"Setidaknya pertahankan milikmu! Jika rumahmu kau berikan pada ibu, kalian mau tinggal dimana?"
Nona tersenyum kecil. "Aku sudah mempertahankan apa yang harus aku pertahankan," ucap Nona sambil menatap Dewa. "Aku sudah ikhlas memberikannya pada ibu karena itu haknya. Aku hanya anak dari seorang simpanan bahkan aku sangat malu pada diriku sendiri."
Bara semakin bingung dengan pemikiran Nona, Kenapa Nona jadi seperti ini? Nona bukan seperti dulu yang sangat keras dan selalu mempertahankan miliknya.
"Kakak sudah memarahi ibu, yang jelas ini semua milikmu. Mereka termasuk kakak sudah mendapatkan bagian masing-masing."
Bara berdiri untuk segera pulang tetapi ia melirik Dewa terlebih dahulu. Bara mulai mencurigai Dewa yang memiliki gelagat aneh.
"Dewa, Aku suka kau baik dengan Nona tetapi lambat laun kenapa Nona bisa berubah sifat menjadi lembek seperti ini?Aku tahu kau orang yang polos tetapi jangan membuat Nona jadi polos juga!" ucap Bara.
"Maaf, kak. Aku tidak tahu apa-apa."
Bara lalu mengeluarkan sejumlah foto pada Dewa lalu memperlihatkan pada bocah itu. "Apa hubunganmu dengan Kakek Adhiatma? Kau cucunya? Huh... tetapi Kakek Adhiatma hanya mempunyai satu cucu yaitu Nagara yang kini tinggal di Amerika," ucap Bara sambil memperlihatkan foto seseorang yang mirip dengan Dewa tengah berfoto di depan boneka salju.
"Apa kalian kembar?" tanya Bara.
"Kak Bara tidak tahu jika kita memiliki 7 kembaran di dunia ini? Kami hanya mirip tetapi kami tidak saling mengenal," jawab Dewa masih santai.
Nona menengahi pembicaraan mereka. Bara yang sadar akan emosinya yang naik segera menurunkannya. "Maaf, Dewa. Kakak tidak bermaksud demikian."
"Tidak apa-apa, kak. Aku juga meminta maaf."
"Kak Bara, ku dengar kau akan segera menikahi Sarah?" tanya Nona.
"Iya secepatnya."
"Apakah itu tidak terlalu aneh? Kakak menikahi anak tiri Alisa yang notabenya adik tiri kak Bara sendiri?" tanya Nona.
"Alisa hanya adik tiriku dan pastinya sah saja aku menikahi anak tirinya. Doakan kakak supaya Dani bisa merestuiku menikahi putrinya."
__ADS_1
*****