
Setelah deklarasi perjanjian damai antar dua kerajaan terbentuk, Adelio mengatakan akan mengadakan pesta untuk mengumumkan pada semua orang bahwa Kerajaan Magixion dan Kerajaan Wishangle telah berdamai.Lalu Lisia akan di perkenalkan secara resmi di pergaulan kelas atas sebagai Dewi Hutan yang baru 2 hari lagi.
Diistana Kerajaan Magixion
Tengah hari
Adelio, Lisia,Oliver dan Ezra muncul diruang tamu dengan sihir perpindahan.
"Yang Mulia Adelio! Apa perlu saya di perkenalkan di pergaulan kelas atas? "tanya Lisia yang merasa ragu.
Lisia merasa tidak percaya diri harus berhadapan dengan para bangsawan, bukan karna mereka memiliki martabat tinggi, namun Lisia takut jika semua bangsawan akan membandingkan dirinya dengan Dewi Hutan yang sebelumnya.Adelio yang melihat Lisia yang begitu gelisah, mengatakan kata-kata yang membuat Lisia percaya diri.
"Lisia, anda adalah Dewi Hutan yang di hormati banyak orang. Karna itu, tidak akan ada orang yang mencoba mencari masalah pada anda"ucap Adelio pada Lisia dengan tegas.
Lisia yang terkejut mendengar kata-kata Adelio, merasa jika Dewi Hutan lebih di hormati di bandingkan dengan raja itu sendiri. Walau Adelio tidak mengatakan itu untuk membuat Lisia tidak khawatir lagi, tapi Lisia merasa lega akan perkataannya.Oliver dan Ezra juga menyemangati Lisia dan bersama-sama menyelesaikan semua kegelisahan yang Lisia rasakan.
Namun ada satu lagi masalah yang membuat Lisia pikirkan, yaitu mengenai pakaian yang akan ia gunkan dipesta nanti.
"Masih ada satu masalah lagi, saya tidak memiliki pakaian yang bagus untuk pesta dansa nanti. Tidak mungkin kan saya menggukan baju kuil untuk ritual"ucap Lisia yang cemas.
"Tidak perlu khawatir Lisia! Masalah pakaian serahkan saja pada saya, "ucap Adelio dengan ekspresi yang begitu percaya diri.
Lisia yang tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Adelio, hanya bisa mempercayai semua padanya.
"Baiklah kalau begitu saya mohon bantuannya yang mulia"ucap Lisia.
"Tentu"
...*****...
Saat Lisia, Oliver dan Ezra keluar dari ruang tamu dan ingin kembali kedesa agelios, Lisia berhenti sejenak karna teringat akan sesuatu lalu meminta Ezra dan Oliver untuk pergi duluan. Lalu Lisia kembali keruang tamu untuk menemui Adelio dan membuatnya kaget karna melihat Lisia yang tiba-tiba kembali lagi.
"Lisia! Ada apa? "
"Yang mulia! Apa saya bisa meminta satu undangan pesta dansa lagi? "Tanya Lisia.
"Memangnya untuk siapa undangan itu? "Tanya Adelio kembali.
"Untuk Nevan dan juga adik adiknya"jawab Lisia.
Adelio yang terkejut mendengar perkataan dari Lisia hanya bisa terdiam dengan perasaan tidak suka, walau Adelio tidak menunjukannya pada Lisia. Lalu Adelio memberikan undangan pesta pada Lisia dengan tersenyum.
"Terimakasih Adelio,"ucap Lisia tersenyum pada Adelio.
"Sama-sama Lisia"ucap Adelio membalas senyum Lisia.
Lisia pun pergi saat Ezra datang menjemputnya. Adelio hanya terus memandang kearah perginya Lisia dengan begitu lekat seperti memikirkan sesuatu.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Begitu Lisia, Oliver dan Ezra sampai Didesa Agelios. Lisia bergegas turun dari kereta kuda meninggalkan Oliver dan Ezra disana, mereka yang merasa bingung melihat Lisia yang begitu tergesa gesa mencoba mengikuti kemana perginya Lisia.
...*****...
Begitu sampai didepan rumah Nevan, Lisia ragu untuk mengetuk pintunya, sedangkan Oliver dan Ezra hanya bisa melihat dari kejauhan dengan perasaan tidak suka melihat Lisia yang terburu buru ternyata ingin kerumah Nevan.
Setelah beberapa menit Lisia tetap berdiri didepan rumahnya Nevan, tiba-tiba pintu terbuka dan yang membukanya adalah Nevan sendiri. Lalu Oliver dan Ezra melihat Lisia yang begitu panik dan mencoba menjelaskan sesuatu pada Nevan, namun mereka tidak mendengar apa yang Lisia dan Nevan bicarakan, karna terlalu jauh.
Setelah beberapa saat adik Nevan Elis keluar sambil memeluk Lisia dan juga Nox yang kelihatan senang melihat Lisia yang datang.
Lisia yang kelihatan begitu akrab pada kedua adiknya Nevan, membuat Oliver dan Ezra sedikit kesal dan merasa tersaingi.Akhirnya Lisia masuk kedalam rumah bersama Nevan dan kedua adiknya itu.
"Sial! Padahal si sialan itu tidak melakukan apapun, tapi bagaimana bisa ia mendapatkan hati Lisia begitu mudahnya? "Ucap Oliver dengan bergumam.
Akhirnya Oliver pergi dan meninggalkan Ezra dengan perasaan kesal.
"Seharusnya waktu itu aku menghampirinya"ucap Ezra yang bergumam mengingat waktu Lisia dan Nevan ada ditepi danau.
Setelah itu Ezra juga pergi dengan perasaan yang sedikit tidak suka.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊ
Disisi lain Lisia yang bersama Nevan dan juga kedua adiknya sedang menikmati makanan kue pie yang dibuat langsung oleh Nevan.
"Enak! "ucap Lisia yang menyukainya.
"Saya gak menyangka jika Nevan bisa masak"ucap Lisia yang memuji Nevan.
Memdengar perkataan Lisia, Nevan Terkejut dan mencoba untuk tidak memperlihatkan rasa malunya pada Lisia.
"Semua masakan kak Nevan selalu enak dan gak ada duanya"ucap Elis yang memuji kakaknya.
"Jika kak Lisia mau, datang saja kesini setiap hari. Kita bisa makan bersama sama seperti ini"ucap Elis dengan tersenyum.
Lisia dan Nevan kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Elis.
"Apa tidak masalah jika kakak makan disini? Seperti akan merepotkan kakakmu "ucap Lisia yang melirik kearah Nevan.
"Tidak masalah. Benarkan kak Nevan?. Kak Nevan tidak keberatan kan jika kak Lisia makan disini? "tanya Elis dengan memasang wajah memelas pada kakaknya itu.
"Iya tidak masalah, karna kedatangan Dewi akan selalu disambut disini"ucap Nevan yang sebernya juga merasa senang.
"Baiklah, jika kalian tidak masalah saya akan selalu merepotkan kalian seterusnya "ucap Lisia dengan tersenyum.
"Bagaimana dengan Nox! Apa kak Lisia boleh makan disini? "Tanya Lisia pada Nox yang ada di depannya.
"Tidak masalah "ucap Nox yang ketus namun sebenarnya ia malu.
"Kak Nox senangkan jika kak Lisia terus datang?"ucap Elis meledek kakaknya itu.
"Tidak juga"ucap Nox yang menghindar.
"Kalau gitu kenapa wajah kakak memerah?"ucap Elis.
Nox hanya diam karna merasa malu, dan Elis hanya tertawa melihat kakaknya itu.
...*****...
"Oh ya Nevan! Saya kemari ingin memberikan ini "ucap Lisia yang memberikan undangan pesta dansa pada Nevan.
"Apa tidak masalah jika saya pergi juga? Rasanya saya tidak pantas ada disana"ucap Nevan yang tidak percaya diri.
Lisia memegang tangannya Nevan dan membuatnya terkejut.
"Nevan tidak perlu khawatir, kan ada saya. Selama Nevan tetap bersama saya semuanya akan baik-baik saja"ucap Lisia dengan tersenyum.
"Baiklah dewi! Terimakasih "ucap Nevan yang malu malu.
Lisia yang melihat wajah Nevan memerah, merasa ada anak panah yang menusuk tepat dijantung Lisia.
".. (Sial! Rasanya ingin sekali kusentuh telinganya itu) "ucap Lisia dalam hati dengan perasaan gemes.
"Dewi! Kapan pesta dansa akan dilakukan? " tanya Nevan.
"2 hari lagi"jawab Lisia.
"Begitu ya"berfikir.
"Sepertinya saya harus menyiap pakaian Nox,Elis dan juga saya untuk dikenakan saat pesta nanti"ucap Nevan yang sedikit semangat.
"Apa Nevan akan membawa Elis dan Nox juga?"Tanya Lisia.
"Iya, saya akan membawa mereka. Apa tidak boleh? " ucap nevan yang gelisah.
"Tentu saja boleh. Saya senang jika mereka ikut, terlebih kita bisa pergi bersama nantinya"ucap Lisia dengan tersenyum.
"Pergi bersama? "Tanya Nevan.
__ADS_1
"Iya. Apa Nevan tidak mau pergi bersama saya?"Tanya Lisia dengan wajahnya sedih.
"It..tu saya mau! Dan saya juga senang bisa bergi bersama anda dewi"ucap Nevan yang kembali malu.
Serangan anak panah kembali menyerang Lisia tepat dijantungnya.
"Saya senang mendengar nya"ucap Lisia dengan tersenyum.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Waktu pun berlalu dengan cepat, pesta dansa yang diadakan setelah 2 hari dari deklarasi perjanjian damai antar dua kerajaan pun tiba.
Sejak pagi hari di Kuil Dewi Hutan, semua mulai sibuk mempersiapkan Lisia dengan baik. Mulai dari mandi dengan susu , dipijat dan dirias sedikit karna Lisia akan di dandan diistana Kerajaan Magixion.
Persiakan yang dilakukan oleh Lisia memakan waktu selama 8 jam lamanya. Begitu selesai, Ezra yang mengunakan pakaian formal berwarna hitam membuat Lisia terpana beberapa saat, lalu Lisia yang sempat melamun tadi kembali sadar.
"Ezra sendirian? "Tanya Lisia.
"Dia bilang akan menyusul nanti"ucap Ezra yang mengatakan Oliver dengan sebutan dia.
"Mungkin Oliver akan pergi bersama Clara"ucap Lisia.
"Tentu saja. Karna perempuan itu adalah tunangannya"ucap Ezra yang membuat Lisia tersentak.
"... Benar. Hahaha"ucap Lisia.
Untuk beberapa saat Ezra melihat Lisia sedikit kecewa, namun Ezra hanya bisa diam memperhatikan Lisia.
"Bagaimana jika kita pergi sekarang. Bukankah anda akan dirias lagi diistana?"Ucap Ezra.
"Benar. Tapi sebelum itu kita akan kerumah Nevan dulu, soalnya ia akan pergi bersama kita"ucap Lisia.
Ezra yang kaget mendengar perkataan Lisia hanya terdiam dengan perasaan kesal didalam hatinya.
...*****...
Begitu sampai dirumah Nevan , Nevan dan kedua adiknya keluar mengenakan pakaian yang begitu cantik dan sangat keren. Membuat Lisia kaget, akan Nevan yang begitu tampan mengunakan pakaian formal berwarna hitam keabuan.
"Kak Lisia! "teriak Elis sambil memeluk Lisia.
"Bagaimana pakaian ku kak? " tanya Elis dengan berputar mengunakan gaun bewarna pink.
"Sangat cantik"ucap Lisia dengan tersenyum.
"Hihihi benar kah? Ini semua kak Nevan yang buatkan"ucap Elis.
"Apa!? Nevan yang buat? "ucap Lisia yang kaget.
"Benar, karna harga baju sangat mahal kami membeli kain dan membuatnya sendiri "ucap Nox.
"Begitu ya. Nevan memang memiliki bakat yang luar biasa ya"ucap Lisia dengan tersenyum.
"Tentu saja"ucap Nox yang sombong mengunkan pakaian berwarna dongker.
Ezra hanya diam tanpa ekspresi melihat Lisia bersama Nevan yang begitu akrab, namun sebenarnya Ezra merasa sedikit kesal melihat mereka. Ezra bertanya tanya sambil memegang dadanya, dengan persaan yang tidak bisa Ezra pahami dan juga ia mengerti.
Deg
Sedikit sakit dan nyeri membut Ezra merasa aneh.
".. (Perasaan apa ini?) "ucap Ezra dalam hati.
...Terus dukung Redblack....
...Jagan lupa like, comment, share, dan votenya nya, Kilik juga tombol favoritnya....
...Agar redblack terus semangat....
__ADS_1
...Salam cinta dari redblack....