
AWAS!!! ADEGAN PANAS!!!!
"Sarah, bentar lagi mau keluar."
"Yasudah, Om Bara main saja sendiri," ucap Sarah sambil menuju ke kamar mandi.
Bara tak hanya tinggal diam, ia mengejar Sarah lalu menggendongnya ke ranjang. Sarah memberontak tetapi Bara tetap kekeuh membawanya ke ranjang.
"Ini malam pertama, jangan ditunda! Mas ingin cepat punya anak."
Setelah sampai ranjang, Bara menciumi leher Sarah. Gadis itu hanya bisa pasrah mendapat perlakuan dari Bara yang menunjukan sisi nafsunya. Sudah setahun Bara berpuasa melawan hawa nafsu dan kini ia bisa merasakannya lagi bersama istri mudanya.
Gairahnya menggebu-gebu menumpahkan hasrat yang selama ini terpendam.
Hidung mancung Bara menyelinap ke seluruh tubuh gadis yang masih merengkuh menolak tetapi perlahan Sarah ikut menikmatinya.
"Hhhhh...." Desahan demi desahan terdengar. Bara semakin menjadi-jadi.
"Om Bara mesum."
Bara tertawa kecil, ia menindih tubuh Sarah lalu memasukkan pedangnya dengan perlahan.
"Aaaah...." Sarah berteriak.
"Belum masuk, Sar," ucap Bara terheran.
Bara mencoba memasukkannya.
"Uuuuuuuh..."
"Belum juga dimasukin," ucap Bara.
Sarah berdecih, lalu melihat alat kelamin milik suaminya.
Bentuknya menggelikan...
Bara mencoba mencoba memasukkannya lagi dan... "Aaaaah.... Hauuuuup...."
Ketika Sarah berteriak, Bara malah memasukkan ularnya pada mulut Sarah. Mata Sarah terbelalak, ia melihat wajah Bara yang sangat puas.
Sarah tak bisa berkutik, Bara menyuruh untuk memainkannya.
"Ehhhmm... ehmmm... ehmmm...."
Bara mengusap rambut Sarah yang menutupi sebagian wajahnya. Sarah melepeh dengan cepat membuat Bara kecewa. Tak menyerah, Bara langsung menggigit bibir Sarah, mereka langsung beradu lidah menikmati setiap gerakan lidah yang nampak liar.
Tubuh mereka yang tanpa sehelai benang menambah cita rasa sendiri.
Gumpalan lemak milik Sarah tak luput dari genggaman tangan nakal Bara.
Ketika lidah saling menyesap, tangan nakal yang tidak bisa diam membuat Sarah semakin pasrah dibuatnya.
"Hhhhhh...."
__ADS_1
Ketika mereka melepas ciuman karena kehabisan nafas. Jemari Bara mulai memasuki lubang surga yang masih nampak basah. Sarah mendesah kuat dan semakin kuat ketika Bara memasukkan satu jarinya.
"S--sakit..."
Bara mengernyit, ia lupa jika kukunya panjang. Tak berselang lama, ia memasukkan sang ular miliknya yang sedari tadi masih menegang.
Perlahan ia masukkan dengan posisi Sarah yang berada dibawah. Padahal Bara sangat ingin posisi anjing panas yang sedang hohohihe.
"Oooooooh....." Sarah berteriak saat barang milik suaminya menusuknya perlahan.
"Awwwww... S---ssakit...."
Bara memompa tubuh Sarah sampai gadis itu kehilangan kendali. Genjotan demi genjotan dirasakan sampai membuatnya hilang kepalang. Tangan Sarah bergelayut manja pada leher sang suami.
"Enak?" tanya Bara.
"He um."
"Mas, percepat ya?"
Sarah mengangguk. Gerakan Bara semakin cepat, maju dan mundur ia lakukan demi mendapat posisi klimaks diantara mereka.
Rasanya memang jauh berbeda saat bermain dengan perawan seperti Sarah tapi saat mereka menguasai permainan tiba-tiba Bara terhenti karena mengingat Elara.
"Kenapa sayang?" tanya Sarah.
"Mas teringat Elara. Dia belum tahu pernikahan kita."
Bara mengangguk, mereka melanjutkan adegan panas yang sungguh-sungguh sangat panas. Bara yang sangat tampan membuat Sarah sangat bersemangat memandanginya.
"Ahh... ah...."
"Siapa yang mengajari mu mendesah?" tanya Bara.
"Refleks om... Om enak ya dapat perawan sedangkan aku dapat bekas."
Bara menghentikan aktivitasnya. "Dari awal 'kan kau yang memilih bahkan sampai berpura-pura hamil supaya mas bisa menikahimu."
"Hemmm... Andai saja waktu itu aku berpura-pura hamil saat berpacaran dengan Dewa pasti sekarang...."
Ucapan Sarah terhenti saat Bara memelototinya. Nafsu Bara mendadak hilang saat Sarah menyebut nama Dewa di depannya.
"Bahkan saat kita kawin pun kau masih menyebut namanya di depan mas. Sungguh tega! Apa dia sekarang jauh lebih kaya dari mas sehingga kau menyesal menikah dengan mas?"
Sarah merasa kelu, ia menarik tangan Bara yang berusaha bangun dari tubuhnya tetapi Bara menepisnya. Sorot mata Bara tak main-main, Sarah memeluknya sambil meminta maaf.
"Jika kau masih cinta dengannya lebih baik kejar saja dia sekarang! Sepertinya mas memang hanya sebagai pelarian."
"Enggak om Bara. Maafin aku! Aku cinta sama om Bara."
Bara tidak memperdulikan Sarah. Dia memakai bajunya lalu memutuskan untuk keluar dari kamar hotel yang ia sewa. Sarah hanya bisa melihat kepergian suaminya yang membanting pintu dengan kuat.
Sementara itu.
__ADS_1
"Huaaaaaachoooooo...."
Dewa bersin tiga kali, ia mengusap hidungnya.
"Orang dulu bilang jika bersin tiga kali maka ada orang yang sedang membicarakanmu," ucap Navier sambil melihat kartu remi nya.
Dewa yang duduk seperti sinden mengeluarkan kartu mautnya membuat Navier kalah.
"Cih..." Decihan dari Navier, sahabat gaib, eh... sahabat karib Dewa mengakhiri permainan itu.
Dewa meluruskan kakinya lalu memandang langit hitam dari balkon apartemen mewah milik Navier. Beberapa hari lagi kehidupannya akan berubah menjadi berwarna karena kehadiran ketiga putranya.
"Aku mau kasih saran nama. Jumadi, Julkifli sama Julkoni, itu nama yang keren," ucap Navier.
Dewa mencubit paha Navier membuat presdir kaya raya itu mengeluh sambil berteriak melapor pada mamanya. "Maaaaa... Dewa nakal."
"Huh... memangnya Kak Navi saja yang bisa melapor. Ku laporkan pada istriku baru tahu rasa."
Navier memeluk Dewa dari samping membuat ia memohon ampun sebab terakhir kali Nona menyiramnya dengan air dingin karena mereka berisik di apartemennya.
"Eitts... Jangan dong! Ibu hamil lebih ganas dari pada emak-emak tua," jawab Navier.
Dewa mendorong Navier lalu memandang lekat teman baiknya yang kaya raya itu. Sempat berpikir jika Navier itu orang sombong tetapi justru sebaliknya. Navier memperlakukannya dengan baik.
"Kak, aku mau bicara jujur. Jika aku bukan aku sebenarnya bagaimana?" tanya Dewa.
"Maksudmu kau adalah ultraman yang menyamar begitu?"
Dewa berdecih, ia menghela nafas mencari kosakata yang tepat untuk menjelaskan kepada sahabat karibnya. Navier mencoba mendengarkan sambil mengorek telinganya.
"Aku bukan Dewa, melainkan Nagara Bimasena. Dewa Arga adalah saudara kembarku yang sudah meninggal."
"Aku sudah tahu. Lalu?"
Dewa terkejut melihat raut wajah Navier yang biasa saja. "Kau tidak kecewa?"
"Untuk apa kecewa? Selama ini kau adalah orang yang ku kenal. Entah menyamar atau tidak yang jelas kau adalah Dewa yang selama ini berteman denganku."
Jawaban dari temannya membuat Dewa terharu. Satu persatu memang ia harus jujur kepada teman terdekatnya. Dia tidak ingin membohongi lebih lama lagi.
Saat bersamaan, ponsel miliknya berbunyi. Sang istri menelpon untuk menyuruhnya pulang. Dewa berpamitan kepada Navier dan langsung menuju apartemennya.
Kakinya melangkah masuk ke lift, tak lupa menekan tombol lantai tempat apartemennya berada.
Setelah sampai, ia melihat Nona berada di kamar menatapnya seolah ingin menerkam.
"Hehehe... Mas 'kan tadi sudah bilang jika mau ke tempatnya Navier."
"Kak Bara tadi menelpon. Gara-gara Mas Dewa, dia bertengkar sama Sarah?"
Dewa terheran, ia mendekati sang istri sambil bertanya-tanya bahkan ia tidak tahu apa-apa tentang pengantin baru itu.
"Kak Bara cemburu dengan Mas Dewa karena Sarah terus saja membicarakan Mas Dewa didepannya," jelas Nona.
__ADS_1