
Chapter selanjutnya,,..
Setelah Galen dan Evans mengelilingi desa, Evans mengajak Galen menuju kedanau pelangi belakang kuil dewi hutan. Sesampainya mereka disana, terlihat seorang perempuan yang sedang menunggu sendirian ditepi danau sambil membawa sebuah keranjang.
Ketika Galen menyadiri akan perempuan tersebut, ia melihat kearah Evans yang ada dikananya dengan tatapan begitu lekat, namun Evans membuang muka sebelum tatapan temannya itu terlihat olehnya. Galen hanya bisa menghela nafas panjang sambil berjalan kearah perempuan tersebut yang ternyata Maria, putri kepala desa sebelumnya.
Saat Maria menyadari kedatangan Galen dan Evans, ia terlihat senang sambil menghampiri mereka.
"Galen! "Ucap Maria kegirangan.
"Kau sangat kejam Maria! Padahal aku juga ada disini tapi kau tidak menyapaku"ucap Evans.
"Maaf Evans! Lalu terimakasih "ucap Maria yang tersenyum.
"Jadi apa kau menyuruh Evans untuk membawaku kemari? "Tanya Galen.
"Iya"jawab Maria dengan percaya diri.
"Kenapa? "Tanya Galen lagi.
"Itu karna kau sangat sulit ditemui, lalu permintaan ku tidak pernah kau jawab. Jadi aku meminta pada Evans akan hal ini"ucap Maria yang tersenyum lebar.
Galen yang tidak mengerti akan perempuan yang terus saja berusaha mendekatinya, walau kalanya ia sedikit risih namun ia juga sedikit menyukainya. Karna Maria tidak pernah melakukan hal yang membuatnya jengkel, seperti terlalu menempel, mencari alasan untuk bisa berduaan.
Maria selalu jujur dan tidak pernah menyusahkan Galen setiap ia berkeja. Jika Maria datang kekantornya, ia hanya membawa makanan setelah ia pun pergi karna Galen yang sibuk mengejakan tugasnya sebagai kepala desa Agelios. Sosok perhatian yang Maria lakukan hampir setiap hari, membuat Galen mulai memperhatikan Maria, dimana awalnya ia tidak suka lama lama menjadi nyaman dan bisa menerima Maria apa adanya.
"Ini! "memberikan sebuah keranjang kepada Galen. "Aku memasak lebih dan ingin memberikan padamu, karna waktu juga sudah menunjukan tengah hari jadi ku harap kau memakannya, jika terlalu banyak kerja sampai lupa makan nanti kau bisa sakit"ucap Maria.
"Bagaimana untuk ku? Apa aku tidak kebagian? "Tanya Evans.
"Aku membuatnya lebih kok, sekalian ucapan terimakasih ku karna kau telah mengabulkan permintaan ku "ucap Maria yang tersenyum.
"Wah! Kalau begitu sama sama deh"ucap Evans.
Ketika Evans ingin memengang keranjang yang ada pada tangan Galen, Galen malah menghindari dan menjauhkan keranjang tersebut dari Evans. Maria dan Evans yang terkejut akan sikap Galen membuat mereka hanya terdiam.
"Hei! Kenapa kau menjauhkan keranjangnya dariku? "Tanya Evans yang tidak mengerti akan sikap temanya yang tiba-tiba itu.
"Maria memberikan ini pada ku duluan jadi aku yang harus melihatnya dulu"ucap Galen yang cuek.
Evans dibuat terdiam dengan perkataan yang ia dengar dari temannya itu, begitu juga Maria merasa kaget dan tidak percaya jika Galen akan berkata seperti tadi.
"Cih! Padahal biasanya kau tidak peduli akan hal ini, tapi kenapa tiba-tiba saja ku begini"ucap Evans yang kesal dan sekaligus heran.
"Bukankah manusia bisa saja berubah seiringnya waktu, jadi tidak ada yang salah akan apa yang telah kulakukan"ucap Galen yang penuh percaya diri.
Evans kembali dibuat kaget akan kata kata yang telah dilontarkan oleh temanya itu, dengan perasaan bingung ia hanya bisa diam, tanpa membalas akan ucapan dari Galen. Sedangkan Maria terdiam walau sebenarnya saat ini jantungnya bedegung sangat kencang dan wajahnya yang mulai memerah.
"Maria terimakasih untuk makanannya"ucap Galen yang tersenyum.
"Sama sama"Ucap Maria yang tersenyum kembali.
Evans yang merasa sedikit kesal karna diabaikan dan dikacangi oleh dua orang yang saling menatap satu sama lainnya. "Cih! ternyata aku hanya jadi obat nyamuk doang disini"ucap Evans yang bedecit.
"Kalau begitu Kenapa gak pergi aja dari sini? " ucap Galen yang dingin.
Mendengar ucapan dari Galen, membuat Evans kesal, "Aku juga memang mau pergi sekarang "ucap Evans jengkel.
__ADS_1
"Kalau begitu Pergilah! Apa yang kau tunggu lagi?"ucap Galen yang tidak peduli
"Iya iya, ini juga mau pergi. Tapi sebelum itu aku mau menanyakan sesuatu pada Maria "ucap Evans yang semangat.
"Mau nanya apa? "Tanya Maria.
"Charlotte ada dimana? "Tanya Evans yang penuh penasaran.
"Oh, Charlotte! Dia ada diladang didekat hutan Forrest "jawab Maria.
"Ok terimakasih Maria"ucap Evans yang langsung pergi.
Diladang dekat hutan forrest.
"Charlotte! Ayo istirahat dulu! Nanti dilanjutkan lagi"teriak ibunya Charlotte yang duduk santai dibawah pohon.
"Baik bu! Charlotte segera kesana"ucap Charlotte.
Saat Charlotte berjalan kearah kedua orang tuanya terdengar suara orang yang beteriak.
"Semuanya lari! Monster dari hutan Forrest datang"ucap manusia serigala.
"Apa!"Kaget. "Ibu! Ayah! "Berlari menghampiri. "Ayo kita pergi sekarang! "Ucap Charlotte.
"Pergilah lebih dulu kalian berdua! Ayah akan coba menahan mereka"ucap Ayah Charlotte.
"Apa! Sayang jangan gegabah, lebih baik kita pergi dan minta bantuan orang orang desa"ucap ibunya Charlotte.
"Benar ayah! Kalau ayah sendiri menghadapi mereka itu terlalu berbahaya "ucap Charlotte yang panik.
"Jika tidak ada yang menahan mereka lebih dulu, bisa jadi orang orang desa akan dalam bahaya, karna itu aku harus melakukannya"Ucap ayah Charlotte yang langsung pergi menuju hutan forrest.
Charlotte mencoba berfikir akan sesuatu, "Ibu! Pergilah dulu kedesa dan peringati semua orang dan minta bantuan pada pasukan prajurit agelios untuk datang kesini, Charlotte akan pergi untuk mencoba menghentikan ayah"ucap Charlotte.
"Apa! Tidak sayang itu terlalu berbahaya, jika terjadi apa apa padamu bagaimana? " ucap ibunya Charlotte yang khawatir.
"Tenang bu! Kekuatan sihir milik Charlotte sudah bangkit jadi Charlotte bisa melindungi diri Charlotte sendiri, ibu tidak perlu khawatir. Sekarang ibu harus kedesa untuk meminta bantuan, cepatlah ibu! "ucap Charlotte.
"Baiklah, kamu harus hati hati mengerti! "Ucap Ibu Charlotte.
"Mm"Charlotte menganggukan kepalanya.
Setelah ibu Charlotte pergi, Charlotte langsung menyusul ayahnya menuju kehutan Forrest. Ibu Charlotte yang sedang berlari menuju desa dengan tergesa gesa tidak sengaja bertemu dengn Evans yang juga menuju kehutan Forrest.
"Evans! " ucap ibunya Charlotte yang panik.
"Bibi! Ada apa? Apa terjadi sesuatu? " tanya Evans.
"Dihutan ,,.. para monster,,.. keluar dan Charlotte sedang menyusul ayahnya utuk menahan monster monster itu"ucap Ibu Charlotte yang cemas dan gelisah sampai sampai apa yang diucapkannya terbata bata.
"Apa!? "Kaget.
"Evans! Tolong selamatkan putri dan suami bibi! Tolong Selama mereka! " ucap Ibunya Charlotte yang menagis.
"Tenanglah bi! Evans akan menyelamatkan mereka, sekarang bibi kembali kedesa dan minta bantuan orang orang desa, saya akan menyusul Charlotte kehutan Forrest, "ucap Evans.
"Terimakasih nak Evans! " ucap ibu Charlotte.
__ADS_1
"Sama sama bi! " ucap Evans.
Begitu ibu Charlotte pergi menuju desa, Evans langsung bergegas pergi menuju hutan Forrest.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Disisi lain, Charlotte yang bersama ayahnya sedang menahan para monster dengan mengikat mereka dengan tanaman rambat, sedangkan ayah Charlotte, membunuh monster monster yang ditahan oleh Charlotte.
"Charlotte! Pergilah! Biar ayah yang tangani mereka"ucap ayah Charlotte yang sedang membunuh monster.
"Tidak. Charlotte tidak akan meninggalkan ayah sendiri "ucap Charlotte yang sibuk menahan monster.
"Dengarkan apa yang ayah katakan, pergi sekarang juga dari sini Charlotte "ucap ayah Charlotte yang berteriak keras.
"Tidak mau"ucap Charlotte yang tidak mau mendengarkan ayahnya.
Ketika sihir Charlotte mulai lemah salah satu monster berhasil lolos dari tanaman rambat yang Charlotte gunakan, monster itu pun langsung berlari kearah Charlotte.
"Charlotte! " teriak ayahnya Charlotte yang mencoba menghentikan monster yang menyerang putrinya.
Ketika monster hampir mendekati Charlotte, tiba-tiba saja monster itu terbelah menjadi dua, lalu sesosok yang telah menyelamatkan Charlotte yaitu Evans.
"Evans! "Charlotte yang kaget dan merasa tidak percaya jika Evans datang dan menyelamatkannya.
"Sayang apa ku baik baik saja"ucap ayah Charlotte yang memeriksa kondisi putrinya.
"Iya ayah,Charlotte baik baik saja. "Ucap Charlotte yng tersenyum.
Gruoahhhh!!
Saat semua monster lepas tadi ikatan tanaman rambat yang Charlotte gunakan, semuanya mulai berlari kearah Charlotte, ayahnya dan Evans.
"Tetaplah disini jangan bergerak! "ucap Evans yang lalu memasang sihir pelindung pada Charlotte dan ayahnya.
Evans lalu pergi menuju kearah monster monster dan langsung membunuh mereka satu persatu. Setelah beberapa menit berlalu, prajurit agelios pun datang dan membantu Evans membunuh semua monster yang tersisa, karna Evans telah membantai sebagai monster yang ada sebelum prajurit agelios datang.
Setelah semua monster berhasil dikalahkan, Evans langsung menghampiri Charlotte dan ayahnya.
"Terimakasih nak Evans! Kalau saja anda tidak datang, entah apa yang akan terjadi pada putri paman"ucap ayahnya Charlotte.
"Sama sama paman, saya kebetulan bertemu bibi saat diperjalan tadi, lalu mendengar jika paman dan Charlotte pergi menahan para monster, karna itu saya langsung bergegas kemari dan syukurlah saya tepat pada waktunya"ucap Evans.
"Begitu ya, baiklah. Sebagai tanda terimakasih paman padamu, kapan kapan datanglah kerumah untuk makan bersama"ucap ayahnya Charlotte.
"Baik paman, saya akan berkunjung kerumah paman nantinya"ucap Evans yang senang.
"Kalau begitu paman tunggu kedatangan mu, "memegang pundah Evans. Mendekati Charlotte, "Kalian berbicara berdua, ayah akan pergi menemui ibumu, mungkin ia sedang khawatir sekarang "Ucap ayah Charlotte.
"Baik ayah"ucap Charlotte.
Setelah ayah Charlotte pergi bersama prajurit agelios lainnya, tinggal lah Charlotte dan Evans berdua.
Evans berjalan kearah Charlotte, "Charlotte! Apa kau baik -baik saja? "
...Terus dukung Redblack....
...Jangan lupa like, comment, hadiah, dan votenya, Kilik juga tombol favoritnya, agar redblack terus semangat....
__ADS_1
...Salam cinta dari redblack. ...