Nona Menikahi Bocah

Nona Menikahi Bocah
Bab 75 : Wiratmaja yang aneh


__ADS_3

Dewa bekerja seperti biasanya, dia begitu rajin dan cepat menguasai hal baru. Pak Amri tetapi masih tetap mengawasi bocah baru lulus SMA itu. Dewa memang orang yang ramah dan pandai bergaul. Sampai suatu saat salah satu teman timmya menyuruh mengambilkan air minum yang berada di sebelah kantor manajer.


Air minum karyawan berada di dispenser galon dekat ruangan manajer. Dewa harus mengambil disana seperti biasanya.


Dewa mengambil 2 gelas, ia mengisi air dingin pada gelas masing-masing. Setelah semuanya terisi, ia keluar dari ruangan itu tetapi saat akan keluar dia menabrak sang manajer dan membuat celana manajer basah.


"Punya mata atau tidak?" bentak manajer sambil mengelap celananya.


Dewa mengambil sapu tangannya tetapi ditolak oleh manajer sombong tersebut. Manajer itu terus mengoceh, Dewa berusaha meminta maaf tetapi ia ditarik oleh sang manajer ke ruangannya.


Dewa di tampar, ia begitu terkejut. Sang manajer lalu menyiram baju Dewa dengan air putih.


"Pak, anda sudah melakukan kekerasan kepada karyawan sendiri," ucap Dewa.


"Persetan! Kau sudah membuat celana saya kotor padahal sebentar lagi akan ada meeting."


Sekertaris dari manajer datang, ia menenangkan sang kekasih gelapnya. Dia melirik Dewa yang ikut basah kuyup dan hanya menunduk.


"Kau boleh keluar," ucap sekertaris tersebut.


Dewa menundukkan kepala, ia keluar dari ruangan dengan pipi yang nyeri dan baju yang basah. Semua pegawai memandangnya tetapi tidak berani bertanya pasalnya Dewa sehabis keluar dari ruangan manajer.


Kenapa orang baik sangat jarang sekali ditemukan? Kenapa lebih banyak orang-orang yang semena-mena dibanding orang yang adil?


Dewa berjalan menuju ke timnya, semua teman setim terkejut melihat penampilan Dewa terutama Pak Amri.


"Ada apa, Dewa?" tanya Pak Amri.


Dewa hanya tersenyum, ia menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya saat dirinya mengambil air putih. Pak Amri menyuruh Dewa mengeringkan bajunya sebelum masuk angin. Dewa tidak mau dan malah kembali bekerja.


Pak Amri mendekatinya, ia melihat pipi Dewa yang memerah.


"Pak Kokom yang melakukan ini?" tanya Pak Amri.


"Iya, pak. Tidak masalah."

__ADS_1


Pak Amri yang geram dengan sikap atasannya yang semena-mena lalu mengajak Dewa ke ruang HRD. Ini adalah kasus penganiyaan terhadap karyawan apalagi karyawan baru. Kejadian ini memang berulang kali terjadi tetapi bukan anggota tim Pak Amri tetapi kali ini anggota tim Pak Amri yang menjadi korban, beliau tentu saja tidak tinggal diam.


Setelah masuk di ruang HRD, semua diceritakan oleh Dewa dan tidak lupa memanggil Pak Kokom, di manajer yang arogan dan semena-mena. Tentu saja Pak Kokom mengelak semua itu dan sialnya diruang manajer tidak ada CCTV dan tidak ada saksi.


Bahkan sekertaris Pak Kokom mengatakan jika Dewa terpeleset di ruang manajer dan terbentur sudut meja menyebabkan pipi Dewa bengkak.


Dewa hanya tersenyum kecut, ia berdiri dan meminta maaf atas tuduhan palsu sehingga dirinya mendapat surat peringatan pertama dari pihak HRD. Dewa keluar dari ruangan itu dengan diikuti Pak Amri yang berusaha mengejar Dewa.


"Dewa, kenapa kau mengalah seperti itu? Harusnya kau mengatakan hal sebenarnya."


Dewa terhenti. "Saya 'kan sudah mengatakan hal sebenarnya. Saya tidak ingin melibatkan Pak Amri yang begitu baik dengan saya, saya tahu jika Pak Kokom bisa saja memecat bapak atas masalah ini karena membela saya. Biarkan saya yang berkorban saja."


Pak Amri menggeleng-gelengkan kepala melihat sifat Dewa yang jauh lebih dewasa dan selalu mengalah. Dewa mengingatkan kepada putranya yang sedang merantau di pulau seberang.


"Dewa, kapan-kapan main ke tempat bapak! Sekalian bawa istrimu. Kita makan bersama," ucap Pak Amri.


Dewa tersenyum, ia menganggukkan kepala.


***


Dia memakai helm, tetapi tiba-tiba sekertaris pak Kokom menghampirinya. Dia seumuran dengan Nona dan sangat cantik dengan wajah lokalnya.


"Mas, bisa bicara sebentar?" tanya Reni.


Dewa menengok kearah wanita berambut panjang itu. Reni tersenyum manis kepada Dewa. Reni menengok kesana kemari seperti takut jika ada yang melihatnya. Setelah situasi cukup aman, Reni mendekati Dewa.


"Mas sudah diincar sama Pak Kokom, apalagi mas sempat melihat kami waktu itu di kantor sedang..."


"Itu bukan urusan saya, mbak. Yang nanggung dosa 'kan kalian sendiri," ucap Dewa mulai naik diatas motornya.


"Aku hanya memperingatkanmu saja karena Pak Kokom sudah menandaimu sebagai pegawai yang harus disingkirkan."


Dewa menaikkan alisnya, ia tersenyum tipis. "Tapi mbak kok malah bilang ke saya?" tanya Dewa heran.


Reni memainkan jemarinya, nampak kesedihan tergambar di sorot matanya. Sepertinya Reni adalah orang yang baik, mungkin ada suatu hal yang membuat Reni mau melakukan itu kepada sang manajer.

__ADS_1


"Ya sudah, mas. Aku hanya ingin bilang begitu. Lain kali hati-hati dan jangan sering lewat kantor manajer," ucap Reni langsung meninggalkan Dewa.


Dewa hanya heran, ia tidak memikirkan semua itu. Dia melajukan motornya menuju rumah Bara untuk menjemput Nona. Perjalanan sedikit tersendat karena keramaian para pekerja yang pulang ke rumah masing-masing. Dewa sangat nyaman sekali hidup seperti ini. Sebagai orang biasa yang menikmati kerasnya hidup. Jika ada uang pasti akan dipuja-puja, jika tidak ada uang pasti akan terhina-hina.


Setelah sampai di rumah Bara, ia memarkirkan motor. Di halaman Bara terdapat bapaknya yang sedang mencabuti rumput yang mulai tumbuh liar. Dewa menghampirinya.


"Pak..."


"Oh, sudah pulang?" tanya Bapak yang sedang berjongkok dan kepalanya mendongak kearah Dewa.


"Besok aku dan Nona mau main ke rumah, Ibu suruh masak yang enak nanti aku ganti uangnya," ucap Dewa.


"Beres...," ucap bapak sambil mengacungkan jempol.


Ketika akan melangkah menuju arah rumah tiba-tiba bapak menarik tangan Dewa. Bapak membisikkan sesuatu yang membuat Dewa terkejut.


"Kau tahu, Dewa? Tuan Bara baru ditinggal meninggal sudah ada gandengan baru?" ucap bapak. Dia sudah biasa menggosip.


"Apa sih, pak? Biarkan saja, toh sudah menduda. Bapak iri ya,?" ucap Dewa.


"Ishhh... masalahnya bukan seperti itu. Kau tahu pacar Tuan Bara siapa?"


Dewa menggelengkan kepala tidak niat, seolah tidak peduli.


"Mantan pacarmu. Sarah."


Dewa melotot memandangi bapaknya. Sarah? Yang selama ini menempel pada Bara ternyata memiliki hubungan khusus? Sarah tidak memiliki selera om-om, pasti ada udang di balik batu.


"Mungkin bapak salah dengar," tepis Dewa.


"Tidak, bahkan Tuan Bara sudah berani mesra-mesraan dirumah ini padahal baru kemarin menyelesaikan pengajian malam untuk Nyonya Zalina. Tapi Elara belum tahu jika tahu pasti akan ada perang besar," ucap bapak.


Dewa masih tidak percaya, padahal Bara adalah teman dekat papanya Sarah dan Sarah adalah teman dari anak Bara. Kenapa dunia sekarang semakin sempit saja?


"Keluarga Wiratmaja itu tidak ada yang benar, kau harus hati-hati Dewa! Apalagi dengan Nona," sambung bapak.

__ADS_1


Dewa malah teringat surat berbahasa Inggris milik Nona, setelah dia tahu artinya cukup membuat Dewa terkejut.


__ADS_2