
Chapter sebelumnya.
"Evans! "Panggil Charlotte.
"Ah ya?! "Kaget.
"Mau jalan jalan mengitari danau pelangi sebentar? " tanya Charlotte.
Evans yang sedikit terkejut akan permintaan dari Charlotte begitu membuatnya merasa tidak percaya akan apa yang ia lihat dan ia dengar.
"Tentu, saya mau "jawab Evans dengan perasaan yang masih bingun namun ia menyukai akan ajakan tersebut.
Lalu Charlotte pun berjalan lebih dulu, lalu diikuti Evans yang menyusul Charlotte dari belakang dan mereka pun saling berdampingan sambil melihat masing masing kearah yang berlawanan.
*****
Tak terasa waktu pun berlalu, Charlotte dan Evans menikmati pemandagan matahari terbenam sambil melihat danau pelangi yang airnya memantulkan warna jingga yang begitu indah.
"Jadi, apa yang membuatmu kembali lagi kedesa agelios? " tanya Charlotte yang langsung keinti permasalahan dimana Evans hanya diam tanpa bicara apapun pada Charlotte.
Ketika Charlotte melihat kearah Evans, Evans juga membalas dan menatap Charlotte begitu lekat kayak lem.
"Aku masih belum menyerah"singkat kata dari Evans yang seketikan membuat keheningan disekitar mereka.
Lalu Charlotte sendiri yang tidak beraksi sama sekali hanya melihat kearah Evans tanpa ekspresi apapun.
"Begitu ya, kalau begitu berjuanglah"ucap Charlotte.
Evans dibuat keget akan perkataan yang Charlotte ucapkan,karna biasanya bukan itu kata kata yang akan keluar saat dirinya masih belum bisa melupakan wanita yang begitu ia cintai itu.
"Apa maksudnya? Apa aku boleh menyalah artikan perkataan mu barusan, Charlotte? " tanya Evans yang masih bingung.
"Silahkan, kau bisa berfikir apapun tentang ucapan ku barusan. Karna sekarang kau sudah cukup berjuang selama ini, jadi ku rasa aku harus membalasnya"ucap Charlotte yang tersenyum.
Evans masih dibuat kaget dan tidak percaya akan apa yang terjadi, namun ia mulai menata semua rasa kebingungannya satu persatu dan lalu mulai memahami akan semuanya.
"Kalau begitu, aku akan menanyakan sesuatu untuk memastikan apa tebakanku benar atau tidak"ucap Evans.
Charlotte tersenyum puas akan sikap yang ditunjukan oleh Evans, "Tentu, silahkan! "Ucap Charlotte.
"Charlotte! "Ragu ragu. "Apa,,.. Kau mau menikah dengan ku? "ucap Evans.
Charlotte kembali diam membuat Evans gelisah dan resah akan jawaban yang akan diberikan oleh Charlotte. Lalu Charlotte sendiri mulai tersenyum, dan berkata pada Evans,, "Aku bersedia"ucap Charlotte yang tersenyum.
Ekspresi Evans yang awalnya tegang pelahan lahan mulai segar kembali seperti sayuran yang baru dipetik dan tersenyum cerah bagaikan matahari yang menyinari bumi, ia merasa tidak percaya akan kata kata yang diucapkan oleh Charlotte, lalu ia pun mulai menyadarkan diri sambil bertanya lagi kepada Charlotte.
"Tunggu! Apa,, kau benar benar bersedia menikah dengan ku? " tanya Evans lagi.
__ADS_1
"Tentu, aku bersedia. Evans! " ucap Charlotte yang tersenyum lebar.
Evans yang melihat kearah kebawah, lalu ia pun mulai senang dan langsung memeluk Charlotte begitu erat lalu mrngangkatnya keatas.
"Kyaaa, apa yang kau lakukan Evans?,turunkan aku sekarang! " ucap Charlotte yang diangkat oleh Evans.
"Heheh, mulai sekarang tidak akan ada yang bisa memisahkan kita"ucap Evans yang perlahan menurunkan Charlotte.
Charlotte yang sedikit malu dengan wajahnya yang sudah merah padam, menganggukan kepala akan perkataan Evans barusan. Lalu mereka pum tertawa bersama, sambil mendekatkan dahi mereka dan dilanjutkan dengan sebuah ciuman manis semanis madu ditepi danau pelangi yang berwarna jingga karna sinar matahari terbenam.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Setelah beberapa bulan kemudian Evans dan Charlotte melangsungkan pernikahan mereka, yang dihadiri banyak orang termasuk Galen, Maria dan juga putranya Oliver. Lalu tak terasa Charlotte pun hamil anak pertama mereka, dan lahirlah seorang anak perempuan setelah mencapai 9 bulan bertepatan pada musim semi.
Maria dan Galen pun datang kerumah Evans dan Charlotte, untuk memberi selamat kepada mereka. Oliver yang tepat berusia 3 tahun, mencoba mendekati putri Evans dan Charlotte yang tertidur dengan pulas itu.
"Cantik"ucap Oliver.
"Apa dia sangat cantik sayang? "tanya Maria.
Oliver menganggukan kepalanya, "iya"jawab Oliver.
"Oh ya Charlotte! Apa kau sudah menentukan nama untuk anakmu? " tanya Maria yang mengendong Oliver.
"Masih belum, soalnya aku dan Evans masih memikirkan nama yang bagus untuk anak kami."ucap Charlotte.
"Ide yang bagus, aku setuju. Bagaimana Maria! Galen! Apa kalian bisa memberikan nama untuk putri ku dan Evans? "Tanya Charlotte.
Galen dan Maria memandagi satu sama lainnya, lalu mereka pun tersenyum sebagai persetujuan satu sama lainnya.
"Baiklah, jika kau tidak keberatan sama sekali aku akan memberikan nama untuk putri mu"ucap Maria.
"Terimakasih "
"Tidak perlu berterimakasih, kita adalah teman bukan? " ucap Maria yang tersenyum.
"Iya tentu saja"ucap Charlotte yang tersenyum kembali.
Maria memperhatikan anaknya Charlotte begitu lekat sambil memikirkan nama yang cocok untuknya.
"Karna ia sangat mirip dengan Charlotte dan kelihatan kalem seperti Evans, pasti ia akan menjadi wanita yang kuat dan ceria nantinya. Kalau begitu aku akan memberikannya nama, Clara! "ucap Maria.
"Clara ya? "Berfikir. "Aku menyukainya, nama yang bagus. Bagaimana Evans? "Tanya Charlotte.
"Aku juga menyukainya, terimakasih Maria "ucap Evans.
"Sama sama"tersenyum.
__ADS_1
"Mulai sekarang aku adalah pamannya Clara "ucap Galen yang merangkul Evans.
"Tentu, begitu juga dengan ku. Aku adalah Pamannya Oliver "ucap Evans yang membalas rangkulan Galen.
Lalu Evans dan galen pun saling tertawa bersama, sedangkan Maria dan Charlotte saling tersenyum satu sama lain melihat kedua suami mereka.
"Kalau begitu mulai sekarang aku adalah bibinya Clara dan Charlotte bibinya Oliver"ucap Maria.
"Tentu saja"ucap Charlotte.
Suasana yang begitu gembira dan harmonis diantara dua keluarga tersebut.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Evans pun selesai menceritakan kisah perjalanan hidupnya bersama Charlotte, dan juga Galen dan Maria.
"Jadi kamu harus ikuti cara yang dilakukan oleh bibimu dan juga ayah mu ini"ucap Evans yang mengelus kepala putrinya itu.
"Pasti ayah, Clara akan mengikuti cara ayah dan juga bibi Maria "ucap Clara yang memperlihatkan gigi manisnya kepada Evans.
Flaschblack selesai
Didalam kamar
"Berkat aku yang selalu melakukan hal sama yang pernah bibi Maria lakukan untuk mendapatkan hati pamannya Galen, aku pun berhasil mendapatkan hati Oliver sekarang."
"Kalau aku menyerah hanya karna Oliver sering mencuekiku, mungkin saja aku akan menyesal nantinya. Tapi karna aku gak pernah menyerah seperti yang dilakukan ayah pada ibu, akhirnya aku pun mendapatkan apa yang kuinginkan sekarang. "
"Sekarang, jika Lisia selalu dekat dengan Oliver maka Oliver pun tidak lagi memalingkan wajahnya terhadap Lisia, karna didalam hatinya hanya ada seorang. "
"Tapi kemaren aku tidak melihat Lisia, ataupun saat doa pagi tadi. Dia kemana ya? " ucap Clara yang serius memikirkan.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Dihutan Forrest
"Hacih! "Lisia bersin.
"Anda tidak apa apa dewi? " tanya Muffin yang khawatir.
"Iya, saya tidak apa apa"ucap Lisia.
LIsia, Muffin dan Snowy sedang berjalan jalan disekeliling kuil Forrest.
...Terus dukung Redblack....
...Jangan lupa like, comment, hadiah, dan votenya, Kilik juga tombol favoritnya, agar redblack terus semangat....
__ADS_1
...Salam cinta dari redblack....