
Berkah selalu buat pembaca, mohon dukungannya. Terimakasih......
...Happy reading...
...🍁...
...🍁...
...🍁...
...🍁...
...🍁...
Chapter selanjutnya
Dimalam hari yang begitu dingin, bulan yang bersinar dengan terang yang terpantul indah diatas permukaan danau pelangi, sehingga menimbulakn sinar terang berwarna biru yang begitu cantik.
Lisia yang sedang menginap dirumah Nevan, tidur bersama Nox dan Elis dikamar orang tua mereka, dimana Lisia berada ditengah tengah Nox dan Elis.
“Kak Lisia! ” panggil Nox.
“Iya, ada apa Nox, ” tanya Lisia sambil melihat Nox.
“Saat kita makan malam tadi, kakak bilang ada sebuah rahasia yang ingin kakak katakan lada Nox. Rahasia apa itu? ”tanya Nox.
“Oh itu, begini,,... ”mendekati telinga Nox. “Nevan meminta kak untuk sering datang kerumah kalian menggunakan baju milik ibu kalian, dan malahan Nevan menawarkan untuk memakai semua bajunya” ucap Lisia dengan suara pelan ditelinga Nox, kemudian tersenyum manis dekat Nox.
“Kalian bicara apa sih, Elis juga mau dengar” ucap Elis sambil bangun dengan ekspresi gambek melihat Nox dan Elis.
Melihat Elis yang juga penasaran akan pembicaraan tadi, Lisia mulai membisikan hal yang sama ketelinganya Elis. Seketika Elis kaget dan merasa tidak percaya, “Benarkah kak Nevan mengatakan itu? ” tanya Elis.
”Shtttt, ini menjadi rahasia kita. Kalian jangan memberi tahukannya pada Nevan ya! Janji! ” ucap Lisia sambil mengeluarkan jari kelingkingnya.
“Janji” ucap serentak Nox dan Elis yang juga mengeluarkan jari kelingking mereka dan mendekatkan kejari kelingking Lisia.
“Ya sudah kalian tidur sekarang” ucap Lisia, dimana Nox dan Elis mulai tidur dipelukan Lisia.
“Hangat sekali” ucap Elis yang memeluk Lisia begitu erat.
“Iya benar sekali ” ucap Nox.
Nox dan Elis tambah lekat dengan Lisia bagaikan lem karna Lisia memakai baju milik ibu mereka, sehingga mengingat Nox dan Elis jika Lisia adalah ibunya.
🍃🍃🍃🍃🍃
Disisi lain, dikuil dewi. Oliver yang selalu berkunjung kekuil dewi setiap malam hanya untuk bertemu dengan Lisia saja, namun Oliver kurang beruntung karna Lisia saat ini ada dirumah Nevan dan sedang tidur disana.
“Lisia sedang apa ya sekarang? ” ucap Oliver sambil membawa karangan bunga mawar menuju kekamar milik Lisia, dengan perasaan senang dan gembira sekali.
__ADS_1
Sesampainya Oliver didepan kamar Lisia, Oliver mencium terlebih dahulu bunga yang ia bawa lalu segera mengetuk pintu kamar Lisia.
Tok,,.. Tok,,.. Tok,,..
Tak terdengar suara jawaban dari dalam kamar, Oliver kembali mengentuk pintu kamar Lisia.
Tok,,.. Tok,,.. Tok,,..
“Lisia, ini saya Oliver. Apa anda ada didalam?”tanya Oliver. “Apa Lisia sudah tidur ya? ” tanya Oliver kembali
Setelah menunggu lama dan tidak mendengar jawaban dari Lisia, datang lah seorang pendeta yang baru selesai berdoa dan berpapasaran dengan Oliver yang masih menunggu.
“Kepala desa! ” panggil pendeta tersebut.
Oliver langsung kaget dan segera menyembuhkan karangan bunga dengan sihir miliknya seolah olah menghilang.
“Apa yang anda lakukan disini kepala desa? ”tanya pendeta itu lagi.
“Saya hanya ingin bertemu dengan Li,,.. Maksud saya Dewi. Untuk memberitahukan acara pembangkitan sihir” ucap Oliver.
“Ternyata begitu, tapi dewi sedang tidak ada dikuil dewi sekarang ” ucap pendeta tersebut.
“Apa?!, tidak ada! ” kaget. Memangnya dewi pergi kemana? ”tanya Oliver.
“Itu,,... ” ragu ragu untuk mengatakan yang sebenarnya karna sudah mendapat peringatan dari Lisia sebelumnya.
Flashblack mengingat.
Lisia terkejut, “Saya mau kerumah Nevan, apa ada masalah? ” tanya Lisia dengan nada ketusnya.
“Tidak, saya tidak keberadaan sama sekali. Anda boleh pergi kemana pun yang anda mau, saya tidak berhak melarang” ucap pendeta tersebut dengan ekspresi panik karna dia merupakan salah satu orang yang bersama dengan pendeta Fergus saat Oliver menghina Nevan dichapter 53 :Lisia yang Marah.
“Bagus kalau begitu, jika ada orang yang datang mencari saya, bilang saja saya kembali kekuil dewi hutan dan akan pulang besok” ucap Lisia.
“Baik, baik dewi” ucap pendeta tersebut dengan gagap.
Lalu Lisia segera pergi menuju kerumah Nevan dengan hati yang gembira sekali.
Flashblack selesai
“Dewi,,.. Dewi bilang jika beliau kembali kehutan Forrest dan akan pulang besok, katanya ada hal penting yang harus dilakukan”ucap pendeta tersebut.
“.. (Apa Lisia masih dirumah Nevan saat ini, karna sore tadi aku bertemu dengan Lisia untuk menyampaikan pesan si kuning menyebalkan itu ( Adelio), bahwa dia akan menjemput Lisia untuk menyelesaikan masalah pesta dansa waktu itu) ” ucap Oliver dalam hati.
“.. (Besar kemungkinan, jika Lisia belum pulang atau tinggal disana malam ini?. Sial, siluman kelinci sialan itu selalu saja menghalangiku) ”ucap Oliver dengan kesalnya.
“.. (Tunggu saja Nevan, aku akan membuat perhitungan dengan mu) ” ucap Oliver yang lalu pergi dengan keadaan marah dan kesal.
🍃🍃🍃🍃🍃
Kembali kerumah Nevan, Lisia yang sedang ada dirumah Nevan sedang tidur bertiga bersama Nox dan Elis yang ada disisi kiri dan kanan.
__ADS_1
Saat Nox dan Elis sudah terlelap tidur, Lisia terbangun karna merasa kehausan. Lalu ia bangun dari tempat tidur menuju kedapur, sesampainya didapur Lisia terkejut melihat Nevan yang masih belum tidur dan duduk sendirian dimeja makan.
“Nevan! ” panggil Lisia.
Nevan kaget mendengar suara yang memanggil namanya, “Dewi! ” ucap Nevan.“Anda belum tidur? ”tanya Nevan.
“Saya merasa haus, makanya saya terbangun. Nevan sendiri kenapa masih belum tidur? ” tanya Lisia.
“Saya sulit untuk tidur ” ucap Nevan.
Melihat Nevan sepeti banyak pikiran, membuat Lisia juga kepikiran. “Mau jalan keluar sebentar ?, mungkin saja nanti bisa ngantuk karna lelah” ucap Lisia.
“Tapi hari sudah malam sekali dan diluar juga dingin” ucap Nevan.
“Kita pakai sesuatu yang bisa menghangatkan diri, setelah itu baru keluar” ucap Lisia.
Awalanya Nevan berpikir panjang akan tawaran yang Lisia ajukan. Setelah butuh waktu lama, Nevan pun menyetujui akan permintaan Lisia. “Baiklah, mungkin saja saya bisa merasa cepat lelah nantinya. Sebentar dewi, saya cari pakaian yang bisa membuat dewi hangat. Kalau hanya pakaian itu nanti dewi bisa kena flu” ucap Nevan.
“Baiklah saya akan menunggu disini” ucap Lisia sambil menghilangkan dahaga ditenggorokannya yang tadi merasa haus. Sementara Nevan, bergegas pergi kekamar orang tuanya untuk mencari pakaian hangat yang bisa dipakai oleh Lisia.
Setelah beberapa lama menunggu, Nevan akhirnya datang dengan membawa mantel tebal sepeninggalan milik ibunya. “Silahkan dewi, pakai ini” ucap Nevan sambil memberikan mantel tersebut kepada Lisia.
Lisia lalu mengambil mantel sepeninggalan milik ibu Nevan dan segera memakaikan ketubuhnya yang kecil, “Apa saya kelihatan aneh? ”tanya Lisia.
“Tidak,,. Tidak aneh sama sekali, sangat cocok. ” ucap Nevan dengan wajah yang memerah dengan suara yang gagap.
“Syukur deh, saya pikir saya kelihatan aneh menggunakannya karna rasanya gak cocok” ucap Lisia.
“Sangat cantik malahan” gumam Nevan.
“Apa!? ” Lisia yang tidak kedengaran apa yang Nevan katakan.
“Tidak,,.. Maksud saya mari dewi kita keluar sekarang! ” ucap Nevan yang mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah, ” merasa bingung. “Tapi Nevan, apa Nevan hanya akan menggunakan pakaian seperti itu saja? ” tanya Lisia yng melihat Nevan hany memakai baju tipis.
“Tidak,,.. saya memakai mantel milik ayah saya kok, ini! ” ucap Nevan yang menunjukan mantel sepeninggalan milik ayahnya yang ada ditangan kirinya.
“Baiklah kalau begitu, mari kita pergi! ”ucap Lisia.
“Mari dewi! ” ucap Nevan.
Lisia dan Nevan pun pergi menuju kearah depan rumah. Setelah memakai mantel sepeninggalan milik ayahnya, Nevan segera mengunci pintu, lalu Lisia dan Nevan pun berjalan bersama sama berdua dibawah rembulan yang begitu indah nya.
...Terus dukung Redblack....
...Jangan lupa like, comment, hadiah, dan votenya, Klik juga tombol Favoritnya, agar kalian tidak tertinggal informasi chapter selanjutnya....
...Salam cinta dari redblack....
__ADS_1