Pacarku Beda Dimensi Pilihan Lisia

Pacarku Beda Dimensi Pilihan Lisia
Chapter 27 Rencana


__ADS_3

Diruang kantor desa


12:00


Setelah Oliver, Adelio, Ezra dan Kyler mendiskusikan tentang pesta dansa 2 hari yang lalu, mereka belum menemukan titik terang dari permasalahan tersebut dan masih memikirkan cara agar si pelaku bisa menampakan dirinya sendiri.


Akhirnya mereka hanya bisa menghela nafas panjang dan terdiam untuk beberapa saat sampai waktu siang pun tiba.


"Mungkin saja yang mencoba menjebak Lisia berasal dari keluarga bangsawan "ucap Ezra.


"Kalau memang dari keluarga bangsawan, siapa? dan kenapa ia mencoba mencelakakan Lisia? " ucap Oliver.


" Aku juga sependapat dengan Ezra jika dalangnya ada keluarga bangsawan. Kalau pendapat Oliver mengenai siapa? mungkin mereka orang-orang yang mempunyai dendam terhadap ku, lalu mereka mengincar saat ada kesempatan dan menuduh Lisia yang jadi pelakunya"ucap Adelio.


"Kalau begitu semua kesalahan berasal darimu"ucap Kyler dengan menatap tajam kearah Adelio.


Suasana tegang yang menyelimuti ruangan tersebut menciptakan keheningan yang cukup panjang sampai mereka tidak sadar jika Lisia mendatangi mereka bersama Nevan.


Tok tok tok


"Apa saya boleh bergabung? " ucap Lisia yang ada didepan pintu ruang kerjanya Oliver.


Oliver, Adelio, Ezra dan Kyler dibuat kaget oleh suara yang ada didepan pintu ruang disamping kiri mereka. Mereka makin terkejut lagi saat Lisia datang bersama Nevan.


🌺🌺🌺🌺🌺


2 jam sebelumnya


Lisia yang sedang ada dikuil dewi hutan, menikmati istirahat sambil makan kue dan buah-buahan yang diberikan oleh para warga desa yang menyempatkan diri berkunjung menemui Lisia setelah selesai berdoa.


"Dewi! Saya ingin memberikan ini"ucap sang gadis manusia serigala yang memberikan Lisia segeranjang buah.


"Terimakasih "Lisia mengambil keranjang tersebut sambil tersenyum kepada gadis kecil itu.


Gadis manusia serigala itupun senang dan pergi dengan ekspresi gembira karna Lisia menerima pemberiannya. Lisia yang juga ikut senang hanya tersenyum melihat gadis kecil yang telah pergi tersebut. Sampai Lisia merasa sedikit bosan karna selalu berada didalam kuil saja.


Saat Lisia melihat keluar jendela kuil dewi, ia melihat Nevan yang sedang memberikan hasil buruannya kepada pendeta kuil. Lalu Lisia langsung bergegas keluar menemui Nevan.


..........


"Nevan! " ucap Lisia yang teriak menghampiri Nevan.


Setelah sampai dengan nafas yang terengah-engah. Pendeta kuil dan Nevan kaget dibuatnya karna Lisia datang dengan berlari lari.

__ADS_1


"Dewi!"panik. "Seharusnya anda jangan berlari seperti tadi kalau anda terjatuh bagaimana?"ucap Nevan yang khawatir.


"Hey! Kau siapa berani berkata seperti itu kepada Dewi Lisia ha? " berteriak. "Setengah manusia pembawa sial sepertimu tidak berhak menasehati seorang dewi hutan. Kau mengerti? " ucap sang pendeta yang memarahi Nevan dengan menunjuk kepadanya.


Lisia yang tidak tahan mendengar penghinaan yang dilakukan terhadap Nevan membuat Lisia marah dan geram. Lalu Lisia mengeluarkan nada mengintimidasi terhadap si pendeta itu.


"Tuan pendeta! Apa maksud perkataan anda barusan? "menatap tajam. "Bukankah Nevan hanya mengkhawatirkan saya. Apa yang salah dari Itu? "


Perkataan Lisia yang penuh tekanan dan mengeluarkan hawa dinginnya, membuat Nevan dan Sang pendeta kaget dan resah.


"Bukan begitu dewi! Pembawa sial ini... "Ucap pendeta yang terhenti saat melihat Lisia menatap tajam kepadanya dengan ekspresi marah.


"Nevan bukan pembawa sial, yang harus kalian salahkan adalah leluhurnya bukan Nevan"


Mendengar perkataan Lisia, membuat Nevan terkejut dan juga tepana.


"Tapi dia memiliki mata... " ucap si pendeta kembali terhenti saat Lisia melototinya.


"Apa karna Nevan memiliki mata merah jambu seperti leluhurnya maka dia dianggap pembawa sial? Saya tidak mengerti akan pikiran kalian yang seperti ini" ucap Lisia yang marah.


Saat pendeta kuil mulai panik melihat Lisia marah, ia mencoba mencari cara untuk menenangkan kemarahannya. Namun Lisia kembali mengatakn kata kata yang membuat si pendeta kuil dan Nevan kaget mendengarnya.


"Cukup! saya tidak ingin mendengar hal seperti ini terjadi lagi. Jika saya sampai mendengar perkataan mengenai Nevan lagi maka saya akan kembali kehutan forrest dan tidak akan kembali lagi Kedesa Agelios" ucap Lisia yang marah.


Mendengar perkataan Lisia tersebut, pendeta kuil langsung meminta maaf tidak akan mengulangi kesalahan yang ia buat kepada Lisia. Lalu Lisia meminta sang pendeta meminta maaf kepada Nevan, awalnya sang pendeta enggan meminta maaf, tapi saat Lisia menatap tajam kearah sang pendeta akhirnya ia meminta maaf kepada Nevan. Nevan hanya menundukan kepalanya dan tidak mempermasalah apa yang dikatakan oleh pendeta kuil.


Pedeta kuil tersebut menunduk kepada Lisia dengan perasaan takut"Saya mengerti dewi. Hal ini tidak akan terjadi lagi"ucapnya yang gemetar.


Setelah itu Lisia membiarkan si pendeta kuil untuk pergi. Nevan yang hanya diam setelah si pendeta pergi membuat Lisia hanya memandangi Nevan dengan perasaan sedih,lalu Lisia mencoba menghibur Nevan.


"Tidak perlu mendengar apa yang dikatakan oleh si pendeta menyebalkan itu, bukan kah saya sudah bilang jika Nevan tidak perlu memperdulikan hal itu"ucap Lisia yang mencoba bercanda dengan Nevan.


Mendengar perkataan Lisia Nevan tersenyum sambil mengatakan"Saya baik baik saja, karna anda ada bersama saya"ucap Nevan yang membaut Lisia membatu.


Senyuman yang Nevan berikan kepada Lisia memberikan serangan anak panah dijantung Lisia dan membuatnya berdarah.


"Jadi dewi! Ada keperluan apa sampai anda tergesa gesa menghampiri saya? "Tanya Nevan.


Lisia pun kembali sadar, "itu,,.. Tentang kejadian pesta dansa 2 hari lalu, bukankah akan dibahas lagi oleh Adelio dan juga yang lainnya? "


Nevan sempat terdiam beberapa saat lalu hanya mengatakan, "Memang benar, saat ini yang mulia Adelio, Oliver, Ezra dan yang mulia Kyler sedang ada dikantor kepala desa untuk membahas hal itu sekarang.Dewi! "


"Begitu ya baiklah "

__ADS_1


Lisia yang merasa jika Nevan tidak ikut serta dalam permasalahan yang menimpanya pasti karna dihalangi oleh seseorang yang membencinya.


"Jadi Nevan bagaimana jika kita kesana sekarang? "Ajak Lisia.


"Saya! Seperti saya tidak perlu ikut dewi! "


"Kenapa?! "


"Itu,,.. "Ragu ragu. "Saya juga tidak akan membantu apapun nantinya"ucap Nevan yang minder.


"Tidak perlu pikirkan hal itu"memegang tangan Nevan. "Yang penting sekarang Nevan hanya perlu ikut bersama saya"ucap Lisia yang menarik Nevan pergi bersamannya.


Nevan hanya bisa diam sambil mengikuti Lisia yang membawanya pergi kekantor kepala desa.


🌺🌺🌺🌺🌺


Sesampainya Lisia dan Nevan didepan pintu ruang kerja Oliver yang tidak tertutup Lisia pun masuk dan bergabung bersama yang lainnya.


Setelah berkumpul bersama Lisia yang sedang menikmati secangkir teh dengan suasana hening dan suram.


"Hahhh" menghela nafas. "Berhentilah menatap tajam kearah Nevan! "ucap Lisia yang meletakan cangkir teh kepiring.


Pendengar perkataan Lisia. Oliver, Adelio, Ezra dan Kyler mencoba menyangkal, "Kami tidak menatap tajam kearahnya sama sekali"Ucap serentak Oliver,Adelio, Ezra, dan Kyler.


Lisia yang tidak mempercayai akan perkataan mereka karna apa yang Lisia lihat tidak sesui dengan apa yang mereka katakan.


"Hahhh,,.. Saya memiliki sebuah rencana untuk menangkap sipelaku yang telah mencoba menjebak saya"ucap Lisia.


Mendegar perkataan tersebut, Oliver, Adelio, Ezra dan Kyler kembali serius melihat kearah Lisia dan mengabaikan Nevan.


".. (Dasar) "ucap Lisia yang mengela nafas panjang melihat kelakuan para karakter tokoh novel yang ia sukai.


🌺🌺🌺🌺🌺



Disisi lain disebuah kediman Duke, seorang lady yang sedang marah marah dan menghancurkan seisi kamar miliknya sambil melempar barang kelantai.


Bersambung


...Terus dukung Redblack...


...Jangan lupa like, comment, hadiah, dan votenya, Kilik juga tombol favoritnya....

__ADS_1


...Agar redblack terus semangat...


...Salam cinta dari redblack....


__ADS_2